Bahasa Media

Pernah mengamati Facebook? Sadar nggak kalau Facebook tidak pernah bertanya “Apa yang ingin kamu tuliskan” tetapi bertanya apa yang kamu pikirkan. Dengan begitu, sebetulnya Facebook membangun konsep, kumpulan banyak pikiran dalam komunitas sosial (sumber: Tuhan dalam Secangkir Kopi, kata pengantar).

BAHASA FACEBOOK

Tahun 2016 lalu, seorang teman penaku merilis sebuah buku. Saat itu aku menulis review bukunya. Sebenarnya tidak tepat juga disebut review karena aku tidak memakai sistematika review, sebut saja sekedar ungkapan perasaan pembaca. Dalam ‘review’ tersebut aku menulis sedikit kekecewaanku karena tulisan itu telah kehilangan hal yang cukup mendasar. Sesuatu daya magis yang mampu menarik setiap orang untuk membaca. Sampai-sampai aku bertanya-tanya, kemana perginya tulisan yang pernah aku baca di blog beberapa bulan lalu? This is…too different.

Sejak kejadian itu aku menjadi jauh lebih waspada dengan tulisan-tulisan blog yang dibukukan. Memang tidak selalu seperti itu, banyak juga yang justru semakin baik setelah dibukukan. Tidak bisa di generalisasi. Karena kekecewaan tersebut jugalah aku menarik kesimpulan bahwa tulisan yang baik di blog belum tentu akan menarik ketika dibukukan karena bahasa blog dan bahasa buku memang berbeda. Saat itu aku pikir, “Ah ya, mungkin memang seperti itu. Lupakan saja”.

Setelah sekian lama terlupa, tanpa sengaja di suatu hari di musim panas, aku menemukan teori yang memperkuat hipotesisku tersebut. Dalam buku berjudul “Tuhan dalam Secangkir Kopi”, Deni Siregar berbagi pemikiran bahwa tulisan dan pemikiran memiiliki konsep yang berbeda. Bentuk tulisan  biasanya penuh dengan kesantunan serta bahasa yang meliuk, tetapi pikiran cenderung jauh lebih jujur, spontan, dan vulgar.

Itulah mengapa tulisan blog yang dibukukan kebanyakan akan sangat berbeda dari versi aslinya. Hal itu sangat wajar terjadi karena apa yang kita pikirkan harus disesuaikan dengan konsep apa yang kita tuliskan. Tentu saja akan terjadi sebuah pergeseran sehingga berakibat pada output tulisan yang menjadi jauh lebih canggung. Tulisan dalam blog begitu pun sosial media hidup dalam kevulgaran bahasa. Katakan saja, kevulgaran tersebut adalah oksigen bagi tulisan blog dan sosial media. Dan ketika tulisan tersebut disesuaikan dengan konsep media cetak yang penuh kesantunan, maka tulisan tersebut akan kehilangan kevulgarannya, titik pesona dan daya tariknya. Hasilnya tulisan menjadi sangat hambar karena terlalu banyak garam pesona yang dikurangi.

So, penting untuk belajar bagaimana menyampaikan kevulgaran tersebut namun tetap dalam bahasa yang santun, sehingga jika suatu saat nanti tulisan kita dibukukan (berharap boleh donk) apa yang ingin kita sampaikan bisa tersampaikan secara sempurna tanpa mengalami terlalu banyak revisi dan penyesuaian.

P.s I don’t think this is a good article because it’s been a while since I last wrote. I’m just trying to fix my pretty bad mood lately. What do you think? Wanna share?

Cherioo…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s