What I talk About When I Talk About Bullying

Topik bullying itu untuk aku sama membosankannya dengan topik pendidikan di Indonesia. Seperti tidak ada solusinya. Jadi lupakan saja.

Oh, tidak. Baiklah.

Tentu bullying sesuatu yang sudah seharusnya tidak boleh terjadi. Akan tetapi akhir-akhir ini kasus bullying semakin gencar saja dilakukan begitupun level bullying-nya yang kian sadis. Naik level ceritanya, menyesuaikan diri dengan era millenial.

Tujuan aku menulis ini sebetulnya untuk menindaklanjuti artikel yang ditulis oleh seorang teman blog aku karena setelah aku pikir-pikir lagi aku tidak terpikir solusi apapun dan hanya meninggalkan like saja. Karena itu bukan gayaku (meninggalkan like saja) jadi harus ada tindak lanjut.

Apakah aku pernah menjadi korban bully?

Ya, aku pikir beberapa tindakan bisa dikategorikan sebagai pembullyan. Saat itu di Sekolah Menengah Pertama, ada seseorang yang sangat tidak menyukaiku. I don’t care of course, tetapi sikapnya semakin hari semakin tidak sopan. Dengan aku yang pendiam, dia cukup gencar bertindak tetapi aku pikir aku berhasil mengenyahkannya. Caranya? Dengan otak tentu saja. Ah, peringkat maksudku. Aku cukup baik, seperti itu.

Memasuki Sekolah Menengah Atas, aku kembali mengalami bullying. Kasusnya serupa dengan yang aku alami di Sekolah Menengah Pertama, hanya saja aku bisa menyingkirkannya lebih cepat. Dia cukup cerobah sehingga kami tidak bisa berjumpa dalam waktu yang lama. Saat itu dia keluar di kelas 1 SMA karena sebab yang aku tidak tahu pasti. Entah hamil di luar nikah kemudian dinikahkan atau hanya menikah saja. Sayang sekali, padahal aku menyiapkan banyak kejutan. Apa sekarang gantian aku yang terdengar jahat? Tetapi aku cukup manis kok. Maksudku aku tahu cara bermain peran yang baik, dengan manner tentunya.

Lagi, di bangku kuliah aku kembali mendapat masalah yang sama. Aku pikir aku memiliki wajah yang tepat untuk di bully. Pembullyan yang aku alami di bangku kuliah ini aku pikir adalah yang terburuk diantara yang lainnya. Bermula dari sebuah kesalahpahaman yang seharusnya bisa diselesaikan tetapi justru berkahir dengan pembullyan. Bukan tentang laki-laki tentunya, aku tidak cukup peduli dengan topik semacam itu. Itu mungkin kali pertama juga dimana aku memendam sedikit rasa takut atas suatu pembullyan. Dia menyebarkan hal yang kemudian memojokkanku hingga setiap orang akan menilaiku tepat seperti yang dia katakan. IPK-ku hampir terjun bebas saat itu karena di waktu yang sama aku mengalami masalah lainnya. Kombinasi yang sangat tepat untuk destruksi pokoknya.

Namun, bukan aku jika tidak bisa bangkit. Aku melakukannya dan aku tidak yakin kapan tepatnya itu berakhir. Saat itu semester keduaku ketika aku mengalami bullying. Yang lucu adalah si pembully ini jadi pengen dekat-dekat sama aku karena sebelum membully, kami berteman cukup baik sebetulnya. Sayangnya aku tidak sebaik itu sepertinya. Bukan berarti aku tidak pemaaf, kami selesai tetapi tidak untuk berteman kembali. Maaf untuk bahasa yang kasar tetapi ada perasaan semacam jijik seperti itu. Mustahil sekali untuk berteman kembali.

Aku tidak mencoba mencontohkan hal yang buruk. Kalian memiliki pilihan sendiri akan bagaimana tetapi untuk aku berteman kembali itu tidak mungkin. Kalau pernah nonton drama Korea The Heirs, sikap korban bully Choi Young Do pas Young Do minta maaf, ya seperti itu juga yang aku lakukan.

Terakhir, aku tidak tahu pasti solusi menghadapi bullying secara khusus meskipun aku mengalaminya cukup banyak. Aku pikir jadilah lebih kuat saja. Tunjukkan siapa kamu karena kita tidak bisa berharap orang lain untuk membela. Selalu ada titik buta seberapa pun takutnya kamu. Aku punya pikiran seperti ini, sebetulnya mereka yang membully itu adalah yang paling lemah diantaranya. Mereka hanya sedang menutup-nutupi sesuatu. Contohnya orang yang membullyku di bangku kuliah, dia mendapat tekanan besar dari kedua orang tuanya. Sikap otoriter gagal eksis seperti biasa. Jika kalian bertanya bagaimana aku tahu, sebetulnya tidak sengaja, dia saja yang ceroboh.

So, what do you think about bullying?


P.s Judul artikel memimjam judul buku Haruki Murakami “What I Talk About When I Talk About Running”.

Photo source: http://affinitymagazine.us


Edda

Iklan

The word of pessimistic (?)

17881787_222303091598852_1747763724799705088_n

Something what I think about my self?

I just killed my self like 3 years ago and I realized this time. Now, I just  someone without nothing inside.

So, can I still claim my name?

Can I intoduce my self like before?

Can I still talking like what I did in the past time?

Can I still claim, oh they are my parents?

Can I still claim, Oh they are my friends?

Can I still claim all of my books?

Can I still like coffee with pastry in the morning rain?

Can I still love Super Junior?

Can I still claim my bank account?

Can I still hate my phone exsistence?

Can I still staying in the way to my biggest dream?

or

Am I still exsis in the world or just invisible?

Aku dan Hilangnya Sevel (7 Eleven)

Jika kalian berpikir seperti perasaan jatuh cinta ala konsumerisme, maka bukan itu. Aku tidak mencintai franchise asing seperti Sevel, tentu saja, hanya kukira aku mencintainya tetapi dari sudut pandang berbeda. Terkadang pun aku berharap Indonesia bisa seberani Kuba untuk berdiri sendiri tanpa ada ribuan produk asing yang menyerbu negeri tanpa ampun setiap tahunnya. Tetapi Indonesia tampaknya tidak akan seberani itu ‘kan?

Sekali lagi aku katakan, aku bukan pecinta Sevel, tetapi aku cukup bersedih untuk kehilangannya karena kisahnya yang membuatku  banyak terkesan. Perasaan cinta semacam itulah yang kumaksudkan.

Mungkin banyak yang belum tahu sejarah berdirinya Sevel di Indonesia? Ingin mendengarnya? Aku tidak keberatan untuk menceritakan sedikit.

Ada ungkapan seperti ini di dalam sebuah film (dibintangi Maudy Ayunda) yang sayangnya telah kulupa judulnya.

“Yang paling menyedihkan bagi orang tua adalah ketika mereka melihat anaknya lahir sekaligus melihatnya mati”.

Terdengar berlebihan tetapi itu yang kurasakan terhadap Sevel. Aku mempelajari kasus kelahirannya dan sekaligus juga mempelajari kasus kematiannya.

Tersebutlah, Henri Honoris, pewaris generasi ketiga dari pemegang hak distribusi Fuji Film di Indonesia. Saat itu, dunia sudah memasuki era digital dan peminat rol film menurun demikian tajam. Bahkan pada kurun waktu 2002 hingga 2010,  bisnis fotografi Fuji Film di Indonesia mengalami penurunan keuntungan dari Rp2 Triliun (2002) menjadi Rp212 miliar pada 2010.

Tentu ini kondisi yang sangat menguncang, maka dipanggilah Henri untuk pulang menyelamatkan bisnis keluarga yang memulai masa sekarat. Banyak sekali outlet-outlet Fuji Film yang ditutup dan sebagian asetnya menganggur saat itu. Henri hanya terpikir dua jenis penyelesaian saja, apakah akan dijual atau diperbaiki, karena jelas bisnis itu tidak bisa dilanjutkan dengan cara yang sama, dan kalau tidak dilakukan diantara dua hal tersebut bisnis keluarga mereka akan mati.

Pada 2006, Henri mumutuskan untuk melakukan change. Maka dia pun menyurati kantor pusat Seven-Eleven di Dallas, Texas. Namun, karena masih dalam masa guncagan krisis moneter, Henri pun mendapat penolakan karena Sevel ingin memfokuskan diri di Brazil, India, dan Vietnam.

Henri tidak putus asa, iya terus menyusun proposal untuk meyakinkan Sevel bahwa pembukaan outlet-nya di Indonesia nanti akan menguntungkan. Henri menangkap insight nongkrong dalam bentuk outlet yang nantinya akan disesuaikan dengan kondisi pasar Indonesia. Henri terus berpikir bagaimana agar keberadaan outlet nanti tidak menganggu keberadaan pasar tradisional dan dapat hidup berdampingan. Cukup menarik, namun, Sevel masih kukuh pada kehati-hatian mereka. Sejak 1993, Sevel hanya membuka outlet baru di area yang sudah dimasukinya. Artinya dalam kurun waktu 17 tahun, Sevel tidak pernah memasuki negara baru. Namun, jangan salah, dengan begitu saja Sevel sudah memiliki 40.000 outlet, melebihi jumlah outlet yang dibuka MCDonald’s dan Starbucks. Ingin mendengar fakta? Di Thailand Sevel memiliki 7000 outlet, sedang di negara sekecil singapura Sevel memiliki 5000 outlet. Jumlah yang menakjubkan, bukan?

Singkat cerita setelah melalui perjalanan panjang, Sevel akhirnya memanggil Henri untuk berunding pada 2008. Konsep yang diusung sederhana saja, nongkrong. Orang Indonesia itu sukanya nongkrong. Mall memiliki fasilitas yang higienis, tetapi masih cukup mahal untuk nongkrong. Disanalah kemudian sevel membangun peluang, yakni menciptakan tempat nongkrong yang higienis tetapi murah. Jadilah Sevel versi Indonesia, 50% kafe dan 50% convenient store.

Henri menyebutnya Afordable Luxury.

Karena dengan fasilitas yang higienis, AC yang dingin, makanan, free charges, dan free Wifi, Sevel bisa menjual dengan harga yang murah. Tentu ini sangat diminati anak-anak Indonesia yang mulai nggak betah di rumah karena AC yang nggak dingin dan paketan data yang makin mahal (sebut saja kata depannya Tel, belakangnya Sel) #Nahitu. Free Wifi bung, katakan dimana itu surga? di Sevel pastinya. Bahkan yang lebih lucu, ada sebutan nieh untuk mereka-mereka yang suka nongki di Sevel “Alayeven”. Anak-anak Alay dan orang tua Alay yang gemar nongki sampai pagi di gerai Seven-eleven. Hayo, kamu salah satunya bukan?

Satu fakta lagi, gara-gara Sevel Indonesia ini, kata nongkrong menghiasi halaman depan The New York Times. Selain itu, konsep nongkrong ini juga hanya diterapkan di gerai Sevel di Indonesia saja. Kalau di negara lain gerai sevel konsepnya masih semacam Indopiiip itu, grab and bite.

Pembukaan Sevel dengan konsep 50% kafe dan 50% convenient store ini juga memberi keuntungan kepada mereka yang memasok makanan dan minuman seperti kopi dan nasi goreng. Bisa dikatakan Sevel ini menjadi penggerak roda ekonomi di Indonesia, namun sayang Sevel akhirnya terguncang juga lantaran birokrasi tidak bersahabat di Indonesia.

Sevel dengan konsep awal 50% kafe dan 50% convenient store, dipaksa untuk menjadi grab and bite seperti layaknya Indo**** dan Alfa****. Hal itu dikarenakan pemerintah berpikir tidak ada kompromi untuk Sevel yang mengantongi double izin yakni satu izin retail dari Kemendag dan satu izin restoran dari Dinas Pariwisata DKI. Akhirnya karena birokrasi keparat tersebut Sevel tidak bisa menjalankan konsep bisnis yang telah disusunnya. Akhirnya Sevel terus mengalami penurunan penjualan. Pada 2012 Sevel telah membuka toko ke-100 nya di Indonesia dan meraup keuntungan yang baik. Namun semenjak regulator berulah pada september 2012, Sevel mulai mengalami penurunan keuntungan yang signifikan.

Pasca 2013, Sevel tidak bisa menjalankan model bisnisnya lagi karena ulah birokrasi, namun meski begitu di 2014 Sevel masih mencatat keuntungan yang cukup baik. Sayangnya, di tahun-tahun berikutnya kondisi Sevel kian memburuk dan kemudian ditutup pada 30 Juni 2017. Bayangkan saja berapa banyak orang yang akan kehilangan lapangan pekerjaan karena penutupan Sevel ini. Jangan lupakan juga anak-anak dan orang tua alay yang akhirnya nongkrong di pinggir trotoar karena tempat nongki kesayangan harus ditutup.

Yang paling membuat aku sedih selain kekonyolan birokrasi Indonesia adalah aku belum pernah sekalipun nongkrong di Sevel (katakan norak, iya). Belum juga membuktikan konsep bisnis mereka yang membawa kata nongkrong menduduki halaman depan The New York Times. Dan masih aku ingat juga, beberapa bulan sebelum Sevel tutup aku masih memperbincangkan kekagumanku pada konsep bisnis Sevel di sebuah Kedai Kopi di Sore yang gerimis. BGM-nya At Gwanghwamun lagi. Makin sedih kan jadinya. The last word,

—Goodbye Sevel, I cry for you

(Source: Self Driving, hlm: 210 – 213)

P.S Pengen nulis ini sejak Juli lalu tetapi karena masih sedih (bohong, males aja sebenarnya) jadi baru bisa menulis ini sekarang. So, what do you think about Seven-Eleven? Merasa kehilangan?

The Different of Language

Pernah mengamati Facebook? Sadar nggak kalau Facebook tidak pernah bertanya “Apa yang ingin kamu tuliskan” tetapi bertanya apa yang kamu pikirkan. Dengan begitu, sebetulnya Facebook membangun konsep, kumpulan banyak pikiran dalam komunitas sosial (sumber: Tuhan dalam Secangkir Kopi, kata pengantar).

BAHASA FACEBOOK

Tahun 2016 lalu, seorang teman penaku merilis sebuah buku. Saat itu aku menulis review bukunya. Sebenarnya tidak tepat juga disebut review karena aku tidak memakai sistematika review, sebut saja sekedar ungkapan perasaan pembaca. Dalam ‘review’ tersebut aku menulis sedikit kekecewaanku karena tulisan itu telah kehilangan hal yang cukup mendasar. Sesuatu daya magis yang mampu menarik setiap orang untuk membaca. Sampai-sampai aku bertanya-tanya, kemana perginya tulisan yang pernah aku baca di blog beberapa bulan lalu? This is…too different.

Sejak kejadian itu aku menjadi jauh lebih waspada dengan tulisan-tulisan blog yang dibukukan. Memang tidak selalu seperti itu, banyak juga yang justru semakin baik setelah dibukukan. Tidak bisa di generalisasi. Karena kekecewaan tersebut jugalah aku menarik kesimpulan bahwa tulisan yang baik di blog belum tentu akan menarik ketika dibukukan karena bahasa blog dan bahasa buku memang berbeda. Saat itu aku pikir, “Ah ya, mungkin memang seperti itu. Lupakan saja”.

Setelah sekian lama terlupa, tanpa sengaja di suatu hari di musim panas, aku menemukan teori yang memperkuat hipotesisku tersebut. Dalam buku berjudul “Tuhan dalam Secangkir Kopi”, Deni Siregar berbagi pemikiran bahwa tulisan dan pemikiran memiiliki konsep yang berbeda. Bentuk tulisan  biasanya penuh dengan kesantunan serta bahasa yang meliuk, tetapi pikiran cenderung jauh lebih jujur, spontan, dan vulgar.

Itulah mengapa tulisan blog yang dibukukan kebanyakan akan sangat berbeda dari versi aslinya. Hal itu sangat wajar terjadi karena apa yang kita pikirkan harus disesuaikan dengan konsep apa yang kita tuliskan. Tentu saja akan terjadi sebuah pergeseran sehingga berakibat pada output tulisan yang menjadi jauh lebih canggung. Tulisan dalam blog begitu pun sosial media hidup dalam kevulgaran bahasa. Katakan saja, kevulgaran tersebut adalah oksigen bagi tulisan blog dan sosial media. Dan ketika tulisan tersebut disesuaikan dengan konsep media cetak yang penuh kesantunan, maka tulisan tersebut akan kehilangan kevulgarannya, titik pesona dan daya tariknya. Hasilnya tulisan menjadi sangat hambar karena terlalu banyak garam pesona yang dikurangi.

So, penting untuk belajar bagaimana menyampaikan kevulgaran tersebut namun tetap dalam bahasa yang santun, sehingga jika suatu saat nanti tulisan kita dibukukan (berharap boleh donk) apa yang ingin kita sampaikan bisa tersampaikan secara sempurna tanpa mengalami terlalu banyak revisi dan penyesuaian.

P.s I don’t think this is a good article because it’s been a while since I last wrote. I’m just trying to fix my pretty bad mood lately. What do you think? Wanna share?

Cherioo…

Kenapa Dosen bisa Menyandang Gelar Killer?

Hayo, kalian jenis-jenis manusia yang bertanya-tanya tentang hal ini juga nggak sih? Aku sih iya.

Pertama kali mengenal istilah guru killer itu ketika aku masih di kelas 3 Sekolah Dasar. Guru yang mengajar sejak Taman Kanak-Kanak hingga kelas 2 Sekolah Dasar biasanya masih manis-manis. Nah, begitu memasuki kelas tiga berjumpalah aku dengan istilah baru bernama guru killer untuk pertama kalinya. Entah, siapa pencetus gelar killer yang fenomenal itu. Yang aku tahu, begitu memasuki kelas 3 Sekolah Dasar, telah lahir istilah semacam itu.

Waktu berlalu dan aku pun melanjutkan sekolah menuju jenjang yang lebih tinggi. Lucunya istilah killer itu semakin populer saja. Entah dimana pun diri ini berada, ada saja guru yang menyandang gelar killer tersebut. Sangat unik sekali penyebaran guru bergelar killer itu. Terasa terencana. Mungkin perlu diadakan pemilihan guru ter-killer se-Indonesia kali ya. Owch, jangan sampai, tidak menarik. Lupakan. Kembali ke fenomena guru killer. Berhubung penyebarannya yang sangat merata tersebut, akhirnya aku bertanya-tanya juga. Kenapa guru bisa killer ya? Kalian tahu, manusia biasanya akan melakukan sesuatu hal dengan membawa alasan-alasan dibaliknya. Pasti ada alasan yang melatar belakangi gelar tersebut dan alasan itu juga yang membuatku terus bertanya-tanya bahkan ketika akhirnya aku memasuki perguruan tinggi. Menariknya gelar killer itu lagi-lagi muncul seperti tidak ada habisnya. Saat itu, almarhumah dosen salah satu mata kuliah aku di semester 1 yang menyandangnya. Karena sempat memasuki masa jenuh, pertanyaan itu sempat terlupa selama beberapa tahun lamanya hingga kemudian pertanyaan itu kembali menyeruak di semester akhirku.

Ceritanya begini, jadi aku pergi ke toko buku untuk mengadopsi beberapa buku (I call them my baby. That’s why I use “mengadopsi”). Untuk memudahkan kita mencari buku, toko buku biasanya akan menyediakan komputer informasi. Nah, di salah satu Toko buku terbesar di Indonesia (tidak sebut nama), mereka menggunakan aplikasi baru untuk pencarian buku. Karena masih baru dan baru pertama kali pakai juga, aku nggak ngerti cara pengoperasiannya, sebut saja agak gaptek. Setelah aku coba berkali-kali, di pencarian tidak juga muncul informasi yang aku butuhkan. Herannya, itu toko buku, pegawai yang lagi on dikit banget. Entah kemana perginya pegawai yang biasanya bejibun itu. Karena terlalu malas menghampiri petugas yang tinggal satu dua orang saja, aku putuskan untuk berkeliling langsung saja. Siapa tahu nemu buku yang oke. Dan beneran ketemulah aku sama buku barunya Prof. Rhenald Kasali, Strawberry Generation. Beliau ini salah satu penulis favorit aku. Menariknya, di buku barunya ini Prof. Rhenald mengupas tuntas tentang dunia pendidikan. Biasanya buku-buku beliau itu berbau ekonomi. Maklum dosen Pemasaran Internasional, jadi ya bukunya berbau ekonomi donk. Kerennya buku yang ditulis beliau, isinya pemaparan materi dan pemecahan kasus-kasus terkait. Kasus yang dipilih pun bukan hanya kasus lama saja tetapi hingga kasus terkini. Jadi, sangat ter-update juga informatif.

Disalah satu sub bab, Prof. Rhenald membahas seputar guru dan dosen berdasar pengalaman pribadi beliau selama diajar hingga kemudian menjadi pengajar. Uniknya di bab berjudul “Dua Generasi di Dunia Pendidikan Kita”, beliau tiba-tiba menyebut fenomena guru/dosen killer. Jadi, dunia pendidikan kita sekarang ini telah terpecah menjadi dua generasi teman-teman yaitu  digital immigrants dan digital natives.

Apa itu?

Digital Immigrants, sesuai istilahnya, adalah kaum pendatang di dunia digital. Mereka ini adalah orang-orang yang dilahirkan dan dibesarkan sebelum era digital. Dalam dunia pendidikan, Digital Immigrants adalah guru dan dosen-dosen kita saat ini. Sementara, digital natives adalah anak-anak muda yang lahir dan dibesarkan di era digital. Sebut saja generasi Y atau millenials. Mereka ini adalah mahasiswa/i yang berada di kampus-kampus sekarang ini.

Perpecahan itu kemudian melahirkan  dua sudut pandang yang berbeda terkait style dalam belajar mengajar. Bagi digital immigrants yang namanya belajar ya harus seperti dia dulu, fokus, serius, dan sering kali suasana belajarnya menjadi tidak menyenangkan. Sedangkan disisi lain, bagi seorang digital natives cara belajar seperti itu udah nggak jaman sekarang.

Mengapa bisa seperti itu?

Menurut Garry Small, seorang pakar saraf dari University of California, Los Angles, menemukan, anak-anak yang otaknya banyak menerima input secara digital ini secara kognitif bisa menjadi superior (Strawberry Generation, hlm: 68). Maksudnya anak-anak yang dibesarkan di era digital telah dijejali banyak sekali informasi sehingga mereka menjadi lebih cepat menyerap informasi dan cepat pula mengambil keputusan.

Kondisi semacam ini akan menjadikan struktur otak anak-anak tersebut berubah menjadi multitasking. Mereka bisa belajar sambil chatting, berselandar di dunia maya, nonton tv dan bahkan mendengarkan musik. Cara belajar mereka yang demikian ini bagi digital immigrants, bukanlah belajar. Sekali lagi, belajar itu harus seperti apa yang mereka lakukan dahulu yang serius, fokus dan lain sebagainya itu. Akhirnya si digital immigrants ini memaksa anak-anak belajar sebagaimana mereka belajar dahulu. Mereka lupa dunia telah bergerak maju, bukan change lagi tetapi disruption. Cara-cara belajar konvensional seperti itu sudah tidak relevan lagi. Dari sanalah kemudian lahir istilah killer tersebut. Gelar bagi si pemaksa cara belajar yang gagal mengikuti perkembangan zaman. Penjelasan kasarnya seperti itu.

Apakah masih ada orang-orang semacam itu hari ini? Buanyakkk, buannyakk sekali, tiap hari aku ketemu yang begituan. Bahkan ada yang kalaupun salah tetap nggak mau dibantah. Adanya bener terus. Padahal lulusan S2, S3 luar negeri tetapi…Ya begitulah. Walaupun terasa aneh, dunia itu memang menarik. Gelar tidak selalu merefeksikan apapun. Tidak juga bisa menjadi jaminan tingkah laku seseorang. So, ekhm…

Bagaimana menurutmu, pernah berjumpa dengan yang killer-killer? Share your story in the comments bellow. Bye…

pake3
Nemu meme lucu, jadi aku masukin aja. LOL.

Tujuh Puluh ‘70’

Lebih daripada 24 jam yang lalu ada beberapa ingatan yang datang begitu saja ke dalam memori ini. Sesuatu yang kembali membawaku berpikir tentang bagaimana sebenarnya hidup dan bagaimana aku menghabiskan hidupku. Hal itu kemudian membawaku pada kesimpulan bahwa sebenarnya aku menjalani hidupku dengan cukup baik, tidak buruk.

Pernahkah kamu bertanya-tanya apa kebahagiaan itu? Sulit untuk dijawab bukan? Arti sebuah kebahagiaan itu akan sangat berbeda pada setiap orang, seperti “apakah bahagia itu ketika aku mendapat kesempatan untuk pergi berkeliling dunia?” Atau “apakah bahagia itu ketika aku bisa menghadiri konser Super Junior?” Atau bahkan yang paling sederhana, “apakah bahagia itu ketika aku bisa bercengkerama dengan keluarga?” Entahlah.

Lebih dari 24 jam ini aku terus memikirkan tentang satu hal bernama ‘70’. Satu kata yang aku peroleh ketika aku menyelesaikan buku ke 27 ku tahun ini. Dalam buku berjudul The Journey 3, Windy Ariestanty bercerita tentang arti sebuah kebahagiaan menurut sudut pandangnya. Ia mengatakan pernah di suatu masa dalam hidupnya dia mendapat sepatu baru dari sang ibu. Saat itu dia berpikir ini tidak seperti yang aku inginkan. Temanku memiliki lebih baik dari ini dan kemudian dia memutuskan untuk tidak memakainya karena dia merasa sangat kesal. Hingga suatu hari sepulangnya dari sekolah ia berjumpa dengan seorang anak tanpa kaki dan berjuang menyeret dirinya di trotoar depan sekolah. Itu bukan tentang sepatu lagi tapi tentang memiliki sepasang kaki. Akhirnya sesampainya dirumah ia berpikir kembali dan memutuskan untuk memakai sepatu barunya meski dia tahu ada yang memiliki lebih baik dari itu.

Cerita ini menghentakku kembali ke suatu sore ketika aku bercengkerama dengan ayah beberapa belas tahun silam. Saat itu ayah mengajar di sekolah dimana aku juga bersekolah didalamnya. Itu hari-hari yang cukup sulit karena aku harus bersikap sebaik-baiknya demi nama baik ayah. Sore itu kami hanya duduk-duduk sambil berdebat tentang pelajaran apa yang paling kami sukai. Aku jatuh cinta dengan sejarah dan ilmu sosial sedangkan ayah akan terus bersikukuh bahwa IPA dan matematika jauh lebih mudah dan menyenangkan untuk dipelajari. Mana bisa aku menerimanya, benar-benar menyebalkan. Aku tidak habis pikir saja, bagaimana bisa aku mendapat nilai 36 selama 2 tahun berturut-turut di ujian akhir semester. Itu benar-benar menjengkelkan. Aku bisa mendapatkan yang lainnya dengan baik, tetapi kenapa tidak dengan matematika? Bahkan ketika aku mencoba menyukai seperti yang orang katakan, mengikuti les dan belajar dan belajar, tidak ada apapun yang berubah. Akhirnya, kupikir aku menyerah saja (jangan ditiru!). Aku tidak akan membuang-buang waktu lagi (sayangnya aku masih salah jurusan di kemudian hari, jadi apa itu?) dan aku akan memaksimalkan apa yang bisa aku lakukan dan sukai (semoga berhasil!). Keajaibannya aku menyukai banyak hal, jadi aku tidak perlu khawatir dengan kemampuan matematikaku yang terlampau mengerikan itu. Aku memiliki banyak lainnya.

Gara-gara nilai matematikaku yang super konsisten itu, Ayah memberikan sedikit nasehat. Saat itu beliau mengatakan, ketika beliau harus memberi nilai kepada murid-muridnya maka untuk pekerjaan yang terbaik beliau hanya akan memberi 85. Tentu itu membuatku terkejut.

“Kenapa hanya 85?”, tanyaku kemudian.

Tahu tidak angka 90 itu sudah sangat berlebihan untuk memberi sebuah nilai, begitu jawaban beliau. Tidak ada yang benar-benar sempurna, jadi 85 adalah yang paling wajar untuk nilai terbaik. Lalu ketika Windy menyebut 70 itu sebagai representasi dari kebahagiaan, entah mengapa aku menyetujuinya. Windy mengatakan bahwa 70 itu ‘cukup’ karena hal yang akan membuat kita bahagia adalah ketika kita merasa cukup. Jika saja kita menuruti semua hal, standar-standar yang ditetapkan entah siapa, percayalah semuanya akan terasa selalu kurang. Aku pun merasa begitu, kupikir 70 itu posisi ketika kita bisa bersyukur akan apa yang telah kita miliki. Tidak perlu merasa iri karena akan selalu ada yang lebih dari apa yang kita miliki. Ketika kita bisa mensyukuri apa yang kita telah miliki, percayalah hal-hal besar tak terduga akan berdatangan menghampiri. Aku membuktikannya dan aku sangat berterima kasih karena berada diantara kedua orangtua yang luar biasa. Aku tidak mengatakan untukmu berhenti bejuang diantara kesulitan. Yang aku maksudkan adalah lakukan yang terbaik dan terima hasilnya dengan senang hati.

Kesimpulannya, merasa cukup akan mendatangkan hal bernama kebahagiaan. So, feel enough and be happy. Even if you make a big mistake, be happy. You will go to the right way in the other day. Don’t worry. Satu lagi, jangan lupa untuk membaca buku. Itu dunia terbaik bagi orang-orang yang mencintai belajar, dan belajar adalah bagaimana kita akan memahami untuk merasa cukup dan berbahagia. Bye bye….

P.s By the way I miss Kyuhyun Oppa so much this time. I can’t even close my eyes till 2 AM. I become sentimental and I want to meet with him. What should I do? I think it’s because I watched New Journey To The West Season 4. Aishh jinjja! Oh yeah, his new name on NJJTW is a bit of a bitch, right? “DrunkCho”, but I like that (to see him sounds bad, kkkk).

“And what, Kyuhyun curse words sounds catchy?”

“Yeorobeun, neo jigeum michseoseo?” but I’m curious too by the way *Out of your mind*. Fine!

Actually rather than “DrunkCho” I prefer to call him “DrunkKyu”. It’s sounds more cute. The 30th cutie namja. Buing Buing…*Why I say with such a style of language, owh!*

Kyuhyun in Switzerland

Cerita Ngopi di J Coffee

Semua udah pasti tahu J Co kan ya. Nah aku punya cerita soal jalan ke kafe J Co ini. Jadi sebenarnya udah sejak lama aku pengen banget main ke J Co, cuma ya nggak pernah kesampaian aja. Aku ini jenis orang yang punya masalah kalau datang ke tempat baru bernama kafe. Masih nggak ngerti aja gimana cara order dan lainnya. You know, everyplace are different. Selain itu, J Co ini namanya internasional banget. Bahkan logo cafenya kan mirip sama starbucks jadi aku pikir pasti franchise milik negara lain lagi. Indonesia kan gitu.

Suatu hari aku membaca sebuah postingan yang nggak sengaja aku temuin di blog. Dari sana aku tahu kalau J Co ini bukan franchise asing, tapi punya orang Indonesia asli. Ow ow… I don’t know. Habis waktu aku main ke Jogja dulu, itu J Co disana isisnya bule semua, serius. Hampir nggak ada tu manusia Indonesia. Tapi kalau dipikir-pikir lagi harusnya aku curiga. Kalau itu franchise asing bukankah harusnya diminati oarng Indonesia ya? Indonesia kan gitu.

Masih inget nggak beberapa bulan lalu J Co ngadain promo spesial kan. Nah, temen aku ngajakin dateng kesitu. Akhirnya kesampain juga Tuhan itu harapan *overreacting*. Jadi aku ini punya misi untuk mencoba semua produk dalam negeri. Alasannya sih sederhana, cuma pengen tahu aja gimana produk Indonesia itu. Kenapa tidak di percayai dan bahkan dicintai masyarakatnya sendiri dan lainnya.

Kembali ke J Co, berhubung lagi promo dalam rangka memperingati hari ulang tahunnya (lupa yang ke berapa) J Co ngasih diskon spesial. Pokoknya harganya jadi murah banget. Antriannya jangan ditanya, sampai kemana-mana, nggak abis-abis. Pegawainya pasti bekerja keras banget, sekitar 10 kali limpat dari biasanya, mungkin. Setelah ngantri sekitar sejam (gantian berdua sama temen aku) kita dapet kesempatan juga buat order. Saat itu kita pesen 2 dus donat sama dua gelas kopi. Kopi yang kita pesen itu coffee caramel dingin sama Matcha dingin. Tapi ampun deh aku nggak merekomendasikan kopinya. Kurang enak aja. Masih enakan kopinya Tekodeko yang aku minum di semarang dulu. Aku rekomendasiin, tempatnya di sekitaran kota tua Semarang *promo*.

J.CO-Donuts-Cebu-SM-City-Cebu-Ayala (5)

Kembali ke J Co lagi. Jadi setelah menerima pesanan dan bayar kami berniat buat ngobrol disana juga. Masalahnya itu sampah berhamburan dimana-mana. Mungkin karena pesanan membludak petugas kafe yang harusnya bersihin meja dan lantai jadi ikutan sibuk di dapur. Jadilah kita duduk diantara sampah. Temen aku sempat protes ke petugasnya dan akhirnya ada seorang petugas yang dateng bersihin sampah-sampahnya. Yang mau aku omongin adalah memangnya kenapa sih kalau buang sampah sendiri? Aku yakin ngelihat tempat sampah segede tapir di pojokan ruangan deh. Kalian tinggal buang sendiri kesana kan ya, tapi kenapa nggak ada kesadaran diri semacam itu? Ini analisnya (berdasar sudut pandang aku).

Pertama, beberapa hari sebelum datang ke J Co aku membaca berita di grup travel yang aku join di dalamnya. Ceritanya ada sekelompok orang Indonesia liburan ke Jepang. Mereka makan di kedai cepat saji. Yang menjadi masalah, budaya makan di tempat cepat saji di Jepang, pelanggan harus membersihkan bekas piringnya secara mandiri dan di buang ke tempat sampah yang disediakan. Tetapi si rombongan itu ninggalin gitu aja tumpukan piring bekas makan mereka di meja. Akhirnya itu berita menyebar satu dunia. Malu donk ya. Malah sebelum itu ada juga kasus orang Indonesia yang mukul-mukul pohon sakura biar bungannya berguguran demi photo selfie. Yang ini lebih parah karena diberitakan di media Jepang. Iyalah, bunga sakura kan dianggap sangat spesial oleh orang Jepang, jelas aja itu menimbulkan masalah serius.

Dari kasus diatas nggak beda jauh kan sama J Co. Mereka lupa kalau mereka sedang tidak berada di Indonesia. Menurut aku kalau hanya sekedar buang sampah harusnya ada kesadaran diri lah. It just a simple thing. Kalian kan bukan yang harus buang satu tong sampah, cukup sampah kalian sendiri. Apa sih susahnya? Kenapa nggak bisa melakukan, karena mereka ini tidak memiliki kesadaran diri. Mereka merasa saya dateng ke sini, bayar mahal , kenapa masih saya juga yang harus bersihin *typhically Indonesia*. Kira-kira begitu isi pikiran mereka. Orang Indonesia itu terlalu banyak dilayani jadi tidak memiliki kesadaran bahkan untuk hal yang sederhana sekalipun. Selain itu, mereka menganggap siapa yang punya uang lebih banyak bebas berlaku seenaknya kepada mereka yang berada dibawahnya. Gimana nggak bikin masalah di negara orang, wong kelakuannya di Indonesia aja kayak gitu. Habits teman-teman, kebiasaan yang mendarah daging itulah masalah orang Indoensia. Memang susah untuk dihilangkan, apalagi kalau dibarengi ketidakniatan di dalam hati. Kombinasi yang sempurna sekali. Tetapi hal seperti itu masih bisa diubah kok, asalkan mereka mau untuk berubah. Masalahnya ya karena nggak peduli itu. Jadi…

Lanjut lagi ke J Co, jadi karena kesel dan kasihan juga sama petugas kebersihannya aku pikir kenapa nggak aku buang sendiri aja ke tempat sampah, toh cuma 1 biji gelas plastik doank. Akhirnya aku putusin buat buang sendiri, sekalian melatih kedisiplinan, biar nggak malu-maluin negara kalau lagi jalan di negeri orang. Begitu aku buang sendiri itu sampah, ditanya aku sama temannya temenku, “memang harus buang sendiri ya?”. Aku jawab aja pakai jurusnya Trinity “Kenapa enggak?”. Masih punya tangan ‘kan? Walaupun dari negara berkembang, tunjukkan kalau kalian itu berbudaya. Coba deh, mulai hari ini kalau dateng ke kedai cepat saji kalian buang sampah kalian sendiri ke tempat sampah. Nggak akan bikin patah tulang kok apalagi kena bakteri E-Coli. Jadi, ayo tunjukin kalau kalian ini bermartabat. I’m a person with a good manner even I’m from developing country. Jangan sampai kebiasaan kecil ini akan membawa Indonesia diolok-olok oleh negara lain lagi di masa depan. Budayakan malu and see you next time.

What do you think? Write your opinian please!

P.s I’m back. Nobody await me but I’m back and I said to my self not you, fine.

AIRPLANE 3: Terkesan…Bling Bling

Waktu berlalu dan ini tahun ke 5 menuju 6 ku dari 11 tahun perjalanan Elf. Aku masih disini, tentu saja. Tidak mudah untuk berpaling, bukan? Namun, bukankah dalam setiap perjalanan perjumpaan dengan orang baru dan hal baru adalah sesuatu yang wajar? Itulah tempat kita belajar ditengah perkembangan zaman yang berubah nyaris setiap saat. Menyukai hal baru bukan berarti melupakan yang lalu. Jadi, Selamat Ulang Tahun yang ke-11 ELF. Kalian mengesankan. So, what’s new?

IKON.

Itu mereka, jika Super Junior adalah kapanpun maka Ikon adalah sekedar ingin mampir. Mereka adalah salah satu tempat belajar yang cukup oke. Sempat aku blacklist ini boyband karena takut terpesona tetapi apa daya, mereka berbahaya dan yah… Sulit menampik pesona mereka, bukan?

Lalu alasan aku memilih IKON? Awalnya aku pikir aku menemukan Super Junior didalamnya, tetapi Super Junior memang tidak bisa ditemukan dimanapun selain di dalam Super Junior sendiri. Just like One of Kind. Sedikit persamaannya mungkin, mereka sama-sama kurang disukai di pasar korea dan lebih dicintai di pasar global, down to earth, memiliki sisi humor yang kuat dan skill variety show yang baik (suju lebih baik sebetulnya tapi mereka lumayan), serta membuatku jatuh hati (walau sekarang tidak lagi). Point lainnya, usia kami tidak berbeda jauh. Dari 7 member IKON, 3 diantaranya lebih tua satu hingga dua tahun dariku, 1 seusia dan 3 lebih muda dengan rentang yang sama, 1 hingga 2 tahun. Sehingga tidak heran jika banyak diantara pemikiran kami yang sejalan.

Kalian mungkin nonton acara seperti WIN (Who Is Next?) atau Mix & Match. Di sana kan mereka kelihatan masih…ya samalah seperti kita di rentang usia yang sama, awal 20 an. Emosi yang masih kemana-mana, problem-problem besar yang membuat kita pengen nyerah aja, masih suka stress atau kabur sesaat untuk menghindari masalah dsb. We have similar problem. So, it is easy to understand them. Dibandingkan dengan Super Junior, jelas berbeda sekali. Gap usia antara aku dan maknae (member termuda) mereka aja 9 tahun dan yang paling tua 13 tahun. Jadi, tentu bagaimana mereka bertindak sangat jauh berbeda dengan kita yang masih diawal 20an. Menariknya, usia 30an itu memiliki sudut pandang yang unik dan seru untuk diikuti. That’s why I stand beside them till now.

Memiliki kesamaan bukan berarti tidak memiliki perbedaan, bukan? Begitu juga IKON dan Super Junior. Jika Super junior membawaku mencintai lebih banyak hal di dunia, maka IKON mengajarkanku lebih dalam tentang musik yang dulunya tak kuketahui. Jelas saja, aku tidak memahami aliran musik mereka (lebih tepat disebut sense musik aku zero) diawal waktu, karena sangat berbeda dengan selera musik yang aku minati. Namun, di sanalah ketika untuk pertama kalinya aku mempertanyakan banyak hal tentang dunia musik karena aliran musik mereka yang tidak familiar untukku. Hal-hal kecil seputar pembagian lagu seperti intro, outro, reff hingga perbedaan antara track dan final track, sketsa musik, seluk beluk hip hop, how to make music, lyric, dan banyak lainnya. Banyak istilah-istilah baru di dunia musik yang akhirnya aku tahu berkat IKON ini (+review dari para pengamat musik). Mereka kan composer jadi expert sekali masalah begituan.

Beberapa waktu lalu, IKON meluncurkan album keduanya setelah Welcome Back Half ver dan Full ver yakni New Kids: Begin. Album ini terdiri dari 4 lagu Bling Bling, B-day, Bling Bling Intrumental ver dan B-Day Instrumental Ver. Di album baru ini IKON kembali menunjukkan sisi hip hop mereka yang kuat dan memang telah menjadi ciri khas IKON sejak sebelum debut. Sayangnya lagu ini tidak mendapat respon baik dari pendengar.

iKON-bling-bling-teaser

ikon_1495156330_DAJpv4YUwAEsSGz

Jujur aku sendiri kurang suka dengan Bling Bling karena lagu ini terdengar sangat datar dan tidak ada catchy point-nya, kecuali rap Hanbin di awal lagu yang banyak bahasa inggrisnya. Entah mengapa tiba-tiba skill English-nya Hanbin yeah...This is how we celebrate man. Sampai deg-degan nggak jelas tiap kali denger part itu. Sebenarnya aku menyukai komponen musik dan dance mereka di Bling Bling yang menurut aku trendy dan fresh, tetapi reff part-nya nggak addictive sehingga banyak orang mengatakan lagu ini sangat annoying.

Lalu bagaimana dengan B-Day? Untuk aku, lagu ini catchy banget. Melodinya lebih menyatu daripada Bling Bling dan jelas dia memiliki point reff yang lebih addictive. Ide lagunya menurut aku mirip dengan Mr. Simple dan Sexy Free & Single-nya Super Junior. Tentang hal-hal yang dilakuin anak muda di usia itu. Untuk pendapat member IKON, kebanyakan dari mereka sebenarnya lebih pro ke Bling Bling, cuma Bobby yang suka B-Day. Konsepnya sama, tentang party cuma B-Day itu menurut Bobby semacam beatnya dapet dan cocok buat musik klub (punya sense untuk membuat orang ngedance) (source: Pops in Seoul). Karena aku pun lebih pro ke B-Day, jadi aku punya pandangan yang sama kayak Bobby. Aku suka lagu-lagu yang punya sense ribut, semacam tiap denger pengen langsung gerak, ngedance-ngedance nggak jelas gitu. Aku kan rada laidback jadi butuh yang begituan. Namun, lagi-lagi lagu ini dianggap annoying. Jajeungna. Mereka disebut-sebut netizen gagal total dan mencatatkan sejarah terburuk di YG.

Sudut pandangku, menganalisis beberapa komentar yang ditulis oleh K-Net menurut aku lagu ini nggak diterima dengan baik karena 2 hal. Pertama, di album ini IKON menonjolkan konsep awal musik mereka dan itu bukan jenis musik yang disukai pasar Korea. Sesuai judul albumnya New Kids: Begin. Jadi ya memang baru dan sepertinya itu  jenis yang sekali lagi kurang diminati di Korea tetapi cukup dicintai pencinta musik global. Buktinya lagu mereka memuncaki I Tunes di 10 Negara. Mungkin orang korea itu sukanya yang jirit jirit macam SIGNAL, molla.

Kedua, IKON melakukan promosi panjang di Jepang dan terkesan mengabaikan Korea (konser DOME di Kyocera Dome dan Seibu Prince Dome pada Februari 2017 yang dihadiri 90.000 penggemar). IKON ini disebut-sebut sebagai grup yang paling cepat menggelar konser Dome. Kebanyakan, sebuah idol grup di korea baru akan menggelar konser, apalagi dome ketika anniv ke 2 atau 3 mereka. Selain itu, mereka juga disambut lebih hangat di Jepang dan itu beralasan jika mereka memfokuskan diri untuk promosi di Jepang. Menjangkau yang pasti (paling menguntungkan) dulu lah istilahnya (konsep dasar ekonomi). Tentang promosi panjang mereka di Jepang, mereka sendiri mengakui kalau mereka memang lebih banyak melakukan promosi overseas. Jadi, dengan dirilisnya album baru ini, IKON ingin lebih banyak melakukan promosi di Korea, tetapi sayang sekali sambutannya kurang menyenangkan.

Nah, yang aku takutkan adalah lagu ini down di situs musik Korea karena sentimen anti Jepang yang kental di Korea. Aku pernah membaca disebuah buku tentang do and don’t di Korea Selatan dan salah satu hal yang tabu dibicarakan kepada orang Korea Selatan adalah Jepang. Korea Selatan dulu sempat diinvansi oleh Jepang sehingga mereka sangat sensitif sekali jika menyangkut Jepang. Contoh paling sederhananya adalah tentang penyebutan bunga Sakura. Orang Korea sangat benci istilah bunga sakura karena itu sekali lagi mengandung unsur Jepang. Mereka memiliki istilah sendiri untuk menyebut bunga sakura, tetapi aku lupa sebutannya apa. Check by yourself.

Pernah juga beberapa tahun yang lalu Jepang menanamkan Investasi di LOTTE dan akhirnya LOTTE malah di demo dan diboikot oleh warga Korea Selatan. Ini artikel yang aku tulis tentang pemboikotan LOTTE. Jadi, mereka ini sentimen anti Jepang-nya sangat kuat. Mereka bisa hidup berdampingan namun ingatan akan Invansi Jepang selalu membuat mereka berang. Mereka tidak mendiskriminasi orang Jepang kok, buktinya ada beberapa anggota girl grup ataupun boy grup dari Jepang dan mereka biasa aja. Cuma ya, mereka sensitif aja sama topik Jepang.

Agak beda ya sama negara kita. Kalau Korea bersaing, kita malah baikan sama Belanda dan Jepang setelah dijajah habis-habisan. Hipotesis aku sih karena Korea bisa melampaui Jepang di banyak sektor sekarang ini, jadi mereka jelas memiliki confident lebih untuk bertarung dengan Jepang. Hal itu berbeda dengan Indonesia, kita kan ketergantungan sama Jepang jadi ya….gimana mau fight? There is no space to do, right?

Kembali ke IKON, yang aku takutkan adalah album barunya IKON tidak disambut baik ini dikarenakan oleh sentimen itu disamping aliran musik mereka yang tidak disukai. Tentang kecemburuan K-Fans yang merasa di nomor duakan oleh IKON. Aku sempat membaca komentar yang mengatakan “Kalian promosi panjang di Jepang, mengabaikan pasar korea dan begitu comeback berharap disambut baik? Jangan bermimpi, kalian bukan Big Bang.” Tidak hanya satu, ada banyak sekali komentar serupa. Paling banyak sih soal annoying song (Bling Bling and B-Day).

Ini hipotesis aku aja, faktanya bisa saja berbeda. Namun, bagaimana pun IKON keren sekali di comebacknya kali ini. Koreografi dancenya lebih atraktif dibanding koreo dance di lagu-lagu lama mereka. Musik mereka juga jauh lebih ngebeat, kreatif dan tentu IKON banget. Yeay, ketika IKON kembali menjadi IKON. Welcome Back. Terus, ide lebahnya itu di MV B-Day (lagunya emang ngomongin lebah sih).  Ya ampun, cute sekali dan mengingatkan aku ke kartun masa kecil yang pernah aku tonton dulu, Ha…ha…haji…ani…hachi. Pokoknya itulah cerita tentang si lebah dan ibu lebah itu loh yang katanya bikin orang nangis keras, tapi sukses bikin aku ketawa jahat. Eh tunggu, tadi sempet cek satu MV reaction soal lagu ini dan baru sadar, judul lagunya B-Day kan? Terus isi lagunya tentang lebah-lebah gitu. Bahasa inggrisnya lebah kan Bee. That’s why it’s called B-Day (similar intonation). Ah, i got it.

Satu lagi di MV B-Day yang membuat aku terkesan, soal kanguru dancenya itu. So, chic. I think it’s also the point dance. Aku curiganya ini Koreo terinspirasi dari acaranya Hanbin sama Jihwan Mari and I. Disana kan mereka merawat kelinci, nah ini koreo rada mirip pose kelinci juga kalau lagi waspada. Juga ide soal jajanan pasar korea (I don’t know the name) di MV Bling Bling, nice promotion. Meskipun Bling Bling identik dengan baju yang dipakai JYP tetapi IKON, you may not win on Music Show this time, but you know… you are BLING BLING too. Your music is BLING BLING. So, don’t worry to stay BLING BLING.

QueenDya

AIRPLANE 2: PERKENALANKU YANG TERLAMBAT

Aku tidak tahu bagaimana harus memulainya, sungguh, tetapi ini tahun ketigaku di dunia blog dan aku bahkan belum sekalipun memperkenalkan diriku. Jadi, bagaimana dengan memperkenalkan diriku terlebih dahulu? Tidak? Bagaimanapun aku akan melakukannya. Kalian tidak lihat judul tulisanku, itu tentang perkenalan dan aku akan melakukannya.

My name is Widya, W i d y a (spell in english!), tetapi sejak 5 tahun lalu aku memilih menggunakan nama koreaku (Han Yong Ra) di semua akun media sosialku dan entah bagaimana setiap orang mulai memanggilku demikian bahkan di kehidupan sehari-hariku. They always call me like that.

Aku jenis orang dengan pemikiran yang sedikit aneh dan nyentrik, seperti aku lebih menyukai jika orang-orang memberiku hadiah satu kardus cotton bud dari pada buket bunga di hari-hari spesial. Aku tidak menyukai ceremony wisuda karena itu menumpuk banyak sampah dan ketidaksadaran semua orang akan menyusahkan para petugas kebersihan. Sial, so disgusting. Kupikir lulus saja cukup (your experience and knowledge is more important), tidak perlu berfoto disegala penjuru dengan toga, buket bunga, dan calon pendamping hidup yang mendekap mesra. Tidak perlu (in my opinion). Selain itu, aku menyukai hal-hal yang penting dan aku sedikit ‘Wangja (Yang Mulia)’ like full of myself. Aku juga lebih menyukai kata “ingin” daripada “harus” karena itu menunjukkan bahwa aku memiliki pendirian dan tentu aku memahami koridornya. Aku cukup straightforward dan mencintai banyak hal khususnya negara-negara di dunia dan laki-laki tampan di usia 30an (astaga aku membicarakannya, kukira aku hanya menyebutnya dalam pikiranku).

buket-peach-4
 flowerbe.co

Sejauh ini aku tidak merasa diriku keren, hanya saja aku menyukai dunia yang kuciptakan dan aku merasa itu cukup bisa kusebut keren (self hypothesis). Aku jenis orang yang tidak memiliki cukup banyak teman karena aku terlalu sering bercengkerama dengan pikiranku juga tumpukan bukuku yang bahkan tidak memiliki 1 detik waktu pun untuk menghakimi, namun dengan senang hati berbagi pengetahuannya denganku. Terdengar antisosial memang, tetapi bukan itu, aku hanya introvet (pemilih) atau lebih tepatnya disebut Weird Introvet (pemilih yang aneh).

Aku tidak tahu apa ini berlebihan, tetapi aku banyak membaca buku dan itu membuatku cukup analitis dalam banyak hal (kamu harus membiarkan orang lain yang mengatakannya Widya). Aku tahu itu benar-benar wangja tetapi begitulah aku merasakan diriku. Aku mencintai banyak hal, mulai dari hal sederhana seperti yang sudah kukatakan tadi, cotton bud hingga hal-hal menyenangkan (new knowledge, travel, language, coffee, etc), serius (Hukum, kedokteran, psikologi) dan sangat serius seperti politik, humanistic, science, dan filsafat. Keterbatasanku dimasa lalu lah yang menumbuhkan rasa penasaran dalam diriku yang pada akhirnya membawaku membuka diri untuk mencintai banyak hal.

Bud1
http://www.nubimagazine.com

Tunggu, kamu bertanya seberapa terbataskah?

Uhm…bayangkan saja daerah pedalaman terisolasi. Itu deskripsi paling realistis dari kampung halamanku. Cobblestone street (jalan batu) and no internet access. Yang aku ingat, jika aku tidak pernah berjumpa dengan buku juga pengalaman traveling yang ditawarkan ibuku maka aku mungkin masih akan hidup dibawah batu sekarang. Big thankful to my beloved eomma. Mungkin juga aku tidak akan memiliki kesempatan berteriak “Oppa, neomu paboya”, “Michigeda”. Jangankan itu, kabar negaraku saja, tidak yakin aku mendengarnya tepat waktu, apalagi kabar dari negara lain. It sounds just impossible, but…I make it. Jika harus menyebutkan my hwa ya yeong hwa (the most beautiful moment in life) maka itu adalah pertemuan pertamaku dengan buku dan traveling belasan tahun lalu. Terkadang sulit untuk mempercayainya tetapi ini nyata, dan aku melihatnya. Itu selalu terdengar luar biasa untukku.

Seperti yang sempat kusebutkan diatas, aku cukup aneh dan banyak orang bertanya-tanya mengapa aku demikian. Baiklah, aku akan menjawabnya. Hal yang membuatku terdengar aneh ada dua hal. Pertama, aku membaca banyak buku dan aku mengoleksi banyak pengetahuan dan info terbaru. Side effecnya banyak orang tidak bisa mengerti jalan pikiranku karena perbedaan kebiasaan. Aku tidak sedang menyebutkan bahwa aku smart dan rajin. Aku cenderung malas dan laidback namun confident dan curiosity-ku lah yang membuatku terdengar seperti aku mengetahui banyak hal. Setiap kali aku membaca, yang aku rasakan adalah aku semakin tidak tahu karena setelah selesai membaca aku akan mempertanyakan hal itu. Kemudian ketika itu terjawab dia akan kembali menciptakan pertanyaan lainnya, terjawab lagi, timbul pertanyaan lagi dan begitu seterusnya.

Kedua, aku cukup imajinatif dan tidak menutup kemungkinan aku berpikir sangat dalam tentang keanehan. Sialnya, terkadang aku tidak bisa menyembunyikannya dengan baik dalam otakku dan malah membicarakannya dihadapan orang lain, dari sanalah kemudian mereka menilaiku aneh karena apa yang seharusnya hanya kuimajinasikan malah aku bicarakan dihadapan kelompok orang normal. Tentu saja aku di cap aneh. Sangat beralasan.

Seperti yang telah kukatakan sebelumnya, pemikiranku sulit untuk dimengerti orang lain. Sekali lagi aku membaca banyak buku dengan beragam genre dan itu meningkatkan kepekaanku juga wawasanku. Dari sana aku mulai menggelisahkan banyak hal yang berdasar banyak buku yang kupelajari tidak sesuai tempat. Terkadang aku bisa secara instan dan cepat menempatkan diriku untuk memahami, namun ada kalanya aku mengkritisinya cukup dalam dan aku belum bisa mengatakan “Ah igeo gwenchana (Ah, ini tidak apa-apa), aku bisa menerimanya”. Akhirnya aku bersikap – yang dianggap orang lain sebagai keluhan.

Dari sana aku mendapat banyak pelajaran nyata bahwa, memang tidak mudah bersikap empatik. Itu terlalu seperti mimpi. Men-judge dengan kecepatan cahaya memang lebih mudah dilakukan (dan memang banyak dilakukan) dari pada mendengar secara empatik, Kalian mungkin tidak sadar bahwa kalian sedang memaparkan autobiografi kalian pada masalah orang lain. Padahal berdasar pengamatanku “Satu masalah yang sama, yang terjadi pada dua individu berbeda tidak bisa diselesaikan dengan cara yang sama karena faktor pendukungnya yang juga berbeda pada setiap individu”. Jadi, tolong telusuri lagi jika kalian memberi nasihat pada orang lain.

“Oh, apakah aku telah mendengar secara empatik ataukah aku sedang memaparkan autobiografiku yang tidak ada menarik-menariknya itu. Damn, that’s terrible.”

Jujur, aku juga pernah melakukannya dan aku memperbaikinya.

Aku punya cerita aneh, jadi aku sedikit bermasalah dengan dosen pembimbing Tugas Akhirku. Beliau ini lebih menyukai jalan yang berkelok-kelok meskipun ada jalan lurus yang bisa memangkas waktu tempuh. Aku selalu bertanya AADB (Ada Apa dengan Beliau?). Ini merugikanku dan aku tidak bisa menerimanya. Kami sama-sama sibuk dan jika kami bisa sama-sama mengefektifkan waktu, jelas itu akan menjadi keuntungan menarik bagi kedua belah pihak. Herannya itu tidak bekerja. Kupikir budaya negaraku memang demikian.

Lebih menyebalkan lagi, beliau mengkritik hal-hal tidak penting seperti kenapa aku tidak menghadiri seminar A dan lainnya? Kalau begitu aku juga ingin bertanya “mengapa aku harus melakukannya (menghadiri seminar)? Aku mengetahui adanya seminar itu tetapi aku tidak berpikir itu menguntungkanku. Seminar tentang kecap.

Sejauh ini aku selalu memilih banyak hal dengan intuisiku dan aku merasa itu tidak akan menarik. Faktanya, itu bahkan tidak meleset sedikitpun. Oh ayolah, si seminar kecap itu, yang memaparkan cara pembuatan kecap. Aku bahkan telah mendengarnya selama satu semester penuh dan saking muaknya aku bahkan tidak bisa memakan kecap lagi.

Aku ingin bercerita satu hal lagi, dalam buku The 7 Habits for Highly Effective People, Steven menyebutkan tentang lingkar pengaruh atau menciptakan lingkar pengaruh. Itu terdengar sangat menarik dan aku pikir itu bisa menjadi salah satu solusi masalahku, akhirnya aku memutuskan untuk mencobanya.

-skip-

Hasil akhirnya, itu berhasil pada banyak orang dan yang paling membuatku surprise dan ingin kuceritakan adalah uji cobaku dengan ibuku.

Kami jenis orang yang aneh (indeed). Ibuku cukup terbuka namun dibeberapa topik masih sering membawa pengalaman masa lalunya (generasi X). Sedangkan aku, cukup terbuka juga namun dalam beberapa hal kami benar-benar akan sangat sengit meskipun kami bercengkerama yang sesekali disisipi tawa. Berdasar hasil pemindaian diatas, akan sangat menarik jika aku berbicara dengan warna baru pada beliau demi menuntaskan rasa penasaran yang terkadang membuatku tercekik.

Mulailah aksi remake ala-ala Widya zaman masih jadi anggota reporter majalah SMA dulu. Aku bikin tuh daftar pertanyaan seperti ketika kita akan mewawancarai seseorang yang cukup berpengaruh. Telepon kami tersambung dan aku mengawalinya dengan menyepakati MOU. Setelah kami saling memahami peran kami masing-masing, mulailah prosesi tanya jawab itu. Singkat cerita, kami sama-sama straightforward dan aku mendapat semua jawaban yang kuperlukan.

Waktu berlalu dan teleponku berdering kembali, namun seperti yang sudah terduga, aku melewatkannya. Aku cenderung tidak menyukai ponsel karena aku merasa terganggu dengan keberadaanya dan aku selalu melupakan dimana aku meletakkannya. Beberapa jam kemudian aku menyadari notifikasi panggilan tak terjawab di ponselku, Eomma (bunda). Aku memutuskan untuk memanggil kembali, seperti biasa beliau selalu menjawabnya setepat jadwal sholat lima waktu. Percakapan kami mengalir dan tiba-tiba beliau menyampaikan banyak hal. Tahu apa, aku terkejut karena mendapati beliau yang empatik. Beliau menyebutkan banyak referensi yang dibacanya dan mulai memahami jalan pikiranku yang terlihat selalu melenceng di mata orang lain. Itu menarik dan disisi lain aku mendapat momen yang tepat untuk mengekspresikan diriku. Aku berhasil menciptakan lingkar pengaruhku dan kami berjalan di titik yang sama winwin solution.

Ini bukan pertama kalinya winwin solutionku berhasil, namun ini yang paling luar biasa dan aku cukup terkejut. Kami memiliki gap generasi yang tidak tanggung-tanggung jauhnya. Generasi X akan memuja pengalaman hidupnya yang dipenuhi dramatisme pasca penjajahan, sedangkan generasi milenial percaya dengan dunia milenialnya yang tentunya sangat jauh berbeda dengan generasi X. Kemudian ketika kami bisa menyepakati winwin solution, itu terdengar seperti keajaiban saja. Terkadang sulit untuk mempercayainya namun ini menyenangkan, seperti kami sedang berkemah di bawah pohon skaura di musim semi. Nilai plusnya, masalah teratasi.

Aku masih memiliki banyak hal untuk kukatakan tentang diriku, namun kupikir ini cukup untuk sekedar perkenalan. Jadi, tarik kesimpulanmu sendiri. Itu akan membantumu berpikir, dan berpikir akan membuka duniamu yang berkabut. Selamat mencoba, selamat berpikir dan senang berkenalan dengan kalian. Terima kasih untuk mengunjungi duniaku yang aneh ini. Ini membuatku tersentuh. Kiss ya…Cherioo..

P.s For my close friend Haha, Please, forgive me to be a wangja. Kemudian kenapa gambar utamanya kereta? Karena kereta perlu menempuh perjalanan selama beberapa waktu untuk sampai di tujuan dan aku juga sedang melakukannya. Melewati kantor imigrasi dan check in sebelum memasuki pesawatku yang akan take off sesuai jadwal keberangkatan. Hey, Mr. Airplane

AIRPLANE 1: CINTA ITU…KEBINGUNGANKU

Diantara banyak hal yang tidak kupahami, cinta adalah salah satunya. Aku pernah menonton sebuah drama Taiwan di tahun 2012 lalu yang mengisahkan tentang seseorang yang ingin menjadi Idol. Drama yang karenanya membuatku membenci Donghae oppa dikarenakan pendalaman perannya yang membuat frustrasi. Pada akhirnya aku berhenti melihatnya karena kehabisan kata makian. Kembali ke drama tadi – Skip Beat, sebagai idol tentu dia membutuhkan sebuah cinta, cinta dari para penggemarnya. Namun, hal yang melatarbelakangi mimpinya tersebut adalah keinginannya untuk membalas dendam masa lalunya, dan semuanya hanya menjadi kekacauan belaka. Akhirnya, dia belajar banyak hal dan mencari makna dari sebuah cinta. Aku tidak yakin apa dia mendapatkannya atau tidak karena drama itu berakhir dengan tanda tanya.

Pelajaran yang bisa diambil dari drama ini tentunya kita sebagai manusia memang membutuhkan cinta, mungkin, atau lebih tepat dikatakan berbagi cinta. Entahlah. Bagi banyak orang love is interesting but for me love is like depresing and confusing. So, I don’t think I understand…

By the way, tentang cinta para penggemar itu, aku jadi keinget iKON di WIN sampai Mix & Match. Disitu terbukti bahwa cinta para penggemarlah yang akhirnya menyatukan iKON setelah drama dua kali perang saudara. Yang Hyung Suk Sajangnim, terima kasih untuk pertunjukkan yang sangat sentimental dan adegan hilangannya kepercayaanku pada produk penghilang mata panda. Ini gagal, aku melihatnya dibalik cermin. Ouh…sangat mengerikan.

Sedikit tentang iKON, mereka ini luar biasa sekali perjuangannya untuk debut karena kisah sukses dua kali perang saudara yang diadakan Yang Hyung Suk Sajangnim. Astaga, sampai sekarang masih kesel banget dengan sistemnya YG ini. Meskipun bisa di cerna dengan jelas maksud dan tujuannya namun, tetap saja sistemnya lumayan kejam. WIN (Who is Next?) itu sangat kompetitif, sentimental juga tetapi M&M jauh lebih kejam. Bagaimana jika kalian yang awalnya berada di satu tim yang sama, berjuang bersama selama berbulan-bulan kemudian kalah dan diadu dengan teman satu tim? Masih gitu ada penambahan 3 orang baru dan hanya 3 dari 6 member lama yang dipastikan lolos. Padahal perjuangan mereka di WIN udah nggak kehitung lagi, belum lagi ditambah training biasa yang mereka jalani selama 2.5 tahun. Pada akhirnya aku paham alasan kaburnya B.I selama 4 jam. Kita yang nonton aja ikut frustrasi, apalagi mereka yang menjalani. iKON jjang!

wpid-screenshot_2015-10-11-17-06-40
iKON – AIRPLANE

Untuk aku, iKON ini sebenarnya sama membingungkannya dengan cinta, tidak bisa aku pahami. Pertama kali jatuh cinta dengan Winner (pemenang WIN), aku pikir Winner itu sudah cukup luar biasa dan pastinya aku masih memahami aliran musik mereka, tetapi iKON, they just like danger flowers in spring day.

tumblr_nvw6w0YMBU1qamp90o4_1280

Saking takutnya jatuh, aku pernah mengatakan ke temanku bahwa aku nggak ingin lihat iKON karena mereka terdengar berbahaya… berbahaya untuk masa hidup memori laptopku yang nyaris tak terselamatkan lagi. Namun, Pesawat (Airplane – salah satu judul lagu iKON) itu membuatku jatuh… jatuh pada pesona mereka. Hey Mr. Airplane.

tumblr_nvw6w0YMBU1qamp90o3_1280

Lucunya, Hip Hop yang dulunya tak ku pahami, akhirnya malah membuatku kalang kabut terpesona. Rhythm Ta-nya catchy-able, WYD-nya spring-able. Airplane-nya…Astaga gue udah di conter check ini, Cuma masih cek cok aja sama petugasnya yang sialan itu.

잠깐 멈춰봐 비가 오잖아
바람 불잖아
지금 가면 위험하니까
Hey Mr. Airplane
잠깐 멈춰봐 시간 많잖아…

[TRANS]
Berhenti sejenak, hari sedang hujan
Angin bertiup, akan berbahaya jika kamu pergi sekarang
Hey Mr Airplane
Berhenti sejenak, ada banyak waktu…

Tolong tunggu aku.

Kembali ke cinta, entah mengapa, menghadapi orang yang tidak menyukaiku terasa jauh lebih mudah dapipada orang yang membagi cintanya untukku. Itu membuat depresi, sungguh. I think a lot about it and I just more confuse than understand. Temanku pernah menulis di akun twitternya “Terlalu lama mandiri, akan membuatmu bingung begitu bertemu dengan cinta”. Entah bagaimana, itu terdengar benar.

Aku sempat mengirim pesan ke dia yang isinya “Oh, merinding”.

Terus dia bales “Serem ya?”

“Mimpi buruk.”

Kalau dipikir lagi, rasanya lebih mudah berbicara tentang filsafat dan politik daripada cinta. Lebih mudah lagi untuk beramah tamah dengan haters daripada lovers because haters make me thinking, but lovers make me confusing. Tidak perlu jauh-jauh berbicara hingga cinta, tersenyum saja aku pernah berlatih private ke seseorang dan itu benar-benar terasa sangat lucu sekarang. Hey, mungkin kamu masih ingat, Sanggar Tari Srikandi, jam 4 sore untuk syuting film tugas akhir kita “Me and K pop”.

Berbicara tentang film ini, ada cinta juga diantara kita…Yesung oppa, bogoshipda. Kyuhyun oppa…ppali na ga…25 5 2017 – 25 5 2019. 내가 있잖아 (I’m With You).

Forget it. It just too embarrassing. I can’t even watch my face after watched that movie. The amazing one is I still love it. Chingu-ya bogoshipda. Nonton film ini bareng-bareng yuk 10 tahun lagi, aku pastikan kita akan mengalami diare 7 hari saking cringing-nya. Don’t forget to prepare your medicine.

Okay, Let’s finished right now, cinta… aku menyerah tetapi aku akan mencari titik yang bisa kupahami, Hey Mr. Airplane. Thanks for everyone who give their love to me. Saranghamida. La li la di dada la li da…

Itu ceritaku tentang cinta, neo?

P.s Tentang kenapa Mr. Airplane, itu karena pilotnya diasumsikan (sialan bahasa teknik kimia) laki-laki.