Tujuh Puluh ‘70’

Lebih daripada 24 jam yang lalu ada beberapa ingatan yang datang begitu saja ke dalam memori ini. Sesuatu yang kembali membawaku berpikir tentang bagaimana sebenarnya hidup dan bagaimana aku menghabiskan hidupku. Hal itu kemudian membawaku pada kesimpulan bahwa sebenarnya aku menjalani hidupku dengan cukup baik, tidak buruk.

Pernahkah kamu bertanya-tanya apa kebahagiaan itu? Sulit untuk dijawab bukan? Arti sebuah kebahagiaan itu akan sangat berbeda pada setiap orang, seperti “apakah bahagia itu ketika aku mendapat kesempatan untuk pergi berkeliling dunia?” Atau “apakah bahagia itu ketika aku bisa menghadiri konser Super Junior?” Atau bahkan yang paling sederhana, “apakah bahagia itu ketika aku bisa bercengkerama dengan keluarga?” Entahlah.

Lebih dari 24 jam ini aku terus memikirkan tentang satu hal bernama ‘70’. Satu kata yang aku peroleh ketika aku menyelesaikan buku ke 27 ku tahun ini. Dalam buku berjudul The Journey 3, Windy Ariestanty bercerita tentang arti sebuah kebahagiaan menurut sudut pandangnya. Ia mengatakan pernah di suatu masa dalam hidupnya dia mendapat sepatu baru dari sang ibu. Saat itu dia berpikir ini tidak seperti yang aku inginkan. Temanku memiliki lebih baik dari ini dan kemudian dia memutuskan untuk tidak memakainya karena dia merasa sangat kesal. Hingga suatu hari sepulangnya dari sekolah ia berjumpa dengan seorang anak tanpa kaki dan berjuang menyeret dirinya di trotoar depan sekolah. Itu bukan tentang sepatu lagi tapi tentang memiliki sepasang kaki. Akhirnya sesampainya dirumah ia berpikir kembali dan memutuskan untuk memakai sepatu barunya meski dia tahu ada yang memiliki lebih baik dari itu.

Cerita ini menghentakku kembali ke suatu sore ketika aku bercengkerama dengan ayah beberapa belas tahun silam. Saat itu ayah mengajar di sekolah dimana aku juga bersekolah didalamnya. Itu hari-hari yang cukup sulit karena aku harus bersikap sebaik-baiknya demi nama baik ayah. Sore itu kami hanya duduk-duduk sambil berdebat tentang pelajaran apa yang paling kami sukai. Aku jatuh cinta dengan sejarah dan ilmu sosial sedangkan ayah akan terus bersikukuh bahwa IPA dan matematika jauh lebih mudah dan menyenangkan untuk dipelajari. Mana bisa aku menerimanya, benar-benar menyebalkan. Aku tidak habis pikir saja, bagaimana bisa aku mendapat nilai 36 selama 2 tahun berturut-turut di ujian akhir semester. Itu benar-benar menjengkelkan. Aku bisa mendapatkan yang lainnya dengan baik, tetapi kenapa tidak dengan matematika? Bahkan ketika aku mencoba menyukai seperti yang orang katakan, mengikuti les dan belajar dan belajar, tidak ada apapun yang berubah. Akhirnya, kupikir aku menyerah saja (jangan ditiru!). Aku tidak akan membuang-buang waktu lagi (sayangnya aku masih salah jurusan di kemudian hari, jadi apa itu?) dan aku akan memaksimalkan apa yang bisa aku lakukan dan sukai (semoga berhasil!). Keajaibannya aku menyukai banyak hal, jadi aku tidak perlu khawatir dengan kemampuan matematikaku yang terlampau mengerikan itu. Aku memiliki banyak lainnya.

Gara-gara nilai matematikaku yang super konsisten itu, Ayah memberikan sedikit nasehat. Saat itu beliau mengatakan, ketika beliau harus memberi nilai kepada murid-muridnya maka untuk pekerjaan yang terbaik beliau hanya akan memberi 85. Tentu itu membuatku terkejut.

“Kenapa hanya 85?”, tanyaku kemudian.

Tahu tidak angka 90 itu sudah sangat berlebihan untuk memberi sebuah nilai, begitu jawaban beliau. Tidak ada yang benar-benar sempurna, jadi 85 adalah yang paling wajar untuk nilai terbaik. Lalu ketika Windy menyebut 70 itu sebagai representasi dari kebahagiaan, entah mengapa aku menyetujuinya. Windy mengatakan bahwa 70 itu ‘cukup’ karena hal yang akan membuat kita bahagia adalah ketika kita merasa cukup. Jika saja kita menuruti semua hal, standar-standar yang ditetapkan entah siapa, percayalah semuanya akan terasa selalu kurang. Aku pun merasa begitu, kupikir 70 itu posisi ketika kita bisa bersyukur akan apa yang telah kita miliki. Tidak perlu merasa iri karena akan selalu ada yang lebih dari apa yang kita miliki. Ketika kita bisa mensyukuri apa yang kita telah miliki, percayalah hal-hal besar tak terduga akan berdatangan menghampiri. Aku membuktikannya dan aku sangat berterima kasih karena berada diantara kedua orangtua yang luar biasa. Aku tidak mengatakan untukmu berhenti bejuang diantara kesulitan. Yang aku maksudkan adalah lakukan yang terbaik dan terima hasilnya dengan senang hati.

Kesimpulannya, merasa cukup akan mendatangkan hal bernama kebahagiaan. So, feel enough and be happy. Even if you make a big mistake, be happy. You will go to the right way in the other day. Don’t worry. Satu lagi, jangan lupa untuk membaca buku. Itu dunia terbaik bagi orang-orang yang mencintai belajar, dan belajar adalah bagaimana kita akan memahami untuk merasa cukup dan berbahagia. Bye bye….

P.s By the way I miss Kyuhyun Oppa so much this time. I can’t even close my eyes till 2 AM. I become sentimental and I want to meet with him. What should I do? I think it’s because I watched New Journey To The West Season 4. Aishh jinjja! Oh yeah, his new name on NJJTW is a bit of a bitch, right? “DrunkCho”, but I like that (to see him sounds bad, kkkk).

“And what, Kyuhyun curse words sounds catchy?”

“Yeorobeun, neo jigeum michseoseo?” but I’m curious too by the way *Out of your mind*. Fine!

Actually rather than “DrunkCho” I prefer to call him “DrunkKyu”. It’s sounds more cute. The 30th cutie namja. Buing Buing…*Why I say with such a style of language, owh!*

Kyuhyun in Switzerland

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s