Aku dan Hilangnya Sevel (7 Eleven)

Jika kalian berpikir seperti perasaan jatuh cinta ala konsumerisme, maka bukan itu. Aku tidak mencintai franchise asing seperti Sevel, tentu saja, hanya kukira aku mencintainya tetapi dari sudut pandang berbeda. Terkadang pun aku berharap Indonesia bisa seberani Kuba untuk berdiri sendiri tanpa ada ribuan produk asing yang menyerbu negeri tanpa ampun setiap tahunnya. Tetapi Indonesia tampaknya tidak akan seberani itu ‘kan?

Sekali lagi aku katakan, aku bukan pecinta Sevel, tetapi aku cukup bersedih untuk kehilangannya karena kisahnya yang membuatku  banyak terkesan. Perasaan cinta semacam itulah yang kumaksudkan.

Mungkin banyak yang belum tahu sejarah berdirinya Sevel di Indonesia? Ingin mendengarnya? Aku tidak keberatan untuk menceritakan sedikit.

Ada ungkapan seperti ini di dalam sebuah film (dibintangi Maudy Ayunda) yang sayangnya telah kulupa judulnya.

“Yang paling menyedihkan bagi orang tua adalah ketika mereka melihat anaknya lahir sekaligus melihatnya mati”.

Terdengar berlebihan tetapi itu yang kurasakan terhadap Sevel. Aku mempelajari kasus kelahirannya dan sekaligus juga mempelajari kasus kematiannya.

Tersebutlah, Henri Honoris, pewaris generasi ketiga dari pemegang hak distribusi Fuji Film di Indonesia. Saat itu, dunia sudah memasuki era digital dan peminat rol film menurun demikian tajam. Bahkan pada kurun waktu 2002 hingga 2010,  bisnis fotografi Fuji Film di Indonesia mengalami penurunan keuntungan dari Rp2 Triliun (2002) menjadi Rp212 miliar pada 2010.

Tentu ini kondisi yang sangat menguncang, maka dipanggilah Henri untuk pulang menyelamatkan bisnis keluarga yang memulai masa sekarat. Banyak sekali outlet-outlet Fuji Film yang ditutup dan sebagian asetnya menganggur saat itu. Henri hanya terpikir dua jenis penyelesaian saja, apakah akan dijual atau diperbaiki, karena jelas bisnis itu tidak bisa dilanjutkan dengan cara yang sama, dan kalau tidak dilakukan diantara dua hal tersebut bisnis keluarga mereka akan mati.

Pada 2006, Henri mumutuskan untuk melakukan change. Maka dia pun menyurati kantor pusat Seven-Eleven di Dallas, Texas. Namun, karena masih dalam masa guncagan krisis moneter, Henri pun mendapat penolakan karena Sevel ingin memfokuskan diri di Brazil, India, dan Vietnam.

Henri tidak putus asa, iya terus menyusun proposal untuk meyakinkan Sevel bahwa pembukaan outlet-nya di Indonesia nanti akan menguntungkan. Henri menangkap insight nongkrong dalam bentuk outlet yang nantinya akan disesuaikan dengan kondisi pasar Indonesia. Henri terus berpikir bagaimana agar keberadaan outlet nanti tidak menganggu keberadaan pasar tradisional dan dapat hidup berdampingan. Cukup menarik, namun, Sevel masih kukuh pada kehati-hatian mereka. Sejak 1993, Sevel hanya membuka outlet baru di area yang sudah dimasukinya. Artinya dalam kurun waktu 17 tahun, Sevel tidak pernah memasuki negara baru. Namun, jangan salah, dengan begitu saja Sevel sudah memiliki 40.000 outlet, melebihi jumlah outlet yang dibuka MCDonald’s dan Starbucks. Ingin mendengar fakta? Di Thailand Sevel memiliki 7000 outlet, sedang di negara sekecil singapura Sevel memiliki 5000 outlet. Jumlah yang menakjubkan, bukan?

Singkat cerita setelah melalui perjalanan panjang, Sevel akhirnya memanggil Henri untuk berunding pada 2008. Konsep yang diusung sederhana saja, nongkrong. Orang Indonesia itu sukanya nongkrong. Mall memiliki fasilitas yang higienis, tetapi masih cukup mahal untuk nongkrong. Disanalah kemudian sevel membangun peluang, yakni menciptakan tempat nongkrong yang higienis tetapi murah. Jadilah Sevel versi Indonesia, 50% kafe dan 50% convenient store.

Henri menyebutnya Afordable Luxury.

Karena dengan fasilitas yang higienis, AC yang dingin, makanan, free charges, dan free Wifi, Sevel bisa menjual dengan harga yang murah. Tentu ini sangat diminati anak-anak Indonesia yang mulai nggak betah di rumah karena AC yang nggak dingin dan paketan data yang makin mahal (sebut saja kata depannya Tel, belakangnya Sel) #Nahitu. Free Wifi bung, katakan dimana itu surga? di Sevel pastinya. Bahkan yang lebih lucu, ada sebutan nieh untuk mereka-mereka yang suka nongki di Sevel “Alayeven”. Anak-anak Alay dan orang tua Alay yang gemar nongki sampai pagi di gerai Seven-eleven. Hayo, kamu salah satunya bukan?

Satu fakta lagi, gara-gara Sevel Indonesia ini, kata nongkrong menghiasi halaman depan The New York Times. Selain itu, konsep nongkrong ini juga hanya diterapkan di gerai Sevel di Indonesia saja. Kalau di negara lain gerai sevel konsepnya masih semacam Indopiiip itu, grab and bite.

Pembukaan Sevel dengan konsep 50% kafe dan 50% convenient store ini juga memberi keuntungan kepada mereka yang memasok makanan dan minuman seperti kopi dan nasi goreng. Bisa dikatakan Sevel ini menjadi penggerak roda ekonomi di Indonesia, namun sayang Sevel akhirnya terguncang juga lantaran birokrasi tidak bersahabat di Indonesia.

Sevel dengan konsep awal 50% kafe dan 50% convenient store, dipaksa untuk menjadi grab and bite seperti layaknya Indo**** dan Alfa****. Hal itu dikarenakan pemerintah berpikir tidak ada kompromi untuk Sevel yang mengantongi double izin yakni satu izin retail dari Kemendag dan satu izin restoran dari Dinas Pariwisata DKI. Akhirnya karena birokrasi keparat tersebut Sevel tidak bisa menjalankan konsep bisnis yang telah disusunnya. Akhirnya Sevel terus mengalami penurunan penjualan. Pada 2012 Sevel telah membuka toko ke-100 nya di Indonesia dan meraup keuntungan yang baik. Namun semenjak regulator berulah pada september 2012, Sevel mulai mengalami penurunan keuntungan yang signifikan.

Pasca 2013, Sevel tidak bisa menjalankan model bisnisnya lagi karena ulah birokrasi, namun meski begitu di 2014 Sevel masih mencatat keuntungan yang cukup baik. Sayangnya, di tahun-tahun berikutnya kondisi Sevel kian memburuk dan kemudian ditutup pada 30 Juni 2017. Bayangkan saja berapa banyak orang yang akan kehilangan lapangan pekerjaan karena penutupan Sevel ini. Jangan lupakan juga anak-anak dan orang tua alay yang akhirnya nongkrong di pinggir trotoar karena tempat nongki kesayangan harus ditutup.

Yang paling membuat aku sedih selain kekonyolan birokrasi Indonesia adalah aku belum pernah sekalipun nongkrong di Sevel (katakan norak, iya). Belum juga membuktikan konsep bisnis mereka yang membawa kata nongkrong menduduki halaman depan The New York Times. Dan masih aku ingat juga, beberapa bulan sebelum Sevel tutup aku masih memperbincangkan kekagumanku pada konsep bisnis Sevel di sebuah Kedai Kopi di Sore yang gerimis. BGM-nya At Gwanghwamun lagi. Makin sedih kan jadinya. The last word,

—Goodbye Sevel, I cry for you

(Source: Self Driving, hlm: 210 – 213)

P.S Pengen nulis ini sejak Juli lalu tetapi karena masih sedih (bohong, males aja sebenarnya) jadi baru bisa menulis ini sekarang. So, what do you think about Seven-Eleven? Merasa kehilangan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s