“If I said ‘Don’t Enter the University’, Am I Wrong?”

on

Beberapa bulan yang lalu, di tahun 2017, salah satu penerbit buku mem-posting sebuah artikel dalam situsnya yang menyebutkan bahwa “Orang yang membaca tanpa menyampaikannya pada orang lain sama saja dengan orang yang membeli ponsel untuk selfie”.

Nah, berpegang pada dalih itu dan ketidaksukaan dikategorikan sebagai ‘selfiers’, sebut saja begitu, maka aku ingin berbagi pengetahuan dari buku-buku yang aku baca serta beberapa pengalaman pribadiku selama melakukan pengamatan di 5 bulan terakhir ini.

Jika harus jujur sesungguhnya universitas adalah salah satu dari sekian banyak hal yang aku sukai. Namun, ternyata ekspektasiku akan sebuah ‘Change’ terlalu berlebihan hingga tanpa sadar aku mengalami guncangan luar biasa. Bukan karena surprise atau apa, hanya…maaf untuk menyebutnya menjijikan.

Setiap kali aku membahas seputar universitas pada beberapa orang, mereka biasanya akan mengatakan “Kamu salah jurusan sih, wajar mikir gitu”, “Negatif thinking” dan lainnya. Mari kita sepakati mungkin bisa dibilang I do wrong decision about my subject, tetapi aku yakin bahwa aku cukup obyektif dalam menilai itu. Kenapa aku bisa sepercaya diri ini? Karena setidaknya ini tahunku yang ke-11 sejak pertama kali aku mengamati bagaimana lingkungan pendidikan di Indonesia bekerja. Aku bukan pengamat profesional yang selalu heboh diawawancarai di televisi ketika sebuah kasus mencuat. Bukan, sama sekali bukan. Aku melakukannya tanpa sadar. Sebut saja kepekaan yang entah bagaimana aku membangunnya karena pada dasarnya aku bukan orang yang peka. Aku menyadarinya dengan begitu jelas ketika aku memasuki bangku Junior High School. Kotoran-kotoran yang aku pikir akan semakin terdestruksi seiring dewasanya sebuah tingkatan pendidikan, justru berkembang biak seperti jamur saja. Menempel kuat seperti kerak di dasar panci dan membudaya tanpa terkendali.

Berbicara tentang abad ke-21 berarti berbicara tentang Disruption. Disruption lebih daripada Change atau Inovasi. Disruption merupakan sebuah era dimana segala sesuatu yang kita percayai akan sulit terguncang, justru kotar-katir tak tentu arah. Tentu yang paling familier ya Taksi vs Uber dan Grab, juga Ojek vs Go Jek. Dengan kepekaanku yang -1 aku baru benar-benar menyadari bagaimana cepatnya sebuah perubahan di akhir tahun 2014 menuju 2015. Itu adalah tahun dimana ketika segala hal berubah dengan kecepatan cahaya. Rasanya, baru saja kemarin menyesuaikan diri, eh esoknya zaman udah pindah lagi ke era baru dan begitu seterusnya. Sangat cepat dan tentu kita yang tidak siap akan terombang-ambing gelombang.

Berbicara tentang perubahan maka aku adalah salah satu dari orang-orang dengan cerita berbeda. Born in the country side membuatku terlambat beberapa waktu dibandingkan dengan mereka yang tinggal di perkotaan. Saat temanku yang tinggal di Jabodetabek sudah mengenal komputer sejak kelas 3 SD, aku baru tahu apa itu komputer pas mau masuk SMA. Pengang mouse aja, tangan bisa trembling. Saat banyak dari mereka yang terjangkau kemajuan sudah mahir main game. Aku, boro-boro game, ngetik di Ms. Word aja rambut bisa rontok saking stressnya. Tak perlu membahas hingga PC era, TV dirumah aja saat itu masih hitam putih, dan channel-nya TVRI doank. Sinyal ponsel ngedisko, sampai telpon aja harus pakai manjat pohon kelapa. Jalanan masih ala-ala Eropa. What? Cobblestone (jalan batu). Bedanya kalau di Eropa, jalan batunya bisa cantik dan makin romantis kalau turun hujan. Lah kampungku, gimana mau romantis, batunya aja segede kepala kebo. Masih berpikir adegan romantis, masuk jurang dikau paduka?

Sampai hari ini, masih banyak orang yang menilai bahwa universitas adalah hal yang luar biasa dan diagung-agungkan. Saat aku mengatakan, kalian benar-benar salah melihat, banyak yang tidak terima dengan pernyataan tersebut. Tentu saja persepsiku dan persepsi mereka berbeda. Aku melihatnya 1 inchi di depan mata, sedang mereka yang bukan bagian dari universitas melihatnya ratusan mil jauhnya ditambah bonus MSG media. So?

Jika aku mengatakan “Orang-masih menyukai hal-hal yang tidak merugikan”, aku yakin kalian akan menyetujuinya. Benar, bukan? Tahu tidak bagaimana universitas di Indonesia banyak merugikan? Aku memiliki alasan untuk menyebutnya demikian. Beberapa hari yang lalu seorang temanku menulis tweet “Nggak ada yg niatkah buat skripsi tentang kenapa grup WA keluarga isinya pesan broadcast semua?”. Dibandingkan dengan ide itu aku lebih penasaran, ada nggak ya yang tertarik membuat skripsi tentang “Mengapa waktu dosen lebih dihargai daripada waktu mahasiswanya?” Seakan-akan merugikan mahasiswa tidak apa-apa, tapi kalau dosen…Oh masuk neraka kau pribumi tak diakui. Kenapa bisa sampai ada perbedaan kasta sebesar itu. Baiklah dosen sibuk, kita pun juga memiliki kesibukan. Kalau itu alasannya, kenapa tidak begitu di Universitas-universitas di luar negeri? Dosennya nggak sibuk to? Sampai saat ini aku masih yakin bahwa orang-orang Indonesia masih menyukai ketidakefisienan dan peluang tatap muka.

Seorang teman blogku pernah menulis artikel tentang bagaimana pusingnya temannya dari luar negeri yang sedang melakukan penelitian di Indonesia menghadapi janji-janji palsu dosen pembimbingnya yang amit-amit. Selain janji yang 90% tidak ditepati, mereka sama sekali tidak bisa menerima kritik dan selalu benarnya sendiri. Mengajar pun isinya teori doank, belum lagi hobi mengkritik mahasiswanya tetapi tidak pernah bercermin diri. Jujur, tindakan-tindakan itu cukup menyebalkan juga merugikan, tetapi terkadang itu menjadi kelucuan yang sayangnya hanya aku yang menikmatinya atau mungkin sebagian kecil dari kalian juga. Jika aku menyampaikannya pada temanku, mereka jelas tidak akan terima. Namun, disini aku berusaha memahami perbedaan, aku aja bisa membencimu, kenapa tidak untuk kamu membenciku juga. I’m fine. Jika saja hanya  sekedar kritik menyebalkan yang tidak pernah dia cermini sendiri, setidaknya itu masih bisa diterima, tetapi kalau sudah di bumbui sombong. Pengen…nonjok…’kan? Setidaknya itulah ekosistem beberapa universitas yang aku tahu di Indonesia.

Yang lebih lucu lagi soal program World Class University. Excuse me! Kalau aku mengatakan ini konyol pasti akan ada yang berkomentar gini “Negatif thinking kamu. Univ mau maju di dukung donk dan bla bla bla”. Okay! Aku konfirmasi. Itu baik. Aku juga ingin univeristas di Indonesia bisa jadi World Class University, tetapi…hal itu tidak akan terwujud jika dinilai dari aspek ekosistem pendidikannya. Mana ada universitas bergelar World Class University yang mahasiswanya masih hobi nyontek dan dosen membiarkan demi reputasi. Situs pendidikan sekedar punya aja tanpa dimanfaatkan. Manajemen tidak efisien. Hobi buang-buang waktu. Nggak tahu cara nulis jurnal. Kuliah berteori, tertutup, karakter -1 dan masih banyak lainnya. Itu langkah memulai World Class University?

Pertanyaannya sekarang bagaimana hal-hal seperti itu bisa terjadi di dunia yang katanya terdidik, civitas akademika, aset bangsa? Cih.

Ini dia jawabnnya ‘DISRUPTION’. Sudah aku katakan bukan bahwa disruption itu lebih daripada Change. Dia adalah sebuah dunia baru yang menjungkirbalikkan dunia lama yang tak bisa menyesuaikan. Begitu aku mendengar bahwa Teori Disruption bisa diaplikasikan dalam dunia pendidikan, rasanya aku benar-benar hidup kembali setelah harapanku sempat tenggelam dibalik pekatnya malam. Beuh, puitis sekali. Mau muntah.

Jadi mari kita bahas lebih detail tentang mengapa hal-hal di atas bisa terjadi? Kebanyakan dosen-dosen di univeristas adalah Incumbent (pemain lama), orang tua yang tentunya kaya akan masa lalu. Sedangkan kita si manusia-manusia sinting di abad ke-21 ini tentu dibesarkan dalam ekosistem berbeda dan tentu miskin masa lalu. Kita hidup dalam dunia yang efisien, era smartphone (walaupun tidak selalu diikuti smart people) yang tentu berbanding terbalik dengan dunia para pendahulu kita, dalam hal ini ya dosen-dosen kita itu.

Sebagian yang tinggal di masa lalu itu (berada di pusaran nol) selalu mengacu pada  kejadian-kejadian dan akibatnya yang sudah terjadi di masa lampau, juga pada peraturan-peraturan lama yang dianggap mengikat untuk mempertahankan status quo. (Disruption: 130)

Maka jelas jika kita akan selalu mengalami crash dengan Incumbent ini. Mereka tidak akan menerima pemikiran kita si Millennials, yang tentu berbeda dari yang mereka yakini. Percaya atau tidak bahwa Universitas Negeri bukan penguasa sekarang lagi, tetapi telah menjadi penguasa lama karena dunia pendidikan telah bergeser sedikit demi sedikit menuju era baru.

Hal itu juga sekaligus menjawab pertanyaan kita tentang mengapa orang tua terlalu mengatur.  Ya, karena perbedaan zaman serta kepercayaan yang dianut tadi.

Pertanyaan kedua, mengapa aku ingin Disruption terjadi di dunia pendidikan?

Karena terjadinya Disruption artinya memperkecil kerugian kita seperti waktu yang tidak dihargai. Aku hanya ingin mereka si Incumbent sadar bahwa zaman telah benar-benar berubah. Jika brand-brand besar saja bisa ter-Disrupted kenapa tidak untuk universitas? Era ini berbicara tentang pelayanan bukan brand. Dulu punya Handphone Samsung atau IPhone rasanya kastanya mendadak berbeda. Memegangnya saja harus tegak vertikal atau miring ke kanan 30 derajat demi aksi pamer versi sok cool. Tetapi sekarang…bodoh amat merek hape loe apa. Mau China, Samsung bahkan IPhone, siapa peduli? Orang-orang yang keranjingan brand ini sekarang harus acting keras untuk setidaknya dapat sedikit perhatian. Itulah bagaimana sebuah zaman berubah dengan agresifnya.

Coba bayangkan jika universitas kolot tradisonal itu tetap mempertahankan apa yang mereka ‘tuhankan’, bukan tidak mungkin kan untuk ter-Disrupted? Nokia saja yang tidak salah apa-apa ditinggalkan pelangganya, apalagi ini yang jelas-jelas banyak merugikan. Sangat mungkin. Kita tunggu saja kedatangan era itu.

So, If I said “Don’t enter the University”, I’m not wrong enough right? Thinking again!

 DYA

P.s Jaga-jaga jika kalian kesal, untuk menetralisir kekesalan saya rekomendasikan lagunya Winner – Don’t Flirt. This song is really cheerfull. You will be happy to hear that. By the way, bundaku masih punya dua ponsel generasi lama yang sekarang bangkrut, Sony dan Nokia. Beberapa jam lalu aku telfon beliau, eh beliau bilang mau dijual. Andwae, aku kasih tahu aja pabriknya udah bangkut, jangan dijual buat kenangan aja. Hahaha . Actually Sony is really cute phone with a flip design. Uh, I love it.

Photo by https://www.usnews.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s