Galeri

Gara-Gara Pak Anies Jadi Gubernur Part 1 feat Winner (위너)-Bandal Chingu (반달친구)

Ada yang mengatakan kalau sebagai blogger (*uhukk) rasanya nggak afdol gitu kalau nggak bahas soal perebutan kekuasaan di DKI Jakarta baru-baru ini. Baru beberapa minggu lalu tepatnya. Iya aku tahu I’m late, tetapi itupun beralasan. Saat itu lagi panas-panasnya situasi di media dan dengan mempertimbangkan orisinalitas, citra, begitu juga kepemilikan maka aku memilih untuk menunda perilisan karena ditakutkan artikel ini akan turut disalahgunakan (*sok terkenal padahal enggak) dalam pertarungan media. Itu alasan (sok) politis saya.

So, Pak Anies jadi Gubernur…

Hmm…Sebenarnya aku punya kecintaan yang sama dengan beliau, pendidikan. Bedanya beliau jelas sudah banyak berkontribusi untuk pendidikan Indonesia, sedangkan aku…yah, aku ingin terjun juga. Sudah mencoba sekali bersama IYOIN, dan aku ingin sekali lagi, sekali lagi, dan sekali banyak lagi.

Kita semua tentu tahu bahwa Pak Anies adalah pelopor gerakan Indonesia Mengajar. Gerakan ini bertujuan untuk mengirim guru-guru terbaik Indonesia ke pelosok-pelosok pedalaman untuk mengajar. Aku punya cerita dimana aku pernah berjumpa dengan salah satu pengajarnya karena kebetulan tempat tinggal aku di pelosok juga dan kebetulan lainnya, Indonesia Mengajar mengadakan suatu kegiatan disana. Pengajar yang aku temui itu orang Jakarta, kami sempat mengobrol sesaat dan impresive banget untuk aku. Suatu perasaan yang sama bahwa aku ingin melakukan sesuatu juga untuk Pendidikan Indonesia.

Selain pelopor Gerakan Indonesia Mengajar, Pak Anies juga sempat menjabat sebagai Menteri Pendidikan, sebelum akhirnya diberhentikan setelah menjabat selama 20 bulan. Jujur aku masih nggak paham kenapa beliau turut di reshuffle, sedangkan prestasi yang telah beliau raih selama menjabat sangat banyak. Ini track record beliau selama menjadi Menteri Pendidikan. You can check it by yourself to make sure. I will give you the link.

Ujian Nasional (UN)
Kurang lebih setelah 11 tahun diadakan di Indonesia dan menimbulkan banyak scene kesurupan, akhirnya berakhir juga. Bye bye UNAS.

Ujian Nasional berbasis komputer
UNBK untuk pertama kalinya diselenggarakan pada tahun 2015. Dalam waktu satu tahun, jumlahnya naik 800% jadi 60.067 satuan pendidikan (sumber: pandji.com).

Indeks Integritas Ujian Nasional
Memalukan untuk dibicarakan tetapi begitulah adanya, wajah pendidikan Indonesia yang diliputi rasa takut berlebihan. Sejak 2015 untuk pertama kalinya apresiasi diberikan kepada sekolah-sekolah yang menjunjung tinggi integritas.

Kartu Indonesia Pintar (KIP)
Merupakan bantuan pendidikan yang diberikan kepada 17 juta siswa secara tunai. Angka itu kemudian meningkat pada 2015 yang mencapai 19 juta siswa.

Penumbuhan Budi Pekerti
Jujur baru sadar kalau upacara wajib sempat tidak diwajibkan. Namun sekarang sudah kembali diwajibkan lagi begitu juga aturan tambahan seperti menyanyikan lagu Indonesia Raya setiap pagi, dan membaca buku non-pelajaran selama 15 menit. Ini sebenarnya agak lucu ya, kalau aku yang sekolah mungkin aturanya harus berubah menjadi “wajib membaca buku pelajaran selama 15 menit”. Hahaha. Tetapi keren deh Pak Anies. Jadi ingat Indonesia di Era Hindia Belanda dulu yang tingkat keberagaman bacaannya sangat tinggi dan diwajibkan.

Menjadikan Sekolah lebih aman
Sekolah merupakan tempat yang cukup menakutkan sebenarnya, pembullyan, pelecehan dan banyak sekali kasus yang sudah kita dengar beberapa tahun terakhir ini. So, melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 82/2015: membentuk gugus anti-kekerasan di sekolah dan mewajibkan pemasangan papan informasi berisi nomor-nomor penting. Publik bisa langsung melaporkan bila ada kasus kekerasan di sekolah melalui http://sekolahaman.kemdikbud.go.id.
(sumber: pandji.com)

Belajar bersama Maestro
Kalian suka seni dan budaya? Ini kesempatakan kalian untuk belajar bersama para ahlinya.

Belajar bersama mentor
Kesempatan emas bagi ketua OSIS terpilih untuk tinggal selama seminggu dan belajar langsung dari orang-orang hebat dari berbagai latar belakang.

Mengatasi peredaran buku liar di sekolah

Masih ingat dengan kasus buku-buku sekolah yang dikatakan sesat? Yang kalau tidak salah berlabel BSE. I don’t remembered enough. Tetapi seingatku itu yang luamayan hits. Maka dari itu Anies Baswedan mewajibkan buku memuat profil lengkap penulis untuk mendorong si penulis bertanggung jawab atas apa yang ditulisnya. Tentu ini sangat penting karena sekolah selalu dilabeli dengan kepercayaan. Apa jadinya jika ada hal yang melenceng dan karena itu sekolah maka itu dianggap benar.

Keluarga Sebangsa
Kayaknya program ini berdasar bukunya Pak Anies sendiri deh – Tenun Kebangsaan. Mungkin kalian pernah baca juga, buku yang covernya merah putih dengan gambar orang yang saling bergandengan tangan (Correct if I’m wrong). Jadi untuk olimpiade yang diadakan kemendikbud, para peserta tidak menginap di hotel tetapi di rumah warga sekitar untuk mewujudkan keakraban. Wow! Nice

Guru Garis Depan (GGD)
Cukup aneh ketika kita melihat banyak sekali lulusan perguruan tinggi di jurusan keguruan bingung mencari pekerjaan, tetapi pada kenyataannya banyak sekali sekolah yang kekurangan guru. Termasuk sekolah dimana mama-ku mengajar. Ada apa dengan lulusan-lulusan tersebut? Maka ini dia progam pemerataan guru untuk menghandle penyebaran guru yang tidak merata dengan mengirimkan guru-guru terbaik Indonesia hingga ke pelosok negeri untuk mengajar.

Program Sekolah Garis Depan
Membangun sekolah-sekolah di terdepan, terluar dan terpencil dengan sarana dan prasarana yang baik,  dengan mengadopsi budaya kearifan lokal dan model pendidikan di abad 21 (sumber: pandji.com).

Baju Adat sebagai baju kerja
Program ini telah diterapkan selama Pak Anies menjabat demi mewujudkan rasa Cinta Tanah Air. Sekarang sudah dihapus sepertinya. Aku belum lihat lagi sekarang.

Penghapusan Masa Orientasi Siswa (MOS) dan Perploncoan.
Mungkin ini mimpi buruk banyak orang termasuk saya. Puji tuhan karena kegiatan yang menurut saya bodoh ini akhirnya dihapuskan. Muak telinga ini disuguhi berita kekerasan hingga kematian selama MOS.

Larangan merokok di lingkungan sekolah
Ini sebuah aturan dimana sekolah dilarang disponsori perusahaan rokok. Apa gunanya memberi peluang belajar yang akhirnya akan dirusak juga.

Gerakan Orang Tua di Hari Pertama Sekolah
Mengajak orang tua untuk terlibat aktif dalam pendidikan anak dengan mengantar anak di hari pertama mereka sekolah. Di sekolah, orang tua berkenalan dengan guru, kepala sekolah, dan tenaga pendidikan untuk kepentingan pendidikan anak mereka. Jutaan orang tua di berbagai daerah terlibat dalam kegiatan ini. Dan bahkan didukung oleh sejumlah kementrian yang akhirnya mengirimkan surat edaran mengijinkan jajarannya untuk mengantar anak ke sekolah (sumber: pandji.com). Sebenarnya ini sangat sederhana, tetapi akupun pernah mengalami itu dan memang timbul perasaan lain ketika kita diantar di hari pertama sekolah. I think it’s nice.

Kawah kepemimpinan pelajar
Membangun para ketua OSIS SMP dan SMA dari seluruh Indonesia untuk menjadi pemimpin muda penggerak perubahan positif yang punya integritas dan memiliki semangat anti korupsi (sumber: pandji.com).

Pengayaan kosa kata Bahasa Indonesia 
Daripada menambah kosa kata alay macam “Ea” dan “Qu Puchienq”, Anies mengajak publik untuk lebih aktif dalam pengayaan kosa kata bahasa Indonesia lewat app “Pengayaan Kosakata Bahasa Indonesia” yang bisa diunduh di Android dan Ios Store (sumber: pandji.com). Akhirnya ada yang menyuarakan pikiran aku. Ini topik tata bahasa, sering aku bahas sama teman-teman aku yang udah pada nerbitin buku. Saya menyusul. Amin.

Ejaan Bahasa Indonesia 2016
EBI bukan udang loh ya, tetapi Ejaan Bahasa Indonesia yang diresmikan untuk menggantikan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) yang telah berlaku sejak 1972. Aku punya cerita miris, tetapi  lucu juga soal EBI ini. Jadi ternyata banyak teman aku di Kampus yang nggak tahu soal pergantian ini. Aku pernah protes ke temanku “Kok bisa pada nggak tahu ya?”. Terus sama teman aku dibales gini “Kan setiap orang nggak selalu harus tahu (Aku lupa kalimat persisnya gimana, tetapi kurang lebih seperti itu). Dalam hati aku pikir, konyol juga. Ngakunya anak Teknik, tiap hari nulis laporan, bikin PKM juga, gaya pula tapi begitu EYD digantikan oleh EBI pada nggak tahu *lah. Terus situ nulis masih EYD gitu. Al-Fatihah.

Kamus Besar Bahasa Indonesia IV dalam jaringan
Mengembalikan hak publikasi Kamus Besar Bahasa Indonesia IV Dalam Jaringan setelah sebelumnya dipegang penerbit swasta (sumber: pandji.com).

Uji kompetensi guru
Untuk pertama kalinya, 3 juta guru mengikuti Uji Kompetensi Guru (UKG). Langkah ini menjadi langkah awal untuk pemetaan kualitas guru dan menjadi bahan bagi pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia (sumber: pandji.com). Mama-ku ikut ini juga dan jadi berkesan untuk aku karena, beliau bilang stress banget. Semangat Mami. Saranghae.

Keuangan Bersih
Dalam rangka mencanangkan praktek bebas korupsi di Kemdikbud, dijalankan program pembangunan zona integritas. Capaian kemdikbud, adalah pemangkasan anggaran pada 2016, Kemendikbud berhasil menghemat anggaran sebesar Rp 6,5 Triliun. Secara berturut-turut pula Kemendikbud selama tiga tahun (2013, 2014, dan 2015) mendapatkan status Wajar Tanpa Pengecualian dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Dan mendapatkan apresiasi ICW agar WTP dalam laporan keuangan pendidikan bisa juga dicapai oleh pemerintah daerah dalam laporan pendidikannya (sumber: pandji.com)

Lelang Terbuka Jabatan
Memastikan proses berjalan secara baik dengan pengangkatan eselon I melalui lelang terbuka jabatan untuk para pegawai internal Kemendikbud. Sebelumnya, rata-rata eselon I Kemendikbud diambil dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Selain itu, untuk pertama kalinya Direktur Jenderal Kebudayaan adalah seorang budayawan dan bukan yang berasal dari Aparatur Sipil Negara (ASN) (sumber: pandji.com).

Anggaran
Pada 2015 penyerapan anggaran Kemendikbud berada di 3 besar dari 10 K/L dengan anggaran terbesar, yaitu 93,4% (sumber: Pandji.com).

Unit layanan terpadu
Menyatukan 50 unit layanan yang terpencar di beberapa unit Kemendikbud sehingga menjadi lebih terintegrasi. Selain itu juga berhasil memecahkan 5.000 jenis laporan menjadi nol laporan dalam waktu satu bulan (sumber: Pandji.com).

Neraca Pendidikan Daerah (NPD)
Ini salah satu yang terpenting tapi orang jarang tahu. Karena sebenarnya ini mengembalikan akuntabilitas praktek pendidikan oleh Pemda. 15 tahun setelah otonomi daerah, Kemendikbud membuka data kinerja pengelolaan pendidikan semua daerah di Indonesia, mulai dari tingkat kabupaten/kota sampai provinsi. Melalui NPD pula masyarakat bisa mengetahui dengan detail segala hal tentang pendidikan, misalnya angka ujian nasional, jumlah sekolah rusak, kualitas guru, sampai anggaran pendidikan daerah. Publik bisa mengakses semua data NPD melalui http://npd.data.kemdikbud.go.id (sumber: Pandji.com).

Membuka Data Pendidikan
Halaman yang berisi informasi lengkap tentang kondisi pendidikan dan kebudayaan di setiap daerah yang bisa diakses lewat http://jendela.data.kemdikbud.go.id (sumber: Pandji.com).

Sekolah Kita
Situs yang dapat membantu orang tua memilih sekolah untuk anak-anaknya. Saya belum punya jadi…http://sekolah.data.kemdikbud.go.id

Membuka Kanal Pengaduan
Masyarakat kini bisa mengadukan secara langsung masalah-masalah pendidikan melalui jalur yang aman dan responsif:https://sahabat.dikbud.kemdikbud.go.id: untuk melaporkan kondisi jalan atau jembatan rusak menuju sekolah.
https://sekolahaman.kemdikbud.go.id: untuk melindungi siswa, guru, dan tenaga kependidikan dari kekerasan yang terjadi di sekolah.
https://laporpungli.kemdikbud.go.id: untuk melaporkan pungutan liar yang terjadi di sekolah (sumber: pandji.com).

Pelibatan Publik
Mengajak masyarakat untuk lebih terlibat dalam keputusan keputusan penting Kemendikbud, mulai dari desain gagasan, penyusunan regulasi, sampai pelaksanaan. Mereka ini tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil untuk Transformasi Pendidikan (KMSTP), yang terdiri dari gabungan berbagai lembaga, misalnya: Indonesian Corruption Watch (ICW) (sumber: pandji.com).

Guru Pembelajar
Pelatihan guru yang merupakan tindak lanjut dari UKG.

Residensi Penulis
Dana hibah untuk penulis Indonesia agar bisa terus berkarya dengan maksimal tanpa pusing dengan masalah finansial. Kok saya tersentuh ya. Semangat berkarya penulis Indonesia.

Penerjemahan buku Indonesia ke bahasa bahasa Internasional
Salah satu bentuk diplomasi budaya Indonesia ke dunia luar. Bagi aku ini penting sekali. Aku pernah memposting tweet tentang buku karya Pramoedya Ananta Toer. Buku beliau yang Bumi Manusia sudah di terjemahkan ke banyak bahasa di 35 kota di dunia (sumber: Bumi Manusia). Saat itu aku nulis pakai Bahasa Indonesia, tetapi kerennya ada teman bule yang like tweet ini. Artinya dia tahu buku ini juga.

Registrasi Benda Cagar Budaya
Pencapaian 2015 yang melebihi target: 10.000 lebih benda cagar budaya teregistrasi, sebelumnya ditargetkan hanya 3.000 (sumber: pandji.com).

Direktorat Pendidikan Keluarga
Pembentukan Direktorat Pendidikan Keluarga merupakan bentuk konkret perhatian terhadap pendidikan keluarga. Program utama direktorat ini adalah mengajak dan mendorong orang tua untuk lebih terlibat dalam pendidikan anak. Ini sering diprotes karena katanya pemerintah ikut campur urusan orang tua. Padahal, banyak sekali orang tua yang tidak terlibat dalam tumbuh kembang anaknya. Dampak sosialnya kepada kita semua juga (sumber: pandji.com).

Orang tua itu perannya penting banget teman-teman. Aku pernah nonton acara reality show China tentang anak-anak TK, Korea juga. Yang Korea itu acarannya Winner (Bandal Chingu/Halfmoon Friends). Uhh…itu…Seungyoon oppa, Seunghoon oppa. Oh may goodness. Suami idaman serius. Oke-oke, handle Widya, handle please.

Jadi, di acara ini member Winner harus jadi guru TK gitu dan sangat riil sekali. Ada misalnya kunjungan ke rumah orang tua murid, catatan evaluasi dari orang tua dan guru, pelajaran tata krama, seni dan banyak lainnya. Nah, ada sekitar 10 anak kalau nggak salah dan tiap-tiap anak problemnya berbeda-beda. Ada yang membentengi diri dengan mengatakan tahu, meskipun dia tidak tahu karena selalu diejek bodoh oleh saudara kandungnya sendiri. Ada juga yang kasar karena orang tuanya yang harus berbagi kasih sayang dengan saudaranya yang banyak sehingga dia, istilahnya kurang kasih sayang. Ada yang selalu ditinggal bekerja ayahnya sampai jarang sekali bertemu, ada yang ditinggal pergi ibunya dan banyak lainnya. Sedih ya, aku juga ikutan nangis pas nonton acara ini terutama untuk salah satu anak, aku lupa namanya. Dia ditinggal pergi ibunya dan ayahnya nggak peduli lagi, akhirnya dia tinggal dengan Haraboeji (kakek) dan Halmoeni (nenek). Kadang aku suka mikir gimana kalau kakek dan neneknya pergi, dia harus kemana, hidup dengan siapa. Yah, I feel sadly. By the way, ini topiknya kok jadi gini sih. Oke itu mungkin gambaran kecilnya. So, let’s just ended here.

Visioning
Pelatihan untuk semua pegawai Kemendikbud yang berisi informasi kegiatan atau program prioritas kementerian, supaya mereka mengetahui semua detail kegiatan utama kementerian (sumber: pandji.com).

Simposium Pendidikan Nasional
Mempertemukan guru guru inovator dan kreatif agar saling belajar dan bertukar pengalaman. Sebanyak hampir 1.000 guru terlibat aktif dalam simposium ini (sumber: pandji.com).

Sekolah aman asap
Membuat sistem yang murah dan mudah diterapkan di sekolah sekolah yang terkena bencana asap , atau sekolah yang rentan terkena polusi asap. Hal ini juga termasuk dalam memberikan kelonggaran jadwal UN kepada daerah yang terkena bencana asap (sumber: pandji.com).

Lintasan beresiko bagi pelajar
Meski infrastruktur bukan urusan dan kewenangan Kemendikbud, Anies mengajak publik untuk lebih peduli dengan melaporkan kepada kementerian bila di lintasan utama menemukan jalan/ jembatan berisiko dan bisa menghambat siswa, guru, dan tenaga kependidikan. Bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, banyak daerah yang lebih aman untuk dilintasi anak-anak dan tenaga pendidik. Salah satunya dengan membuka kanal pengaduan di poin 30 tadi (sumber: pandji.com).

Revisi Kurikulum 2013

Masih ingat Kurikulum 2013 (K3) yang sempat viral di Indonesia karena muatan   kontroversial yang dibawanya? Ya, kurikulum yang sempat direncanakan akan selesai diterapkan pada 2020 akhirnya dicabut. Aku termasuk yang kontra dengan kurikulum ini dikarenakan everything isn’t ready yet and they just pulled out. My mom is a teacher and she know everything like how hard is this because everything isn’t ready to do.

Melihat pencapaian Pak Anies di atas tentu pemecatan beliau menjadi tanda tanya besar untuk aku. Kenapa? Atas pertimbangan apa?

Tetapi tak apalah, beliau sekarang terpilih sebagai gubernur DKI Jakarta. Saya sangat mendukung. Dari dulu hingga sekarang Pemerintah itu hanya berfokus pada Sumber Daya Alam Indonesia saja. Mereka lupa bahwa sumber daya, sumber daya itu baru dapat diolah dengan baik jika diiringi dengan pembangunan manusianya. Sepertinya pemerintah lupa dengan hal tersebut. Coba kita lihat bagaimana tidak berkarakternya orang Indonesia bahkan hingga tingkatan akademisi sekalipun, rasanya sama saja. Saya sering banget nulis tentang ini bahwa Indonesia harus berubah manusianya. Itu kunci perubahan besar untuk Indonesia jika kita masih berharap akan perubahan. People is real problem in Indonesia. Nah, salah satu cara membangun manusia adalah dengan Pendidikan. Ini kunci utama yang aku tahu dan itu adalah program utama di kampanyenya Pak Anies.

Itu alasan terbesar aku mendukung beliau, jadi bukan karena murni beliau muslim tetapi karena memang programnya yang menjawab kegelisahan aku. Saya bukan warga Jakarta. Satu yang aku yakini jika memang nanti itu terlaksana bukan tidak mungkin daerah-daerah lain di Indonesia akan mengikuti langkah sukses tersebut.

Kedua, saya suka banget transportasi umum yang bekerja sempurna. Ada yang mengatakan bahwa bangsa yang keren adalah bangsa yang menyediakan transportasi dan trotoar yang baik bagi warganya. Saya ingin Indonesia bisa melakukan hal yang sama. Kenyamanan berjalan kaki, oh betapa rindu hati ini. Untuk mewujudkan hal itu, Pak Anies menawarkan OKOTRIP. Ini tiket sekali jalan seharga 5000 rupiah dan terintegrasi antara Trans Jakarta, bus maupun angkot (nanti akan di buat sistem Trans Jakarta juga).

OKOTRIP
sources: pandji.com

Aku pikir ini menarik karena BST (Bus Rapid Trans) tidak bisa melayani secara total karena ukuran busnya yang besar, sekitar 10 meter panjangnya kalau tidak salah. Jakarta konturnya aneh dan berantakan, banyak gang sempit. Trans Jakarta tidak akan bisa memenuhi itu, maka dari itu Pak Anies memilih untuk mengintegrasikan moda transportasi angkot dibanding memusnahkannya. Jika ditilik lagi angkot itu ada karena kebutuhan dan itu hal yang suite dengan kontur Jakarta yang aneh tadi. Ketika sistem berubah dan disesuaikan dengan Trans Jakarta maka itu akan menjadi inovasi yang baik. Sopir angkot terayomi, nggak perlu ngetem, kebut-kebutan atau tindakan-tindakan bangsat lainnya.

image4-3-608x1024
source: pandji.com

Program yang sama juga ada di kota Surakarta. Aku baca berita beberapa waktu lalu tentang integrasi antara BST dan angkot ini. Yang di Surakarta bahkan angkotnya sudah di cat seperti Batik Solo Trans dan siap pakai, tetapi apakah sudah mulai beroperasi atau belum, aku kurang tahu. Mungkin bisa kalian cek sendiri.

Selain dua program di atas, masih banyak program lainnya. Aku ingin menulis semuanya tetapi ini sudah 2757 kata dan itu udah puanjang banget. Yang ada kalau aku lanjutin, kalian ngiler ketiduran entar. So, untuk Pak Basuki saya bahas di next part saja ya. Bye…

Iklan
Galeri

#World Book Day: Keterlambatan yang Mengubah

World Book Day atau Hari Buku Sedunia yang diperingati setiap 23 April, awalnya adalah sebuah perayaan Hari Saint George di wilayah Kolombia. Pada perayaan ini seorang pria akan memberikan mawar kepada perempuan mereka. Namun, sejak tahun 1923 para pedagang buku mulai mewarnai festival ini sebagai penghormatan kepada Miguel de Cervantes, seorang pengarang yang meninggal pada tanggal yang sama, yakni 23 April. Sejak tahun 1925, kebiasaan pun berubah dimana wanita-wanita akan memberikan ganti bunga mawar yang mereka terima dengan sebuah buku.

Puncaknya, pada tahun 1995, UNESCO menetapkan tanggal 23 April sebagai Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia. Penetapan tanggal itu tidak saja karena penghormatan kepada Miguel de Cervantes, tetapi juga karena pada tanggal itulah banyak penulis besar dunia seperti William Shakespeare, Cervantes, Inca Garcilaso de la Vegadan Josep Pla, Maurice Druon, Vladimir Nabokov, Manuel Mejía Vallejoand Halldór Laxness menghembuskan nafas terakhir.

So, bagaimana harus memaknai Hari Buku Sedunia? Setiap orang tentu memiliki jawaban mereka sendiri. Untuk aku, singkatnya buku itu adalah kunci bagaimana si kumal dari kampung pedalaman terisolasi ini menjadi seperti sekarang. Tidak heroik-heroik amat, apalagi prestisus dengan jutaan prestasi atau apalah sebutannya. Tetapi yang pasti buku itu adalah jalan pertamaku melihat dunia selain traveling.

Hidup di pedalaman yang terisolasi tentu something yang like ‘Oh May Goodness”. Yah, bayangkan saja di awal abad ke-21 yang segalanya serba cepat, aku masih hidup dalam bayang-bayang internet yang sama sekali tidak ada, sinyal ponsel datang dan pergi, TV masih hitam putih atau sudah berwarna hanya saja dengan pilihan channel terbatas, No PC, dan Jalanan rusak. See, perfect. I will said it’s perfectly bloked. Itu adalah bagaimana aku menghabiskan masa kecilku. Suatu hari bundaku (beliau seorang guru) membawakan sebuah majalah, kalian mungkin sangat familier dengannya, Andaka. Setiap bunda membawa itu, antusiaku akan selalu merebak ke permukaan tanpa aku sadari,  karena aku baru sadar begitu mengingat-ingat kembali sekarang. Saat itu juga pertama kalinya aku mencintai hal baru selain buku yakni tumpukan buku. Pernah aku bilang ke bunda gini “Ma, besok bawain lagi ya, semuanya, tapi habis itu jangan dibalikin”. Kalau diterjemahkan pakai bahasa gaul mamaku balesnya gini “ Lah, lu kira majalah punya nenek buyutmu apa ya”. Dan tentu saja itu tidak berhasil. Say goodbye, Andaka.

Waktu terus berlalu dan majalah itu terus menjadi sahabat sehari-hariku, hingga suatu hari mamaku membawakan majalah baru, kalau tidak salah namanya GENTA. Di sampul belakang bagian dalam majalah itu ada suatu rubik yang masih aku ingat sekali, judulnya “Negeri 1001 Sepeda”. Di bagian kiri atas sang jurnalis laki-laki terlihat berdiri diantara barisan sepeda yang terparkir rapi di Belanda. Kalau diminta untuk menceritakan artikel itu sekarang, aku yakin masih mengingatnya hingga 80%. Tulisan itu sangat berkesan untukku karena saat itulah titik dimana aku jatuh cinta dengan dunia, negara-negara, keragamannya dan memulai petualangan baru dengan pikiranku yang dulunya terbatas.

Memasuki bangku Junior High School, ambisiku mulai nampak nyata. Aku selalu menyukai segala hal berjalan sempurna termasuk sekolah dan aku mendapatkannya, The best school. Tetapi ada kesulitan tersendiri untukku, PC (Personal Computer) aku belum bisa mengoperasikannya karena aku baru saja mempelajarinya beberapa minggu sebelum masuk SMP. I think I’m getting crazy. Jangankan yang rumit, nulis di Ms. Word aja nggak bisa. Sekarang tentunya tidak lagi.

Waktu berlalu dan aku kembali harus naik jenjang pendidikan, meskipun akhirnya tidak mendapat yang terbaik (I got the runner up), I’m okay karena itu ternyata menjadi tempat yang tepat karena aksesku terhadap buku yang dulunya perfectly terbatas, sekarang jauh lebih terbuka. Pada saat kelas dua SMA aku pergi ke kampung inggris dan disanalah pertama kalinya aku mengunjungi toko buku terbesar di Indonesia. Saat itu tahun 2013 bulan Juli. Saking berkesannya, buku yang aku beli menjadi buku yang super spesial, walaupun isinya…yah, nggak spesial-spesial amat sebenarnya. Waktunya saja yang menjadikannya berkesan. Memasuki akhir kelas 3 SMA, perpustakaan mendapat sumbangan buku baru dari alumni. Itulah kali pertama aku membaca karya-karya yang jauh lebih berbobot seperti Mind Power-nya John Kehoe, Mimpi Sejuta Dolar-nya Merry Riana, beberapa buku bahasa perancis dan banyak lainnya. Akses internet yang mulai mudah pun membuatku mengetahui begitu banyak buku-buku keren yang akhirnya aku masukan dalam daftar whishlist. Setahun kemudian daftar whishlist-ku…tentu saja tidak tercapai semuanya, bahkan hingga sekarang, karena ditengah perjalanan aku terus menambahnya. Setiap tercapai beberapa, muncul beberapa lainnya dan sangat mungkin tidak akan ada akhirnya hingga nanti.

Kesimpulannya, seburuk apapun sebuah hal adalah mungkin untuk berubah. Hanya saja cari kesempatan itu, disini buku adalah kata kunciku berubah, kalian bisa saja hal lainnya. Jika kalian tertinggal sebuah kemajuan, kenapa harus panik, kejar saja. Toh setiap orang memiliki kesempatan yang berbeda. Terkadang aku heran dengan perilaku beberapa orang yang menilai sesuatu dengan kesombongan, hanya karena dia tahu terlebih dahulu. Merasa paling pandai, menggurui dan merasa kastanya jauh lebih tinggi. Bagi aku itu tindakan yang sangat bodoh sekali. Kenapa? Sekali lagi ya karena setiap orang kesempatannya berbeda.

Aku ingin cerita satu hal terkahir, beberapa waktu ini aku memikirkan banyak hal dan kemudian aku menemukan fakta bahwa hal-hal  yang aku prediksikan dahulu mulai terjadi sekarang. Contohnya, di kelas 2 SMP aku tidak bisa menerima fakta bahwa “Pengalaman adalah guru terbaik”. Aku pernah mendebatnya saat melakukan diskusi kecil di beranda pada suatu sore dengan beberapa orang, tidak perlu aku sebut siapa. Yang pasti hingga sekarang aku masih tidak bisa menyetujui pernyataan itu 100%. Lalu apa, tumbangnya brand-brand besar dunia seperti Nokia, Blacberry, Kodak dan lainnya kini menjadi bukti bahwa “Pengalaman bukan guru terbaik juga”. Hal itu mungkin masih cukup relevan tujuh tahun lalu, tetapi tidak lagi ketika dunia memasuki dunia baru “Disruption”. Kembali ke Nokia, apa sih yang menyebabkan Nokia yang memiliki perusahaan dan SDM yang bagus, yang direkrut dari seluruh penjuru dunia. Diisi engineering kelas satu, tim pemasaran dan keuangan terbaik. Tidak cukup sampai disitu, Nokia juga memiliki branding kuat, produk berkualitas dibanding pesaingnya, harganya tepat, pemasaran tak bermasalah dan intensif penjualannya bagus. Poin plusnya Nokia juga terus berinovasi.

Apa lagi yang kurang dari Nokia? Nyaris sempurna, tetapi apa… mereka kalah. Di pidato terakhirnya CEO Nokia, Sthephen Elop mengatakan “We didn’t do anything wrong, but somehow, we lost.”

Oh, bukankah pada akhirnya pengalaman masa lalu bukan segalanya?

Cerita lainnya adalah soal pendidikan. Pendidikan mulai memasuki fase baru sekarang. Dulu bagaimana aku melihat Thailand. Ya, negara yang sama lah dengan Indonesia. Sama-sama berbudaya Asia Tenggara. Pertama kali aku tahu bahwa Thailand bukan yang dulu lagi saat aku mulai menyukai sosok Ten, si Thailand yang terpilih menjadi anggota boyband baru SM Entertainment, NCT U. Saat itu ada acara NCT Life in Bangkok dan mereka mengunjungi sekolah lama Ten, Shrevbury International School, Bangkok. Sekolah ini keren banget, jangankan aku yang belum pernah lihat sekolah macam itu di Indonesia, member NCT lainnya aja yang dari Amerika dan Korea, yang sekolah keren bukan hal baru masih takjub juga.

panorama-content-banner
Shrevbury International School, Bangkok, Thailand

Shrevbury International School ini memiliki Hall yang sangat bagus, perpustakaan dengan koleksi tidak main-main begitu juga fasilitas penunjangnya, kelas-kelas mereka juga luar biasa, sekolahnya hijau, besar, rapi, bersih dan parkir mobilnya bahkan lebih besar dari luas keseluruhan SMA-ku dulu. Berangkat dari sana, dengan momen yang sempurna, aku mendapat buku yang mengupas tuntas Thailand luar dan dalam mulai dari pendidikan, kebiasaan masyarakat, sejarah, visi Thailand kedepannya dan masih banyak lainnya. Selesai membaca buku itu, satu hal yang aku yakini bahwa Thailand tidak selevel Asia Tenggara lagi. Thailand sudah mulai menyusul Singapura dan Malaysia khususnya dalam bidang pendidikan. Lalu puncaknya adalah beberapa hari lalu, World Economic Forum mengungkap negara-negara yang akan menjadi bintang baru dalam dunia pendidikan. Judul artikel mereka sendiri “These Countries could be The World’s New Education Superstars.” Tebak! Yes, Thailand masuk dalam daftar itu. See I tell you. Mereka menyebutnya TACTICS (Thailand, Argentina, Chile, Turkey, Iran, Kolombia, Serbia). Dari ketujuh negara itu, yang sudah aku prediksi akan memiliki kualitas pendidikan yang baik adalah Thailand, Argentina, Chile, Turkey dan Serbia. Aku menebaknya setelah aku banyak membaca buku-buku tentang negara-negara itu sejak 2014 silam. Kalian mungkin tidak percaya, tetapi mereka bahkan lebih dari memesona. Masih ragu? cari saja info-info tentang negara itu. Aku warning, jangan surprise kalau bahkan mereka telah mengalahkan Eropa.

lyH6pvZDC9yXDqBm8ZW0jOEt_ydPABOv_MTkJK11RzY
Photo by World Economic Forum

So, asik bukan mengetahui hal baru? Maka ini saatnya kamu mulai membaca karena buku bisa menjadikan kita jauh lebih analitis, tajam dan melihat kontras yang berbeda ketimbang pandangan orang kebanyakan. Percayalah, kalian akan menemukan banyak sekali hal baru, aku membuktikannya. Jadi, membacalah, buka duniamu. Jangan puas duduk dalam ketidaktahuan.

Jika terlambat pun mengubah, maka ubahlah.- Dya

That’s all and Happy World Book Day…

P.s Hari ini bertepatan dengan World Book Day, ada event buku besar-besaran di ICE BSD City. I hope I’m there, but…the reality is not allow me. So, I just visit bookstore to make me feel differently.

Mencoba ‘Terbuka’

Keragaman memang melahirkan sebuah keindahan menyejukkan. Namun, seperti sebuah kotak persegi panjang, keragaman juga menciptakan sisi lain yang sama sekali berbeda dengan sisi lainnya. Artinya dia memerlukan perlakuan khusus. Ya, sebuah kepekaan untuk saling menghargai demi terciptanya kedamaian diantara perbedaan.

Terkadang ada suatu waktu dimana aku merasa cukup terbuka, namun di situasi lain, ternyata itupun masih belum cukup. Berhubungan dengan manusia, dengan berbagai latar belakang yang jauh berbeda adalah tantangan yang harus sigap dihadapi karena bagaimana pun setiap manusia akan membawa keunikannya yang membedakannya dengan yang lainnya.

Pernah suatu waktu aku berteman dengan seseorang sepulangnya dia dari Jepang. Kami mengobrol santai lewat akun twitter. Saat itu kami mulai berteman dengan cukup baik. Dilatarbelakangi kesamaan minat kami pun menjadi semakin dekat, hingga suatu hari terjadilah demo besar-besaran yang dilakukan oleh umat muslim di Jakarta. Kalian tentu tahu kasus penistaan Qs. Al- Maidah oleh Pak Ahok ‘kan? Ya, disanalah kemudian perpecahan itu merebak diantara hubungan kami yang baru seperaduan senja.

“Entah knp gue ngerasa malu aja sampe demo segini hebohnya.. klo emg dia ngina agama bs lgsg ditindak scra hukum knp hrs sampe demo besar2an?”, begitu tulisnya di twitter hari itu.

Kemudian aku balas “Coba dipikirkan, bagaimana jika agamamu dihina?”

Tak berapa lama pesan itu kembali dia balas “lol aku jg muslim kali. Aku tau ahok itu ga bener uda ngina2 agama kita tp dg demo segini hebohnya bkn agama lain bnci sm kita”.

“Aku kan nggak nanya agama kamu apa, yang aku tanya bagaimana respon kamu ketika agamamu dinistakan!”. Begitu pesan balasan yang aku kirimkan, yang kemudian tidak direspon sama sekali dan dia mulai menjauh, hingga begitulah hubungan kami berakhir. Sampai saat ini aku masih terus berpikir, mungkinkah ada yang salah dari kata-kataku? Atau apa aku terlalu menggurui, terlalu sok bijak, sok tahu dan sebagainya. Namun, sampai sekarang pun aku masih nggak ngerti, tapi ada satu hal yang aku pelajari dari peristiwa ini bahwa aku masih belum se-terbuka yang aku pikirkan. Aku masih harus belajar lebih banyak lagi untuk menjadi jauh lebih terbuka, mendewasakn pikiran jika suatu hari nanti aku menghadapi hal serupa.

Di lain waktu, pernah seorang teman blog merilis artikel bertema agama berjudul “Lost my Religion”. Dalam tulisannya dia mengatakan religion is a history, or religion is a food I like right now. Yeah, pancake is my religion dan itu masih belum seberapa, yang terburuk dia bahkan menganalogikan agama seperti penis. Aku kira aku sudah berada di dunia lain yang ternyata membuat pikiran rasionalku menjadi hal yang sangat aneh disana. Rencana membacaku yang awalnya aku perkirakan akan selesai dalam 15 menit justru berakhir menjadi 3 jam lamannya. Aku paham dengan kegelisahannya, tentang ketidakpercayaannya terhadap agama yang dianutnya. Akan tetapi jika kemudian dia mengeneralisasikan terhadap agama yang lainnya, aku kurang setuju. Sesungguhnya ada banyak sekali hal yang ingin aku katakan, namun pada akhirnya aku tidak menulis apapun di kolom komentar. Pergi begitu saja, menjauh, dan memikirkannya diam-diam.

Lalu bagaimana akhirnya aku menyikapi hal itu? Actually, belajar agama memang tidak mudah, diperlukan sosok orang yang sudah mendalami agama untuk mendampingi kita dalam belajar karena ada banyak hal di dalam agama yang tidak bisa kita sikapi dengan pikiran rasional. Maka sebuah bimbingan itu penting adanya agar persepsi-persepsi yang pada dasarnya melekat pada kita tidak membolak-balikkan kebenaran dalam agama dan kitab suci itu sendiri. Agama memang tidak serta-merta bisa diterima oleh seseorang, karena setiap penganut agama mempercayai kebenaran agamanya masing-masing. Kita sendiripun jika dihadapkan pada ajaran agama lain pasti akan berpikir keras untuk membenarkan atau mungkin tidak membenarkan ajaran agama itu, maka disini aku berusaha demikian. Memahami kegelisahan mereka, dan menjaga hubungan baik terlebih dahulu. Mungkin jika datang kesempatan lain, saat itulah mungkin kita akan berbicara lebih banyak.

Dan dari semua hal tentang perbedaan, yang paling sulit adalah menghadapi penulis favorit yang berseberang pandang dengan kita. Lagi-lagi keterbukaan menjadi kunci penting. Saat ini aku berselisih paham dengan dua penulis favoritku. Tetapi aku tidak ingin gegabah membenci, atau hal lainnya. Yang aku pikirkan jangan sampai perbedaan satu pandangan kita akan mengaburkan banyak hubungan baik kita disisi lainnya atau juga dampak positif dari hubungan kita. Aku mencoba memahami perbedaan pikiran diantara kami dan terus berusaha menjalin hubungan baik, walaupun tentu dalam hati selalu ada penolakan dan rasa was-was. Menjalin hubungan baik pun  bukan berarti membenarkan pandangan mereka, hanya saja berusaha memahami cara pikir mereka yang lain dari kita. Aku tidak ingin mengulang kejadian pemutusan hubungan hanya karena perbedaan sudut pandang. Maka begitulah caraku bersikap karena duniaku bukan Indonesia lagi, tetapi seluruh dunia yang sayangnya tidak bisa aku mintai kesamaan kepercayaan dan pikiran. Aku tidak ingin dipandang agresif atau sejenisnya. Aku hanya ingin bisa menghadapinya dengan lebih bijak dan tidak gegabah menilai atau mengambil kesimpulan.

Hal itu aku terapkan juga untuk menghadapi serbuan media dan pemikiran-pemikiran yang menyinggung tentang pen-chinaan Indonesia, atau apalah itu sebutannya yang dikaitkan dengan desain baru mata uang Indonesia. China memiliki sisi lain yang tidak hanya buruk saja tetapi juga sisi baik yang dari sana bisa kita pelajari. Aku kira membenci bukan respon yang tepat karena biasanya, aku katakan biasanya karena bisa saja berbeda. Biasanya orang yang membenci akan membutakan diri, dan ketika kita membutakan diri maka kita akan menutup akses pengetahuan kita. Pada akhirnya kita malah menjadi antipati, tidak ingin tahu apapun, dan justru melakukan tindakan merugikan karena pikiran agresif kita yang tidak terkontrol. Jadi akan sangat baik menganalisinya dengan kepala dingin dan pikiran yang terbuka agar tercipta energi positif yang akan membawa kita pada keputusan terbaik, penilaian terbaik dan tindakan terbaik. Lagipula tak ada gunanya memendam kebencian, karena semakin dalam kita membenci sesuatu hal, maka sesuatu hal itu lah yang akan menjadi rotasi hidup kita secara terus-menerus dan tentu itu bukan situasi yang baik.

Kebiasaan makan yang sama saja bisa dinilai berbeda karena perbedaan kebudayaan, bagaimana dengan pemikiran kita. It is okay to be different but you need to be open minded person. This is how  you take care about different point of view, culture or anything. But don’t forget to stay still in the right rule.Good Luck and See You…

P.s Photo by http://blog.oxforddictionaries.com

Galeri

“If I said ‘Don’t Enter the University’, Am I Wrong?”

Beberapa bulan yang lalu, di tahun 2017, salah satu penerbit buku mem-posting sebuah artikel dalam situsnya yang menyebutkan bahwa “Orang yang membaca tanpa menyampaikannya pada orang lain sama saja dengan orang yang membeli ponsel untuk selfie”.

Nah, berpegang pada dalih itu dan ketidaksukaan dikategorikan sebagai ‘selfiers’, sebut saja begitu, maka aku ingin berbagi pengetahuan dari buku-buku yang aku baca serta beberapa pengalaman pribadiku selama melakukan pengamatan di 5 bulan terakhir ini.

Jika harus jujur sesungguhnya universitas adalah salah satu dari sekian banyak hal yang aku sukai. Namun, ternyata ekspektasiku akan sebuah ‘Change’ terlalu berlebihan hingga tanpa sadar aku mengalami guncangan luar biasa. Bukan karena surprise atau apa, hanya…maaf untuk menyebutnya menjijikan.

Setiap kali aku membahas seputar universitas pada beberapa orang, mereka biasanya akan mengatakan “Kamu salah jurusan sih, wajar mikir gitu”, “Negatif thinking” dan lainnya. Mari kita sepakati mungkin bisa dibilang I do wrong decision about my subject, tetapi aku yakin bahwa aku cukup obyektif dalam menilai itu. Kenapa aku bisa sepercaya diri ini? Karena setidaknya ini tahunku yang ke-11 sejak pertama kali aku mengamati bagaimana lingkungan pendidikan di Indonesia bekerja. Aku bukan pengamat profesional yang selalu heboh diawawancarai di televisi ketika sebuah kasus mencuat. Bukan, sama sekali bukan. Aku melakukannya tanpa sadar. Sebut saja kepekaan yang entah bagaimana aku membangunnya karena pada dasarnya aku bukan orang yang peka. Aku menyadarinya dengan begitu jelas ketika aku memasuki bangku Junior High School. Kotoran-kotoran yang aku pikir akan semakin terdestruksi seiring dewasanya sebuah tingkatan pendidikan, justru berkembang biak seperti jamur saja. Menempel kuat seperti kerak di dasar panci dan membudaya tanpa terkendali.

Berbicara tentang abad ke-21 berarti berbicara tentang Disruption. Disruption lebih daripada Change atau Inovasi. Disruption merupakan sebuah era dimana segala sesuatu yang kita percayai akan sulit terguncang, justru kotar-katir tak tentu arah. Tentu yang paling familier ya Taksi vs Uber dan Grab, juga Ojek vs Go Jek. Dengan kepekaanku yang -1 aku baru benar-benar menyadari bagaimana cepatnya sebuah perubahan di akhir tahun 2014 menuju 2015. Itu adalah tahun dimana ketika segala hal berubah dengan kecepatan cahaya. Rasanya, baru saja kemarin menyesuaikan diri, eh esoknya zaman udah pindah lagi ke era baru dan begitu seterusnya. Sangat cepat dan tentu kita yang tidak siap akan terombang-ambing gelombang.

Berbicara tentang perubahan maka aku adalah salah satu dari orang-orang dengan cerita berbeda. Born in the country side membuatku terlambat beberapa waktu dibandingkan dengan mereka yang tinggal di perkotaan. Saat temanku yang tinggal di Jabodetabek sudah mengenal komputer sejak kelas 3 SD, aku baru tahu apa itu komputer pas mau masuk SMA. Pengang mouse aja, tangan bisa trembling. Saat banyak dari mereka yang terjangkau kemajuan sudah mahir main game. Aku, boro-boro game, ngetik di Ms. Word aja rambut bisa rontok saking stressnya. Tak perlu membahas hingga PC era, TV dirumah aja saat itu masih hitam putih, dan channel-nya TVRI doank. Sinyal ponsel ngedisko, sampai telpon aja harus pakai manjat pohon kelapa. Jalanan masih ala-ala Eropa. What? Cobblestone (jalan batu). Bedanya kalau di Eropa, jalan batunya bisa cantik dan makin romantis kalau turun hujan. Lah kampungku, gimana mau romantis, batunya aja segede kepala kebo. Masih berpikir adegan romantis, masuk jurang dikau paduka?

Sampai hari ini, masih banyak orang yang menilai bahwa universitas adalah hal yang luar biasa dan diagung-agungkan. Saat aku mengatakan, kalian benar-benar salah melihat, banyak yang tidak terima dengan pernyataan tersebut. Tentu saja persepsiku dan persepsi mereka berbeda. Aku melihatnya 1 inchi di depan mata, sedang mereka yang bukan bagian dari universitas melihatnya ratusan mil jauhnya ditambah bonus MSG media. So?

Jika aku mengatakan “Orang-masih menyukai hal-hal yang tidak merugikan”, aku yakin kalian akan menyetujuinya. Benar, bukan? Tahu tidak bagaimana universitas di Indonesia banyak merugikan? Aku memiliki alasan untuk menyebutnya demikian. Beberapa hari yang lalu seorang temanku menulis tweet “Nggak ada yg niatkah buat skripsi tentang kenapa grup WA keluarga isinya pesan broadcast semua?”. Dibandingkan dengan ide itu aku lebih penasaran, ada nggak ya yang tertarik membuat skripsi tentang “Mengapa waktu dosen lebih dihargai daripada waktu mahasiswanya?” Seakan-akan merugikan mahasiswa tidak apa-apa, tapi kalau dosen…Oh masuk neraka kau pribumi tak diakui. Kenapa bisa sampai ada perbedaan kasta sebesar itu. Baiklah dosen sibuk, kita pun juga memiliki kesibukan. Kalau itu alasannya, kenapa tidak begitu di Universitas-universitas di luar negeri? Dosennya nggak sibuk to? Sampai saat ini aku masih yakin bahwa orang-orang Indonesia masih menyukai ketidakefisienan dan peluang tatap muka.

Seorang teman blogku pernah menulis artikel tentang bagaimana pusingnya temannya dari luar negeri yang sedang melakukan penelitian di Indonesia menghadapi janji-janji palsu dosen pembimbingnya yang amit-amit. Selain janji yang 90% tidak ditepati, mereka sama sekali tidak bisa menerima kritik dan selalu benarnya sendiri. Mengajar pun isinya teori doank, belum lagi hobi mengkritik mahasiswanya tetapi tidak pernah bercermin diri. Jujur, tindakan-tindakan itu cukup menyebalkan juga merugikan, tetapi terkadang itu menjadi kelucuan yang sayangnya hanya aku yang menikmatinya atau mungkin sebagian kecil dari kalian juga. Jika aku menyampaikannya pada temanku, mereka jelas tidak akan terima. Namun, disini aku berusaha memahami perbedaan, aku aja bisa membencimu, kenapa tidak untuk kamu membenciku juga. I’m fine. Jika saja hanya  sekedar kritik menyebalkan yang tidak pernah dia cermini sendiri, setidaknya itu masih bisa diterima, tetapi kalau sudah di bumbui sombong. Pengen…nonjok…’kan? Setidaknya itulah ekosistem beberapa universitas yang aku tahu di Indonesia.

Yang lebih lucu lagi soal program World Class University. Excuse me! Kalau aku mengatakan ini konyol pasti akan ada yang berkomentar gini “Negatif thinking kamu. Univ mau maju di dukung donk dan bla bla bla”. Okay! Aku konfirmasi. Itu baik. Aku juga ingin univeristas di Indonesia bisa jadi World Class University, tetapi…hal itu tidak akan terwujud jika dinilai dari aspek ekosistem pendidikannya. Mana ada universitas bergelar World Class University yang mahasiswanya masih hobi nyontek dan dosen membiarkan demi reputasi. Situs pendidikan sekedar punya aja tanpa dimanfaatkan. Manajemen tidak efisien. Hobi buang-buang waktu. Nggak tahu cara nulis jurnal. Kuliah berteori, tertutup, karakter -1 dan masih banyak lainnya. Itu langkah memulai World Class University?

Pertanyaannya sekarang bagaimana hal-hal seperti itu bisa terjadi di dunia yang katanya terdidik, civitas akademika, aset bangsa? Cih.

Ini dia jawabnnya ‘DISRUPTION’. Sudah aku katakan bukan bahwa disruption itu lebih daripada Change. Dia adalah sebuah dunia baru yang menjungkirbalikkan dunia lama yang tak bisa menyesuaikan. Begitu aku mendengar bahwa Teori Disruption bisa diaplikasikan dalam dunia pendidikan, rasanya aku benar-benar hidup kembali setelah harapanku sempat tenggelam dibalik pekatnya malam. Beuh, puitis sekali. Mau muntah.

Jadi mari kita bahas lebih detail tentang mengapa hal-hal di atas bisa terjadi? Kebanyakan dosen-dosen di univeristas adalah Incumbent (pemain lama), orang tua yang tentunya kaya akan masa lalu. Sedangkan kita si manusia-manusia sinting di abad ke-21 ini tentu dibesarkan dalam ekosistem berbeda dan tentu miskin masa lalu. Kita hidup dalam dunia yang efisien, era smartphone (walaupun tidak selalu diikuti smart people) yang tentu berbanding terbalik dengan dunia para pendahulu kita, dalam hal ini ya dosen-dosen kita itu.

Sebagian yang tinggal di masa lalu itu (berada di pusaran nol) selalu mengacu pada  kejadian-kejadian dan akibatnya yang sudah terjadi di masa lampau, juga pada peraturan-peraturan lama yang dianggap mengikat untuk mempertahankan status quo. (Disruption: 130)

Maka jelas jika kita akan selalu mengalami crash dengan Incumbent ini. Mereka tidak akan menerima pemikiran kita si Millennials, yang tentu berbeda dari yang mereka yakini. Percaya atau tidak bahwa Universitas Negeri bukan penguasa sekarang lagi, tetapi telah menjadi penguasa lama karena dunia pendidikan telah bergeser sedikit demi sedikit menuju era baru.

Hal itu juga sekaligus menjawab pertanyaan kita tentang mengapa orang tua terlalu mengatur.  Ya, karena perbedaan zaman serta kepercayaan yang dianut tadi.

Pertanyaan kedua, mengapa aku ingin Disruption terjadi di dunia pendidikan?

Karena terjadinya Disruption artinya memperkecil kerugian kita seperti waktu yang tidak dihargai. Aku hanya ingin mereka si Incumbent sadar bahwa zaman telah benar-benar berubah. Jika brand-brand besar saja bisa ter-Disrupted kenapa tidak untuk universitas? Era ini berbicara tentang pelayanan bukan brand. Dulu punya Handphone Samsung atau IPhone rasanya kastanya mendadak berbeda. Memegangnya saja harus tegak vertikal atau miring ke kanan 30 derajat demi aksi pamer versi sok cool. Tetapi sekarang…bodoh amat merek hape loe apa. Mau China, Samsung bahkan IPhone, siapa peduli? Orang-orang yang keranjingan brand ini sekarang harus acting keras untuk setidaknya dapat sedikit perhatian. Itulah bagaimana sebuah zaman berubah dengan agresifnya.

Coba bayangkan jika universitas kolot tradisonal itu tetap mempertahankan apa yang mereka ‘tuhankan’, bukan tidak mungkin kan untuk ter-Disrupted? Nokia saja yang tidak salah apa-apa ditinggalkan pelangganya, apalagi ini yang jelas-jelas banyak merugikan. Sangat mungkin. Kita tunggu saja kedatangan era itu.

So, If I said “Don’t enter the University”, I’m not wrong enough right? Thinking again!

 DYA

P.s Jaga-jaga jika kalian kesal, untuk menetralisir kekesalan saya rekomendasikan lagunya Winner – Don’t Flirt. This song is really cheerfull. You will be happy to hear that. By the way, bundaku masih punya dua ponsel generasi lama yang sekarang bangkrut, Sony dan Nokia. Beberapa jam lalu aku telfon beliau, eh beliau bilang mau dijual. Andwae, aku kasih tahu aja pabriknya udah bangkut, jangan dijual buat kenangan aja. Hahaha . Actually Sony is really cute phone with a flip design. Uh, I love it.

Photo by https://www.usnews.com

Galeri

Aku-Cinta-Negaraku

“…maka Indonesia itu aku, aku itu Indonesia. Cium peluk, cium peluk”

Ada yang tahu Han-Yoo-Ra?

Iya…iya…nama akun media sosialku, yang sekarang sudah naik tingkat menjadi sapaan akrabku di kampus, memang Han Yong Ra. It’s sounds similar tetapi yang ini Han-Yoo-Ra bukan Han –Yong-Ra. Dia adalah seorang Korea yang sangat mencintai Indonesia.

Mungkin kalian pernah lihat acara di salah satu televisi nasional yaitu Kelas Internasional. Ya, Yoo Ra termasuk di dalamnya. Yoo Ra ini awalnya seorang youtubers dan kemudian menarik perhatian sang produser acara, hingga kemudian resmi bergabung. Yoo Ra sudah tinggal di Indonesia kurang lebih 11 tahun. Dia lancar berbahasa Indonesia, sedikit bahasa jawa dan pastinya jatuh cinta dengan Indonesia, seperti yang dia katakan “…maka Indonesia itu aku, aku itu Indonesia. Cium peluk, cium peluk”.

Kalimat yang sangat sederhana tetapi berakibat cukup fatal untukku. Apa ya…seperti perasaan bahwa aku tidak cukup ada untuk Indonesia hingga bisa disebut mencintai, namun tidak cukup buruk juga hingga disebut membenci. Kata itu sungguh berlebihan. Cukup saja katakan “Aku disini dan nilai saja itu!”.

Melihat Yoo Ra membuatku berpikir banyak hal, dan nyatanya semuanya justru menjadi pertanyaan yang kian menumpuk. Jangankan jawaban, yang ada malah kebingungan yang kian menjadi. Terkadang ada suatu masa dimana aku merasa tidak cukup ‘ya’ menjadi bagian dari Indonesia. Ada banyak sikapku yang bertentangan dengan culture di Indonesia. Namun, disisi lain akupun memiliki kecocokan dengan negeri ini. Aku pikir tidak segala hal bisa mutlak. Terkadang itupun sebagian.

Lalu, apa iya cintaku untuk Indonesia hanya sebagian itu? Entahlah. Aku masih tidak bisa menjawabnya. Cukup…“Aku disini dan nilai saja itu!”.

Ketika Yoo Ra mengatakan dengan lantang tentang keinginannya menjadi orang Indonesia yang terkendala birokrasi. Sekali lagi aku berpikir “Kenapa tidak untuk mencintai negara lain?”. “Bukan hal yang salah ‘kan?”

Aku yakin dua pertanyaan di atas akan melahirkan dua jawaban pro dan kontra. Silahkan pilih sendiri jawaban yang kalian ingin, karena pasti setiap orang akan menilainya dengan cara yang berbeda.

Sekarang bagaimana dengan ‘Nasionalisme dan Aku’???

Kalian tentu sudah tidak asing lagi dengan tren orang Indonesia yang jatuh cinta dengan ramen (mie Korea). Hmm…rahasia umum. Dibandingkan dengan menyeru tentang ke-ti-dak-na-sio-na-li-san, aku lebih melihatnya sebagai ego seorang manusia yang selalu dipenuhi keingintahuan.

Masih ingat dengan Super Junior Yesung yang membawa satu box mie Indomie sepulangnya dari Indonesia? Sesederhana itu. Mereka ingin mencoba mie Indonesia dan kita ingin mencoba mie Korea. Aku pikir itu hanya sebuah keingintauan saja. Sebuah ego dan sebuah sikap yang melekat pada manusia. Maka aku tidak ingin menyalahkan atau men-judge. Sebut saja itu wajar.

Ada satu yang paling aku ingat tentang Yoo Ra. Tentang salah satu alasannya mencintai Indonesia. Jadi, Yoo Ra ini memiliki kecintaan khusus dengan laki-laki Indonesia. Dia menyebutnya “budaya monggo” atau basa basi. Menurut Yoo Ra, cowok Korea itu tipe playboy. Like sok ganteng dan straight forward, to the point and no basa basi. Kalau suka dengan seorang perempuan, cowok Korea biasanya langsung to the point “Woy, loe mau nggak jadi cewek gue?”, begitu bagaimana Yoo Ra mengilustrasikannya. Kalian mungkin juga tahu, bisa dikatakan tidak ada satupun remaja Korea yang belum pernah mengecap manisnya sebuah ciuman *uhuk*. Sangat lumrah di Korea, malah akan aneh jika mereka belum berciuman di usia ke 17 mereka. Hal itu tentu berbeda dengan budaya di Indonesia yang menganut budaya ketimuran. Dan inilah salah satu poin yang membuat Yoo Ra jatuh cinta dengan Indonesia. Orang jawa bilangnya “Alon-alon waton klakon” yang artinya “Pelan-pelan saja tetapi jadi”.

Aku pun pro dengan budaya satu ini, tetapi entah kenapa disisi lain aku juga suka dengan gaya so so-nya Oppa-Oppa Korea. Jadi mungkin…ego kali ya. Sebut saja seperti itu.

Jadi, tentang ‘Nasionalisme dan Aku’, aku hanya ingin mengakhirinya dengan…

Kenapa tidak untuk mencintai negara lain, selama Tuhan adalah tujuan akhirnya. Jangan khawatir. Percayalah, berpaling pun tidaklah mudah- DYA

Silahkan apakah kalian akan menolak atau menyetujui. Itu pilihan dan setiap orang akan memilih dengan cara yang berbeda. Tidak masalah.

Cherioo…

P.s 21 hari hiatus dan aku kembali seperti ini. Aku minta maaf dan terima kasih karena bertahan. Tentang judul artikel ini, itu maksudnya bukan Aku Cinta Negaraku tetapi dipecah menjadi 3 suku kata Aku, Cinta, dan Negaraku. Maksudnya seperti itu. Makannya ada tanda pisah disana. Hope you enjoy, hope you understand.

DYA