Apa Maskapaimu?

Ketika sesuatu dimulai dari hal bernama tema. Ya, hampir segala hal dimulai dari tema, sebuah acara dimulai dari tema, tulisan pun dimulai dari tema, seni juga dan bahkan sebuah negara pun memiliki temanya sendiri. Seperti Indonesia yang membawa dasar/tema Pancasila untuk menentukan arah langkah kemana bangsa ini akan dibawa. Tema adalah kompas penunjuk arah kemana sebuah karya/ institusi akan dibawa berkenaan dengan perannya sebagai bagian dari kehidupan sosial dan pergaulan global.

Ya, benar dan begitu pun manusia. Tidakkah kita juga harus memiliki tema hidup kita? Jujur aku baru menyadarinya 2 hari yang lalu ketika aku berjumpa dengan Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, Ph.D. Beliau merupakan orang Indonesia pertama yang berhasil menjadi guru besar di Chiba University, Japan. Saat itu beliau mengatakan, buatlah tema dalam hidupmu, cukup satu, contohnya seperti saya yang ingin membuat satelit dan pesawat. Dan itulah tema hidup saya yang akan menjadi pedoman saya dalam memilih langkah saya ke depan. Ya, bagi aku perkataan beliau adalah kabar buruk sekaligus kabar baik. Kabar buruknya adalah aku telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku, sedang kabar baiknya aku mendapat jawaban itu hari ini. Jawaban bahwa aku telah melakukan kesalahan yang bahkan diri aku sendiri tak bisa memaafkannya, mungkin. Hal itu bukan berarti aku tidak memiliki tema dalam hidupku, aku memilikinya tapi aku nggak menyadari jika aku telah keluar jauh dari tema yang telah aku pilih. Aku merasa aku baru saja membuat liku-liku sulit dalam Road Map-ku yang sebenarnya mudah. Meskipun sebuah tantangan ada, tetapi nggak akan sampai demikian jauh jika aku menyadari tema hidupku lebih awal.

Ini evaluasi terbesar aku. Entah apa yang ada dipikiran aku hari itu, tetapi yang pasti aku telah terjatuh dalam stereotip masyarakat tanpa aku sadari. Like this is our pride if we choose this, maybe. Wah, aku tidak percaya telah melakukannya. I know I make a big mistake and the problem is on me, not the other people. Only me. But it’s okay, I will learn from this. I have much time. I just need to go back to my road maps and do what I need to do. I learn so many thing this time and I will change anything now.

Ya, aku memilih jurusan yang salah dan mungkin sangat salah. Satu-satunya kebenaran atas pilihanku adalah why not to learn anything. I like rainbow or something full colour. Intinya aku menyukai kreasi dalam sesuatu hal ketimbang itu-itu saja. Aku nggak suka rutinitas karena aku menyukai sesuatu yang dinamis. Jika orang lain pusing dengan culture shock maka aku sangat menikmati perasaan itu. Kenapa tidak, setiap tempat, setiap bangsa dan setiap negara akan memiliki temanya masing-masing. Segalanya memang berbeda. Bukankah akan sangat membosankan jika semua terlihat sama saja. Kalau begitu travelling nggak perlu donk. Apa sih yang orang cari dari traveling keliling dunia selain sebuah fakta perbedaan antara negara kita dengan negara lainnya. Jawabnnya tidak ada, perbedaan keunikan itulah yang mereka cari.

Jadi, pesan aku untuk kalian yang sebentar lagi akan memasuki bangku perkuliahan, pikirkan dengan baik pilihan kalian. Jangan sampai salah jurusan meskipun kita menyepakati bahwa tidak apa untuk melakukannya dan menciptakan ragam warna baru dalam hidup kita. Sekali lagi, jangan sampai kalian salah karena sudah ada aku yang salah disini. So, kalian hanya perlu belajar dari kesalahan itu. Sumber daya waktu, jangan sampai kita rugi dan menghambur-hamburkannya. We are not only on eighteen. We must getting old. If you make a mistake first, then you need much time to start again. Pilih tema dalam hidup kalian. Jika tidak tahu, cari terus sampai kalian mendapatkannya. Contohnya aku memilih tema The happy world. Itu bagaimana aku menyebut dunia yang aku inginkan. Aku bukan jenis orang yang linier jadi aku tidak bisa memilih satu hal saja, maka dari itu aku merangkumnya menjadi hal yang aku sebut sebagai The happy world. So, remember one thing, to select the best and reliable airline before flying because we had to fly safely to the destination. Turbulence may be there, but if we choose the right airline, then it will not be too great turbulence felt. Let’s fly…B1A4 *Eh

Dya

Ps: Kemarin di seminar setelah beliau memperkenalkan diri teman aku bilang gini “Berarti bapaknya nggak pernah kuliah di Indonesia ya?”. Terus aku jawab aja “Iya, makannya bapaknya keren, nggak pake keracuan sistem dalam negeri sih”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s