Aku-Cinta-Negaraku

“…maka Indonesia itu aku, aku itu Indonesia. Cium peluk, cium peluk”

Ada yang tahu Han-Yoo-Ra?

Iya…iya…nama akun media sosialku, yang sekarang sudah naik tingkat menjadi sapaan akrabku di kampus, memang Han Yong Ra. It’s sounds similar tetapi yang ini Han-Yoo-Ra bukan Han –Yong-Ra. Dia adalah seorang Korea yang sangat mencintai Indonesia.

Mungkin kalian pernah lihat acara di salah satu televisi nasional yaitu Kelas Internasional. Ya, Yoo Ra termasuk di dalamnya. Yoo Ra ini awalnya seorang youtubers dan kemudian menarik perhatian sang produser acara, hingga kemudian resmi bergabung. Yoo Ra sudah tinggal di Indonesia kurang lebih 11 tahun. Dia lancar berbahasa Indonesia, sedikit bahasa jawa dan pastinya jatuh cinta dengan Indonesia, seperti yang dia katakan “…maka Indonesia itu aku, aku itu Indonesia. Cium peluk, cium peluk”.

Kalimat yang sangat sederhana tetapi berakibat cukup fatal untukku. Apa ya…seperti perasaan bahwa aku tidak cukup ada untuk Indonesia hingga bisa disebut mencintai, namun tidak cukup buruk juga hingga disebut membenci. Kata itu sungguh berlebihan. Cukup saja katakan “Aku disini dan nilai saja itu!”.

Melihat Yoo Ra membuatku berpikir banyak hal, dan nyatanya semuanya justru menjadi pertanyaan yang kian menumpuk. Jangankan jawaban, yang ada malah kebingungan yang kian menjadi. Terkadang ada suatu masa dimana aku merasa tidak cukup ‘ya’ menjadi bagian dari Indonesia. Ada banyak sikapku yang bertentangan dengan culture di Indonesia. Namun, disisi lain akupun memiliki kecocokan dengan negeri ini. Aku pikir tidak segala hal bisa mutlak. Terkadang itupun sebagian.

Lalu, apa iya cintaku untuk Indonesia hanya sebagian itu? Entahlah. Aku masih tidak bisa menjawabnya. Cukup…“Aku disini dan nilai saja itu!”.

Ketika Yoo Ra mengatakan dengan lantang tentang keinginannya menjadi orang Indonesia yang terkendala birokrasi. Sekali lagi aku berpikir “Kenapa tidak untuk mencintai negara lain?”. “Bukan hal yang salah ‘kan?”

Aku yakin dua pertanyaan di atas akan melahirkan dua jawaban pro dan kontra. Silahkan pilih sendiri jawaban yang kalian ingin, karena pasti setiap orang akan menilainya dengan cara yang berbeda.

Sekarang bagaimana dengan ‘Nasionalisme dan Aku’???

Kalian tentu sudah tidak asing lagi dengan tren orang Indonesia yang jatuh cinta dengan ramen (mie Korea). Hmm…rahasia umum. Dibandingkan dengan menyeru tentang ke-ti-dak-na-sio-na-li-san, aku lebih melihatnya sebagai ego seorang manusia yang selalu dipenuhi keingintahuan.

Masih ingat dengan Super Junior Yesung yang membawa satu box mie Indomie sepulangnya dari Indonesia? Sesederhana itu. Mereka ingin mencoba mie Indonesia dan kita ingin mencoba mie Korea. Aku pikir itu hanya sebuah keingintauan saja. Sebuah ego dan sebuah sikap yang melekat pada manusia. Maka aku tidak ingin menyalahkan atau men-judge. Sebut saja itu wajar.

Ada satu yang paling aku ingat tentang Yoo Ra. Tentang salah satu alasannya mencintai Indonesia. Jadi, Yoo Ra ini memiliki kecintaan khusus dengan laki-laki Indonesia. Dia menyebutnya “budaya monggo” atau basa basi. Menurut Yoo Ra, cowok Korea itu tipe playboy. Like sok ganteng dan straight forward, to the point and no basa basi. Kalau suka dengan seorang perempuan, cowok Korea biasanya langsung to the point “Woy, loe mau nggak jadi cewek gue?”, begitu bagaimana Yoo Ra mengilustrasikannya. Kalian mungkin juga tahu, bisa dikatakan tidak ada satupun remaja Korea yang belum pernah mengecap manisnya sebuah ciuman *uhuk*. Sangat lumrah di Korea, malah akan aneh jika mereka belum berciuman di usia ke 17 mereka. Hal itu tentu berbeda dengan budaya di Indonesia yang menganut budaya ketimuran. Dan inilah salah satu poin yang membuat Yoo Ra jatuh cinta dengan Indonesia. Orang jawa bilangnya “Alon-alon waton klakon” yang artinya “Pelan-pelan saja tetapi jadi”.

Aku pun pro dengan budaya satu ini, tetapi entah kenapa disisi lain aku juga suka dengan gaya so so-nya Oppa-Oppa Korea. Jadi mungkin…ego kali ya. Sebut saja seperti itu.

Jadi, tentang ‘Nasionalisme dan Aku’, aku hanya ingin mengakhirinya dengan…

Kenapa tidak untuk mencintai negara lain, selama Tuhan adalah tujuan akhirnya. Jangan khawatir. Percayalah, berpaling pun tidaklah mudah- DYA

Silahkan apakah kalian akan menolak atau menyetujui. Itu pilihan dan setiap orang akan memilih dengan cara yang berbeda. Tidak masalah.

Cherioo…

P.s 21 hari hiatus dan aku kembali seperti ini. Aku minta maaf dan terima kasih karena bertahan. Tentang judul artikel ini, itu maksudnya bukan Aku Cinta Negaraku tetapi dipecah menjadi 3 suku kata Aku, Cinta, dan Negaraku. Maksudnya seperti itu. Makannya ada tanda pisah disana. Hope you enjoy, hope you understand.

DYA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s