FTD Chapter 4: Semarang dan Nostalgia Tempo Doeloe

Masih tentang perjalananku di Kota Semarang. Kali ini aku mengunjungi dua tempat yang salah satunya bisa didefinisikan “Aku tidak akan bisa pulang sebelum ke tempat ini”. Yah karena tempat itu cukup berkesan untukku. So, ini adalah tempat-tempat yang aku kunjungi di kota Semarang di hari kedua perjalananku.

Hush…Hush…Sam Poo Kong

Okay! Jadi tempat pertama yang aku kunjungi di hari keduaku di Semarang adalah Klenteng Sam Poo Kong. Sebenarnya aku cukup kecewa dengan tempat ini karena tidak sesuai ekspektasi aku. Jadi Sam Poo Kong ini adalah tempat persinggahan Laksamana Cheng Ho. Bangunan berarsitektur khas China kuno ini dulunya adalah sebuah masjid hingga kemudian seiring berjalannya waktu tempat ini berubah fungsi menjadi tempat pemujaan.

Tiket masuk ke tempat ini adalah 5000 rupiah saja untuk turis lokal. Akan tetapi tiket ini belum termasuk tiket ke klenteng pemujaan dan hanya berlaku di pelatarannya saja. Demi membunuh rasa penasaran aku memutuskan untuk masuk ke Klenteng pemujaan. Untuk masuk ke klenteng kita akan dipungut biaya tambahan sekitar 20 ribu rupiah.

Bangunan klenteng pemujaan ini di bagi menjadi tiga dan aku tidak tahu perbedaan dari ketiganya. Semuanya terlihat sama saja. Saat ingin memotret lebih dekat di banguanan pemujaan pertama aku sempat ditegur oleh petugas karena alasan yang aku sendiri tidak tahu, tetapi mungkin karena sedang ada yang beribadah ditakutkan akan menganggu. Yang menyebalkan adalah dia ngusirnya semacam ngusir ayam “Hush…hush…”. Rada kesel juga sebenarnya, tetapi mungkin aku memang salah karena berniat memotret disaat ada yang sedang beribadah. Inilah saat dimana sebuah toleransi dibutuhkan.

Untuk bangunan kedua dan ketiga sama saja, digunakan sebagai tempat pemujaan juga, bedanya di tempat pemujaan ketiga kita bisa menemui sebuah bedug. Mungkin karena dulunya adalah masjid jadi ada bedung disana. Selain itu, kita juga bisa melihat sebuah kolam berisi lilin super besar dengan tinggi sekitar satu meter dan api yang berkobar di ujungnya.

Mie Kopyok yang membuat perut terkopyok

img_20170215_184341
Mie Kopyok khas Semarang yang aneh

Puas berkeliling Sam Poo Kong membuat perut saya bergemuruh minta diisi. Dari pintu keluar Sam Poo Kong terlihat sebuah keai tenda yang menjual Mie Kopyok yang menurut beberapa referensi masuk dalam kuliner yang wajib dicoba ketika berkunjung ke Semarang. Mie kopyok terdiri atas mie kuning, tauge, lontong, tahu goreng yang diiris tipis dan kerupuk singkong dengan siraman kuah yang memiliki rasa gurih dan sedikit asam. Untuk lidah aku, aku kurang suka dengan kuliner ini. Apa ya, semacam paduan isinya nggak cocok aja kalau versi aku. But, aku tetap akan merekomendasikan kuliner ini. So, jangan lupa untuk mencobanya ketika berkunjung ke Kota Semarang.

Toko ‘Oen: Nostalgia Tempo Doeloe

Aku pernah bilang kan kalau aku suka banget hal yang tua-tua dan toko ini pun sama. Toko Oen ini pertama kali didirikan di Jogja pada 1910 oleh seorang wanita bernama Liem Gien Nio. Nama Oen sendiri diambil dari nama suami Nyonya Liem, Oen Tjok Hok dan merupakan salah satu toko yang berkembang pesat di zamannya. 16 tahun kemudian, Toko Oen membuka cabangnya di Kota Semarang tepatnya pada tanggal 16 April 1936. Toko ini berlokasi di Jalan Pemuda No. 52 yang dulu dikenal dengan wilayah Weg Bodjoeng. Saat ini Toko Oen dikelola oleh cucu Nyonya Liem.

Selain di Semarang, Toko Oen juga membuka cabang di Jakarta dan Malang, akan tetapi banyak yang tutup atau berpindah kepemilikan. Bisa dibilang Toko Oen di Semarang ini saja yang masih dimiliki oleh Keluarga Besar Oen.

Yang menarik dari Toko Oen adalah keautentikannya yang masih begitu terjaga. Berada di Toko ini akan membuatmu seperti berada di masa lalu. Bangunan berarsitektur khas Kolonial yang tinggi dan lapang ini menawarkan suasana Vintage dan Cozy yang menggoda. Menurut beberapa referensi tempat ini banyak dikunjungi oleh oma dan opa Belanda yang ingin merasakan kembali kenangan di masa lalu. So Sweet.

toko-oen-semarang
Suasana di dalam Toko Oen, Semarang

Toko Oen sendiri menawarkan menu mulai dari pembuka hingga appetizer. Dari makanan khas Indonesia hingga Eropa dan China hingga Australia, semua tersedia lengkap. Namun sesuai namanya Toko Oen restaurant, Ice Cream Palace, & Pattisserie, Toko Oen lebih menonjolkan Appetizer sebagai signature dish mereka.

Berkunjung ke Toko Oen ada satu menu terkenal yang tidak boleh dilewatkan yakni Es Krim Oen Symphony. Es Krim ini merupakan salah satu es krim yang melegenda di Toko Oen. Aku pun tidak mau ketinggalan untuk mencoba Es Krim ini. Es Krim Oen Symphony terdiri atas es krim dengan 4 rasa berbeda, whipe cream, dua lidah kucing dan siraman sirup strawberry. Jujur paduannya bagi aku lagi-lagi aneh. Entahlah kenapa aku merasa culture shock dengan semua kuliner di Semarang. Hampir setiap makanan menjadi tidak cocok di lidah aku, bahkan untuk kuliner yang umum sekalipun seperti nasi padang.

img_20170215_184253
Es Krim Oen Symphony yang melegenda

Es Krim Oen Symphony ini terdiri dari dua skop es krim dengan rasa asam dan dua skop es krim dengan rasa yang manis. Sejujurnya paduannya cukup menyegaran tetapi aku kurang suka. Selain es krim Oen Symphony aku juga memesan segelas Latte dingin. Rasa kopinya persis seperti kopi yang aku pesan di Batavia Cafe Jakarta. Rasa-rasa tempo doeloe. Anehnya aku baru sadar kalau semua menu yang aku pesan adalah minuman. But it’s okay, I love this place. Dan semua menjadi terasa lebih Eropa ketika dinikmati sambil membaca buku diselingi rintikan hujan di sore hari. Nice.

By the way, dibandingkan dengan Batavia Cafe Jakarta tempat ini kalah jauh. Interior Batavia Cafe Jakarta lebih chic dan autentic. Sebenarnya ada satu hal yang terus terngiang-ngiang di benak aku yakni tentang cermin di Toko Oen. Aku nggak tahu apa itu dekorasi lama atau hasil renovasi tetapi keberadaan cermin itu menjadikan Toko Oen seperti Restoran Padang. Hal itu diperparah dengan adanya lampu neon putih yang semakin mengurangi rasa-rasa tempo doeloe dari Toko Oen yang identik dengan lampu yang temaram. Namun, apapun itu aku tetap merekomendasikan Toko Oen bagi kalian yang ingin merasakan nuansa masa lampau daninilah akhir dari perjalananku di Kota Semarang. See you in the next place. Bye Bye…

DYA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s