FTD CHAPTER 3: Semarang and the Awkward Day part 1

Prinsip hidup aku sederhana saja New Place means for Travel. Ini tentang bagaimana kamu akan menghabiskan uangmu, atau juga seperti yang dikatakan Mark Twain “20 tahun dari sekarang kamu akan menyesali diri karena tidak menggunakan masa mudamu untuk berkeliling dunia”. Dan aku tidak ingin menyesali itu nantinya. Namun, travel pun akan memiliki definisi lebih, bukan tentang seberapa banyak tempat baru yang kamu kunjungi nyatanya, tetapi lebih ke apa yang kamu lakukan di tempat baru itu. Jika hanya untuk selfi maka 80% aku pastikan kalian tidak akan mendapat apapun. Kenapa? Karena selfi akan sangat menghabiskan waktu, menghabiskan energi dan menurunkan fokus hingga 50 – 60%. Tolong pahami, selfi berbeda dengan fotografi, mereka memiliki tujuan yang berbeda maka makna dibaliknya juga akan sama berbedanya.

Okay! Dan tempat baru itu kali ini adalah Semarang, still unmaping on me, liar and feels unsafety. Aku pikir aku sudah mantap dengan prinsip pertamaku but I’m still Indonesian girls (read: like something easy to go). Jika harus membandingkan antara Semarang dan Jogja maka itu seperti Jerman dan Praha. Jerman merupakan negara yang segalanya terintegrasi dengan baik, cantik, bersih dan menyenangkan sama seperti Jogja. Mungkin tidak bisa terlalu dibandingkan, akan tetapi untuk level Indonesia, Jogja sudah sangat baik khususnya untuk transportasi publiknya. Sedangkan Praha yang berada di Eropa Timur menurut banyak buku travel selalu berhasil menciptakan rasa tidak aman tersendiri, dan Semarang bagi aku juga demikian. I feel unsafety, perasaan seperti itu

Tahukah bahwa salah satu ciri negara maju adalah transportasi publiknya yang terintegrasi baik. Tidak ada situs yang menyebutkannya (?) tetapi aku menyimpulkan demikian karena itu yang aku lihat di negara-negara maju. Saat ini Indonesia sedang berbenah from developing country to be a develop country from transportation side. Anggap saja saya Indonesia, the girl from developing country who try to be a cool girls from develop country. I will challenge my self and I will show to the world if Indonesian girls also can do what girls in develop country do. Bahwa perempuan Indonesia bisa mandiri dan tidak bergantung seperti yang kebanyakan mereka tahu dan telah meninggalkan title Magic Queen mereka (ini bagaimana aku menyebut segala hal yang terlalu dilayani di Indonesia). Like what foreign people do to show that they can eat spiciy food.

So, penasaran apa saja yang aku lakukan di semarang? Check it

Old Town, Old Thing, Old Man

Setelah menempuh jarak sekitar 7,5 Km dari Mangkang akhirnya aku tiba di Old town. Jika ada satu hal yang tak boleh terlewatkan olehku di sebuah kota, maka itu adalah Old Town. I love Old town, Old Thing dan mungkin juga Old Man *Eh. Lupakan. Bahkan untuk level Old town Jakarta yang soo~~~ disgustingggg~~~ (bacanya ala BTS Rapmon ya di American Hustle), I’m still love it.

Aku selalu membayangkan bagaimana jika kota tua Jakarta bersih, dipenuhi cafe-cafe vintage cozy ala Eropa dengan aroma Kopi dan roti yang semerbak, juga kursi-kursi yang ditata rapi, bunga bermekaran dan gondola. Wah, it must be dream now, kecuali jika kalian bisa menemukan cara untuk menjernihkan sungai Ciliwung di bawahnya. Ide Tugas Akhir itu. CC Anak Teknik Lingkungan, Teknik Kimia. *readers: Lu juga anak Tekkim kali. Me: Pura-pura nggak denger*

Menurut penuturan si supir taksi sok tahu, kota tua sama sekali tidak interested. Aku menghargai pendapatnya tetapi karena kebetulan aku habis minum vaksin anti generalisasi, jadi hal itu tidak berpengaruh. Aku bukan jenis orang yang anti dengan sesuatu yang touristy. Ketika aku berpikir itu menarik maka aku akan mendatanginya meskipun hanya hiu yang tercatat pernah berada di sana sebelumnya, atau malah selalu dipadati orang setiap harinya hingga kadar oksigen menurun tajam. I don’t care and this is my travel style.

Okay, jadi tempat pertama yang aku kunjungi di Old town adalah Gereja Blenduk. Gereja berarsitektur Neo Klasik ini dibangun pada 1753 dan masih digunakan hingga sekarang. Kondisi bangunanya juga masih sangat baik, terawat dan bersih. Saat berada di gereja ini entah kenapa yang terlintas di benak aku adalah Kroasia. Bukan secara visual gerajanya, tetapi lebih ke atmosfernya. Aku belum pernah berada di Kroasia tetapi kira-kira perasaan seperti itu yang aku rasakan ketika membaca banyak buku tentang Kroasia. Mungkin karena gereja Blenduk memiliki dinding berwarna putih dengan kubah berwarna merah, jadi aku merasakan atmosfer Kroasia yang juga identik dengan bangunan berdinding putih dan atap kemerahan. Mungkin.

Lajar atau Klayar?

“Jadi ini kawasan kota tua mbk, yang itu pabrik rokok…”

“Prahu klayar!!”, potongku cepat sebelum si supir taksi menyelesaikan kalimatnya.

“Lajar mbk, lajar bukan Klayar”, *pasang muka bete*

“Iya itu juga maksudnya”, *membela diri*

Entah kenapa tiba-tiba aku bawa-bawa nama hometown yang kebetulan memiliki pantai terkenal bernama Klayar. Jiwa local guide tak tersampaikan kali ya. Mungkin. Forget it.

Jadi, Pabrik Rokok Prahoe Lajar adalah tempat kedua yang aku sambangi setelah Gereja Blenduk dan adegan menyakiti hati si sopir taksi jiwa guide. Maaf pak. Aroma tembakau yang menyengatlah yang kemudian berhasil membawaku menemukan pabrik ini.

img_20170209_100411

Pabrik rokok ini merupakan salah satu pabrik rokok di semarang yang berhasil selamat dari gempuran pabrik rokok nasional, bahkan Internasional. Peminatnya sendiri adalah para nelayan yang kebanyakan berasal dari Pekalongan, Pemalang dan Tegal, sekitar 2 jam dari Semarang ke arah barat Pulau Jawa.

Banguanan ini dibangun pada masa Pemerintahan Kolonial Belanda dan berfungi sebagai kantor. Pemiliknya adalah Maintz & Co. Sebuah perusahaan energi swasta yang pertama mengembangkan jaringan listrik era Hindia Belanda. Perusahaan ini melayani kebutuhan listrik masyarakat di Pulau Jawa.

Maintz & Co memiliki beberapa anak perusahaan, salah satunya adalah NV Algemeene Nederlandsch Indissche-Electiciteits-Maatschappij (ANIEM), yang didirikan tahun 1909. Tanggal 2 Mei 1959, perusahaan ini dinasionalisasikan. Setelah itu, kantor Maintz & Co di Semarang digunakan sebagai kantor dan pabrik untuk rokok Prahoe Lajar hingga sekarang.  Menarik (Sumber : seputarsemarang.com).

Sebenarnya sebelum jalan-jalan aku sempat beli korek api terus itu mbk-mbk kasirnya langsung bereaksi heboh “buat apa? Rokok?”. Ini serius, dia sekaget itu dan sebelumnya aku nggak mikir buat apa juga tetapi karena mbknya nuduh gitu… Ya udah deh ide bagus.

Polder Air Tawang

Air yang menggenang banyak selalu mengingatkanku dengan Rani, salah satu tokoh fiksi di novel San Fransisco yang selalu berambisi untuk bunuh diri setiap kali melihat kilau air dibawah pancaran senja di Golden Gate Bridge, San Fransisco. Feel suicided. Bukan berarti aku pengen bunuh diri juga, hanya mengingat saja.

Polder Air Tawang merupakan pusat pembuangan air di kawasan stasiun tawang yang kemudian dialirkan ke laut untuk meminimalisir terjadinya ROB. Sebelum direnovasi tempat ini sering menimbulkan bau busuk, tetapi sekarang tidak lagi dan cukup asik digunakan untuk duduk santai di  sore hari sambil membaca buku ditemani segelas latte dingin.

Sayangnya saat aku melintas, terlihat dua bapak-bapak yang sedang sibuk memunguti sampah yang terapung di atas permukaan air. Ah, Indonesia.

Ing Stasiun Tawang

“Kutho Semarang sing dadi kenangan…”

Nggak gitu juga sih ya, cuma lagunya liriknya gitu. Lebih tepatnya nggak ada lagunya tapi biar Stasiun Tawang nggak iri sama Stasiun Balapan, Solo. Jadi, aku buatkan saja Official Soundtrack. Nggak Official juga tapi, plagiat soundtrack tepatnya. Ah, sudahlah banyaknya enggaknya, mending nggak usah sekalian.

Jadi Stasiun Tawang dibangun oleh Nederlandsche Indische Spoorweg Maatschsrij (NIS). Salah satu perusahaan Kereta Api di era Kolonial Belanda. Stasiun ini pertama kali diresmikan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Baron Sloet Van de Beele. Pembangunanya sendiri memakan waktu hingga 6 tahun, yaitu antara 16 Juni 1864 – 10 Februari 1870. Arsitkenya sendiri adalah seorang berkebangsaan belanda yaitu JP De Bordes. Stasiun berarsitektur Indische ini masih dipergunakan hingga sekarang dan melayani jalur Semarang –  Yogjakarta – Solo.

Yang membuat aku penasaran sebenarnya tentang alasan mengapa hanya dibangun jalur untuk melayani tiga kota ini saja, kenapa tidak banyak jalur seperti tugu misalnya.

The Awakward Coffee Shop

Setelah berkeliling selama beberapa jam aku memutuskan untuk mampir di sebuah coffee Shop TEKODEKO yang masih berada di sekitaran kota tua. Melihat bangunanya dari luar saja aku sudah bisa menebak tempat ini akan seru dan voila… Tepat setelah aku membuka pintu cafe, aku disambut dengan pemandangan dalam cafe yang vintage dan dipenuhi perabotan dari kayu. Tempatnya tidak terlalu besar tetapi dindingnya yang di cat putih dihiasi oleh lukisan-lukisan yang entah apa maksudnya dan beberapa blanket berisi majalah travel.

img_20170207_193058
TekoDeko Coffee

Begitu memasuki Cafe kecil, yang aku tahu ya langsung memesan ke baristanya. This is what I see in Europe but…I think I’m wrong karena ternyata di Cafe sekecil itu mereka akan membawakan buku menu ke meja yang kita duduki. OH MAY. Pantes tadi pas aku mesen Kopi, yang menunya aku lihat di dinding mas-mas baristanya sampai terkaget-kaget. Ternyata. Ingatkan saya ini bukan Europe atau South Korea.

Ehmm…malu nggak ya? Sebenarnya enggak, cuma pengen ketawa aja. Apalagi kalau ingat tampang masnya yang kaget gimana gitu. This is awkward moment for me dan sialnya keabsurdan itu nggak berhenti sampai disitu saja.

Setelah kopi pesananku tersaji di meja, aku masih sibuk memainkan ponsel dengan tangan kiri menopang dagu dan tampang galau semacam habis putus, tiba-tiba…

Uri sarang hajimarayo…

Ajigeum jal morejanayo…

Wae oppa? Wae? 을수 ? (Trans: Kenapa oppa? Kenapa? Kenapa tidak bisa?)

Okay, mungkin kalian bingung. Jadi tulisan yang di italic itu adalah lagunya Big Bang yang dirilis 2015 silam. Beberapa tahun terakhir aku jarang mendengarkan lagu-lagu mereka dan tiba-tiba suatu hari aku menemukan MV lagu ini di youtube dan langsung jatuh hati. Judul lagunya Uri sarang hajimarayo yang berarti Let’s not fallin’ in love.

Music Video dari lagu ini diawali dengan munculnya T.O.P, salah satu member bigbang dan demi tuhan aku nggak bisa move on dari adegannya disitu. Di Music Video itu dia menjelma menjadi sosok oppa yang…yang, I can’t describe that. I call that like Yeobjib Oppa because he is really kind, cool,  and too much handsome.

Dan kalian tahu gimana rasanya begitu lagu itu diputar, itu seperti TOP oppa ada di hadapan aku dan dia bilang “Uri sarang hajimarayo…” terus dia pergi bahkan sebelum dia meminun kopi pesanannya. Adegan itu diperparah dengan ekspresi galau dimukaku yang sebenarnya karena siakad-ku (situs akademik) nggak mau loading aja karena internet connectionnya susah. LOL. Nggak tahu kenapa moment dan tempatnya pas banget untuk adegan video itu.

img_20170209_100242
Latte and the awkward day…

Belum juga selesai senyum-senyum gaje, tiba-tiba lagu selanjutnya yang di play lagi-lagi lagunya Big Bang juga “Sober”. Sial. Masalahnya yang aku ingat dari MV lagu ini cuma adegan pas si GD di hutan yang banyak bed-nya. Jangan tanya kenapa ada banyak bed di tengah hutan karena kau nggak tahu. Nggak punya rumah kali mereka. Molla. Tiba-tiba dia bawa alat pembasmi nyamuk DBD yang mengeluarkan asap tebal dan biasanya di semprotkan di kampung-kampung jaman dulu, tahu kan. Itu pokonya terus si GD ini guling-guling di rumput, loncat-loncat di kasur dan berbagai pose aneh lainnya. Ada satu lagi, jadi disetiap ranjang kan ada selimutnya. Nah warna selimutnya itu orange tua dan itu sama persis dengan rambutnya dia. Ini apa coba? Aku nggak bisa berhenti ngakak sampai dilihatin sepasang orang yang lagi pacaran disudut lain cafe plus mas-mas barista. This is awkward.

Giliran Big Bang kembali normal, gantian aku yang nggak jelas. Aku sebenarnya udah tahu kalau kopi memang disajikan tanpa gula karena salah satu cita-citaku pengen jadi barista dan aku belajar cukup banyak. Tetapi Ansel (salah satu tokoh fiksi di novel San Fransiso) kita akan berteman baik sepertinya. I hate you but I don’t really like to drink coffee without sugar dan aku benar-benar tidak paham mengapa orang mau menyiksa diri dengan minum kopi tanpa gula. Lebih buruknya aku baru sadar ternyata kopi yang aku minum mengandung gula cair yang mengental di dasar gelas saat kopi yang aku minum tinggal separuh. Sial.

Tidak mau mengalami hal lebih aneh lagi aku bergegas membereskan barang-barangku yang tergeletak di meja, memasukkannya ke dalam tas dan pergi but

Loser waetori sen cheokhaneun geopjaengi
Motdwaen yangachi geoul soge neon
Just a loser waetori sangcheoppunin meojeori
Deoreoun sseuregi geoul soge nan I’m a

(Big Bang- Loser)

MOLLAAAA!!!. SHIREOOO!!! And the day ends with an album I listened to the big bang. Maybe… Nan Michigeda nagea…

DYA

Advertisements

6 Comments Add yours

  1. shasa says:

    hahahaha. it was great experience. but i really curious about the sentence in your post,
    “selfi akan sangat menghabiskan waktu, menghabiskan energi dan menurunkan fokus hingga 50 – 60%”. it is true? how you can write it? wkwk.
    over all your post is amazing. * please don’t be confident too much.

    Liked by 1 person

    1. DYA says:

      Umm … actually that’s what I feel when doing it, and I just guessed it. I can not be sure if others feel the same way or not.

      Thanks but I thought this post was really bad because I was in writer mode block. I’m not reading a lot of books lately because I only took about 5 books and my brain just really did not work. I plan to translate it into English for the better. Maybe. The choice of words makes me want to kill myself, very bad, but it took me almost two days to complete.

      Like

  2. shasa says:

    it’s okay. at least you have done to share it. for me it is need a great courage. so that way i said it was amazing

    Like

    1. DYA says:

      Thank you. Btw I have check it you blog. Can I say something? Actually your font is so small. It is hard to read. If you make more bigger it will be better. Keep writing

      Like

  3. DYA says:

    What’s ‘why’ mean?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s