One More Chance (슈퍼주니어) on Review

Semalam Super Junior merilis Pre-realese song “One More Chance” untuk  album ke-8 mereka “PLAY”. Jujur agak kaget karena schedule perilisan dan teaser lagu One More Chance keluar di waktu yang bersamaan. Sedangkan antara teaser dengan full music video hanya berjeda selama beberapa jam saja. Awalnya aku pikir, mungkin masih besok sore seperti yang biasa mereka lakukan beberapa tahun terakhir, tetapi ternyata mereka kembali ke kebiasaan lama dengan merilis album di tengah malam.

22857772_312649499142178_6274110486812295168_n

So, now let’s talking about this song.

Pertama, lagu ini diciptakan oleh Donghae Super Junior. Untuk lriknya aku kurang tahu siapa penulisnya, tetapi khusus rap part itu ditulis oleh Eunhyuk oppa. Lagu ini sempat menjadi kandidat kuat tittle track, akan tetapi Super Junior signature itu Dance song maka dari itu setelah melalui beberapa diskusi panjang (kalian bisa menontonnya di SJ Returns) akhirnya lagu ini dipilih sebagai pre-realese song. Lagu ini, seperti yang dikatakan Donghae oppa, akan menunjukkan warna dari masing-masing member. I think that’s true. This song is suit them well.

Sebetulnya kalau pun mereka memilih ini sebagai tittle track aku pikir tidak masalah juga karena lagu ini sangat bagus, hanya saja tentu akan ada cukup perubahan pada image mereka. Oleh karena itulah, diantara dua kemungkinan tersebut Super Junior lebih memilih mengikuti identitas lama mereka daripada menciptakan image baru dan memilih Blacksuit dibandingkan One More Chance.


Kedua, tentang pembagian part di lagu ini. Ada yang seru, jadi aku pikir aku mendengar suara Yesung oppa nyaris sepanjang lagu untuk pertama kalinya. I’m really surprised. Sebagai main vocalist Yesung Oppa jarang mendapat banyak part menyanyi di album Super Junior sebelum-sebelumnya. So, I’m really happy to hear his voice often in this song, his friends is also think like that. His voice is suit this song well (sorrow voice).

Untitled

16

Selain itu, untuk member lain masing-masing dari mereka memperoleh part yang sesuai dengan warna suara mereka. For example, Eunhyuk dengan rap part-nya yang memesona, Donghae sebagai pembuka lagu sekaligus tokoh utama yang merasa paling kesepian (I think he want to getting married ㅋㅋㅋㅋ), Heechul yang sejak Narcissus suaranya berhasil merebut perhatianku dari Kyuhyun (sorry Kyuhyun, selesaikan saja wamil-mu itu), Siwon yang suaranya sesekali masih terkontainasi ingatakanku sebagai Byun Hyuk yang suka merengek di Revolutionary Love (Your image is surely something), Shindong yang kayaknya part-nya masih sedikit aja, dan Leeteuk yang mungkin selama recording berhasil menurunkan 5 Kg berat Donghae dan J-dub (he said that in SJ Returns). It’s comes out well, maybe Donghae and J-dub is surely lose their weight, ㅋㅋㅋㅋ.


Ketiga, tentang Music Video. Entah perasaanku aja atau bukan tetapi aku pikir MV kali ini contains YG Style. Konsep MV seperti ini biasanya banyak digunakan oleh artis-artis YG, dark, smoke, and many aisles. Selain itu, MV ini agak mirip juga dengan MV D&E Growing Pains, empty and show the lonelieness.


Sekarang agak subjektif (dari awal udah subjektif kali), soal scence favorit. Scene favorit aku di MV ini itu di part-nya Eunhyuk oppa pas lari di bawah hujan with the slow motion effect. Oh, that’s damn cool. He manage his face well, eh. Like what he said in today’s SJ Returns episode. He afraid to be more ugly. ㅋㅋㅋㅋ.

19

Sadar atau enggak di MV ini dari 7 member yang lari cuma tiga member aja (Eunhyuk, Yesung, Donghae). Sebenarnya Shindong juga lari sih, tapi abaikan aja, nanti konsep Tom and Jerry-nya jadi nggak match. Masih ingat nggak, di SJ Returns konsep relationship mereka itu seperti Tom and Jerry. Yesung Tom and D&E Jerry, Jadi ya mereka emang harus lari-lari terus, yang lain kan manusia normal jadi jalan santai aja. Okay!

Terakhir, masih di SJ style, modelnya lagi-lagi mukannya nggak di shoot. ㅋㅋㅋㅋ.

So, What do you think about thier new song? They look differently, right?

Edda


P.s. Siwon nggak akan ikut promosi di album kali ini. I don’t know why? tetapi mungkin itu berkaitan dengan kasus Bugsy. Kalau memang itu alasannya, aku pikir itu adalah yang terbaik karena sangat tidak etis jika setelah kasus penggigitan oleh Bugsy yang menyebabkan kematian itu, Siwon oppa berdiri di atas panggung untuk promosi album. So, it’s okay. We will waiting for you like what we did to Sungmin and Kangin, also the boys in the army Kyuhyun and Ryeowook. Gidaryeo. Hakuna matata!

DNbRkG-VAAA92rf

비처럼 가지마요 mean Don’t Leave Like The Rain. But they make another tittle “One More Chance”.

Actually a few months ago (on January 9, 2017) I wrote that I was looking forward to their comeback and I hope they make a good song. I want an official soundtrack, that means I hope they make a song that fits my situation and it’s ‘One More Chance.’ Yes, I hope “One More Chance’ today for something. So, thank you for this perfect timing Donghae oppa. Your song is suit me well. Good luck Super Junior. The most lovable ahjussi. Please becarefull with Blacksuit dance. Don’t break your bones. Fighting!

xx

Iklan

For Terra Incognito

Today it will all reach a clear ending point that no one will agree with except myself and God (I hope).

I’m finished

Enough

No more doubts like yesterday

Cloudy slowly blurred

The sun shines

I believe in my decision

At least I will not kill myself for the second time

Yes, quite once and not anymore

Crowded

I think something has taken away all my oxygen

It’s hard, my leg broke

I know my decision sounds crazy, but I just stop for this, not for any plan of my life

Please let me

Not a single tree lives under the ocean

And this is not a fictional story about the famous mermaid

Trees must grow on the ground or die

Oxygen is getting thinner and I know that all I have to do is run to the mainland before I no longer have a chance

Just wait, I will prove that my decision is the wisest among them

So, again, let it


Edda

Penjajahan Era Kini

Hari-hari ini PKI sedang hits-hitsnya menjadi topik perbincangan di Indonesia. Apa menariknya coba? Suju lebih populer ‘kan? Ah lupakan, bukan itu juga yang ingin aku bicarakan.

Karena PKI sedang berada di puncak popularitas (aku membicarakannya ternyata), banyak orang berpikir “oh ini situasi yang sangat berbahaya, bagaimana jika yang terjadi dimasa lampau terulang kembali? Akan dibawa kemana masa depan bangsa ini? (kalau itu, nggak usah nunggu PKI hits pun sudah ada pertanyaan mau dibawa kemana masa depan bangsa ini?) dan banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya”. Ya, itu menakutkan sih meski hanya dalam imajinasi, tetapi mengapa aku lebih takut dengan matinya literasi? Dari sana aku berpikir, oh tidak hanya PKI saja yang ingin bangkit, masa lalu memang sedang dibangkit-bangkitkan sekarang ini.

Pernah mendengar larangan membaca beberapa jenis buku bagi perempuan di masa lalu? Larangan mengenyam pendidikan? Atau stigma tentang perempuan yang identik dengan kasur, dapur, dan sumur? Tolong cacat, aku tidak berbicara tentang kesetaraan oke. Aku salah satu yang tidak mempercayainya jika ingin tahu. Jadi tolong jangan membawanya kesana.

Jadi bagaimana? Tidak asing, bukan? Aku mengalami beberapa situasi yang bahkan meski menarik untuk ditulis tetapi sama sekali tidak asik juga untuk dibanggakan.

Aku mendapat larangan membaca buku.

Oh why? Tahun berapa sih ini? Kolonial zaman apalagi sekarang? Yang pasti tidak terlalu mengejutkan. Indonesia kan negara zero literasi, aku saja yang agaknya berlebihan. Tetapi begini, alasan kenapa aku dilarang membaca adalah karena aku dinilai berpikir terlalu out of the box, menghayal, dan menjadi gila. Spinoza mengalaminya, seorang laki-laki memang, tetapi pemikirannya yang membuatnya dianggap gila dan dicoret dari daftar warisan (sial, bahasanya sinetron sekali) dan bahkan keanggotaan keluarga. Spinoza memang rumit, tetapi aku tidak sampai di level itu. Ingin pendidikan terbaik, membaca banyak buku, dan traveling, tidakkah itu terdengar wajar? Termasuk juga membuat passport. Bagaimana itu dianggap suatu kegilaan? Jadi siapa yang gila sebetulnya? Terlalu banyak pertanyaan, dan selalu hanya ada sedikit jawaban.

Catatan juga, buku yang aku baca pun masih buku yang wajar-wajar saja dan tentu dengan porsi yang tidak berlebihan. Kita aja milih sayur di pasar sampai pusing, bagaimana nutrisi otak dipilih secara sembarangan? Buku adalah salah satu guide kita untuk melihat dunia, yang mungkin akan mempengaruhi cara pandang kita. Akankah buruknya jika itu dipilih secara sembarangan.

Oh, ayolah, wajar bukan sih ketika kamu banyak belajar kemudian kamu mendapati bahwa beberapa hal memang salah? Apa menurutmu mencontek itu benar? Bermoral? Tidak kan? Begitupun kebiasaan tidak tepat waktu. Itu tentu hal yang salah, setidaknya menurutku? Hey, ingin mendengar kontradiksi tidak?

Ini…

Perbedaan definisi tidak tepat waktu bagi aku dan mantan dosen bapak di kampus.

Me: Tidak tepat waktu itu mental illness.

Mr. Dosen: Tidak tepat waktu itu adalah salah satu cara pembentukan mental bagi mahasiswa.

Nah loh. Sinting memang sih. Begitulah ketika hal yang tidak benar dibiasakan, ya akhirnya dibenar-benarkan. Mentang-mentang sudah jadi signature culture masyarakat Indonesia, jadi dianggap fine fine saja. Ada nasehat seperti ini…

“Jangan benarkan kebiasaan, tetapi biasakanlah yang benar”.

Kata-kata memang selalu lebih mudah, sedangkan praktik adalah bagian dari definisi kerumitan.

So, what do you think? Mental illness atau pembentukan mental? Hahaha, kalau tidak tepat waktu adalah pembentukan mental, revolusi mentalnya Pak Jokowi nggak guna donk ya? Kan sudah mendarah daging itu.


p.s picture source: https://i.pinimg.com/

Edda