What I talk About When I Talk About Bullying

Topik bullying itu untuk aku sama membosankannya dengan topik pendidikan di Indonesia. Seperti tidak ada solusinya. Jadi lupakan saja.

Oh, tidak. Baiklah.

Tentu bullying sesuatu yang sudah seharusnya tidak boleh terjadi. Akan tetapi akhir-akhir ini kasus bullying semakin gencar saja dilakukan begitupun level bullying-nya yang kian sadis. Naik level ceritanya, menyesuaikan diri dengan era millenial.

Tujuan aku menulis ini sebetulnya untuk menindaklanjuti artikel yang ditulis oleh seorang teman blog aku karena setelah aku pikir-pikir lagi aku tidak terpikir solusi apapun dan hanya meninggalkan like saja. Karena itu bukan gayaku (meninggalkan like saja) jadi harus ada tindak lanjut.

Apakah aku pernah menjadi korban bully?

Ya, aku pikir beberapa tindakan bisa dikategorikan sebagai pembullyan. Saat itu di Sekolah Menengah Pertama, ada seseorang yang sangat tidak menyukaiku. I don’t care of course, tetapi sikapnya semakin hari semakin tidak sopan. Dengan aku yang pendiam, dia cukup gencar bertindak tetapi aku pikir aku berhasil mengenyahkannya. Caranya? Dengan otak tentu saja. Ah, peringkat maksudku. Aku cukup baik, seperti itu.

Memasuki Sekolah Menengah Atas, aku kembali mengalami bullying. Kasusnya serupa dengan yang aku alami di Sekolah Menengah Pertama, hanya saja aku bisa menyingkirkannya lebih cepat. Dia cukup cerobah sehingga kami tidak bisa berjumpa dalam waktu yang lama. Saat itu dia keluar di kelas 1 SMA karena sebab yang aku tidak tahu pasti. Entah hamil di luar nikah kemudian dinikahkan atau hanya menikah saja. Sayang sekali, padahal aku menyiapkan banyak kejutan. Apa sekarang gantian aku yang terdengar jahat? Tetapi aku cukup manis kok. Maksudku aku tahu cara bermain peran yang baik, dengan manner tentunya.

Lagi, di bangku kuliah aku kembali mendapat masalah yang sama. Aku pikir aku memiliki wajah yang tepat untuk di bully. Pembullyan yang aku alami di bangku kuliah ini aku pikir adalah yang terburuk diantara yang lainnya. Bermula dari sebuah kesalahpahaman yang seharusnya bisa diselesaikan tetapi justru berkahir dengan pembullyan. Bukan tentang laki-laki tentunya, aku tidak cukup peduli dengan topik semacam itu. Itu mungkin kali pertama juga dimana aku memendam sedikit rasa takut atas suatu pembullyan. Dia menyebarkan hal yang kemudian memojokkanku hingga setiap orang akan menilaiku tepat seperti yang dia katakan. IPK-ku hampir terjun bebas saat itu karena di waktu yang sama aku mengalami masalah lainnya. Kombinasi yang sangat tepat untuk destruksi pokoknya.

Namun, bukan aku jika tidak bisa bangkit. Aku melakukannya dan aku tidak yakin kapan tepatnya itu berakhir. Saat itu semester keduaku ketika aku mengalami bullying. Yang lucu adalah si pembully ini jadi pengen dekat-dekat sama aku karena sebelum membully, kami berteman cukup baik sebetulnya. Sayangnya aku tidak sebaik itu sepertinya. Bukan berarti aku tidak pemaaf, kami selesai tetapi tidak untuk berteman kembali. Maaf untuk bahasa yang kasar tetapi ada perasaan semacam jijik seperti itu. Mustahil sekali untuk berteman kembali.

Aku tidak mencoba mencontohkan hal yang buruk. Kalian memiliki pilihan sendiri akan bagaimana tetapi untuk aku berteman kembali itu tidak mungkin. Kalau pernah nonton drama Korea The Heirs, sikap korban bully Choi Young Do pas Young Do minta maaf, ya seperti itu juga yang aku lakukan.

Terakhir, aku tidak tahu pasti solusi menghadapi bullying secara khusus meskipun aku mengalaminya cukup banyak. Aku pikir jadilah lebih kuat saja. Tunjukkan siapa kamu karena kita tidak bisa berharap orang lain untuk membela. Selalu ada titik buta seberapa pun takutnya kamu. Aku punya pikiran seperti ini, sebetulnya mereka yang membully itu adalah yang paling lemah diantaranya. Mereka hanya sedang menutup-nutupi sesuatu. Contohnya orang yang membullyku di bangku kuliah, dia mendapat tekanan besar dari kedua orang tuanya. Sikap otoriter gagal eksis seperti biasa. Jika kalian bertanya bagaimana aku tahu, sebetulnya tidak sengaja, dia saja yang ceroboh.

So, what do you think about bullying?


P.s Judul artikel memimjam judul buku Haruki Murakami “What I Talk About When I Talk About Running”.

Photo source: http://affinitymagazine.us


Edda

Iklan

2 pemikiran pada “What I talk About When I Talk About Bullying

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s