AIRPLANE 2: PERKENALANKU YANG TERLAMBAT

Aku tidak tahu bagaimana harus memulainya, sungguh, tetapi ini tahun ketigaku di dunia blog dan aku bahkan belum sekalipun memperkenalkan diriku. Jadi, bagaimana dengan memperkenalkan diriku terlebih dahulu? Tidak? Bagaimanapun aku akan melakukannya. Kalian tidak lihat judul tulisanku, itu tentang perkenalan dan aku akan melakukannya.

My name is Widya, W i d y a (spell in english!), tetapi sejak 5 tahun lalu aku memilih menggunakan nama koreaku (Han Yong Ra) di semua akun media sosialku dan entah bagaimana setiap orang mulai memanggilku demikian bahkan di kehidupan sehari-hariku. They always call me like that.

Aku jenis orang dengan pemikiran yang sedikit aneh dan nyentrik, seperti aku lebih menyukai jika orang-orang memberiku hadiah satu kardus cotton bud dari pada buket bunga di hari-hari spesial. Aku tidak menyukai ceremony wisuda karena itu menumpuk banyak sampah dan ketidaksadaran semua orang akan menyusahkan para petugas kebersihan. Sial, so disgusting. Kupikir lulus saja cukup (your experience and knowledge is more important), tidak perlu berfoto disegala penjuru dengan toga, buket bunga, dan calon pendamping hidup yang mendekap mesra. Tidak perlu (in my opinion). Selain itu, aku menyukai hal-hal yang penting dan aku sedikit ‘Wangja (Yang Mulia)’ like full of myself. Aku juga lebih menyukai kata “ingin” daripada “harus” karena itu menunjukkan bahwa aku memiliki pendirian dan tentu aku memahami koridornya. Aku cukup straightforward dan mencintai banyak hal khususnya negara-negara di dunia dan laki-laki tampan di usia 30an (astaga aku membicarakannya, kukira aku hanya menyebutnya dalam pikiranku).

buket-peach-4
 flowerbe.co

Sejauh ini aku tidak merasa diriku keren, hanya saja aku menyukai dunia yang kuciptakan dan aku merasa itu cukup bisa kusebut keren (self hypothesis). Aku jenis orang yang tidak memiliki cukup banyak teman karena aku terlalu sering bercengkerama dengan pikiranku juga tumpukan bukuku yang bahkan tidak memiliki 1 detik waktu pun untuk menghakimi, namun dengan senang hati berbagi pengetahuannya denganku. Terdengar antisosial memang, tetapi bukan itu, aku hanya introvet (pemilih) atau lebih tepatnya disebut Weird Introvet (pemilih yang aneh).

Aku tidak tahu apa ini berlebihan, tetapi aku banyak membaca buku dan itu membuatku cukup analitis dalam banyak hal (kamu harus membiarkan orang lain yang mengatakannya Widya). Aku tahu itu benar-benar wangja tetapi begitulah aku merasakan diriku. Aku mencintai banyak hal, mulai dari hal sederhana seperti yang sudah kukatakan tadi, cotton bud hingga hal-hal menyenangkan (new knowledge, travel, language, coffee, etc), serius (Hukum, kedokteran, psikologi) dan sangat serius seperti politik, humanistic, science, dan filsafat. Keterbatasanku dimasa lalu lah yang menumbuhkan rasa penasaran dalam diriku yang pada akhirnya membawaku membuka diri untuk mencintai banyak hal.

Bud1
http://www.nubimagazine.com

Tunggu, kamu bertanya seberapa terbataskah?

Uhm…bayangkan saja daerah pedalaman terisolasi. Itu deskripsi paling realistis dari kampung halamanku. Cobblestone street (jalan batu) and no internet access. Yang aku ingat, jika aku tidak pernah berjumpa dengan buku juga pengalaman traveling yang ditawarkan ibuku maka aku mungkin masih akan hidup dibawah batu sekarang. Big thankful to my beloved eomma. Mungkin juga aku tidak akan memiliki kesempatan berteriak “Oppa, neomu paboya”, “Michigeda”. Jangankan itu, kabar negaraku saja, tidak yakin aku mendengarnya tepat waktu, apalagi kabar dari negara lain. It sounds just impossible, but…I make it. Jika harus menyebutkan my hwa ya yeong hwa (the most beautiful moment in life) maka itu adalah pertemuan pertamaku dengan buku dan traveling belasan tahun lalu. Terkadang sulit untuk mempercayainya tetapi ini nyata, dan aku melihatnya. Itu selalu terdengar luar biasa untukku.

Seperti yang sempat kusebutkan diatas, aku cukup aneh dan banyak orang bertanya-tanya mengapa aku demikian. Baiklah, aku akan menjawabnya. Hal yang membuatku terdengar aneh ada dua hal. Pertama, aku membaca banyak buku dan aku mengoleksi banyak pengetahuan dan info terbaru. Side effecnya banyak orang tidak bisa mengerti jalan pikiranku karena perbedaan kebiasaan. Aku tidak sedang menyebutkan bahwa aku smart dan rajin. Aku cenderung malas dan laidback namun confident dan curiosity-ku lah yang membuatku terdengar seperti aku mengetahui banyak hal. Setiap kali aku membaca, yang aku rasakan adalah aku semakin tidak tahu karena setelah selesai membaca aku akan mempertanyakan hal itu. Kemudian ketika itu terjawab dia akan kembali menciptakan pertanyaan lainnya, terjawab lagi, timbul pertanyaan lagi dan begitu seterusnya.

Kedua, aku cukup imajinatif dan tidak menutup kemungkinan aku berpikir sangat dalam tentang keanehan. Sialnya, terkadang aku tidak bisa menyembunyikannya dengan baik dalam otakku dan malah membicarakannya dihadapan orang lain, dari sanalah kemudian mereka menilaiku aneh karena apa yang seharusnya hanya kuimajinasikan malah aku bicarakan dihadapan kelompok orang normal. Tentu saja aku di cap aneh. Sangat beralasan.

Seperti yang telah kukatakan sebelumnya, pemikiranku sulit untuk dimengerti orang lain. Sekali lagi aku membaca banyak buku dengan beragam genre dan itu meningkatkan kepekaanku juga wawasanku. Dari sana aku mulai menggelisahkan banyak hal yang berdasar banyak buku yang kupelajari tidak sesuai tempat. Terkadang aku bisa secara instan dan cepat menempatkan diriku untuk memahami, namun ada kalanya aku mengkritisinya cukup dalam dan aku belum bisa mengatakan “Ah igeo gwenchana (Ah, ini tidak apa-apa), aku bisa menerimanya”. Akhirnya aku bersikap – yang dianggap orang lain sebagai keluhan.

Dari sana aku mendapat banyak pelajaran nyata bahwa, memang tidak mudah bersikap empatik. Itu terlalu seperti mimpi. Men-judge dengan kecepatan cahaya memang lebih mudah dilakukan (dan memang banyak dilakukan) dari pada mendengar secara empatik, Kalian mungkin tidak sadar bahwa kalian sedang memaparkan autobiografi kalian pada masalah orang lain. Padahal berdasar pengamatanku “Satu masalah yang sama, yang terjadi pada dua individu berbeda tidak bisa diselesaikan dengan cara yang sama karena faktor pendukungnya yang juga berbeda pada setiap individu”. Jadi, tolong telusuri lagi jika kalian memberi nasihat pada orang lain.

“Oh, apakah aku telah mendengar secara empatik ataukah aku sedang memaparkan autobiografiku yang tidak ada menarik-menariknya itu. Damn, that’s terrible.”

Jujur, aku juga pernah melakukannya dan aku memperbaikinya.

Aku punya cerita aneh, jadi aku sedikit bermasalah dengan dosen pembimbing Tugas Akhirku. Beliau ini lebih menyukai jalan yang berkelok-kelok meskipun ada jalan lurus yang bisa memangkas waktu tempuh. Aku selalu bertanya AADB (Ada Apa dengan Beliau?). Ini merugikanku dan aku tidak bisa menerimanya. Kami sama-sama sibuk dan jika kami bisa sama-sama mengefektifkan waktu, jelas itu akan menjadi keuntungan menarik bagi kedua belah pihak. Herannya itu tidak bekerja. Kupikir budaya negaraku memang demikian.

Lebih menyebalkan lagi, beliau mengkritik hal-hal tidak penting seperti kenapa aku tidak menghadiri seminar A dan lainnya? Kalau begitu aku juga ingin bertanya “mengapa aku harus melakukannya (menghadiri seminar)? Aku mengetahui adanya seminar itu tetapi aku tidak berpikir itu menguntungkanku. Seminar tentang kecap.

Sejauh ini aku selalu memilih banyak hal dengan intuisiku dan aku merasa itu tidak akan menarik. Faktanya, itu bahkan tidak meleset sedikitpun. Oh ayolah, si seminar kecap itu, yang memaparkan cara pembuatan kecap. Aku bahkan telah mendengarnya selama satu semester penuh dan saking muaknya aku bahkan tidak bisa memakan kecap lagi.

Aku ingin bercerita satu hal lagi, dalam buku The 7 Habits for Highly Effective People, Steven menyebutkan tentang lingkar pengaruh atau menciptakan lingkar pengaruh. Itu terdengar sangat menarik dan aku pikir itu bisa menjadi salah satu solusi masalahku, akhirnya aku memutuskan untuk mencobanya.

-skip-

Hasil akhirnya, itu berhasil pada banyak orang dan yang paling membuatku surprise dan ingin kuceritakan adalah uji cobaku dengan ibuku.

Kami jenis orang yang aneh (indeed). Ibuku cukup terbuka namun dibeberapa topik masih sering membawa pengalaman masa lalunya (generasi X). Sedangkan aku, cukup terbuka juga namun dalam beberapa hal kami benar-benar akan sangat sengit meskipun kami bercengkerama yang sesekali disisipi tawa. Berdasar hasil pemindaian diatas, akan sangat menarik jika aku berbicara dengan warna baru pada beliau demi menuntaskan rasa penasaran yang terkadang membuatku tercekik.

Mulailah aksi remake ala-ala Widya zaman masih jadi anggota reporter majalah SMA dulu. Aku bikin tuh daftar pertanyaan seperti ketika kita akan mewawancarai seseorang yang cukup berpengaruh. Telepon kami tersambung dan aku mengawalinya dengan menyepakati MOU. Setelah kami saling memahami peran kami masing-masing, mulailah prosesi tanya jawab itu. Singkat cerita, kami sama-sama straightforward dan aku mendapat semua jawaban yang kuperlukan.

Waktu berlalu dan teleponku berdering kembali, namun seperti yang sudah terduga, aku melewatkannya. Aku cenderung tidak menyukai ponsel karena aku merasa terganggu dengan keberadaanya dan aku selalu melupakan dimana aku meletakkannya. Beberapa jam kemudian aku menyadari notifikasi panggilan tak terjawab di ponselku, Eomma (bunda). Aku memutuskan untuk memanggil kembali, seperti biasa beliau selalu menjawabnya setepat jadwal sholat lima waktu. Percakapan kami mengalir dan tiba-tiba beliau menyampaikan banyak hal. Tahu apa, aku terkejut karena mendapati beliau yang empatik. Beliau menyebutkan banyak referensi yang dibacanya dan mulai memahami jalan pikiranku yang terlihat selalu melenceng di mata orang lain. Itu menarik dan disisi lain aku mendapat momen yang tepat untuk mengekspresikan diriku. Aku berhasil menciptakan lingkar pengaruhku dan kami berjalan di titik yang sama winwin solution.

Ini bukan pertama kalinya winwin solutionku berhasil, namun ini yang paling luar biasa dan aku cukup terkejut. Kami memiliki gap generasi yang tidak tanggung-tanggung jauhnya. Generasi X akan memuja pengalaman hidupnya yang dipenuhi dramatisme pasca penjajahan, sedangkan generasi milenial percaya dengan dunia milenialnya yang tentunya sangat jauh berbeda dengan generasi X. Kemudian ketika kami bisa menyepakati winwin solution, itu terdengar seperti keajaiban saja. Terkadang sulit untuk mempercayainya namun ini menyenangkan, seperti kami sedang berkemah di bawah pohon skaura di musim semi. Nilai plusnya, masalah teratasi.

Aku masih memiliki banyak hal untuk kukatakan tentang diriku, namun kupikir ini cukup untuk sekedar perkenalan. Jadi, tarik kesimpulanmu sendiri. Itu akan membantumu berpikir, dan berpikir akan membuka duniamu yang berkabut. Selamat mencoba, selamat berpikir dan senang berkenalan dengan kalian. Terima kasih untuk mengunjungi duniaku yang aneh ini. Ini membuatku tersentuh. Kiss ya…Cherioo..

P.s For my close friend Haha, Please, forgive me to be a wangja. Kemudian kenapa gambar utamanya kereta? Karena kereta perlu menempuh perjalanan selama beberapa waktu untuk sampai di tujuan dan aku juga sedang melakukannya. Melewati kantor imigrasi dan check in sebelum memasuki pesawatku yang akan take off sesuai jadwal keberangkatan. Hey, Mr. Airplane

Iklan

AIRPLANE 1: CINTA ITU…KEBINGUNGANKU

Diantara banyak hal yang tidak kupahami, cinta adalah salah satunya. Aku pernah menonton sebuah drama Taiwan di tahun 2012 lalu yang mengisahkan tentang seseorang yang ingin menjadi Idol. Drama yang karenanya membuatku membenci Donghae oppa dikarenakan pendalaman perannya yang membuat frustrasi. Pada akhirnya aku berhenti melihatnya karena kehabisan kata makian. Kembali ke drama tadi – Skip Beat, sebagai idol tentu dia membutuhkan sebuah cinta, cinta dari para penggemarnya. Namun, hal yang melatarbelakangi mimpinya tersebut adalah keinginannya untuk membalas dendam masa lalunya, dan semuanya hanya menjadi kekacauan belaka. Akhirnya, dia belajar banyak hal dan mencari makna dari sebuah cinta. Aku tidak yakin apa dia mendapatkannya atau tidak karena drama itu berakhir dengan tanda tanya.

Pelajaran yang bisa diambil dari drama ini tentunya kita sebagai manusia memang membutuhkan cinta, mungkin, atau lebih tepat dikatakan berbagi cinta. Entahlah. Bagi banyak orang love is interesting but for me love is like depresing and confusing. So, I don’t think I understand…

By the way, tentang cinta para penggemar itu, aku jadi keinget iKON di WIN sampai Mix & Match. Disitu terbukti bahwa cinta para penggemarlah yang akhirnya menyatukan iKON setelah drama dua kali perang saudara. Yang Hyung Suk Sajangnim, terima kasih untuk pertunjukkan yang sangat sentimental dan adegan hilangannya kepercayaanku pada produk penghilang mata panda. Ini gagal, aku melihatnya dibalik cermin. Ouh…sangat mengerikan.

Sedikit tentang iKON, mereka ini luar biasa sekali perjuangannya untuk debut karena kisah sukses dua kali perang saudara yang diadakan Yang Hyung Suk Sajangnim. Astaga, sampai sekarang masih kesel banget dengan sistemnya YG ini. Meskipun bisa di cerna dengan jelas maksud dan tujuannya namun, tetap saja sistemnya lumayan kejam. WIN (Who is Next?) itu sangat kompetitif, sentimental juga tetapi M&M jauh lebih kejam. Bagaimana jika kalian yang awalnya berada di satu tim yang sama, berjuang bersama selama berbulan-bulan kemudian kalah dan diadu dengan teman satu tim? Masih gitu ada penambahan 3 orang baru dan hanya 3 dari 6 member lama yang dipastikan lolos. Padahal perjuangan mereka di WIN udah nggak kehitung lagi, belum lagi ditambah training biasa yang mereka jalani selama 2.5 tahun. Pada akhirnya aku paham alasan kaburnya B.I selama 4 jam. Kita yang nonton aja ikut frustrasi, apalagi mereka yang menjalani. iKON jjang!

wpid-screenshot_2015-10-11-17-06-40
iKON – AIRPLANE

Untuk aku, iKON ini sebenarnya sama membingungkannya dengan cinta, tidak bisa aku pahami. Pertama kali jatuh cinta dengan Winner (pemenang WIN), aku pikir Winner itu sudah cukup luar biasa dan pastinya aku masih memahami aliran musik mereka, tetapi iKON, they just like danger flowers in spring day.

tumblr_nvw6w0YMBU1qamp90o4_1280

Saking takutnya jatuh, aku pernah mengatakan ke temanku bahwa aku nggak ingin lihat iKON karena mereka terdengar berbahaya… berbahaya untuk masa hidup memori laptopku yang nyaris tak terselamatkan lagi. Namun, Pesawat (Airplane – salah satu judul lagu iKON) itu membuatku jatuh… jatuh pada pesona mereka. Hey Mr. Airplane.

tumblr_nvw6w0YMBU1qamp90o3_1280

Lucunya, Hip Hop yang dulunya tak ku pahami, akhirnya malah membuatku kalang kabut terpesona. Rhythm Ta-nya catchy-able, WYD-nya spring-able. Airplane-nya…Astaga gue udah di conter check ini, Cuma masih cek cok aja sama petugasnya yang sialan itu.

잠깐 멈춰봐 비가 오잖아
바람 불잖아
지금 가면 위험하니까
Hey Mr. Airplane
잠깐 멈춰봐 시간 많잖아…

[TRANS]
Berhenti sejenak, hari sedang hujan
Angin bertiup, akan berbahaya jika kamu pergi sekarang
Hey Mr Airplane
Berhenti sejenak, ada banyak waktu…

Tolong tunggu aku.

Kembali ke cinta, entah mengapa, menghadapi orang yang tidak menyukaiku terasa jauh lebih mudah dapipada orang yang membagi cintanya untukku. Itu membuat depresi, sungguh. I think a lot about it and I just more confuse than understand. Temanku pernah menulis di akun twitternya “Terlalu lama mandiri, akan membuatmu bingung begitu bertemu dengan cinta”. Entah bagaimana, itu terdengar benar.

Aku sempat mengirim pesan ke dia yang isinya “Oh, merinding”.

Terus dia bales “Serem ya?”

“Mimpi buruk.”

Kalau dipikir lagi, rasanya lebih mudah berbicara tentang filsafat dan politik daripada cinta. Lebih mudah lagi untuk beramah tamah dengan haters daripada lovers because haters make me thinking, but lovers make me confusing. Tidak perlu jauh-jauh berbicara hingga cinta, tersenyum saja aku pernah berlatih private ke seseorang dan itu benar-benar terasa sangat lucu sekarang. Hey, mungkin kamu masih ingat, Sanggar Tari Srikandi, jam 4 sore untuk syuting film tugas akhir kita “Me and K pop”.

Berbicara tentang film ini, ada cinta juga diantara kita…Yesung oppa, bogoshipda. Kyuhyun oppa…ppali na ga…25 5 2017 – 25 5 2019. 내가 있잖아 (I’m With You).

Forget it. It just too embarrassing. I can’t even watch my face after watched that movie. The amazing one is I still love it. Chingu-ya bogoshipda. Nonton film ini bareng-bareng yuk 10 tahun lagi, aku pastikan kita akan mengalami diare 7 hari saking cringing-nya. Don’t forget to prepare your medicine.

Okay, Let’s finished right now, cinta… aku menyerah tetapi aku akan mencari titik yang bisa kupahami, Hey Mr. Airplane. Thanks for everyone who give their love to me. Saranghamida. La li la di dada la li da…

Itu ceritaku tentang cinta, neo?

P.s Tentang kenapa Mr. Airplane, itu karena pilotnya diasumsikan (sialan bahasa teknik kimia) laki-laki.

Upcoming Teaser: AIRPLANE ✈

Sulit dipercaya, “Patah hatilah jika ingin menjadi penulis hebat”. Jadi katakan, pernyataan bodoh macam apa itu? Aku bahkan sangat yakin masih mengutuknya dari satu bulan lalu hingga satu menit yang lalu tetapi…Baiklah, kukira aku patah hati pada akhirnya. Ya, aku patah hati…Patah hati pada segala hal, kebijakan di negaraku, diriku, buku-buku yang tak juga kutahu sisinya, dan mereka yang tidak bisa kupilih diantaranya. Pada akhirnya aku memilih keduanya, untuk tersipu sesaat dan menjauh. Kembali berlalu pada ketinggian yang kuhitung. Jauh diantara kekacauan dan sendunya langit senja, juga kelap kelip lampu yang mengucap perpisahan. – Airplane.

Aku mencintai kereta, itu benar tetapi,…Bukankah kita sedang berbicara tentang siapa yang jauh lebih cepat. Aku ingin yang paling cepat diantara semuanya. Sesuatu yang membawaku jauh tinggi meninggalkan segala kapenatan ini. Membuatku melihatnya sebagai hal kecil tak berarti. Aku melepasnya, bisakah? Tidak, aku tidak bertanya apa kau menyetujuinya. Aku memutuskannya, melepas genggaman yang telah lama mencekikku erat. Aku hampir kehilangan nafas kau tahu, terlalu sesak. Bahkan jika kau menawarkan sebuah pelukan, aku memilih untuk berlari pada kemungkinan yang tidak ku tahu. Aku hanya berharap itu lebih baik, lebih baik daripada aku tercekik mati secara perlahan dalam harapan. – Airplane.

Pesawatku menanti… ✈

5 Detik Kedua

Setidaknya ini sudah 20 tahunan saya hidup di Indonesia, berbaur dengan masyarakat Indonesia dari berbagai latar belakang. Namun… iya, namun ada beberapa hal yang masih nggak bisa aku mengerti sampai hari ini, bahkan untuk aku yang orang pribumi yakni “hobi orang Indonesia men-judgement tanpa berpikir, yang mulia, dan selalu ingin ikut campur masalah orang lain”. Nggak ngerti aku topik begituan.

Pernah suatu waktu ada beberapa orang yang dengan berkoar-koar membanggakan pem…em…em…a karena mereka dekat, bisa saling berkirim pesan dan sesuatu se…se..hmm…umm itu lah. Mereka bercerita terus tanpa henti seakan kami nggak memiliki moment semanis mereka. Pamer lah istilahnya dengan nada-nada yang menggembung tinggi. Saking tingginya leher aku mungkin bisa patah karena terlalu banyak mendongak. U…u…dimana itu, nggak kelihatan. Wuihh!! tinggi banget.

Apa saya terpesona?

Wah, dia terlalu keren sampai tidak bisa dikategorikan lagi. Wah, gue iri sampai mau gila. Daebakk!!! Nggak ada tiganya itu. Keren banget loe, dll.

Sepertinya respon seperti itu yang (mungkin) saja diharapkan sama si pencerita. Ini masih mungkin, jadi bisa saja berbeda. Tetapi…sekali lagi, apa saya terpesona?

OH MAY GOODNESS! AKU NGGAK PENASARAN. UAHAHAHAHA…HA…HA. AKU NGGAK PENASARAN. SERIUS, AKU NGGAK PENASARAN, terus ketawa sampai mata berair.

Itu responku sebenarnya, tetapi karena budaya ketimuran tidak bisa straight forward begitu saja, maka biasanya aku senyumin aja. Paling banter aku cerita ke bunda dengan nada datar tanpa emosi, tetapi bundaku ketawanya malah lebih seru. Aku-nya kedip-kedip doank sambil merenung “sial mamiku lebih heboh, runner up donk aku.”

Kejadian aneh kedua adalah soal tindakan-tindakan mencampuri urusan orang lain. Nah, ini lebih aneh dari yang pertama. Suatu hari aku mendapat beberapa pesan yang isinya kalimat-kalimat kepedulian dari beberapa orang yang berbeda. Yang satu, kita lumayan berbicara banyak, yang satunya lagi sinisnya minta ampun sama aku. Aku nggak ngapa-ngapain pun disinisin sama dia. Lah, patut curiga donk saya. Ada badai apa wahai Tuan Paduka?

Lucunya, mereka ini ternyata ngomongin masalahku yang bahkan aku sendiri aja nggak tahu dan merasa tidak ada masalah. Akhirnya, bingung kan aku harus memberi balasan seperti apa maka aku balas aja…

“Iya.”

Entah apa yang aku iyain. Yang pasti kalimat itu akan mengakhiri argumen-argumen kedepannya. Yang aku tangkap dari fenomena ini, sebenarnya mereka ini mau peduli, sepertinya. Terlepas tulus atau tidak. Hanya saja, mereka salah betindak dan malah jadi annoying. Aku nggak tahu apa aku pernah melakukan hal semacam itu dimasa lalu, tetapi aku sendiri nggak punya minat untuk mencampuri masalah kalian, dengan harapan kalian mau melakukan hal yang sama. Tetapi…ya.

Kejadian aneh ketiga adalah men-judge terlampau cepat. Kecepatan cahaya malah. Aku pernah menjadi orang yang gegabah dalam menilai seperti nggak mau ah makan ini, namanya aneh. Pernah juga aku nggak suka begitu saja dengan seseorang karena suaranya nyebelin atau bajunya atas dan bawah motifnya tabrakan. Itu contoh jelatanya. Contoh agak bangsawannya, saat pertama kali aku menonton video Briptu Norman. Video itu dimulai dari seorang polisi yang sedang duduk di post jaga sepertinya. Didepannya ada sebuah meja dan mengalunlah musik India berserta seorang polisi yang sedang merokok. Tanpa berpikir panjang aku langsung bilang “Apa-apaan ini polisi, sikapnya itu loh!Ckckckckck”. Tetapi setelah menonton full videonya, saya baru tahu kalau dia mau lypsinc lagu india plus jogetnya juga. Ow…!!

Wah, betapa buruknya sikap aku. Sejak hari itu aku mulai belajar untuk mengerem komentarku dan memberi waktu untuk diriku sendiri berpikir sejenak, setidaknya lima detik sebelum melontarkan respon. Itu waktu yang sudah cukup memadai untuk berpikir sejenak. Kemudian aku juga membaca lebih banyak buku, dari berbagai genre berbeda dengan tujuan melihat kontras yang lebih banyak sehingga aku bisa lebih bijak dan berhati-hati dalam menilai, dan itu terbukti berhasil. Aku menjadi jauh lebih terkendali dan tidak seliar dulu.

Tetapi ada satu masalah lagi, membaca buku artinya kamu menambah pengetahuanmu. Yang menakutkan adalah bisa saja aku terjangkit penyakit “Yang mulia”. Yang Mulia itu sebutan yang aku gunakan untuk menyebut orang-orang yang merasa dirinya mulia karena lebih tahu, lebih rajin, lebih pandai dan lainnya dibandingkan yang lain. Dia merasa paling benar. Sesuatu seperti itu. Padahal moment ketika kita merasa paling mulia maka disitulah timbul perpecahan. Maka dari itu membaca buku tidaklah cukup, harus bisa juga mengendalikan diri. Tahu kapan harus mengerem.

Sikap merasa lebih mulia bisa menghancurkan banyak hal dan itu bukan hal yang diharapkan. Dulu, jika ada suatu masalah aku meresponnya dengan kemarahan, tetapi ternyata itu menambah keriput di wajah, sial. Maka sekarang aku mengubahnya dengan senyum. Hey, setidaknya aku harus menyelamatkan reputasi produk perawatan kulit yang aku pakai, yang katanya mengurangi kerutan itu. Hasilnya akhir 2016 hingga 2017 bulan ini, kadar stressku menurun tajam. Aku hidup lebih baik. Lebih banyak tersenyum dari tahun-tahun sebelumnya, original version, no fake. Wajahku juga jauh lebih bersinar dan tidak lagi terlihat seperti manusia yang mati karena diracuni arsenik dan ditemukan setelah 24 jam. Semua berjalan sesuai harapan, masalah tentu selalu ada, hanya saja bisa terselesaikan dengan tepat. Aku juga jauh lebih terkendali dan tertawa dengan cukup.

2017, tindakan orang makin beragam saja, beberapa waktu lalu aku mengupload sebuah tautan Music Videonya SEENROOT – Oppaya (Sweet Heart). Lagu ini melodinya, liriknya bahkan suara penyanyinya itu unik dan lucu aja, makanya aku merespon dengan memposting tautanya. Aku nggak berharap di like, di komentari atau semacamnya. Cuma pengen nautin aja pokoknya. Tiba-tiba saya dikirimi emot seperti ini…

2

Ya, nggak masalah sebenarnya. Kebebasan untuk berkomentar kok. Yang membuat itu jadi bermasalah dalam sudut pandangku adalah, akhir-akhir ini aku sering mendapat emot itu dari seseorang dan itu berkahir dengan kalimat bodoh karena dia tidak menerapkan lima detik tadi untuk berpikir. Kasarnya gegabah, sok tahu tetapi bego. Akhirnya karena vaksin generalisasiku sedang menurun, aku langsung mengeneralisasikan orang dengan emot itu adalah orang yang gegabah, sok tahu, dan tidak memakai otaknya untuk berpikir. Tambahan, aku sebenarnya benar-benar nggak suka dengan emot ini tanpa maksud bercanda. It just like serious.

Sesungguhnya aku cukup merasa bersalah mengeneralisasikan seperti itu, tetapi disisi lain aku juga berpikiran negatif. Hampir saja kalimat keramatku keluar. Jika aku sampai menulis “Aku tidak tahu harus merespon seperti apa!” itu berarti aku sudah cukup kesal dan sangat mungkin sudah berpikir negatif hingga dititik yang tidak kamu pikirkan lagi. Akhirnya hanya aku balas seperti ini…

3

Itu salah satu upayaku untuk mengerem apapun yang aku pikirkan sejauh dan senegatif apapun itu. Maka harapanku adalah setidaknya sebelum merespon tolong pakai 5 detik itu untuk sejenak berpikir. Kalau 5 detik terlalu banyak, setidaknya 2 detiklah. Dua detik itu pemikiran kamu seharusnya sudah sampai di “Eung…”. Dari sana seharusnya kamu sudah sedikit sadar sebelum melakukan apapun yang ingin kamu lakukan. Walaupun pada akhirnya negatif juga, setidaknya tidak akan seburuk yang pertama. I hope you will understand.

Ada kalimat yang selalu aku ingat dari Mas Pandji, yang beliau katakan di Tur dunianya 2016 – Juru Bicara, bahwa “Kunci Pendidikan yang sukses adalah rasa penasaran yang genuine dari anak-anaknya…Nggak ada motivasi belajar lebih besar dari rasa penasaran yang nyata. Tetapi pendidikan sekarang semua anak-anak, dihajar sama semua hal sehingga mereka nggak sempat penasaran. Sekalinya mereka penasaran, sama hal-hal diluar sekolah, tetapi kalau mereka fokus pada hal-hal itu dianggap nggak fokus sama pelajaran.”

Terdengar tidak nyambung dengan topik di atas, tetapi jika hipotesa aku benar (saya berharap tidak), semoga kalimat itu bisa memberi pengertian. Dan tolong 5 detik tadi…bisa diterapkan. Aku udah tulisin disini, kalian nggak perlu susah payah membaca buku The 7 Habits-nya Steven R. Covey yang tebalnya ratusan halaman. Dia tidak spesifik mengatakan berpikir 5 detik (itu teori saya aja berdasar pengalaman pribadi), tetapi hanya menghimbau seseorang untuk berpikir sebelum merespon sesuatu. Itu saja dan Cheerio…

Judul-Judul ‘Putus Asa’

Ada fenomena cukup menarik di Toko Buku selama beberapa bulan terakhir ini, dimana ada banyak sekali buku baru berlabel dibaca X juta kali. Hal itu dilatarbelakangi oleh penerbitan tulisan-tulisan di situs Wattpad oleh penerbit dalam negeri. Uniknya semua tulisan yang di terbitkan dari wattpad selalu dilabeli dibaca X juta kali. Memang tulisan yang di upload di wattpad akan selalu ter-count berapa jumlah pembacanya sehingga kita sebagai pembaca baru bisa melihat jumlah viewers untuk menentukan pilihan bacaan. Jujur bagi aku itu tidak bisa dijadikan patokan.

Karena…

Menurut pengalamanku sebagai pembaca wattpad, jumlah viewers tidak bisa menjamin bahwa suatu cerita itu bagus baik secara diksi, tata bahasa maupun jalan cerita. Bahkan tulisan yang masih berantakan sekalipun bisa dibaca hingga ribuan kali. Aku pernah membaca tulisan yang jumlah viewers-nya sudah 17ribu tetapi isinya masih acak adul. Tetapi ini bukan jaminan bagi cerita lainnya dengan viewers yang sama.

Kembali ke label X Juta kali tadi, bisa saja memang isinya bagus tetapi bisa juga tidak. Sepertinya itu bagian dari promosi penerbit untuk memberi review singkat kepada pembeli saja bahwa tulisan itu telah dibaca X Juta kali. Tapi jangan lupa untuk tetap berhati-hati dalam memilih karena label tidak bisa menjamin apapun. Tahu kan bahwa label seperti misalnya bestseller artinya penjulannya tinggi dan itu berarti juga bahwa mayoritas orang menyukai hal itu. Tetapi ingat bisa saja selera kalian minoritas seperti aku sehingga label-label seperti itu tidak bisa mewakili pilihan buku kita. Sejauh ini  aku tidak pernah membeli buku karena label bestseller atau dibaca X juta kali. Ketika memilih sebuah buku yang aku pertimbangkan adalah isinya, manfaatnya, dan penting tidaknya buku tersebut.

Jika hari ini kalian membaca buku karena takut dinilai kurang berbobot hanya karena membaca buku yang kelihatan ece-ece, abaikan saja. Atau bagi kalian yang membaca buku berlabel bestseller dan terkenal hanya untuk kelihatan keren. Lupakan! Berhenti melakukannya dan baca buku yang penting bagimu untuk dibaca karena dari sana citra keren itu akan muncul dengan sendirinya.

Aku memiliki teman di IG yang dulunya jika membaca buku yang dia baca hanya yang banyak dibaca orang dan terkenal. Namun, pada akhirnya dia bercerita tidak memperoleh apapun. Aku memberinya saran untuk membaca apa yang ingin dan penting untuk dia baca. Akhirnya dia mulai melakukannya dan dia merasa lebih baik sekarang. Lagian apasih tujuan kita membaca buku, mengetahui sesuatu, memahami dan memperluas pengetahuan. Jika kita saja tidak nyaman dan terpaksa membacanya hanya demi gengsi maka apa gunanya. Sia-sia saja.

Aku memiliki pengalaman juga soal pilihan buku ini. Jadi aku selalu membaca dimanapun tempat yang memungkinkan. Bacaanku pun beragam. Faktanya cover buku terbitan Indonesia itu tipis-tipis. Jarang sekali yang memiliki hard cover. Akhirnya banyak orang mengira aku membaca novel padahal buku yang aku baca bisa saja hukum, politik, kebijakan publik, travel atau bahkan Manajemen ekonomi dan lainnya. Ending-nya saya dianggap remaja galau pencinta novel romance picisan. Tapi siapa peduli, I’m not what they are thinking about. So, I don’t care. Aku tidak berpikir perlu untuk memperbaiki kesalahpahaman tersebut.

Kesimpulannya jangan terkoceh memilih buku hanya karena label atau karena buku tersebut banyak dibaca. Pilih yang perlu dan ingin kamu baca saja, jangan pusing dengan penilaian orang lain. Ambil keputusanmu sendiri karena hanya dengan begitu kamu mendapatkan manfaat yang kamu harapkan dari buku tersebut. So, good luck…

Image by https://img.clipartfest.com

Galeri

#Hardiknas: Keputusasaan yang tidak dibolehkan

Pendidikan…

Pendidikan…

Ya, Pendidikan adalah salah satu hal yang keputusasaan tidak dibolehkan didalamnya. Tidak dan tidak bisa.

Kenapa?

Sederhana saja, mengacu ke tulisan aku kemarin…karena pembangunan manusia adalah kunci kemajuan suatu bangsa. Sejauh ini tidak ada satu bangsa pun yang maju tanpa pendidikan yang baik. Lihat Jerman, pendidikan di negara itu sangat ketat dengan kurikulum yang tidak main-main. Semua tersusun secara sempurna. Hasilnya, jelas sekali. Jerman merupakan salah satu negara maju di dunia.

Memang sempat ada isu tentang efek buruk dari sekolah yang digratiskan di Jerman dan Amerika. Entahlah kebenaran kabar tersebut, tetapi sekarang Jerman mulai memungut biaya pendidikan.

C-yP4duW0AARC3P
Education

Kedua, contoh paling dekat, Thailand. Negara yang akhirnya mencuri hati saya bersama Amerika Latin. Eropa??? Hmm…untuk Eropa…aku telah masuk ke halaman buku yang baru dan sudut pandang baru.

So, jadi tahu tidak bagaimana berkembang pesatnya Thailand sekarang? Luar biasa. Yang masih menganggap Thailand selevel Asia Tenggara, harus cek ulang deh. Thailand itu, pendidikannya jauh lebih maju sekarang. Saya baca di beberapa buku tentang Thailand dan memang Thailand memiliki misi untuk menjadi yang terdepan di Asia Tenggara. Untuk mewujudkan itu Thailand memajukan sekolah-sekolah mereka dengan merekrut guru-guru terbaik. Selain itu, jika ingin menjadi guru di Thailand tidak perlu magang seperti di Indonesia dan jelas diberikan kesejahteraan yang baik oleh pemerintah. Sepertinya Thailand sadar bahwa guru sangat berperan penting bagi pendidikan anak-anak di Thailand, maka mereka mempersiapkannya dengan baik.

Mungkin kalian belum tahu bahwa di Thailand mereka diajarkan bahasa Indonesia dan sejarah Indonesia. Anak-anak Thailand itu tahu sejarah Majapahit guys. Kalian gimana? Masih ingat? Kenapa mereka mengajarkan itu? Ya, untuk memenuhi visi Thailand menjadi yang terdepan di Asia Tenggara tadi. Sepertinya salah satu cara menjadi yang lebih maju adalah dengan ‘tahu’ tentang negara-negara lain. Mereka sedang mempelajari Indonesia, itu proses yang pernah dan masih terus mereka lakukan. Buktinya sudah ada, kemajuan yang kita lihat hari ini. Salah satu yang mencolok, tentunya jumlah wisatawan mereka yang jauh lebih tinggi dari Indonesia, padahal jumlah tempat wisatanya jauh lebih sedikit. Selain itu, mereka menjunjung tinggi budaya, kecintaan, dan kepedulian terhadap negara mereka tanpa menutup diri dari dunia Internasional. Itu kunci mengapa Thailand melejit sekarang – Pembangunan Manusia.

Lalu kenapa Indonesia? Karena Indonesia dianggap cukup berpengaruh di Asia Tenggara, makannya mereka menargetkan Indonesia. Sadar nggak kalau sekarang produk Thailand membanjiri Indonesia. Coba deh keluar rumah, kalian mungkin bakal lihat kedai-kedai minum berlabel Thailand.

Satu lagi, seperti yang pernah aku tulis di artikelku yang berjudul #World Book Day: Keterlambatan yang Mengubah bahwa Thailand disebut WEF sebagai calon bintang baru di dunia pendidikan. WEF nggak salah. Kalau tidak percaya, kupas saja Thailand dan jangan terkejut.

lyH6pvZDC9yXDqBm8ZW0jOEt_ydPABOv_MTkJK11RzY
Source: WEF

Kemarin aku lihat acara Korea, Battle Trip dan salah satu pesertanya memilih Thailand sebagai destinasi. Tiba-tiba saat lagi jalan kaki di Chiang Mai, Thailand, disebuah trotoar di tepi sungai yang bersih dia bilang “Wah, ige Europe ida” (Trans: Wah, ini seperti Eropa). Responku: Matjayo (Benar sekali).

Kembali ke pendidikan Indonesia. Sejujurnya membicarakan pendidikan Indoensia itu bagi aku “나 지금 센치해 (Na jigeum senchihae)” (Aku sekarang merasa sentimental). Sentimental itu suatu perasaan bosan sampai kita jadi sangat sensitif terhadap segala hal. Terkadang aku ingin nggak usah peduli, biarin aja mau apa saking keselnya, tetapi kok nggak bener juga ya. Saya jauh cinta dengan pendidikan Indonesia seburuk apapun itu. Setiap aku baca bukunya Mas Pandji juga Tour dunianya itu, tiba-tiba selalu muncul harapan dan keinginan-keinginan baru dalam diri aku. Aku benci anak-anak, tetapi aku tidak suka melihat anak-anak Indonesia dipermainkan sistem pendidikan. Nggak adil sekali jika kita membunuh kesempatan mereka untuk berkembang. Jadi, ayo jangan putus asa. Diantara banyak ketidakpedulian masyarakat Indonesia, ada sebagian kecil yang berjuang untuk pendidikan Indonesia, dan saya malu jika berencana berganti kewarganegaraan saja.

Hardiknas bagi aku adalah hal yang sangat precious, bahkan lebih dari ulang tahunku sendiri. I don’t really care about my birthday but Indonesian Education Day…I hope to be a person who make Indonesian Education brightly like the sun someday. Satu yang ingin aku yakini adalah aku memiliki harapan dan aku ingin kalian juga.

Terakhir, jika ingin tahu lebih dalam masalah pendidikan Indonesia bisa membaca buku barunya Prof. Rhenald Kasali – Disruption hal 397 “Universitas yang Harus Berubah”.

cropped-c4iagevueaa4dwf.jpg
This is the book

Memang itu membahas perguruan tinggi saja tetapi aku berharap dengan membaca itu kalian akan melihat kontras yang aku, Prof. Rhenald dan mungkin sebagian kecil orang lihat. Tujuannya dengan melihat kontras itu kalian akan bisa mengaplikasikan untuk hal-hal lain termasuk fakta-fakta pendidikan di bawahnya. Tentang inilah sesungguhnya wajah pendidikan Indonesia sekaligus alasan mengapa Indonesia selalu jalan di tempat. Tambahan, bisa juga membaca bukunya Pandji Pragiwaksono dan video tur dunianya.

EDUCATION is the most powerful weapon which you can use to change the world – Nelson Mandela

So, Selamat Hari Pendidikan Nasional. Matahari bersinar sangat cerah hari ini, semoga itu gambaran pendidikan Indonesia kedepannya. Jangan lupa juga bahwa Keputusasaan tidak dibolehkan dalam pendidikan. Bye…

#SelamatHariPendidikanNasional #Hardiknas

P.s By the way playlist saya tiba-tiba…

Five Minutes – Semakin Ku Kejar Semakin Kau Jauh? *Kenapa? Ada apa?

iKON – Rythm TA

Winner – FOOL X REALLY REALLY

Yesung – 봄날의소나기