Mencoba ‘Terbuka’

Keragaman memang melahirkan sebuah keindahan menyejukkan. Namun, seperti sebuah kotak persegi panjang, keragaman juga menciptakan sisi lain yang sama sekali berbeda dengan sisi lainnya. Artinya dia memerlukan perlakuan khusus. Ya, sebuah kepekaan untuk saling menghargai demi terciptanya kedamaian diantara perbedaan.

Terkadang ada suatu waktu dimana aku merasa cukup terbuka, namun di situasi lain, ternyata itupun masih belum cukup. Berhubungan dengan manusia, dengan berbagai latar belakang yang jauh berbeda adalah tantangan yang harus sigap dihadapi karena bagaimana pun setiap manusia akan membawa keunikannya yang membedakannya dengan yang lainnya.

Pernah suatu waktu aku berteman dengan seseorang sepulangnya dia dari Jepang. Kami mengobrol santai lewat akun twitter. Saat itu kami mulai berteman dengan cukup baik. Dilatarbelakangi kesamaan minat kami pun menjadi semakin dekat, hingga suatu hari terjadilah demo besar-besaran yang dilakukan oleh umat muslim di Jakarta. Kalian tentu tahu kasus penistaan Qs. Al- Maidah oleh Pak Ahok ‘kan? Ya, disanalah kemudian perpecahan itu merebak diantara hubungan kami yang baru seperaduan senja.

“Entah knp gue ngerasa malu aja sampe demo segini hebohnya.. klo emg dia ngina agama bs lgsg ditindak scra hukum knp hrs sampe demo besar2an?”, begitu tulisnya di twitter hari itu.

Kemudian aku balas “Coba dipikirkan, bagaimana jika agamamu dihina?”

Tak berapa lama pesan itu kembali dia balas “lol aku jg muslim kali. Aku tau ahok itu ga bener uda ngina2 agama kita tp dg demo segini hebohnya bkn agama lain bnci sm kita”.

“Aku kan nggak nanya agama kamu apa, yang aku tanya bagaimana respon kamu ketika agamamu dinistakan!”. Begitu pesan balasan yang aku kirimkan, yang kemudian tidak direspon sama sekali dan dia mulai menjauh, hingga begitulah hubungan kami berakhir. Sampai saat ini aku masih terus berpikir, mungkinkah ada yang salah dari kata-kataku? Atau apa aku terlalu menggurui, terlalu sok bijak, sok tahu dan sebagainya. Namun, sampai sekarang pun aku masih nggak ngerti, tapi ada satu hal yang aku pelajari dari peristiwa ini bahwa aku masih belum se-terbuka yang aku pikirkan. Aku masih harus belajar lebih banyak lagi untuk menjadi jauh lebih terbuka, mendewasakn pikiran jika suatu hari nanti aku menghadapi hal serupa.

Di lain waktu, pernah seorang teman blog merilis artikel bertema agama berjudul “Lost my Religion”. Dalam tulisannya dia mengatakan religion is a history, or religion is a food I like right now. Yeah, pancake is my religion dan itu masih belum seberapa, yang terburuk dia bahkan menganalogikan agama seperti penis. Aku kira aku sudah berada di dunia lain yang ternyata membuat pikiran rasionalku menjadi hal yang sangat aneh disana. Rencana membacaku yang awalnya aku perkirakan akan selesai dalam 15 menit justru berakhir menjadi 3 jam lamannya. Aku paham dengan kegelisahannya, tentang ketidakpercayaannya terhadap agama yang dianutnya. Akan tetapi jika kemudian dia mengeneralisasikan terhadap agama yang lainnya, aku kurang setuju. Sesungguhnya ada banyak sekali hal yang ingin aku katakan, namun pada akhirnya aku tidak menulis apapun di kolom komentar. Pergi begitu saja, menjauh, dan memikirkannya diam-diam.

Lalu bagaimana akhirnya aku menyikapi hal itu? Actually, belajar agama memang tidak mudah, diperlukan sosok orang yang sudah mendalami agama untuk mendampingi kita dalam belajar karena ada banyak hal di dalam agama yang tidak bisa kita sikapi dengan pikiran rasional. Maka sebuah bimbingan itu penting adanya agar persepsi-persepsi yang pada dasarnya melekat pada kita tidak membolak-balikkan kebenaran dalam agama dan kitab suci itu sendiri. Agama memang tidak serta-merta bisa diterima oleh seseorang, karena setiap penganut agama mempercayai kebenaran agamanya masing-masing. Kita sendiripun jika dihadapkan pada ajaran agama lain pasti akan berpikir keras untuk membenarkan atau mungkin tidak membenarkan ajaran agama itu, maka disini aku berusaha demikian. Memahami kegelisahan mereka, dan menjaga hubungan baik terlebih dahulu. Mungkin jika datang kesempatan lain, saat itulah mungkin kita akan berbicara lebih banyak.

Dan dari semua hal tentang perbedaan, yang paling sulit adalah menghadapi penulis favorit yang berseberang pandang dengan kita. Lagi-lagi keterbukaan menjadi kunci penting. Saat ini aku berselisih paham dengan dua penulis favoritku. Tetapi aku tidak ingin gegabah membenci, atau hal lainnya. Yang aku pikirkan jangan sampai perbedaan satu pandangan kita akan mengaburkan banyak hubungan baik kita disisi lainnya atau juga dampak positif dari hubungan kita. Aku mencoba memahami perbedaan pikiran diantara kami dan terus berusaha menjalin hubungan baik, walaupun tentu dalam hati selalu ada penolakan dan rasa was-was. Menjalin hubungan baik pun  bukan berarti membenarkan pandangan mereka, hanya saja berusaha memahami cara pikir mereka yang lain dari kita. Aku tidak ingin mengulang kejadian pemutusan hubungan hanya karena perbedaan sudut pandang. Maka begitulah caraku bersikap karena duniaku bukan Indonesia lagi, tetapi seluruh dunia yang sayangnya tidak bisa aku mintai kesamaan kepercayaan dan pikiran. Aku tidak ingin dipandang agresif atau sejenisnya. Aku hanya ingin bisa menghadapinya dengan lebih bijak dan tidak gegabah menilai atau mengambil kesimpulan.

Hal itu aku terapkan juga untuk menghadapi serbuan media dan pemikiran-pemikiran yang menyinggung tentang pen-chinaan Indonesia, atau apalah itu sebutannya yang dikaitkan dengan desain baru mata uang Indonesia. China memiliki sisi lain yang tidak hanya buruk saja tetapi juga sisi baik yang dari sana bisa kita pelajari. Aku kira membenci bukan respon yang tepat karena biasanya, aku katakan biasanya karena bisa saja berbeda. Biasanya orang yang membenci akan membutakan diri, dan ketika kita membutakan diri maka kita akan menutup akses pengetahuan kita. Pada akhirnya kita malah menjadi antipati, tidak ingin tahu apapun, dan justru melakukan tindakan merugikan karena pikiran agresif kita yang tidak terkontrol. Jadi akan sangat baik menganalisinya dengan kepala dingin dan pikiran yang terbuka agar tercipta energi positif yang akan membawa kita pada keputusan terbaik, penilaian terbaik dan tindakan terbaik. Lagipula tak ada gunanya memendam kebencian, karena semakin dalam kita membenci sesuatu hal, maka sesuatu hal itu lah yang akan menjadi rotasi hidup kita secara terus-menerus dan tentu itu bukan situasi yang baik.

Kebiasaan makan yang sama saja bisa dinilai berbeda karena perbedaan kebudayaan, bagaimana dengan pemikiran kita. It is okay to be different but you need to be open minded person. This is how  you take care about different point of view, culture or anything. But don’t forget to stay still in the right rule.Good Luck and See You…

P.s Photo by http://blog.oxforddictionaries.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s