Home To You

Hujan turun dengan gemericik pelan di balik jendela kaca. Sayup-sayup musik klasik La Calinda-Koanga karya Delius terdengar mengalun membawa ingatan ini ratusan mil jauhnya ke sebuah negara tropis bernama Indonesia. Negara dimana mimpi besar itu dimulai belasan tahun silam. Ditemani sepotong kue keju berukuran raksasa dan segelas cokelat panas, aku masih sibuk mengetikkan beberapa kata yang terus terangkai menjadi juntaian indah. Sejenak jari-jari ini terasa lelah, tetapi ide berharga ini tak boleh terlewat. Aku melirik ke balik jendela kaca yang menampilkan cantiknya malam di London diselingi hujan yang turun perlahan. Ya, masih London, dan ini sama sekali bukan mimpi seperti yang terjadi beberapa tahun silam. Sukses memenangkan sebuah beasiswa akhirnya membawaku menjajaki kota Ratu Elizabeth ini. Rasanya kesadaran ini masih tak mempercayainya.

Keajaiban? Terdengar seperti itu atau mungkin sebuah dongeng karena apa yang terjadi terlampau artistik bagaikan skenario film. Mengambil jurusan International Relation di salah satu Perguruan Tinggi ternama membawaku melihat luasnya dunia. Tidak cukup sampai disitu, beberapa bulan setelah tiba di London aku berhasil menerbitkan naskah pertamaku dan tentu dalam bahasa Inggris. Kau tahu, aku mungkin sedang berkhayal sekarang dan kemudian kenyataan akan membangunkanku di atas tumpukan bantal di kamar kecilku. Sebuah tempat dimana semua mimpi besar ini dimulai. Tetapi kau tahu itu sama sekali tidak benar, aku berada disini, di negara ini. Negara dimana aku bisa memulai mimpiku berkeliling dunia. Tentu, duniaku lebih luas dari Indonesia. Aku tak suka batasan karena aku ingin melihat dunia seluas yang aku bisa.

Lamunanku buyar karena sebuah notifikasi pesan di ponselku. Ternyata pesan dari mama, senyumku merekah karena bahagia bisa berkomunikasi lagi dengan beliau setelah sekian lama sibuk dengan kegiatan masing-masing. Belum lagi jarak ribuan mil yang memisahkan kami bukan lagi lelucon 3 jam yang biasa kami bicarakan. Ah, kota itu benar-benar membuat kesal. Aku memutuskan untuk mengabaikan ingatan kacau itu dan kembali fokus pada pesan singkat beliau.

“Lagi apa? Mama sedang istirahat mengajar, kalau papa sedang sibuk di ruang gamelan. Lagi latihan untuk persiapan lomba minggu depan. Jalan depan rumah juga sudah di aspal sekarang, jadi nggak licin kalau musim hujan tiba. Oh ya, papa sudah bisa nyetir, jadi nggak perlu nyewa supir lagi. Mama-papa disini baik, kamu bagaimana disana? Kuliahnya lancar kan?”

Aku mengetik pesan balasan dengan senyum yang tak berhenti merekah dan terkadang diselingi kikikan-kikikan kecil.

Wah, Dia lagi sibuk nulis ma. Doakan buku baru bisa terbit dua bulan lagi. Lumayan royaltinya bisa kirim balik ke mama dan sekalian jalan-jalan keliling Eropa ma. Sukses untuk lombanya ma, salam untuk papa.

Asik donk sekarang bisa main kemana-mana,  jadi makin pengen pulang. Syukur mama dan papa baik disana, Dia juga baik disini. London lagi Auntum ma, jadi sering hujan. Ini juga lagi hujan, jadi makin pengen tidur aja, tapi naskah harus selesai segera jadi lembur dikit. Kuliah Dia lancar ma. Temennya asik, perpustakaan lengkap, cantik dan pengen pindahin ke Indonesia. Hahaha. Pokoknya doakan lancar ma. Selamat beraktifitas. Salam kangen-Dia.”

10 menit kemudian notifikasi pesan balasan masuk.

“Tentu, selalu bersandar pada Tuhan. Sukses untuk naskahnya, dan jangan jalan-jalan terus. Kuliahnya harus serius. Jangan salah jurusan lagi. Pusing mama dengerin skenario hidup kamu.”

Aku membacanya dengan luapan tawa. Mama benar “Jangan salah jurusan”. Hahaha. Kalimat menjengkelkan itu membuatku terngiang kekonyolanku dimasa lalu. Baiklah kenapa tidak untuk berdamai. Sekarang semuanya telah berubah dan aku menjajaki wonderlandku. Belajar dan lihat kedepan, seperti itu. Ya.

Setelah menghabiskan sisa cokelat panas yang telah mendingin. Aku bergegas merapikan meja belajar yang penuh dengan buku dan kertas coretan untuk segera terlelap ke alam mimpi. Waktu telah menunjukkan pukul 2 pagi waktu London. Aku tak memiliki kelas besok, tetapi ada beberapa tempat yang harus ku kunjungi. Jadi, malam ini aku akan menyiapkan semangat ekstra. Good Night London. Good Morning German

Dya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s