#Hardiknas: Keputusasaan yang tidak dibolehkan

Pendidikan…

Pendidikan…

Ya, Pendidikan adalah salah satu hal yang keputusasaan tidak dibolehkan didalamnya. Tidak dan tidak bisa.

Kenapa?

Sederhana saja, mengacu ke tulisan aku kemarin…karena pembangunan manusia adalah kunci kemajuan suatu bangsa. Sejauh ini tidak ada satu bangsa pun yang maju tanpa pendidikan yang baik. Lihat Jerman, pendidikan di negara itu sangat ketat dengan kurikulum yang tidak main-main. Semua tersusun secara sempurna. Hasilnya, jelas sekali. Jerman merupakan salah satu negara maju di dunia.

Memang sempat ada isu tentang efek buruk dari sekolah yang digratiskan di Jerman dan Amerika. Entahlah kebenaran kabar tersebut, tetapi sekarang Jerman mulai memungut biaya pendidikan.

C-yP4duW0AARC3P
Education

Kedua, contoh paling dekat, Thailand. Negara yang akhirnya mencuri hati saya bersama Amerika Latin. Eropa??? Hmm…untuk Eropa…aku telah masuk ke halaman buku yang baru dan sudut pandang baru.

So, jadi tahu tidak bagaimana berkembang pesatnya Thailand sekarang? Luar biasa. Yang masih menganggap Thailand selevel Asia Tenggara, harus cek ulang deh. Thailand itu, pendidikannya jauh lebih maju sekarang. Saya baca di beberapa buku tentang Thailand dan memang Thailand memiliki misi untuk menjadi yang terdepan di Asia Tenggara. Untuk mewujudkan itu Thailand memajukan sekolah-sekolah mereka dengan merekrut guru-guru terbaik. Selain itu, jika ingin menjadi guru di Thailand tidak perlu magang seperti di Indonesia dan jelas diberikan kesejahteraan yang baik oleh pemerintah. Sepertinya Thailand sadar bahwa guru sangat berperan penting bagi pendidikan anak-anak di Thailand, maka mereka mempersiapkannya dengan baik.

Mungkin kalian belum tahu bahwa di Thailand mereka diajarkan bahasa Indonesia dan sejarah Indonesia. Anak-anak Thailand itu tahu sejarah Majapahit guys. Kalian gimana? Masih ingat? Kenapa mereka mengajarkan itu? Ya, untuk memenuhi visi Thailand menjadi yang terdepan di Asia Tenggara tadi. Sepertinya salah satu cara menjadi yang lebih maju adalah dengan ‘tahu’ tentang negara-negara lain. Mereka sedang mempelajari Indonesia, itu proses yang pernah dan masih terus mereka lakukan. Buktinya sudah ada, kemajuan yang kita lihat hari ini. Salah satu yang mencolok, tentunya jumlah wisatawan mereka yang jauh lebih tinggi dari Indonesia, padahal jumlah tempat wisatanya jauh lebih sedikit. Selain itu, mereka menjunjung tinggi budaya, kecintaan, dan kepedulian terhadap negara mereka tanpa menutup diri dari dunia Internasional. Itu kunci mengapa Thailand melejit sekarang – Pembangunan Manusia.

Lalu kenapa Indonesia? Karena Indonesia dianggap cukup berpengaruh di Asia Tenggara, makannya mereka menargetkan Indonesia. Sadar nggak kalau sekarang produk Thailand membanjiri Indonesia. Coba deh keluar rumah, kalian mungkin bakal lihat kedai-kedai minum berlabel Thailand.

Satu lagi, seperti yang pernah aku tulis di artikelku yang berjudul #World Book Day: Keterlambatan yang Mengubah bahwa Thailand disebut WEF sebagai calon bintang baru di dunia pendidikan. WEF nggak salah. Kalau tidak percaya, kupas saja Thailand dan jangan terkejut.

lyH6pvZDC9yXDqBm8ZW0jOEt_ydPABOv_MTkJK11RzY
Source: WEF

Kemarin aku lihat acara Korea, Battle Trip dan salah satu pesertanya memilih Thailand sebagai destinasi. Tiba-tiba saat lagi jalan kaki di Chiang Mai, Thailand, disebuah trotoar di tepi sungai yang bersih dia bilang “Wah, ige Europe ida” (Trans: Wah, ini seperti Eropa). Responku: Matjayo (Benar sekali).

Kembali ke pendidikan Indonesia. Sejujurnya membicarakan pendidikan Indoensia itu bagi aku “나 지금 센치해 (Na jigeum senchihae)” (Aku sekarang merasa sentimental). Sentimental itu suatu perasaan bosan sampai kita jadi sangat sensitif terhadap segala hal. Terkadang aku ingin nggak usah peduli, biarin aja mau apa saking keselnya, tetapi kok nggak bener juga ya. Saya jauh cinta dengan pendidikan Indonesia seburuk apapun itu. Setiap aku baca bukunya Mas Pandji juga Tour dunianya itu, tiba-tiba selalu muncul harapan dan keinginan-keinginan baru dalam diri aku. Aku benci anak-anak, tetapi aku tidak suka melihat anak-anak Indonesia dipermainkan sistem pendidikan. Nggak adil sekali jika kita membunuh kesempatan mereka untuk berkembang. Jadi, ayo jangan putus asa. Diantara banyak ketidakpedulian masyarakat Indonesia, ada sebagian kecil yang berjuang untuk pendidikan Indonesia, dan saya malu jika berencana berganti kewarganegaraan saja.

Hardiknas bagi aku adalah hal yang sangat precious, bahkan lebih dari ulang tahunku sendiri. I don’t really care about my birthday but Indonesian Education Day…I hope to be a person who make Indonesian Education brightly like the sun someday. Satu yang ingin aku yakini adalah aku memiliki harapan dan aku ingin kalian juga.

Terakhir, jika ingin tahu lebih dalam masalah pendidikan Indonesia bisa membaca buku barunya Prof. Rhenald Kasali – Disruption hal 397 “Universitas yang Harus Berubah”.

cropped-c4iagevueaa4dwf.jpg
This is the book

Memang itu membahas perguruan tinggi saja tetapi aku berharap dengan membaca itu kalian akan melihat kontras yang aku, Prof. Rhenald dan mungkin sebagian kecil orang lihat. Tujuannya dengan melihat kontras itu kalian akan bisa mengaplikasikan untuk hal-hal lain termasuk fakta-fakta pendidikan di bawahnya. Tentang inilah sesungguhnya wajah pendidikan Indonesia sekaligus alasan mengapa Indonesia selalu jalan di tempat. Tambahan, bisa juga membaca bukunya Pandji Pragiwaksono dan video tur dunianya.

EDUCATION is the most powerful weapon which you can use to change the world – Nelson Mandela

So, Selamat Hari Pendidikan Nasional. Matahari bersinar sangat cerah hari ini, semoga itu gambaran pendidikan Indonesia kedepannya. Jangan lupa juga bahwa Keputusasaan tidak dibolehkan dalam pendidikan. Bye…

#SelamatHariPendidikanNasional #Hardiknas

P.s By the way playlist saya tiba-tiba…

Five Minutes – Semakin Ku Kejar Semakin Kau Jauh? *Kenapa? Ada apa?

iKON – Rythm TA

Winner – FOOL X REALLY REALLY

Yesung – 봄날의소나기

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. shasasg says:

    your post so interesting and inspiring. just wanna say, u use unstabil subjek like, saya dan aku.

    great.
    btw happy fighting for last semester !! haha.
    lets go to travel!!!

    Like

    1. DYA says:

      Sengaja sih, memang aturannya dibuku-buku kepenulisan gitu. Harus pilih salah satu “aku” atau “saya”, tetapi aku ingin mencoba rasa baru dengan mengkombinasikan keduanya dan kedengaran seru kalau dibaca (menurut pendapat aku).

      Thank you.

      Maybe. Yeah. I did.

      Travel? Thats my agenda.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s