The word of pessimistic (?)

17881787_222303091598852_1747763724799705088_n

Something what I think about my self?

I just killed my self like 3 years ago and I realized this time. Now, I just  someone without nothing inside.

So, can I still claim my name?

Can I intoduce my self like before?

Can I still talking like what I did in the past time?

Can I still claim, oh they are my parents?

Can I still claim, Oh they are my friends?

Can I still claim all of my books?

Can I still like coffee with pastry in the morning rain?

Can I still love Super Junior?

Can I still claim my bank account?

Can I still hate my phone exsistence?

Can I still staying in the way to my biggest dream?

or

Am I still exsis in the world or just invisible?

Iklan

Aku dan Hilangnya Sevel (7 Eleven)

Jika kalian berpikir seperti perasaan jatuh cinta ala konsumerisme, maka bukan itu. Aku tidak mencintai franchise asing seperti Sevel, tentu saja, hanya kukira aku mencintainya tetapi dari sudut pandang berbeda. Terkadang pun aku berharap Indonesia bisa seberani Kuba untuk berdiri sendiri tanpa ada ribuan produk asing yang menyerbu negeri tanpa ampun setiap tahunnya. Tetapi Indonesia tampaknya tidak akan seberani itu ‘kan?

Sekali lagi aku katakan, aku bukan pecinta Sevel, tetapi aku cukup bersedih untuk kehilangannya karena kisahnya yang membuatku  banyak terkesan. Perasaan cinta semacam itulah yang kumaksudkan.

Mungkin banyak yang belum tahu sejarah berdirinya Sevel di Indonesia? Ingin mendengarnya? Aku tidak keberatan untuk menceritakan sedikit.

Ada ungkapan seperti ini di dalam sebuah film (dibintangi Maudy Ayunda) yang sayangnya telah kulupa judulnya.

“Yang paling menyedihkan bagi orang tua adalah ketika mereka melihat anaknya lahir sekaligus melihatnya mati”.

Terdengar berlebihan tetapi itu yang kurasakan terhadap Sevel. Aku mempelajari kasus kelahirannya dan sekaligus juga mempelajari kasus kematiannya.

Tersebutlah, Henri Honoris, pewaris generasi ketiga dari pemegang hak distribusi Fuji Film di Indonesia. Saat itu, dunia sudah memasuki era digital dan peminat rol film menurun demikian tajam. Bahkan pada kurun waktu 2002 hingga 2010,  bisnis fotografi Fuji Film di Indonesia mengalami penurunan keuntungan dari Rp2 Triliun (2002) menjadi Rp212 miliar pada 2010.

Tentu ini kondisi yang sangat menguncang, maka dipanggilah Henri untuk pulang menyelamatkan bisnis keluarga yang memulai masa sekarat. Banyak sekali outlet-outlet Fuji Film yang ditutup dan sebagian asetnya menganggur saat itu. Henri hanya terpikir dua jenis penyelesaian saja, apakah akan dijual atau diperbaiki, karena jelas bisnis itu tidak bisa dilanjutkan dengan cara yang sama, dan kalau tidak dilakukan diantara dua hal tersebut bisnis keluarga mereka akan mati.

Pada 2006, Henri mumutuskan untuk melakukan change. Maka dia pun menyurati kantor pusat Seven-Eleven di Dallas, Texas. Namun, karena masih dalam masa guncagan krisis moneter, Henri pun mendapat penolakan karena Sevel ingin memfokuskan diri di Brazil, India, dan Vietnam.

Henri tidak putus asa, iya terus menyusun proposal untuk meyakinkan Sevel bahwa pembukaan outlet-nya di Indonesia nanti akan menguntungkan. Henri menangkap insight nongkrong dalam bentuk outlet yang nantinya akan disesuaikan dengan kondisi pasar Indonesia. Henri terus berpikir bagaimana agar keberadaan outlet nanti tidak menganggu keberadaan pasar tradisional dan dapat hidup berdampingan. Cukup menarik, namun, Sevel masih kukuh pada kehati-hatian mereka. Sejak 1993, Sevel hanya membuka outlet baru di area yang sudah dimasukinya. Artinya dalam kurun waktu 17 tahun, Sevel tidak pernah memasuki negara baru. Namun, jangan salah, dengan begitu saja Sevel sudah memiliki 40.000 outlet, melebihi jumlah outlet yang dibuka MCDonald’s dan Starbucks. Ingin mendengar fakta? Di Thailand Sevel memiliki 7000 outlet, sedang di negara sekecil singapura Sevel memiliki 5000 outlet. Jumlah yang menakjubkan, bukan?

Singkat cerita setelah melalui perjalanan panjang, Sevel akhirnya memanggil Henri untuk berunding pada 2008. Konsep yang diusung sederhana saja, nongkrong. Orang Indonesia itu sukanya nongkrong. Mall memiliki fasilitas yang higienis, tetapi masih cukup mahal untuk nongkrong. Disanalah kemudian sevel membangun peluang, yakni menciptakan tempat nongkrong yang higienis tetapi murah. Jadilah Sevel versi Indonesia, 50% kafe dan 50% convenient store.

Henri menyebutnya Afordable Luxury.

Karena dengan fasilitas yang higienis, AC yang dingin, makanan, free charges, dan free Wifi, Sevel bisa menjual dengan harga yang murah. Tentu ini sangat diminati anak-anak Indonesia yang mulai nggak betah di rumah karena AC yang nggak dingin dan paketan data yang makin mahal (sebut saja kata depannya Tel, belakangnya Sel) #Nahitu. Free Wifi bung, katakan dimana itu surga? di Sevel pastinya. Bahkan yang lebih lucu, ada sebutan nieh untuk mereka-mereka yang suka nongki di Sevel “Alayeven”. Anak-anak Alay dan orang tua Alay yang gemar nongki sampai pagi di gerai Seven-eleven. Hayo, kamu salah satunya bukan?

Satu fakta lagi, gara-gara Sevel Indonesia ini, kata nongkrong menghiasi halaman depan The New York Times. Selain itu, konsep nongkrong ini juga hanya diterapkan di gerai Sevel di Indonesia saja. Kalau di negara lain gerai sevel konsepnya masih semacam Indopiiip itu, grab and bite.

Pembukaan Sevel dengan konsep 50% kafe dan 50% convenient store ini juga memberi keuntungan kepada mereka yang memasok makanan dan minuman seperti kopi dan nasi goreng. Bisa dikatakan Sevel ini menjadi penggerak roda ekonomi di Indonesia, namun sayang Sevel akhirnya terguncang juga lantaran birokrasi tidak bersahabat di Indonesia.

Sevel dengan konsep awal 50% kafe dan 50% convenient store, dipaksa untuk menjadi grab and bite seperti layaknya Indo**** dan Alfa****. Hal itu dikarenakan pemerintah berpikir tidak ada kompromi untuk Sevel yang mengantongi double izin yakni satu izin retail dari Kemendag dan satu izin restoran dari Dinas Pariwisata DKI. Akhirnya karena birokrasi keparat tersebut Sevel tidak bisa menjalankan konsep bisnis yang telah disusunnya. Akhirnya Sevel terus mengalami penurunan penjualan. Pada 2012 Sevel telah membuka toko ke-100 nya di Indonesia dan meraup keuntungan yang baik. Namun semenjak regulator berulah pada september 2012, Sevel mulai mengalami penurunan keuntungan yang signifikan.

Pasca 2013, Sevel tidak bisa menjalankan model bisnisnya lagi karena ulah birokrasi, namun meski begitu di 2014 Sevel masih mencatat keuntungan yang cukup baik. Sayangnya, di tahun-tahun berikutnya kondisi Sevel kian memburuk dan kemudian ditutup pada 30 Juni 2017. Bayangkan saja berapa banyak orang yang akan kehilangan lapangan pekerjaan karena penutupan Sevel ini. Jangan lupakan juga anak-anak dan orang tua alay yang akhirnya nongkrong di pinggir trotoar karena tempat nongki kesayangan harus ditutup.

Yang paling membuat aku sedih selain kekonyolan birokrasi Indonesia adalah aku belum pernah sekalipun nongkrong di Sevel (katakan norak, iya). Belum juga membuktikan konsep bisnis mereka yang membawa kata nongkrong menduduki halaman depan The New York Times. Dan masih aku ingat juga, beberapa bulan sebelum Sevel tutup aku masih memperbincangkan kekagumanku pada konsep bisnis Sevel di sebuah Kedai Kopi di Sore yang gerimis. BGM-nya At Gwanghwamun lagi. Makin sedih kan jadinya. The last word,

—Goodbye Sevel, I cry for you

(Source: Self Driving, hlm: 210 – 213)

P.S Pengen nulis ini sejak Juli lalu tetapi karena masih sedih (bohong, males aja sebenarnya) jadi baru bisa menulis ini sekarang. So, what do you think about Seven-Eleven? Merasa kehilangan?

The Different of Language

Pernah mengamati Facebook? Sadar nggak kalau Facebook tidak pernah bertanya “Apa yang ingin kamu tuliskan” tetapi bertanya apa yang kamu pikirkan. Dengan begitu, sebetulnya Facebook membangun konsep, kumpulan banyak pikiran dalam komunitas sosial (sumber: Tuhan dalam Secangkir Kopi, kata pengantar).

BAHASA FACEBOOK

Tahun 2016 lalu, seorang teman penaku merilis sebuah buku. Saat itu aku menulis review bukunya. Sebenarnya tidak tepat juga disebut review karena aku tidak memakai sistematika review, sebut saja sekedar ungkapan perasaan pembaca. Dalam ‘review’ tersebut aku menulis sedikit kekecewaanku karena tulisan itu telah kehilangan hal yang cukup mendasar. Sesuatu daya magis yang mampu menarik setiap orang untuk membaca. Sampai-sampai aku bertanya-tanya, kemana perginya tulisan yang pernah aku baca di blog beberapa bulan lalu? This is…too different.

Sejak kejadian itu aku menjadi jauh lebih waspada dengan tulisan-tulisan blog yang dibukukan. Memang tidak selalu seperti itu, banyak juga yang justru semakin baik setelah dibukukan. Tidak bisa di generalisasi. Karena kekecewaan tersebut jugalah aku menarik kesimpulan bahwa tulisan yang baik di blog belum tentu akan menarik ketika dibukukan karena bahasa blog dan bahasa buku memang berbeda. Saat itu aku pikir, “Ah ya, mungkin memang seperti itu. Lupakan saja”.

Setelah sekian lama terlupa, tanpa sengaja di suatu hari di musim panas, aku menemukan teori yang memperkuat hipotesisku tersebut. Dalam buku berjudul “Tuhan dalam Secangkir Kopi”, Deni Siregar berbagi pemikiran bahwa tulisan dan pemikiran memiiliki konsep yang berbeda. Bentuk tulisan  biasanya penuh dengan kesantunan serta bahasa yang meliuk, tetapi pikiran cenderung jauh lebih jujur, spontan, dan vulgar.

Itulah mengapa tulisan blog yang dibukukan kebanyakan akan sangat berbeda dari versi aslinya. Hal itu sangat wajar terjadi karena apa yang kita pikirkan harus disesuaikan dengan konsep apa yang kita tuliskan. Tentu saja akan terjadi sebuah pergeseran sehingga berakibat pada output tulisan yang menjadi jauh lebih canggung. Tulisan dalam blog begitu pun sosial media hidup dalam kevulgaran bahasa. Katakan saja, kevulgaran tersebut adalah oksigen bagi tulisan blog dan sosial media. Dan ketika tulisan tersebut disesuaikan dengan konsep media cetak yang penuh kesantunan, maka tulisan tersebut akan kehilangan kevulgarannya, titik pesona dan daya tariknya. Hasilnya tulisan menjadi sangat hambar karena terlalu banyak garam pesona yang dikurangi.

So, penting untuk belajar bagaimana menyampaikan kevulgaran tersebut namun tetap dalam bahasa yang santun, sehingga jika suatu saat nanti tulisan kita dibukukan (berharap boleh donk) apa yang ingin kita sampaikan bisa tersampaikan secara sempurna tanpa mengalami terlalu banyak revisi dan penyesuaian.

P.s I don’t think this is a good article because it’s been a while since I last wrote. I’m just trying to fix my pretty bad mood lately. What do you think? Wanna share?

Cherioo…