Kenapa Dosen bisa Menyandang Gelar Killer?

Hayo, kalian jenis-jenis manusia yang bertanya-tanya tentang hal ini juga nggak sih? Aku sih iya.

Pertama kali mengenal istilah guru killer itu ketika aku masih di kelas 3 Sekolah Dasar. Guru yang mengajar sejak Taman Kanak-Kanak hingga kelas 2 Sekolah Dasar biasanya masih manis-manis. Nah, begitu memasuki kelas tiga berjumpalah aku dengan istilah baru bernama guru killer untuk pertama kalinya. Entah, siapa pencetus gelar killer yang fenomenal itu. Yang aku tahu, begitu memasuki kelas 3 Sekolah Dasar, telah lahir istilah semacam itu.

Waktu berlalu dan aku pun melanjutkan sekolah menuju jenjang yang lebih tinggi. Lucunya istilah killer itu semakin populer saja. Entah dimana pun diri ini berada, ada saja guru yang menyandang gelar killer tersebut. Sangat unik sekali penyebaran guru bergelar killer itu. Terasa terencana. Mungkin perlu diadakan pemilihan guru ter-killer se-Indonesia kali ya. Owch, jangan sampai, tidak menarik. Lupakan. Kembali ke fenomena guru killer. Berhubung penyebarannya yang sangat merata tersebut, akhirnya aku bertanya-tanya juga. Kenapa guru bisa killer ya? Kalian tahu, manusia biasanya akan melakukan sesuatu hal dengan membawa alasan-alasan dibaliknya. Pasti ada alasan yang melatar belakangi gelar tersebut dan alasan itu juga yang membuatku terus bertanya-tanya bahkan ketika akhirnya aku memasuki perguruan tinggi. Menariknya gelar killer itu lagi-lagi muncul seperti tidak ada habisnya. Saat itu, almarhumah dosen salah satu mata kuliah aku di semester 1 yang menyandangnya. Karena sempat memasuki masa jenuh, pertanyaan itu sempat terlupa selama beberapa tahun lamanya hingga kemudian pertanyaan itu kembali menyeruak di semester akhirku.

Ceritanya begini, jadi aku pergi ke toko buku untuk mengadopsi beberapa buku (I call them my baby. That’s why I use “mengadopsi”). Untuk memudahkan kita mencari buku, toko buku biasanya akan menyediakan komputer informasi. Nah, di salah satu Toko buku terbesar di Indonesia (tidak sebut nama), mereka menggunakan aplikasi baru untuk pencarian buku. Karena masih baru dan baru pertama kali pakai juga, aku nggak ngerti cara pengoperasiannya, sebut saja agak gaptek. Setelah aku coba berkali-kali, di pencarian tidak juga muncul informasi yang aku butuhkan. Herannya, itu toko buku, pegawai yang lagi on dikit banget. Entah kemana perginya pegawai yang biasanya bejibun itu. Karena terlalu malas menghampiri petugas yang tinggal satu dua orang saja, aku putuskan untuk berkeliling langsung saja. Siapa tahu nemu buku yang oke. Dan beneran ketemulah aku sama buku barunya Prof. Rhenald Kasali, Strawberry Generation. Beliau ini salah satu penulis favorit aku. Menariknya, di buku barunya ini Prof. Rhenald mengupas tuntas tentang dunia pendidikan. Biasanya buku-buku beliau itu berbau ekonomi. Maklum dosen Pemasaran Internasional, jadi ya bukunya berbau ekonomi donk. Kerennya buku yang ditulis beliau, isinya pemaparan materi dan pemecahan kasus-kasus terkait. Kasus yang dipilih pun bukan hanya kasus lama saja tetapi hingga kasus terkini. Jadi, sangat ter-update juga informatif.

Disalah satu sub bab, Prof. Rhenald membahas seputar guru dan dosen berdasar pengalaman pribadi beliau selama diajar hingga kemudian menjadi pengajar. Uniknya di bab berjudul “Dua Generasi di Dunia Pendidikan Kita”, beliau tiba-tiba menyebut fenomena guru/dosen killer. Jadi, dunia pendidikan kita sekarang ini telah terpecah menjadi dua generasi teman-teman yaitu  digital immigrants dan digital natives.

Apa itu?

Digital Immigrants, sesuai istilahnya, adalah kaum pendatang di dunia digital. Mereka ini adalah orang-orang yang dilahirkan dan dibesarkan sebelum era digital. Dalam dunia pendidikan, Digital Immigrants adalah guru dan dosen-dosen kita saat ini. Sementara, digital natives adalah anak-anak muda yang lahir dan dibesarkan di era digital. Sebut saja generasi Y atau millenials. Mereka ini adalah mahasiswa/i yang berada di kampus-kampus sekarang ini.

Perpecahan itu kemudian melahirkan  dua sudut pandang yang berbeda terkait style dalam belajar mengajar. Bagi digital immigrants yang namanya belajar ya harus seperti dia dulu, fokus, serius, dan sering kali suasana belajarnya menjadi tidak menyenangkan. Sedangkan disisi lain, bagi seorang digital natives cara belajar seperti itu udah nggak jaman sekarang.

Mengapa bisa seperti itu?

Menurut Garry Small, seorang pakar saraf dari University of California, Los Angles, menemukan, anak-anak yang otaknya banyak menerima input secara digital ini secara kognitif bisa menjadi superior (Strawberry Generation, hlm: 68). Maksudnya anak-anak yang dibesarkan di era digital telah dijejali banyak sekali informasi sehingga mereka menjadi lebih cepat menyerap informasi dan cepat pula mengambil keputusan.

Kondisi semacam ini akan menjadikan struktur otak anak-anak tersebut berubah menjadi multitasking. Mereka bisa belajar sambil chatting, berselandar di dunia maya, nonton tv dan bahkan mendengarkan musik. Cara belajar mereka yang demikian ini bagi digital immigrants, bukanlah belajar. Sekali lagi, belajar itu harus seperti apa yang mereka lakukan dahulu yang serius, fokus dan lain sebagainya itu. Akhirnya si digital immigrants ini memaksa anak-anak belajar sebagaimana mereka belajar dahulu. Mereka lupa dunia telah bergerak maju, bukan change lagi tetapi disruption. Cara-cara belajar konvensional seperti itu sudah tidak relevan lagi. Dari sanalah kemudian lahir istilah killer tersebut. Gelar bagi si pemaksa cara belajar yang gagal mengikuti perkembangan zaman. Penjelasan kasarnya seperti itu.

Apakah masih ada orang-orang semacam itu hari ini? Buanyakkk, buannyakk sekali, tiap hari aku ketemu yang begituan. Bahkan ada yang kalaupun salah tetap nggak mau dibantah. Adanya bener terus. Padahal lulusan S2, S3 luar negeri tetapi…Ya begitulah. Walaupun terasa aneh, dunia itu memang menarik. Gelar tidak selalu merefeksikan apapun. Tidak juga bisa menjadi jaminan tingkah laku seseorang. So, ekhm…

Bagaimana menurutmu, pernah berjumpa dengan yang killer-killer? Share your story in the comments bellow. Bye…

pake3
Nemu meme lucu, jadi aku masukin aja. LOL.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s