5 Detik Kedua

Setidaknya ini sudah 20 tahunan saya hidup di Indonesia, berbaur dengan masyarakat Indonesia dari berbagai latar belakang. Namun… iya, namun ada beberapa hal yang masih nggak bisa aku mengerti sampai hari ini, bahkan untuk aku yang orang pribumi yakni “hobi orang Indonesia men-judgement tanpa berpikir, yang mulia, dan selalu ingin ikut campur masalah orang lain”. Nggak ngerti aku topik begituan.

Pernah suatu waktu ada beberapa orang yang dengan berkoar-koar membanggakan pem…em…em…a karena mereka dekat, bisa saling berkirim pesan dan sesuatu se…se..hmm…umm itu lah. Mereka bercerita terus tanpa henti seakan kami nggak memiliki moment semanis mereka. Pamer lah istilahnya dengan nada-nada yang menggembung tinggi. Saking tingginya leher aku mungkin bisa patah karena terlalu banyak mendongak. U…u…dimana itu, nggak kelihatan. Wuihh!! tinggi banget.

Apa saya terpesona?

Wah, dia terlalu keren sampai tidak bisa dikategorikan lagi. Wah, gue iri sampai mau gila. Daebakk!!! Nggak ada tiganya itu. Keren banget loe, dll.

Sepertinya respon seperti itu yang (mungkin) saja diharapkan sama si pencerita. Ini masih mungkin, jadi bisa saja berbeda. Tetapi…sekali lagi, apa saya terpesona?

OH MAY GOODNESS! AKU NGGAK PENASARAN. UAHAHAHAHA…HA…HA. AKU NGGAK PENASARAN. SERIUS, AKU NGGAK PENASARAN, terus ketawa sampai mata berair.

Itu responku sebenarnya, tetapi karena budaya ketimuran tidak bisa straight forward begitu saja, maka biasanya aku senyumin aja. Paling banter aku cerita ke bunda dengan nada datar tanpa emosi, tetapi bundaku ketawanya malah lebih seru. Aku-nya kedip-kedip doank sambil merenung “sial mamiku lebih heboh, runner up donk aku.”

Kejadian aneh kedua adalah soal tindakan-tindakan mencampuri urusan orang lain. Nah, ini lebih aneh dari yang pertama. Suatu hari aku mendapat beberapa pesan yang isinya kalimat-kalimat kepedulian dari beberapa orang yang berbeda. Yang satu, kita lumayan berbicara banyak, yang satunya lagi sinisnya minta ampun sama aku. Aku nggak ngapa-ngapain pun disinisin sama dia. Lah, patut curiga donk saya. Ada badai apa wahai Tuan Paduka?

Lucunya, mereka ini ternyata ngomongin masalahku yang bahkan aku sendiri aja nggak tahu dan merasa tidak ada masalah. Akhirnya, bingung kan aku harus memberi balasan seperti apa maka aku balas aja…

“Iya.”

Entah apa yang aku iyain. Yang pasti kalimat itu akan mengakhiri argumen-argumen kedepannya. Yang aku tangkap dari fenomena ini, sebenarnya mereka ini mau peduli, sepertinya. Terlepas tulus atau tidak. Hanya saja, mereka salah betindak dan malah jadi annoying. Aku nggak tahu apa aku pernah melakukan hal semacam itu dimasa lalu, tetapi aku sendiri nggak punya minat untuk mencampuri masalah kalian, dengan harapan kalian mau melakukan hal yang sama. Tetapi…ya.

Kejadian aneh ketiga adalah men-judge terlampau cepat. Kecepatan cahaya malah. Aku pernah menjadi orang yang gegabah dalam menilai seperti nggak mau ah makan ini, namanya aneh. Pernah juga aku nggak suka begitu saja dengan seseorang karena suaranya nyebelin atau bajunya atas dan bawah motifnya tabrakan. Itu contoh jelatanya. Contoh agak bangsawannya, saat pertama kali aku menonton video Briptu Norman. Video itu dimulai dari seorang polisi yang sedang duduk di post jaga sepertinya. Didepannya ada sebuah meja dan mengalunlah musik India berserta seorang polisi yang sedang merokok. Tanpa berpikir panjang aku langsung bilang “Apa-apaan ini polisi, sikapnya itu loh!Ckckckckck”. Tetapi setelah menonton full videonya, saya baru tahu kalau dia mau lypsinc lagu india plus jogetnya juga. Ow…!!

Wah, betapa buruknya sikap aku. Sejak hari itu aku mulai belajar untuk mengerem komentarku dan memberi waktu untuk diriku sendiri berpikir sejenak, setidaknya lima detik sebelum melontarkan respon. Itu waktu yang sudah cukup memadai untuk berpikir sejenak. Kemudian aku juga membaca lebih banyak buku, dari berbagai genre berbeda dengan tujuan melihat kontras yang lebih banyak sehingga aku bisa lebih bijak dan berhati-hati dalam menilai, dan itu terbukti berhasil. Aku menjadi jauh lebih terkendali dan tidak seliar dulu.

Tetapi ada satu masalah lagi, membaca buku artinya kamu menambah pengetahuanmu. Yang menakutkan adalah bisa saja aku terjangkit penyakit “Yang mulia”. Yang Mulia itu sebutan yang aku gunakan untuk menyebut orang-orang yang merasa dirinya mulia karena lebih tahu, lebih rajin, lebih pandai dan lainnya dibandingkan yang lain. Dia merasa paling benar. Sesuatu seperti itu. Padahal moment ketika kita merasa paling mulia maka disitulah timbul perpecahan. Maka dari itu membaca buku tidaklah cukup, harus bisa juga mengendalikan diri. Tahu kapan harus mengerem.

Sikap merasa lebih mulia bisa menghancurkan banyak hal dan itu bukan hal yang diharapkan. Dulu, jika ada suatu masalah aku meresponnya dengan kemarahan, tetapi ternyata itu menambah keriput di wajah, sial. Maka sekarang aku mengubahnya dengan senyum. Hey, setidaknya aku harus menyelamatkan reputasi produk perawatan kulit yang aku pakai, yang katanya mengurangi kerutan itu. Hasilnya akhir 2016 hingga 2017 bulan ini, kadar stressku menurun tajam. Aku hidup lebih baik. Lebih banyak tersenyum dari tahun-tahun sebelumnya, original version, no fake. Wajahku juga jauh lebih bersinar dan tidak lagi terlihat seperti manusia yang mati karena diracuni arsenik dan ditemukan setelah 24 jam. Semua berjalan sesuai harapan, masalah tentu selalu ada, hanya saja bisa terselesaikan dengan tepat. Aku juga jauh lebih terkendali dan tertawa dengan cukup.

2017, tindakan orang makin beragam saja, beberapa waktu lalu aku mengupload sebuah tautan Music Videonya SEENROOT – Oppaya (Sweet Heart). Lagu ini melodinya, liriknya bahkan suara penyanyinya itu unik dan lucu aja, makanya aku merespon dengan memposting tautanya. Aku nggak berharap di like, di komentari atau semacamnya. Cuma pengen nautin aja pokoknya. Tiba-tiba saya dikirimi emot seperti ini…

2

Ya, nggak masalah sebenarnya. Kebebasan untuk berkomentar kok. Yang membuat itu jadi bermasalah dalam sudut pandangku adalah, akhir-akhir ini aku sering mendapat emot itu dari seseorang dan itu berkahir dengan kalimat bodoh karena dia tidak menerapkan lima detik tadi untuk berpikir. Kasarnya gegabah, sok tahu tetapi bego. Akhirnya karena vaksin generalisasiku sedang menurun, aku langsung mengeneralisasikan orang dengan emot itu adalah orang yang gegabah, sok tahu, dan tidak memakai otaknya untuk berpikir. Tambahan, aku sebenarnya benar-benar nggak suka dengan emot ini tanpa maksud bercanda. It just like serious.

Sesungguhnya aku cukup merasa bersalah mengeneralisasikan seperti itu, tetapi disisi lain aku juga berpikiran negatif. Hampir saja kalimat keramatku keluar. Jika aku sampai menulis “Aku tidak tahu harus merespon seperti apa!” itu berarti aku sudah cukup kesal dan sangat mungkin sudah berpikir negatif hingga dititik yang tidak kamu pikirkan lagi. Akhirnya hanya aku balas seperti ini…

3

Itu salah satu upayaku untuk mengerem apapun yang aku pikirkan sejauh dan senegatif apapun itu. Maka harapanku adalah setidaknya sebelum merespon tolong pakai 5 detik itu untuk sejenak berpikir. Kalau 5 detik terlalu banyak, setidaknya 2 detiklah. Dua detik itu pemikiran kamu seharusnya sudah sampai di “Eung…”. Dari sana seharusnya kamu sudah sedikit sadar sebelum melakukan apapun yang ingin kamu lakukan. Walaupun pada akhirnya negatif juga, setidaknya tidak akan seburuk yang pertama. I hope you will understand.

Ada kalimat yang selalu aku ingat dari Mas Pandji, yang beliau katakan di Tur dunianya 2016 – Juru Bicara, bahwa “Kunci Pendidikan yang sukses adalah rasa penasaran yang genuine dari anak-anaknya…Nggak ada motivasi belajar lebih besar dari rasa penasaran yang nyata. Tetapi pendidikan sekarang semua anak-anak, dihajar sama semua hal sehingga mereka nggak sempat penasaran. Sekalinya mereka penasaran, sama hal-hal diluar sekolah, tetapi kalau mereka fokus pada hal-hal itu dianggap nggak fokus sama pelajaran.”

Terdengar tidak nyambung dengan topik di atas, tetapi jika hipotesa aku benar (saya berharap tidak), semoga kalimat itu bisa memberi pengertian. Dan tolong 5 detik tadi…bisa diterapkan. Aku udah tulisin disini, kalian nggak perlu susah payah membaca buku The 7 Habits-nya Steven R. Covey yang tebalnya ratusan halaman. Dia tidak spesifik mengatakan berpikir 5 detik (itu teori saya aja berdasar pengalaman pribadi), tetapi hanya menghimbau seseorang untuk berpikir sebelum merespon sesuatu. Itu saja dan Cheerio…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s