Is There “One More Chance”?

Caution: This is nothing. Just the thing in my mind that coming out. So, becarefull, I’m warning you, this is nothing.

Ada ribuan pertanyaan di dalam kepala ini setiap waktunya. Tentang mengapa aku ingin? Mengapa aku harus jatuh cinta? Mengapa aku harus peduli? Mengapa aku tidak jadi orang yang tidak mau tahu saja? Mengapa aku tidak hidup normal dalam ketidaktahuan saja? Dan mengapa-mengapa lainnya.

Kemuakan ini kian menumpuk, menarik semua emosi dari dalam kepala. Aku nyaris meledak tetapi aku belum juga bisa berbuat sesuatu hal. Itu sangat menjengkelkan sungguh. Kemudian pertanyaan-pertanyaan itu akan berubah menjadi bagaimana aku menemukan cara untuk mengubahnya? Oh, apakah aku bersungguh-sungguh? Apakah aku hanya berteriak omong kosong? Bisakah aku melakukannya? atau apakah aku sudah melakukan suatu kerja? Entahlah. Jika bagan rencana termasuk kerja, maka ya, berarti aku mungkin sedang bekerja.

Pendidikan itu betul-betul, bisakah tidak menghantuiku seumur hidup? Aku benar-benar sangat muak sekali. Tetapi tahukah kalian, melihat sesuatu yang melenceng setiap harinya nyatanya tak semudah itu terlupa. Hal itu seperti mengakar di dalam otakmu, muncul secara berkala, dan berbisik di telingamu “kamu yakin ini benar? Tidak ingin ada perubahan, eh? Hey, lihatlah dirimu yang payah itu?”. Tidak bisa kamu berpura-pura tidak mendengarnya, tidak melihatnya, dan yang terburuk momen itu tidak akan pernah membiarkanmu menjadi orang normal kembali dengan rutinitas “yes, it’s okay”. You can’t say anything okay after that for sure. Seperti yang dikatakan Haruki Murakami,

Seseorang yang melewati badai tidak akan pernah menjadi orang yang sama.

Terkadang kita berharap suatu pengertian dari orang lain, tetapi itu tidak bisa terjadi karena apa yang kamu cemaskan tidak lebih dari kenormalan bagi mereka. Lalu siapa? Kepada siapa kita harus berbicara? Ini sesuatu yang sulit untuk dikerjakan sendirian. Dari seribu orang, hanya satu diantara mereka yang sejalan dengan apa yang kita pikirkan, dan menemukan satu itu bukanlah perkara mudah.

Sejak 2016 lalu aku mengikuti beberapa forum berita online internasional. Banyak hal-hal tidak biasa yang tertulis di sana. Sesuatu yang tidak terlalu bisa aku pahami karena kontennya yang bersifat future. Kemudian bulan ini, oktober, salah seorang Profesor yang bukunya menjadi langgananku tiba-tiba mengumumkan peluncuran buku. Masih di minggu yang sama aku pikir aku harus bergegas untuk mendapatkan buku itu, tetapi ternyata masih belum beredar di toko buku. Setelah menunggu selama 2 minggu lamanya buku itu akhirnya kutemukan juga. Selalu seperti itu, ketika mulai ada hal yang mengganjal di hati dan keinginan pergi ke toko buku membuatku tidak bisa tidur berarti ada sesuatu yang bisa aku dapatkan di sana.

Lalu apa keterkaitan buku itu dengan semuanya? Sesuatu yang istimewa karena buku itu berisi penjelasan lebih mendetail tentang berita-berita ‘aneh’ yang aku baca di beberapa forum berita internasional tersebut. Tomorrow is Today  ini merupakan seri selanjutnya dari Disruption yang dirilis pada Februari 2017 lalu oleh Prof. Rhenald Kasali. Jika Disruption masih sekedar arus sungai  bergelombang ringan maka Tomorrow is Today adalah gelombang lautan dikala badai. Lebih menyalak.

Setelah membaca buku tersebut satu yang bisa aku pikirkan adalah, kali ini presentase kemungkinan perubahan akan naik tinggi, dalam hal ini yang aku maksudkan adalah khusus dunia pendidikan. Dari sekian banyak hal di dunia Disruption, yang paling ingin aku lihat hanya ada satu yaitu disruption di dunia pendidikan. Bagaimana pendidikan akan berjalan setelah disruption itu? Apa kiranya yang akan terjadi dengan incumbent-incumbent itu nantinya? Tentu akan sangat menarik. Aku ingin mereka tersadar bahwa pendidikan hari ini bukanlah masa lalu yang mereka tuhankan itu. Aku ingin mereka tahu bahwa ada begitu banyak hal yang harus dibenahi di dalam institusi pendidikan. Roh yang melayang entah di belahan dunia manakah itulah yang harus di tarik kembali.

Kalian ingat kronologi penangkapan bupati Buol, Sulawesi Tengah 2012 lalu? Aku harap kalian masih mengingatnya. Beberapa hari lalu aku memutar video penangkapan si terdakwa korupsi tersebut yang sangat menegangkan sekaligus mengherankan. Jadi, jika kalian masih ingat, si terdakwa korupsi ini berhasil melarikan diri ketika akan ditangkap pada 26 Juni 2017. Bahkan mobil yang ditumpanginya bersama para pengawalnya sempat menabrak mobil dan motor yang dipakai oleh para penyidik KPK. Tidak berhenti sampai disana, bupati koruptor ini setelah berhasil melarikan diri kerumah dinasnya (sebelumnya beliau berada di villanya di tengah perkebunan sawit untuk melakukan transaksi korupsi), rumah itu telah dijaga oleh para pendukungnya yang siap mati untuknya (nah, nggak ngerti, ada yang begituan ya?). Mereka membawa barang-barang berbahaya seperti pisau dan sebagainya. Hal itu kemudian memaksa KPK mundur demi keamanan dan kembali pada bulan Juli bersama pasukan elit polri, Densus 88. Luar biasa ‘kan? Menangkap koruptor saja layaknya menangkap teroris.

Setelah melihat itu aku pikir, pendidikan di Indonesia tidak bisa dibiarkan seperti ini secara terus-menerus. Generasi muda Indonesia tidak boleh menjadi seperti mereka lagi. Pendidikan harus bisa membangun nurani, karakter, dan etika para generasi penerus. Tidak cukup dengan gemuruh pengetahuan saja. Jika dibiarkan, masa depan Indonesia sudah pasti akan menjadi seperti apa.

Jadi, bagaimana membawa masa depan itu ke hari ini? Pasti ada suatu cara ‘kan? This is my imagination.

Edda

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s