#World Book Day: Keterlambatan yang Mengubah

World Book Day atau Hari Buku Sedunia yang diperingati setiap 23 April, awalnya adalah sebuah perayaan Hari Saint George di wilayah Kolombia. Pada perayaan ini seorang pria akan memberikan mawar kepada perempuan mereka. Namun, sejak tahun 1923 para pedagang buku mulai mewarnai festival ini sebagai penghormatan kepada Miguel de Cervantes, seorang pengarang yang meninggal pada tanggal yang sama, yakni 23 April. Sejak tahun 1925, kebiasaan pun berubah dimana wanita-wanita akan memberikan ganti bunga mawar yang mereka terima dengan sebuah buku.

Puncaknya, pada tahun 1995, UNESCO menetapkan tanggal 23 April sebagai Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia. Penetapan tanggal itu tidak saja karena penghormatan kepada Miguel de Cervantes, tetapi juga karena pada tanggal itulah banyak penulis besar dunia seperti William Shakespeare, Cervantes, Inca Garcilaso de la Vegadan Josep Pla, Maurice Druon, Vladimir Nabokov, Manuel Mejía Vallejoand Halldór Laxness menghembuskan nafas terakhir.

So, bagaimana harus memaknai Hari Buku Sedunia? Setiap orang tentu memiliki jawaban mereka sendiri. Untuk aku, singkatnya buku itu adalah kunci bagaimana si kumal dari kampung pedalaman terisolasi ini menjadi seperti sekarang. Tidak heroik-heroik amat, apalagi prestisus dengan jutaan prestasi atau apalah sebutannya. Tetapi yang pasti buku itu adalah jalan pertamaku melihat dunia selain traveling.

Hidup di pedalaman yang terisolasi tentu something yang like ‘Oh May Goodness”. Yah, bayangkan saja di awal abad ke-21 yang segalanya serba cepat, aku masih hidup dalam bayang-bayang internet yang sama sekali tidak ada, sinyal ponsel datang dan pergi, TV masih hitam putih atau sudah berwarna hanya saja dengan pilihan channel terbatas, No PC, dan Jalanan rusak. See, perfect. I will said it’s perfectly bloked. Itu adalah bagaimana aku menghabiskan masa kecilku. Suatu hari bundaku (beliau seorang guru) membawakan sebuah majalah, kalian mungkin sangat familier dengannya, Andaka. Setiap bunda membawa itu, antusiaku akan selalu merebak ke permukaan tanpa aku sadari,  karena aku baru sadar begitu mengingat-ingat kembali sekarang. Saat itu juga pertama kalinya aku mencintai hal baru selain buku yakni tumpukan buku. Pernah aku bilang ke bunda gini “Ma, besok bawain lagi ya, semuanya, tapi habis itu jangan dibalikin”. Kalau diterjemahkan pakai bahasa gaul mamaku balesnya gini “ Lah, lu kira majalah punya nenek buyutmu apa ya”. Dan tentu saja itu tidak berhasil. Say goodbye, Andaka.

Waktu terus berlalu dan majalah itu terus menjadi sahabat sehari-hariku, hingga suatu hari mamaku membawakan majalah baru, kalau tidak salah namanya GENTA. Di sampul belakang bagian dalam majalah itu ada suatu rubik yang masih aku ingat sekali, judulnya “Negeri 1001 Sepeda”. Di bagian kiri atas sang jurnalis laki-laki terlihat berdiri diantara barisan sepeda yang terparkir rapi di Belanda. Kalau diminta untuk menceritakan artikel itu sekarang, aku yakin masih mengingatnya hingga 80%. Tulisan itu sangat berkesan untukku karena saat itulah titik dimana aku jatuh cinta dengan dunia, negara-negara, keragamannya dan memulai petualangan baru dengan pikiranku yang dulunya terbatas.

Memasuki bangku Junior High School, ambisiku mulai nampak nyata. Aku selalu menyukai segala hal berjalan sempurna termasuk sekolah dan aku mendapatkannya, The best school. Tetapi ada kesulitan tersendiri untukku, PC (Personal Computer) aku belum bisa mengoperasikannya karena aku baru saja mempelajarinya beberapa minggu sebelum masuk SMP. I think I’m getting crazy. Jangankan yang rumit, nulis di Ms. Word aja nggak bisa. Sekarang tentunya tidak lagi.

Waktu berlalu dan aku kembali harus naik jenjang pendidikan, meskipun akhirnya tidak mendapat yang terbaik (I got the runner up), I’m okay karena itu ternyata menjadi tempat yang tepat karena aksesku terhadap buku yang dulunya perfectly terbatas, sekarang jauh lebih terbuka. Pada saat kelas dua SMA aku pergi ke kampung inggris dan disanalah pertama kalinya aku mengunjungi toko buku terbesar di Indonesia. Saat itu tahun 2013 bulan Juli. Saking berkesannya, buku yang aku beli menjadi buku yang super spesial, walaupun isinya…yah, nggak spesial-spesial amat sebenarnya. Waktunya saja yang menjadikannya berkesan. Memasuki akhir kelas 3 SMA, perpustakaan mendapat sumbangan buku baru dari alumni. Itulah kali pertama aku membaca karya-karya yang jauh lebih berbobot seperti Mind Power-nya John Kehoe, Mimpi Sejuta Dolar-nya Merry Riana, beberapa buku bahasa perancis dan banyak lainnya. Akses internet yang mulai mudah pun membuatku mengetahui begitu banyak buku-buku keren yang akhirnya aku masukan dalam daftar whishlist. Setahun kemudian daftar whishlist-ku…tentu saja tidak tercapai semuanya, bahkan hingga sekarang, karena ditengah perjalanan aku terus menambahnya. Setiap tercapai beberapa, muncul beberapa lainnya dan sangat mungkin tidak akan ada akhirnya hingga nanti.

Kesimpulannya, seburuk apapun sebuah hal adalah mungkin untuk berubah. Hanya saja cari kesempatan itu, disini buku adalah kata kunciku berubah, kalian bisa saja hal lainnya. Jika kalian tertinggal sebuah kemajuan, kenapa harus panik, kejar saja. Toh setiap orang memiliki kesempatan yang berbeda. Terkadang aku heran dengan perilaku beberapa orang yang menilai sesuatu dengan kesombongan, hanya karena dia tahu terlebih dahulu. Merasa paling pandai, menggurui dan merasa kastanya jauh lebih tinggi. Bagi aku itu tindakan yang sangat bodoh sekali. Kenapa? Sekali lagi ya karena setiap orang kesempatannya berbeda.

Aku ingin cerita satu hal terkahir, beberapa waktu ini aku memikirkan banyak hal dan kemudian aku menemukan fakta bahwa hal-hal  yang aku prediksikan dahulu mulai terjadi sekarang. Contohnya, di kelas 2 SMP aku tidak bisa menerima fakta bahwa “Pengalaman adalah guru terbaik”. Aku pernah mendebatnya saat melakukan diskusi kecil di beranda pada suatu sore dengan beberapa orang, tidak perlu aku sebut siapa. Yang pasti hingga sekarang aku masih tidak bisa menyetujui pernyataan itu 100%. Lalu apa, tumbangnya brand-brand besar dunia seperti Nokia, Blacberry, Kodak dan lainnya kini menjadi bukti bahwa “Pengalaman bukan guru terbaik juga”. Hal itu mungkin masih cukup relevan tujuh tahun lalu, tetapi tidak lagi ketika dunia memasuki dunia baru “Disruption”. Kembali ke Nokia, apa sih yang menyebabkan Nokia yang memiliki perusahaan dan SDM yang bagus, yang direkrut dari seluruh penjuru dunia. Diisi engineering kelas satu, tim pemasaran dan keuangan terbaik. Tidak cukup sampai disitu, Nokia juga memiliki branding kuat, produk berkualitas dibanding pesaingnya, harganya tepat, pemasaran tak bermasalah dan intensif penjualannya bagus. Poin plusnya Nokia juga terus berinovasi.

Apa lagi yang kurang dari Nokia? Nyaris sempurna, tetapi apa… mereka kalah. Di pidato terakhirnya CEO Nokia, Sthephen Elop mengatakan “We didn’t do anything wrong, but somehow, we lost.”

Oh, bukankah pada akhirnya pengalaman masa lalu bukan segalanya?

Cerita lainnya adalah soal pendidikan. Pendidikan mulai memasuki fase baru sekarang. Dulu bagaimana aku melihat Thailand. Ya, negara yang sama lah dengan Indonesia. Sama-sama berbudaya Asia Tenggara. Pertama kali aku tahu bahwa Thailand bukan yang dulu lagi saat aku mulai menyukai sosok Ten, si Thailand yang terpilih menjadi anggota boyband baru SM Entertainment, NCT U. Saat itu ada acara NCT Life in Bangkok dan mereka mengunjungi sekolah lama Ten, Shrevbury International School, Bangkok. Sekolah ini keren banget, jangankan aku yang belum pernah lihat sekolah macam itu di Indonesia, member NCT lainnya aja yang dari Amerika dan Korea, yang sekolah keren bukan hal baru masih takjub juga.

panorama-content-banner
Shrevbury International School, Bangkok, Thailand

Shrevbury International School ini memiliki Hall yang sangat bagus, perpustakaan dengan koleksi tidak main-main begitu juga fasilitas penunjangnya, kelas-kelas mereka juga luar biasa, sekolahnya hijau, besar, rapi, bersih dan parkir mobilnya bahkan lebih besar dari luas keseluruhan SMA-ku dulu. Berangkat dari sana, dengan momen yang sempurna, aku mendapat buku yang mengupas tuntas Thailand luar dan dalam mulai dari pendidikan, kebiasaan masyarakat, sejarah, visi Thailand kedepannya dan masih banyak lainnya. Selesai membaca buku itu, satu hal yang aku yakini bahwa Thailand tidak selevel Asia Tenggara lagi. Thailand sudah mulai menyusul Singapura dan Malaysia khususnya dalam bidang pendidikan. Lalu puncaknya adalah beberapa hari lalu, World Economic Forum mengungkap negara-negara yang akan menjadi bintang baru dalam dunia pendidikan. Judul artikel mereka sendiri “These Countries could be The World’s New Education Superstars.” Tebak! Yes, Thailand masuk dalam daftar itu. See I tell you. Mereka menyebutnya TACTICS (Thailand, Argentina, Chile, Turkey, Iran, Kolombia, Serbia). Dari ketujuh negara itu, yang sudah aku prediksi akan memiliki kualitas pendidikan yang baik adalah Thailand, Argentina, Chile, Turkey dan Serbia. Aku menebaknya setelah aku banyak membaca buku-buku tentang negara-negara itu sejak 2014 silam. Kalian mungkin tidak percaya, tetapi mereka bahkan lebih dari memesona. Masih ragu? cari saja info-info tentang negara itu. Aku warning, jangan surprise kalau bahkan mereka telah mengalahkan Eropa.

lyH6pvZDC9yXDqBm8ZW0jOEt_ydPABOv_MTkJK11RzY
Photo by World Economic Forum

So, asik bukan mengetahui hal baru? Maka ini saatnya kamu mulai membaca karena buku bisa menjadikan kita jauh lebih analitis, tajam dan melihat kontras yang berbeda ketimbang pandangan orang kebanyakan. Percayalah, kalian akan menemukan banyak sekali hal baru, aku membuktikannya. Jadi, membacalah, buka duniamu. Jangan puas duduk dalam ketidaktahuan.

Jika terlambat pun mengubah, maka ubahlah.- Dya

That’s all and Happy World Book Day…

P.s Hari ini bertepatan dengan World Book Day, ada event buku besar-besaran di ICE BSD City. I hope I’m there, but…the reality is not allow me. So, I just visit bookstore to make me feel differently.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s