2 Things I Learn From The United Kingdom

5 tahun lalu ketika untuk kali pertama aku mulai belajar bahasa Inggris secara Intensif Mr.Teguh menceritakan tentang sejarah bahasa inggris secara mendetail. Mulai dari bangsa penyusunnya, penciptaan dibalik kata baru, hingga cara mudah membedakan british people or American people. Cara membedakannya pun sangat mudah, orang Amerika suka untuk diajak basa-basi ala Indonesia, tetapi tidak begitu dengan orang United Kingdom. Mereka adalah jenis orang yang straightforward seperti orang Jerman.

Beberapa waktu lalu salah seorang teman blog-ku memposting sebuah artikel tentang pertemuannya dengan orang Jerman disebuah komunitas yang juga orang dengan tipe straightforward. Dia menceritakan banyak hal tentang keseruan berdiskusi dengan Germany. So, aku juga ingin bercerita bagaimana serunya bercakap-cakap dengan orang dari United Kingdom and this is 2 thing I learn from the United Kingdom.

  1. Straightforward

Selain orang Jerman, orang United Kingdom juga dikenal dengan sifat keterus terangan mereka yang kadang bagi orang Indonesia akan sangat mengagetkan. Beberapa waktu lalu ketika aku berjumpa dengan mereka aku menanyakan beberapa hal terkait studiku dan ketika memang tidak mungkin, tanpa basa basi mereka akan bilang Impossible dan jika memang possible mereka akan mengatakan possible. Meskipun sudah menduga karena peringatan Mr. Teguh, tetap ada sedikit perubahan emosi dalam diriku. Mungkin karena budaya di Indonesia tidak seperti itu. When they said good, it must be good. Very different from Indonesia. When we said good maybe it is not really good, little awful or very awful. Sama sekali tidak bisa dijadikan patokan.

Hal itu berbeda sekali dengan mereka yang memberi jawaban pasti. Aku sebenarnya tipe orang yang sama dengan mereka. Hanya saja straightforward-nya aku sebagai orang Indonesia tentu masih sedikit dibumbu-bumbui donk. Aku nggak yakin kapan terakhir kali aku diumpati karena keterus terangan itu. Mereka bilang aku nggak menghargai perasaan orang lain dan sedikit kasar. Padahal aku terus terangnya nggak 100% loh karena aku masih membawa culture aku sebagai orang Indonesia.

Beberapa kali ibu aku mewanti-wanti sikap blak-blakan ku yang kadang akan terucap begitu saja. Seminggu hingga dua minggu lalu teman aku minta bantuan untuk mengisi quisioner penelitiannya. Tidak perlu aku sebutkan itu apa tetapi itu adalah sebuah produk makanan. Ketika aku melihat formnya hanya ada 4 kolom, dua kolom untuk rasa dan dua kolom untuk warna. Hebatnya semuanya dicentang bagus dan enak. Padahal lihat warnanya aja, aku pastikan produk itu nggak akan diminati pasar sama sekali. Nah, aku coba itu produk dan sebelum itu aku katakan ke dia, jawaban seperti apa yang dia mau? Jujur, menghibur atau pura-pura? Terus dia bilang jujur donk. Oke. Aku kasih jawaban jujur, kalau warnanya enggak banget. Rasanya enak juga enggak tapi nggak buruk juga. Namun, karena hanya ada dua kolom enak dan nggak enak, akhirnya aku bilang enak. Kan, saya masih orang Indonesia, ada MSG-nya.

Itu salah satu strategi aku mengontrol mulutku yang suka to the point. Sebenarnya aku nggak masalah untuk di maki-maki. Toh aku bukan tipe orang yang peduli tetapi terkadang ada momen dimana aku ingin hidup tanpa mendengar kebisingan itu *alesan*.

Ada satu lagi kejadian yang membuatku merasa sedikit bagaimana, meskipun tidak terkejut sama sekali karena aku tahu bagaimana mereka. I tell you, I’m still Indonesian. Jadi beliau ini mewakili stand Wetminster University dan mereka hanya menyediakan jurusan Engineering saja untuk sesi konsultasi. Tiba-tiba ada dua orang datang ingin bertanya tentang jurusan fisika murni yang jelas-jelas di bannernya yang tingginya dua meter, sekali lagi dua meter tidak tercantum jurusannya. Jelas sekali kalau mereka tidak membaca. Tahu akhirnya bagaimana? Diusir + bonus tampang bete. Beliau mengatakan dalam bahasa inggris yang diterjemahkan oleh orang Indonesia yang mendampingi “Mbk, tolong pergi ya kalau jurusannya nggak ada, biar tempatnya dipakai oleh mereka yang jurusannya ada di Wetminster University.” Si mbk pendamping ini aja mau bilang juga bingung dan nggak enak, kelihatan di air mukanya. Aku yang dengar langsung versi aslinya dalam English, sebenarnya lebih kasar dari versi terjemahan mbk-mbk pendamping. Belum lagi ekspresi beliau dan tekanan suaranya. Bukan sok ahli menilai, tapi aku yakin orang awam pun akan tahu bagaimana suasana hati beliau hanya dengan melihat ekspresi wajah dan tekanan suara beliau. Selama aku berkonsultasi total sudah ada 4 orang yang diusir dengan alasan yang sama.

Please, aku nggak tahu apa sih susahnya baca, wong udah jelas-jelas tulisannya segede itu. Kebiasaan nanya dulu sebelum baca sih. Budaya yang aku sendiri sebagai orang Indonesia sangat benci sampai pengen nyekik. I hope Indonesian will change because it’s really sucks and annoying. Kalau pegelompokan versi Pandji, bedanya orang goblok sama bodoh. Kalau bodoh bisa dimusnahkan dengan pendidikan, tetapi kalau goblok udah musnah aja gitu. Misal ada pengumuman sebuah acara di twitter begitu juga dengan jam dan tempat pelaksanaan. Habis itu ada yang nge-retweet dan dikasih caption gini “Jam berapa ya acaranya?”. Nah, ini yang disebut goblok.

Mau yang lebih lucu lagi, ada di kelas pengenalan PHD yang aku ikutin. Ada salah satu peserta duduk paling depan, kaosnya LPDP, entah apa motivasinya. Aku nggak akan munafik, aku sudah menduga banyak hal dari yang positif sampai negatif. Di sesi tanya jawab dengan pede dia menanyakan hal yang bagi aku malah membuatnya terlihat bego. Kenapa? Karena semua yang dia tanyain bisa ditemuin di buku tanpa perlu susah-susah asalkan dia mau sedikit meluangkan waktu untuk membaca. Sama seperti kasus baner 2 meter tadi. Kalaupun nggak punya buku, di perpustakaan ada, di internet apalagi. Entah kenapa di mata aku, dia ini cuma pengen kelihatan sok aja. Wajah Mr. Andrew aja kelihatan nggak puas sama pertanyaannya. Mungkin dalam hati dia bilang “ Ada to pertanyaan kayak gitu?”

So, please guys bacalah terlebih dahulu sebelum bertanya. Jangan benarkan kebiasaan tapi biasakanlah yang benar. Tolong pikirkan lagi.

  1. Pandai Menempatkan Diri

Selain Straightforwrd mereka adalah orang yang pandai menempatkan diri. Aku membaca banyak cerita di buku atau bahkan mendengar langsung tentang budaya kuliah di Luar Negeri. Salah satu yang menarik, orang luar negeri itu cukup individualis. Mereka bisa mengobrol santai di luar kelas seperti teman yang tidak bisa dipisahkan, tetapi begitu masuk kelas jangan harap ada percakapan simpati di luar mata kuliah. Hal itu aku buktikan kemarin ketika aku mengikuti seminar PHD yang diisi oleh Mr. Andrew dari Wetminster University. Di dalam kelas beliau bercanda dengan ceria seperti kami adalah anak didiknya yang biasa di temuinya di kampus setiap hari, tetapi begitu keluar dari kelas beliau menjadi orang yang sangat berbeda.  Lebih dingin dan tertutup namun tetap informatif dan siap menjawab setiap pertanyaan yang kita ajukan. Mereka adalah orang-orang dengan setting hidup yang patut dicontoh. Mungkin sebagai orang Indonesia tidak perlu se-ekstrim itu cukup jadilah orang yang bisa menempatkan diri saja.

Itu adalah dua hal yang aku pelajari dari mereka, aku yakin masih ada banyak yang lainnya. Namun karena hanya sebatas itu interaksi kami jadi hanya ini yang bisa aku tangkap dari mereka. Aku berharap kalian bisa belajar dari tulisan ini juga. Jujur pertama kali mendengar jawaban beliau tentang studiku, ada sedikit rasa sakit. Meskipun tidak terkejut sama sekali tetapi tetap ada titik dimana aku perlu menyesuaikan diri sebelum terbiasa. Mungkin ini yang mereka rasakan saat aku menjadi orang yang straightforward, sampai mereka mengataiku tidak memahami perasaan orang lain. But I’m okay, meskipun artinya rencanaku berantakan. Tidak masalah, justru jawaban beliau yang hanya dua kata itulah yang akhirnya menyelamatkanku lebih dini untuk kemudian menyusun langkah baru karena tidak boleh ada kesalahan kedua untuk satu topik yang sama. Thank you.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Sisi lain Wetminster University – http://www.ifsa-butler.org

DYA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s