“Ah, begitu saja”

Apa yang lebih menarik daripada rasa penasaran yang terjawab? Ehmm..,tidak ada atau setidaknya belum ada karena bagi aku jawaban itu jauh lebih penting dari apapun sekarang. Mungkin kalian masih ingat, dulu aku pernah cerita di beberapa tulisanku bahwa aku sedang menganalisa maksud Tuhan dibalik drama hidup aku yang merepotkan. Dan mungkin kalian juga tahu bahwa aku memiliki masalah dengan jurusan kuliahku, tetapi hebatnya aku nggak pernah sekalipun mendapat kesempatan untuk menyerah. Seberapa jauh aku berlari, jalan itu selalu saja kembali ke titik yang sama. Iya, titik yang sama dan selalu titik yang sama. Saking kesalnya aku juga kukuh untuk terus lari bahkan hingga di semester akhir. Lucu nggak? Bagaimana mungkin aku masih sibuk dengan keputusan yang sebenarnya sudah aku jalani. Konyol? Memang.

Dan setelah aku berpikir sekian lamanya akhirnya aku memperoleh jawaban. Kalian pasti sudah sering mendengar istilah winner dan loser. Aku tahu lagunya BigBang judulnya loser juga tapi nggak usah pakai nyayi. Jadi, salah satu sikap dari seorang loser adalah menyukai jalan pintas, lalu pindah dan meninggalkannya. Selain itu, loser juga memiliki sikap berfokus pada rintangan. Artinya Tuhan hanya sedang menyelamatkanku dari kemungkinan menjadi seorang loser because the god want me to be a winner. Am I right?

Tahu betapa aku bersyukur setelah mengetahui hal itu. Aku baru saja selamat dari kehancuran. Benar apa kata pepatah “don’t judge a book by it’s cover”.

Lalu kenapa aku bisa seyakin itu? Tahu nggak bahwa satu kalimat yang paling sulit untuk dikatakan adalah “saya bersalah”. Sulit mengakui diri kita bersalah karena kita terlalu sering menyalahkan orang lain. Aku mungkin juga demikian dan orang yang lebih banyak menyalahkan orang lain itu tiba-tiba harus mengakui bahwa dirinya bersalah. Bahkan ketika bumi menjadi langit dan langit berganti menjadi bumi sekalipun, kesalahan itu memang berasal dari diri aku sendiri. Yeah, I make a mistake.

Kesalahan itu kemudian membuatku berubah dan terus belajar berbagai hal tanpa aku sadari. Negara ini sangat bising dan berisi orang-orang kalah. Dan kau tahu, aku melihatnya nyaris setiap hari. Kejadian terbaru aku berkumpul dengan beberapa teman, kemudian kami mulai sibuk membicarakan angka-angka tuhan (read: nilai). Aku menyebutnya angka-angka Tuhan, karena kebanyakan orang menuhankannya dan mencapainya dengan berbagai cara. Mereka bercerita bahwa “aku tak akan bisa melakukannya jika tidak ‘membawa’ ”. ‘Membawa’ yang mereka maksud disini adalah sebuah contekan. Kau lihat mereka, orang-orang kalah itu mencintai jalan pintas.

Kalian ingin mendengar yang lebih mengejutkan. Baiklah, jadi Dosen mereka yang mengetahui mahasiswanya mencontek membiarkan hal itu. Kenapa? Kalian tanya kenapa? Hey, pride bung. You know pride, everybody love pride. Wah, lihat mahasiswa saya nilainya baik semua, siapa dulu Dosennya.

Pandji pernah mengatakan dalam tur dunianya “Mesakke Bangsaku” bahwa pengajar-pengajar di Indonesia itu gila hormat karena memang menjadi pengajar di Indonesia bukanlah pekerjaan terhormat. Buktinya dari gaji mereka yang tak seberapa. Mama aku seorang guru, beliau memiliki teman-teman di sekolah yang masih belum diangkat menjadi PNS. Tahu gajinya setiap bulan berapa, ada yang hanya mendapat 400 ribu saja. Itu uang tak mencukupi apapun.

Perbandingannya adalah aku sendiri. I’m not married now and for one month I need 1 million rupiah or more. Lalu bagaimana dengan mereka yang sudah berkeluarga, tentu sangat kekurangan. Wajar bukan jika mereka menjadi demikian?

Jika suatu pohon tumbuh dari biji yang tidak baik maka diapun akan sama saja. Lihat mereka para pejabat kita, mereka itu orang-orang kalah juga. Di era demokrasi seperti sekarang, politisi kita tidak siap menyambut sebuah kemenangan. Mereka tidak sadar bahwa kemenangn mereka adalah masalah dan bukan solusi. Pihak yang menang gagal menjalankan apa yang telah dijanjikan, sedang pihak yang kalah sibuk menyalahkan. Ciri-ciri orang kalah lagi bukan?

Ciri selanjutnya dari orang kalah adalah suka merumitkan sesuatu hal yang sebenarnya bisa disederhanakan. Contoh kecilnya ya birokrasi di negeri ini yang meliuk-liuk seperti bakmi mewah. Nggak ada habisnya, berputar-putar seperti labirin. Mereka lupa bahwa semakin diatur manusia akan semakin tidak teratur. Hmm…nggak usah heran juga sih sebenarnya, orang kampus tempat mereka kuliah gitu.

Tahukah Indonesia merupakan negara dengan jam berlajar terbanyak sekaligus mata ajar terbanyak. Di jenjang SD-SLTA kita akan mendapatkan 16-18 mata ajar, sementara di negara-negara maju mereka hanya memperoleh 5-7 mata ajar saja. Untuk jenjang perkuliahan, di luar negeri mahasiswa cukup menyelesaikan 124 sks saja tanpa skripsi untuk program Bachelor. Sekarang coba lihat Indonesia, setidaknya untuk bisa lulus strata 1, mahasiswa Indonesia harus menghabiskan 144-160 sks.

Truk yang muatannya berat akan berjalan sangat lambat. Mereka tidak bisa melaju cepat, sama halnya dengan mahasiswa Indonesia. Ya jangan protes kalau lulusannya kayak gitu, udah kebanyakan teori yang mereka terima, terus mau apa? Suruh lari cepet? Ya udah mimpi aja. Truk dengan muatan berat mau diapakan pun tetap tidak akan bisa melaju cepat kecuali dikurangi bebannya.

Itulah mengapa anak-anak diluar negeri justru memiliki potensi besar untuk menjadi manusia-manusia unggul karena mereka tidak dibebani banyak hal. Mereka mungkin belajar sedikit hal tetapi mereka tahu untuk apa ilmu itu mereka pelajari. Hal itu senanda dengan pernyataan dari Prof. Josaphat, Guru besar Chiba University. Beliau mengatakan bahwa orang Jepang belajar lebih sedikit dari orang-orang di Indonesia tetapi mereka tahu dengan pasti aplikasi dari ilmu yang mereka pelajari. Lain halnya dengan orang Indonesia, belajarnya banyak tapi mereka tidak tahu akan diapakan ilmu mereka itu kecuali untuk sebuah gelar dan pride.

Hal itu kemudian membentuk manusia-manusia gila ribet karena menurut mereka semakin kompleks dan rumit akan semakin berbobot dan semakin tidak dimengerti akan semakin keren. Dari sini saya tahu mengapa Dosen saya yang super pintar malah nggak bisa menyampaikan apapun. Orang yang terlalu pintar akan cenderung merumitkan hal yang sebenarnya mudah. Aku nggak menuduh beliau berpegang pada prinsip ini tetapi sikap beliau menunjukkan hal itu.

Aku masih ingat sekali, hari jumat lalu saat menghadiri seminar Prof. Josaphat beliau bercerita bahwa setelah sukses meluncurkan satelitnya yang berbasis Synthetic Aperture Radar System yang bisa mencitrakan objek bahkan hingga di bawah permukaan air tanah, banyak orang berkomentar “Ah, begitu saja”. Maka dari itu dengan bercanda beliau mengatakan bahwa penelitiannya sebenarnya berjudul “Ah, begitu saja”. Beliau merasa komentar tersebut adalah tolok ukur kesuksesan karena artinya beliau telah berhasil menyederhanakan sesuatu yang awalnya rumit hingga orang dapat berkomentar “Ah, begitu saja”.

Einstein sendiri menyatakan “Menyederhanakan sebuah pengetahuan membutuhkan kerja keras.” Namun, orang-orang yang pikirannya kusut dan kompleks bukanlah orang genius karena “segala sesuatu harus disederhanakan, namun bukan berarti itu mudah.”

Kesimpulannya, jika kalian adalah orang dengan ciri-ciri loser, segeralah untuk berubah. Kalian masih memiliki kesempatan. Aku tahu hidup di negara ini tidak mudah. Dikelilingi manusia-manusia ber-mindset kalah bukan tidak mungkin akan membawa kita turut melebur bersama. Maka dari itu miliki idealisme, jangan mudah terbawa arus. Belajarlah selalu, miliki pengetahuan, berbagilah dan terakhir jangan cepat menyimpulkan sesuatu dan analisis terlebih dahulu. Oh ya, jangan lupa jadilah manusia-manusia yang simple because the young people must be a simple.

“Simplicity means the achivement of the maximum effect with minimum menas.” Koichi Kawana.

See Ya…

DYA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s