#Red Flight Book Corner: Jakarta Sebelum Pagi

Ziggy Zezya dan aku kira aku telah jatuh cinta tanpa bisa mengelak untuk kesekian kali. Perpaduan antara ide yang menarik, karakter yang terlampau unik dan rangkaian diksi yang indah adalah suatu karya yang tidak bisa lagi ditolak mata pembaca. Jika harus menggambarkan bagaimana si penulis satu ini… maka Ziggy adalah Ziggy dan hanya Ziggy. Tulisan-tulisannya memiliki keunikan yang tidak dimiliki penulis manapun, begitu pula dengan gaya bahasanya yang hanya dia seorang yang memiliki.

Melihat ide-ide yang tersampaikan melalui 3 buku dari 27 buku karyanya yang pernah aku baca, sebenarnya aku juga memikirkan ide yang sama. I’m serious, oke! Namun, perbedaan besar yang paling aku sesali adalah aku tidak bisa menulis sebaik dia menuliskannya dan aku belum bisa mengimajinasikan sehebat dia mengimajinasikannya.

Sejauh ini Ziggy telah menulis 4 buku yaitu Di Tanah Lada, Jakarta Sebelum Pagi, San Fransisco dan Semua Ikan di Langit. Dari semua karyanya tidak ada yang memiliki ide biasa saja. Satu hal yang selalu aku amati dari karya-karyanya adalah tokoh-tokoh ciptaannya yang selalu penuh dengan kekurangan. Sesuatu yang sangat manusiawi sebenarnya. Aku kira ini poin yang membuat karyanya menjadi tidak biasa dan lebih hidup. Ketika banyak penulis berkutat dengan tokoh yang sempurna, dengan berani Ziggy memilih menonjolkan tokoh penuh masalah dan kekurangan di sana sini. Hebatnya adalah tokohnya selalu bisa dicintai oleh banyak orang termasuk aku yang tergila-gila dengan kesempurnaan.

Alasan mengapa aku sangat menyukai kesempurnaan adalah karena aku berpikir aku tidak bisa mendapat tokoh begitu sempurna dalam kehidupan nyata, maka dari itu aku sangat mencintai kesempurnaan dalam sebuah karya fiksi. Namun membaca karya-karya Ziggy membuat aku berpikir ulang tentang hal tersebut.

Tokoh penuh kesempurnaan akan menjadi cerita belaka tetapi tokoh penuh masalah adalah pelajaran penting sekaligus sebuah karya seni – Dya

Kembali ke Jakarta Sebelum Pagi. Novel ini bercerita tentang seorang tokoh perempuan bernama Emina, yang namanya diambil dari sebuah puisi yang sangat terkenal tetapi selalu membicarakan tentang kasta perbabian dan seorang laki-laki korban perang dengan sejuta keanehannya yang berperan sebagai stalkernya. Mereka menjadi jauh lebih dekat karena sebuah kumpulan surat yang menuntut mereka untuk memecahkan teka-teki di baliknya. Satu tokoh lagi yang membuat aku jatuh hati adalah Suki, anak 12 Tahun, seorang peracik teh yang kadar galaknya akan naik karena hari pertama masuk sekolah. Memang sih sekolah meningkatkan kadar emosi seseorang (pengalaman pribadi).

Menggambil setting di Ibukota Indonesia, Jakarta, novel ini membawa kita mengenang masa-masa ketika Jakarta masihlah Batavia dengan kanal-kanalnya yang bersih dan bangunan era kolonial. Diksi yang menarik juga ide cerita yang penuh pembelajaran dijamin akan menjadikan kita kian kaya akan pengetahuan dan tentunya perenungan diri.

Novel ini pun sangat layak dibaca oleh berbagai generasi. Bagi mereka generasi lama, novel ini bisa dijadikan nostalgia masa lalu, sedang bagi generasi muda novel ini bisa dijadikan perenungan diri untuk lebih peduli pada apa yang kita miliki di Indonesia, khususnya untuk peninggalan-peninggalan sejarah yang saat ini banyak terabaikan dan kerusakan lingkungan yang nyaris tak teratasi. Tidak hanya itu saja, bagi kalian yang masih mencari jati diri, keinginan dan mimpi, novel ini akan memberikan banyak sudut pandang baru. So, I will recomended this book for you. Try it and found the great experience behind. Believe me.

DYA (The girl with a bad joke)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s