Penjajahan Era Kini

Hari-hari ini PKI sedang hits-hitsnya menjadi topik perbincangan di Indonesia. Apa menariknya coba? Suju lebih populer ‘kan? Ah lupakan, bukan itu juga yang ingin aku bicarakan.

Karena PKI sedang berada di puncak popularitas (aku membicarakannya ternyata), banyak orang berpikir “oh ini situasi yang sangat berbahaya, bagaimana jika yang terjadi dimasa lampau terulang kembali? Akan dibawa kemana masa depan bangsa ini? (kalau itu, nggak usah nunggu PKI hits pun sudah ada pertanyaan mau dibawa kemana masa depan bangsa ini?) dan banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya”. Ya, itu menakutkan sih meski hanya dalam imajinasi, tetapi mengapa aku lebih takut dengan matinya literasi? Dari sana aku berpikir, oh tidak hanya PKI saja yang ingin bangkit, masa lalu memang sedang dibangkit-bangkitkan sekarang ini.

Pernah mendengar larangan membaca beberapa jenis buku bagi perempuan di masa lalu? Larangan mengenyam pendidikan? Atau stigma tentang perempuan yang identik dengan kasur, dapur, dan sumur? Tolong cacat, aku tidak berbicara tentang kesetaraan oke. Aku salah satu yang tidak mempercayainya jika ingin tahu. Jadi tolong jangan membawanya kesana.

Jadi bagaimana? Tidak asing, bukan? Aku mengalami beberapa situasi yang bahkan meski menarik untuk ditulis tetapi sama sekali tidak asik juga untuk dibanggakan.

Aku mendapat larangan membaca buku.

Oh why? Tahun berapa sih ini? Kolonial zaman apalagi sekarang? Yang pasti tidak terlalu mengejutkan. Indonesia kan negara zero literasi, aku saja yang agaknya berlebihan. Tetapi begini, alasan kenapa aku dilarang membaca adalah karena aku dinilai berpikir terlalu out of the box, menghayal, dan menjadi gila. Spinoza mengalaminya, seorang laki-laki memang, tetapi pemikirannya yang membuatnya dianggap gila dan dicoret dari daftar warisan (sial, bahasanya sinetron sekali) dan bahkan keanggotaan keluarga. Spinoza memang rumit, tetapi aku tidak sampai di level itu. Ingin pendidikan terbaik, membaca banyak buku, dan traveling, tidakkah itu terdengar wajar? Termasuk juga membuat passport. Bagaimana itu dianggap suatu kegilaan? Jadi siapa yang gila sebetulnya? Terlalu banyak pertanyaan, dan selalu hanya ada sedikit jawaban.

Catatan juga, buku yang aku baca pun masih buku yang wajar-wajar saja dan tentu dengan porsi yang tidak berlebihan. Kita aja milih sayur di pasar sampai pusing, bagaimana nutrisi otak dipilih secara sembarangan? Buku adalah salah satu guide kita untuk melihat dunia, yang mungkin akan mempengaruhi cara pandang kita. Akankah buruknya jika itu dipilih secara sembarangan.

Oh, ayolah, wajar bukan sih ketika kamu banyak belajar kemudian kamu mendapati bahwa beberapa hal memang salah? Apa menurutmu mencontek itu benar? Bermoral? Tidak kan? Begitupun kebiasaan tidak tepat waktu. Itu tentu hal yang salah, setidaknya menurutku? Hey, ingin mendengar kontradiksi tidak?

Ini…

Perbedaan definisi tidak tepat waktu bagi aku dan mantan dosen bapak di kampus.

Me: Tidak tepat waktu itu mental illness.

Mr. Dosen: Tidak tepat waktu itu adalah salah satu cara pembentukan mental bagi mahasiswa.

Nah loh. Sinting memang sih. Begitulah ketika hal yang tidak benar dibiasakan, ya akhirnya dibenar-benarkan. Mentang-mentang sudah jadi signature culture masyarakat Indonesia, jadi dianggap fine fine saja. Ada nasehat seperti ini…

“Jangan benarkan kebiasaan, tetapi biasakanlah yang benar”.

Kata-kata memang selalu lebih mudah, sedangkan praktik adalah bagian dari definisi kerumitan.

So, what do you think? Mental illness atau pembentukan mental? Hahaha, kalau tidak tepat waktu adalah pembentukan mental, revolusi mentalnya Pak Jokowi nggak guna donk ya? Kan sudah mendarah daging itu.


p.s picture source: https://i.pinimg.com/

Quenndya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s