Home To You Chapter 2

Aku mengeratkan mantel merah yang setia melindungiku dari dinginnya cuaca London. 2 tahun berlalu tanpa terasa. Ya, aku telah menghabiskan 2 tahun studiku di London, tepatnya di UCL. Jika bisa lulus tepat waktu, maka cukup satu tahun lagi bagiku untuk menyematkan toga di atas kepala dan satu gelar baru di belakang nama.

Jika menilik kembali ke masa lalu, tentang bagaimana kemudian aku bisa berada di negara ini, itu suatu kebanggaan tak terkira. It just like surprise. Dimulai dari kegagalanku dalam memilih yang kemudian membawaku pada situasi yang cukup buruk selama 3 tahun lamanya. Meski kemudian berhasil menyelesaikannya dan membawaku menemukan mimpiku, tak lekas itu menjadi kenangan menyenangkan. Belum lagi tiga tahun yang nyaris sia-sia. Tentu akan lebih baik jika aku tepat untuk menemukan jalanku tanpa kesalahan. Tetapi sudahlah, karena aku sudah cukup puas untuk berada di sini, di negara ini. Menggenggam mimpiku dan menemukan warna hidupku.

Aku semakin mempercepat langkahku karena angin yang berhembus membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Ya, London sedang memasuki musim gugur dengan cuaca yang sulit diprediksi. Terkadang matahari bersinar terang tetapi beberapa saat kemudian hujan bisa turun dengan lebatnya. Aku membuka pintu Coffee Shop tempatku berjanji untuk bertemu dengan seseorang. Aku melihatnya duduk di salah satu sudut ruangan didekat jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan musim gugur yang cantik. Dia mengumbar senyum setelah melihatku berjalan ke arahnya.

reilly-rocket-house-30apr15_pr_b_639x426

The coffee shop

“Sudah lama menunggu? Aku terlambat 39 detik dari waktu yang kita sepakati”

“That’s ok. I decided to come early”, balasnya.

Okay! mungkin kalian penasaran tentang siapa sosok yang aku temui ini. Dia adalah editor yang menangani naskahku. Namanya Yuvin. Usianya sekitar 30 tahunan. Dia adalah warga lokal London. Perawakannya tinggi dengan rambut yang dibiarkannya berantakan namun tak mengurangi kadar ketampanan british miliknya. Kami tidak bertemu untuk membahas naskah atau apapun, hanya sekedar mengobrol ringan. Ya, kami adalah sahabat dekat sejak naskah pertamaku berhasil diterbitkan di bawah perusahaan tempatnya bekerja. Aku menganggapnya seperti seorang kakak. Dia adalah pribadi yang menyenangkan dan berpengetahuan luas.

Jika sudah bertemu seperti ini kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam lamanya untuk berdiskusi banyak hal. Dari yang serius, isu terkni hingga sekedar kegiatan apa yang kami lakukan hari ini. Menyenangkan? Tentu saja, jauh dari tanah air membuatku merasa kesepian terkadang, atau bahkan homesick berlebihan. Maka menghabiskan waktu bersamanya adalah salah satu hal yang menyenangkan.

“Jadi katakan, apa kau semacam Vasco Da Gama yang memiliki misi tertentu untuk berkeliling dunia?” tanyanya penasaran.

Aku tertawa ringan menanggapi candaannya. “Mari kita percayai demikian. Tetapi ya, aku ingin melihat dunia lebih luas dari pada sebelumnya. Kau tahu aku sangat membenci rutinitas. Aku selalu menginginkan sesuatu yang baru lagi dan lagi”, jawabku acuh tak acuh.

“Terdengar menarik. Jadi, sudah berapa negara yang kamu kunjungi hingga sekarang?”

“20, baru sekitar itu saja. Aku benar-benar menyia-nyiakan waktu tiga tahunku yang berharga”, balasku menyesali diri.

“Dia, don’t think to much about your past days. You do the best now. Maksimalkan saja apa yang ingin kamu raih. I believe in you”.

Dia menasehatiku dengan senyum terkembang. Ya, bukankah sudah kukatakan dia adalah sosok kakak yang sempurna dan aku beruntung berjumpa dengannya. “I do”, balasku disertai senyuman. Setelah itu, tidak ada satu pun diantara kami yang berbicara. Jeda panjang pun mewarnai pertemuan kami.

“Oppa…”. Ah, kalian mungkin bingung kenapa aku memanggilnya dengan ‘oppa’ padahal dia jelas bukan korean. Itu…kau tahu aku jatuh hati dengan Korea Selatan. Aku berharap untuk memanggil seseorang dengan ‘oppa’. Baiklah ini benar-benar memalukan, tetapi aku belum menemukannya. Itulah kenapa aku selalu memanggilnya dengan ‘oppa’. Dia sedikit kebingungan pada awalnya. Dia mengira itu semacam ledekan karena dia pernah mendengar bahwa ‘oppa’ dalam bahasa melayu berarti nenek tua. Kalian lihat, dia benar-benar memiliki pengetahuan yang luas. Mungkin dia mengira aku meledeknya sebagai nenek tua. Hahaha…aku benar-benar menyukainya (memanggilnya si nenek tua). Padahal aku tidak bermaksud sama sekali. Aku memanggilnya oppa dalam bahasa Korea bukan Melayu yang berarti ‘kakak’. Namun, karena dia sendiri menganggapnya nenek tua. Ide bagus, aku akan memanggilnya si nenek tua mulai sekarang.

“So, oppa…what is your plan for the winter holiday. I think we have some break time. Do you have a plan to go somewhere?”, tanyaku memecah keheningan panjang diantara kami.

“I have to prepare book event at that time. I can’t go anywhere I guess. You…how about you? Do you have a plan to travel again?”, jawabnya dengan aksen british yang kental.

By the way, tentang aksen british. Aku benar-benar mencapai tingkatan advance sekarang. Huh, ingin sekali rasanya menyombongkan diri. Okay! Ingat budaya ketimuran Dia, ingat. Be a good Asian. Hmm.

Ah, kalian tidak tahu saja, 2 tahun lalu saat pertama kali menginjakkan kaki di  Inggris dan memasuki kelas di 3 bulan pertama, tak ada satupun makhluk yang tidak mengatakan “Sorry, what you said?”, “Can you repeat it?” setiap aku mulai membuka mulut untuk berbicara. Pernah juga di suatu waktu ketika salah seorang teman mempresetasikan penelitiannya tiba-tiba Prof. Josh menunjukku untuk memberi komentar dan karena tidak memahaminya 100% , aku hanya menanggapinya dengan “Yes, I agree”. Dan kemudian semua mata menatapku dengan pandangan gak nyambung. Apalagi, tentu saja karena jawabanku tidak relevan. Aishh…kalian terlalu banyak bertanya. Lupakan.

“Kau tahu lebih baik daripada Sherlock oppa”, kataku santai sambil sibuk memotong makanan yang entah apa namanya. Sepertinya aku perlu belajar lagi tentang kuliner. Tidak sekarang. Nanti, tentu saja nanti karena si lebah penganggu telah mengirimkan puluhan pesan memintaku segera datang  ke cafe-nya sekarang juga. Ah, aku menyesali janjiku. Kenapa aku harus menyepakatinya. Baiklah aku berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Catatan, iya aku harus mencatatnya.

923747_494067027410701_375213414_n

I don’t know the name.

“Oppa, aku harus bergegas. Lebah penganggu sudah mengirimkan ultimatum. Kau tahu ‘kan?”,

Aku terus berbicara samil sibuk memasukan barang-barang ke dalam tas dan sesekali measukkan makanan ke dalam mulutku. Dia tergelak mendapati kepanikanku.

“Berhentilah memanggilnya lebah penganggu. Aku meragukan title persahabatan kalian. Pergilah, aku yang traktir”, jawabnya masih dengan kikikan yang samar-samar terdengar.

Aku memilih untuk segera bergegas sebelum si lebah penganggu melaksanakan ultimatumnya.

Ah, aku lupa belum memperkenalkannya. Namanya bukan lebah penganggu, tentu saja. Dia teman satu flatku yang berasal dari Irlandia. Dia juga berkuliah di jurusan yang sama denganku, international relation. Dia memiliki nama yang tidak bisa aku ucapkan dengan benar. Kau tahu bahasa irlandia, yang antara apa yang tertulis dan pronounciationnya sama sekali tidak sinkorn. Aku sedang bertanya-tanya siapa yang menciptakan bahasa aneh itu. Lupakan, lain kali aku akan memberitahu kalian namanya yang sebenarnya atau ini akan berakhir dengan perang nasionalisme. Aku hanya ingin hidup dalam damai untuk hari ini. Ya, dan aku harus begegas sekarang karena bus yang akan aku naiki akan tiba kurang dari 5 menit lagi dan posisiku masih satu kilometer dari halte terdekat. Sialan, umpatku sambil berlari tunggang langgang. Hey! Ingatkan aku untuk mengusirnya dari flat nanti malam.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s