Tentang Transportasi Publik di Indonesia yang Nano-Nano (?) Part 1

Ini telah sejak lama ketika perhatianku terpusat pada Transportasi publik di Indonesia yang berbenah sangat banyak. Wah, chukae, chukae. Nah, kali ini aku ingin membahas tentang Transportasi Publik yang dikelola oleh pemerintah Indonesia seperti Kereta Api dan Bus Rapid Trans (BRT).

Jika boleh jujur aku naik kereta untuk pertama kali itu baru di tahun 2014 lalu. Too Late, I know. Kalau mau meledek, lakuin aja nggak apa-apa. Nggak peduli juga kok aku *stay cool*. Bukan berarti aku nggak pernah kemana pun loh ya. Jangan salah, ibu aku penggemar traveling dan itu berakhir dengan virus menular tanpa resep penawar. Iya, seperti itu. Hanya saja, untuk bepergian aku lebih banyak menggunakan bus dibanding kereta, itulah mengapa aku menggunakan kereta dengan terlambat. I live in small village that there is no path chariot. You know this is Indonesia not Switzerland. Kalau di Swiss pedalaman aja dilewati Glacier Express, tapi apalah arti pedalaman di Indonesia. Ngomongin soal pedalaman di Indonesia, jalan-jalannya nggak kalah loh sama Eropa, Cobblestone (read: jalan batu). Bedanya kalau cobblestone di Indoensia batunya segede kepala kerbau dan ada bonus lapisan cokelat macam kinder joy ketika musim hujan tiba (read: lumpur). Jangan bayangin romantisme cobblestone, sekali kamu romantis-romantisan di jalan, siap-siap aja masuk jurang. Okay, I talk nonsense. Forget it!

glacier_express_near_randa_0

Swiss Village with the Train – http://www.interrail.eu

Berbicara tentang BRT dan Kereta Api, di Indonesia sampai saat ini pengoperasioan Kereta Api masih dikelola oleh salah satu BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yakni PT. KAI, sedang untuk BRT dibiayai oleh APBD. Belum ada perusahaan swasta yang berkecimpung di bidang transportasi publik seperti layaknya di Eropa.

BUMN sebenarnya adalah istilah yang sangat ambigu. Kenapa? Disalah satu buku karya mantan Dirut PT. KAI dan PT. Angkasa Pura II, Edie Haryoto disebutkan bahwa BUMN berarti Badan Usaha Milik Negara. Jika ada pertanyaan BUMN itu “Badan Usaha” atau “Milik Negara”? Jawaban seperti apa yang harus dikatakan? Sangat membingungkan karena jawabannya bergantung siapa dulu yang kita tanyai. Jika yang kita tanyai adalah BUMN itu sendiri, Kementerian BUMN dan Komisi VI DPR-RI ya kecenderungan jawabannya pastilah sebuah badan usaha. Tetapi hal itu akan lain cerita jika yang ditanyai adalah kementerian teknis atau regulator BUMN, Komisi DPR RI yang bekerja sama dengan kementerian teknis dan aparat hukum yang tentunya BUMN bagi mereka adalah milik negara.

Sebagai badan usaha, BUMN haruslah menghasilkan suatu keuntungan bagi negara, tetapi sebagai milik negara, BUMN harus memberikan pelayanan kepada masyarakat. Misalnya untuk transportasi publik yang mana pemerintah ingin menyediakan transportasi publik yang nyaman, aman namun murah bagi warga negaranya, tetapi jika demikian si BUMN tidak akan mendapat keuntungan. Menurut peraturan yang telah ditetapkan, pemerintah harus membayar selisih harga tersebut. Aku lupa namanya apa. Permasalahannya uang yang diberikan pemerintah tidak bisa menutupi selisih itu dan itu berarti BUMN merugi. Ketika BUMN merugi pemerintah akan menyalahkan, bagaimana sebuah badan usaha tidak menghasilkan keuntungan. Namun disisi lain jika BUMN untung mereka masih dipersalahkan juga dengan tuduhan hanya mengeruk keuntungan saja. Hebat sekali dilemanya BUMN itu.

Selain itu masih ada sejuta dilema lainnya. Jika kalian masih ingat di tahun 2000 an, berita mengenai kekacauan angkutan kereta saat lebaran sedang booming-boomingnya. Ada banyak sekali permasalahan saat itu seperti Kecelakaan, penumpukan penumpang di stasiun sampai penumpang yang nekat duduk di atas gerbong kereta. Saat itu transportasi kereta di Indonesia masih sangat kacau balau. Di bukunya, pak Edie bercerita bahwa menyiasati momen lebaran itu lebih dari menambah jumlah gerbong saja. Mereka harus menyusun suatu jadwal agar tidak terjadi tabrakan kereta dan sebagainya karena tingginya jam terbang. Kalau tidak salah namanya Gapteka. Dan mereka membuat itu manual. Ada kalanya ketika satu sisi sudah baik, sisi lainnya berantakan dan mereka harus mengulang semuanya. Memikirkan bagaimana caranya agar jam terbang kereta yang jumlahnya ratusan itu bisa berjalan efisien. Yang menyebalkan adalah ketika ada satu variabel yang berubah maka jadwal yang sudah dibuat akan berantakan dan harus menyusunnya kembali dari nol. Sudah begitu ketika lebaran tiba, para penumpang justru bersikap anarkis. Mereka maunya di angkut entah bagaimana caranya. Di era itu kekacauan sangat gila. Mereka dengan anarkis saling berdesakan naik kereta. Tidak cukup berdiri, ada juga penumpang yang memilih duduk di atas gerbong dan bahkan kolong tempat duduk demi mudik lebaran. Cerita sendunya lagi, ketika tiket dinyatakan habis mereka akan mengamuk dan merusak fasilitas stasiun. Sudah bukan hal baru jika kaca jendela di stasiun banyak yang pecah. Namun, jika PT. KAI nekat menjual tiket lebih dari kapasitas, maka tidak ada kereta yang bisa mengangkut calon penumpang tersebut lalu apa, mereka kembali mengamuk. Jujur aku nggak bisa membayangkan bagaimana sulitnya berada di posisi mereka. Pantes ya masuk sekolah S*** (S beep beep beep) itu sulitnya minta ampun, kerjanya seberat itu sih. Coba kalau S*** (S beep beep beep)  itu serampangan nyari calon taruna terus begitu mereka kerja, mereka tidak kompeten, yang ada begitu penumpang mengamuk, petugas ikutan ngamuk juga, abis itu stasiun.

krl_train_surfing_5

Dahulu – 2.bp.blogspot.com

Tidak hanya itu saja, ada juga cerita yang lucu-lucu konyol seperti suatu waktu ada seorang penumpang yang nekat membawa rak piring. Padahal naikin badan dia ke kerata aja udah susah, gimana dia masih mau bawa rak piring. Namun, si penumpang ini tetap ngotot karena itu adalah pesanan ibunya, akhirnya itu rak piring di ikat diantara sambungan kereta. Bayangin aja apa yang akan terjadi dengan si rak piring ketika kereta melewati jungtion, tentunya habis tergencet badan kereta. Bisa dipastikan itu rak sudah tidak terbentuk lagi setibanya di stasiun tujuan. Selain itu, ada cerita yang lebih lucu lagi dimana ada penumpang yang membawa anak kecil. Mereka akan memasukkan anak mereka terlebih dahulu kedalam gerbong melalui jendela dan diterima oleh penumpang yang sudah ada di dalam, begitu si orang tua mau naik, gerbong sudah penuh dan kereta akan berangkat sehingga terjadilah kasus anak hilang. Akhirnya petugaslah yang harus mengejar si anak hilang ke stasiun berikutnya. LOL. Bisa gitu ya?

But overall, saat ini pelayanan kereta api di Indonesia sudah sangat baik, meskipun masih suka telat selama 1 – 20 menitan. Tidak apa-apa, menuntut perbaikan secara menyeluruh itu perlu waktu yang tidak sedikit. Sekedar sharing, pertama kalinya aku naik kereta, sistemnya sudah bagus dibanding era 2000an sampai aku sendiri takjub bahwa Indonesia bisa sekeren ini ya. Kemana larinya kekacauan di zaman itu? Luar biasa bahkan Andaka tidak lagi bisa menulis rubik kecil (cerpen Aan dan Daka) tentang kekacauan perkeretaapian Indonesia seperti belasan tahun lalu. Ini berita yang sangat baik. Love it.

264087_620

Salah satu kereta api mewah di Indonesia – cdn.tempo.co

Satu lagi, tentang Prameks (Prambanan Express) yang melayani rute Solo-Jogja merupakan kereta api pertama di Indonesia yang berbasis KRDE (Kereta Rel Diesel Elektrik) loh teman-teman. KRDE ini salah satu cita-cita pak Edie semasa menjabat Dirut PT. KAI di era 2000an yang diharapkan bisa diaplikasikan di Jabodetabek karena efesiensinya yang lebih baik dibanding KRD dan KRL. Lebih membanggakan lagi, KRDE dibuat oleh perusahaan dalam negeri sehingga bisa mengurangi ketergantungan terhadap perusahaan asing. WOW!

4whvufk3gf

Prameks yang nggak kalah sama SBB CFF FFS nya Switzerland- cdn.metrotvnews.com

Sepertinya sudah terlalu panjang untuk membahas BRT. Jadi, untuk BRT akan aku lanjutkan di postingan selanjutnya. Bye. Give Big apreciation for PT. KAI. You worked hard. Thank You. Btw, berada di dalam Prameks seperti berada di pegunungan Alpen. So cool. Brrrr!

DYA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s