FTD Chapter 1: Sebenarnya AADC 2 (?)

Yohaengeul Sijakhada…

Tidak pernah ada hal yang istimewa tentang Jogja sebenarnya, bagi aku. Yah, meskipun daerah itu biasa dijuluki Daerah Istimewa Yogjakarta, rasa-rasanya tetap tidak mengubah klaim itu hingga hari ini. Namun, hebatnya meski tanpa keistimewaan, kota ini setidaknya telah aku kunjungi sebanyak 10 kali. Wow, angka yang cukup fantastis, mengingat tak ada hal spesial pun di kota itu. Satu-satunya hal yang membuat kota ini akhirnya sedikit memenangkan hati aku adalah karena AADC 2. Okay! mari kita sepakati bahwa itu benar-benar klise, tapi film itu finally memberi sedikit poin keistimewaan untuk Yogjakarta.

Tahukah, ada beberapa hal yang selalu membuatku iri. Hal yang menempati posisi pertama tentulah Eropa, tapi tentu bukan itu yang akan kita bicarakan sekarang karena kita akan membicarakan hal yang menempati poisis kedua yakni Korea Selatan. Hmm..Yeoksi, addictive country. Kita bertetangga cukup dekat, tapi bahkan kalian masih terlalu membuat iri. Ya, bagaimana pun mereka terlalu menakjubkan. Saat menonton drama-drama korea atau acara-acara korea lainnya hal yang selalu aku amati adalah bagaimana kemudian mereka memperkenalkan budaya mereka dengan sangat apik. Ck, bahkan sekedar kebiasaan memakan ramyun saja bisa sebegitu addictive-nya. Micheoseo geuchi? Ah, geundae, aku pikir sekarang kita tidak perlu iri lagi karena salah satu film Indonesia akhirnya melakukannya dengan sangat baik. I give big appreciation. Aku selalu berharap akan momen ini dimana kita bisa menunjukkan betapa chic-nya budaya di negara kita dan membuatnya disukai dunia, dan AADC 2 sukses melakukannya. Mereka mengambarkan tradisi di Jogja dengan sangat mengesankan. Saya yakin kalian juga jatuh cinta. Adegan ketika mereka makan gudeg, jalan-jalan di sekitaran Jogja seperti Ratu Boko, Puthuk Setumbu dan cafe-cafe tradisional, hingga adegan ketika Rangga naik taksi di sebuah perempatan depan Stasiun Tugu. Wah, kita bisa sekeren Korea juga loh.

Okay! mari kita lupakan Rangga sejenak karena kita akan mulai berjalan-jalan di Jogja, dengan aku tentunya dan bukan Rangga. Walaupun sih ya, aku berharap keliling Jogjanya sama Rangga, kemudian kita akan berwisata ke Ratu Boko dan bercengkerama seputar pemilu 2016 silam. Hmm…Kecewa nggak?

This is not Pompeii

Dari sekian banyak tempat yang aku kunjungi di Jogja sebelumnya, Pulo Kenanga bukan salah satunya, maka dari itu aku memutuskan untuk mengunjunginya. Pulo kenanga ini masih termasuk dalam kompleks Tamansasri. Hal pertama yang yang aku pikirkan sesampainya di sana adalah tempat ini nyaris seperti Pompeii. Oh, yang belum tahu, Pompeii itu merupakan sebuah reruntuhan kuno yang terletak di negara Italia. Reruntuhan kota itu berada di lereng gunung berapi. Kota itu dulunya adalah tempat dimana Sex adalah hal yang sangat di agung-agungkan. Gilanya alat kelamin pria dijadikan sebagai ornamen penghias dinding bangunan. Bukan aslinya tentunya, hanya visualnya saja. Berdasarkan data para arkeolog yang meneliti tempat itu, kota itu hancur karena ledakan gunung berapi. Namun, sebelum bencana itu terjadi kota itu merupakan salah satu kota dengan peradaban yang sangat unggul di zamannya. Mereka adalah penduduk yang sangat tahu akan keindahan tata ruang. Mereka bahkan telah memiliki sebuah sauna yang bisa dikatakan sangat modern di zaman itu. Reruntuhan kota itu sempat ditutup selama beberapa puluh tahun setelah ditemukan lantaran pemerintah Italia merasa itu hal yang cukup memalukan untuk di ekspos ke publik. Bagaimana tidak, saat pertama kali ditemukan dan melakukan penggalian para arkeolog menemukan hal yang membuat mereka tercengang. Ya, mereka banyak menemukan pasangan yang sedang melakukan hubungan sex saat lava meluluhlantahkan kota cantik itu. Para korban ini masih dalam keadaan utuh karena terawetkan secara alami akibat abu gunung berapi. Namun, finally tempat itu dibuka sebagai tempat wisata oleh pemerintah Italia walaupun menurut kabar yang beredar, ada beberpa ruangan yang tidak bisa diakses oleh pengunjung karena beberapa alasan.

img_20170109_062245

Hal sederhana yang mahalnya bukan main di Indonesia. Reading Everywhere comfortably.

Okay! aku berbicara terlalu banyak tentang Pompeii. By the way reruntuhan Pulo Kenanga ini memiliki beberapa kesamaan dengan Pompeii, khususnya di bagian temboknya yang berwarna kemerahan. Aku belum bisa memastikan apakah kedua tempat itu dibangun dengan material yang sama atau tidak, tetapi kedua bangunan itu terlihat sama secara visual. Selain itu, langit-langit reruntuhan Pulo Kenanga juga serupa dengan Pompeii. Pulo Kenanga sendiri merupakan tempat peristirahatan sultan dan tempat penyelenggaraan pertunjukan seni.

Saat sedang sibuk mengeksplor Pulo Kenanga kami berjumpa dengan seorang bapak yang secara sukrela menawari kami untuk memotret. Sedikit meragukan ya. Takutnya bapak ini meminta bayaran atau bagaimana, tetapi tidak ternyata. Bapak ini juga sukses membuat aku dan teman perjalananku nyaris seperti model. Kami bahkan berusaha untuk menghindar, tetapi bapak ini tidak mau menyerah juga dan yah kami menjadi boneka percobaannya. But it’s okay, it is really fun.

Bapak yang Dirindukan

Tempat kedua yang kami kunjungi adalah Tamansari atau yang biasa disebut water castle karena tempat ini merupakan tempat pemandian keluarga kerajaan dan abdi dalem. Tempat ini sedikit sulit untuk ditemukan karena berada di belakang pasar tradisional dan terapit perumahan penduduk. Lucunya, entah karena pasarnya yang terlalu terkenal atau bagaimana, palang nama yang utama adalah nama pasar, sedang palang penunjuk Tamansari dibuat sekedarnya saja, kecil dan sedikit tersembunyi. Akhirnya setelah berjalan selama 15 menitan dari Pulo Kenanga kami berhasil menemukan tempat wisata ini. Tamansari memiliki pemandangan yang sangat cantik. Aku bahkan bisa merasakan kekhasan lokal di tempat itu. Air kolam yang berwarna turqoise jernih semakin menguatkan betapa cantiknya tempat ini. Kompleks Tamansari terdiri atas Gedung Gapura Hageng yang sekilas terlihat seperti Casa Duomo di Italia, Gedong Lopak-Lopak, Pasiraman Umbul Binangun, Gedong Sekawan, Gedong Gapura Panggung, Gedong Temanten, Gedong Pengunjukan, Gerbang Kenari, Gerbang Taman Umbulsari, Pasarean Ledoksari, Gedong Madaran, Pasiraman Umbulsari, Gedong Blawong, Gedong Garjitawati, Gedong Carik, Pongangan atau Dermaga Peksiberi, Pongangan Timur, Gerbang Sumur Gumuling, Sumur Gumuling, Pulo Panembung, dan terakhir Pulo Kenanga.

img_20170109_062118

Photo take by bapak yang dirindukan. Thank you. @PuloKenanga

Kecantikan tempat ini mengundang banyak pengunjung untuk berfoto ria. Saya tidak terlalu tertarik, tapi foto di tempat ini tentu akan sangat mengesankan. Namun apa daya kemampuan mometret kami yang buruk dan pengujung yang kian membludak membuat rencana tersebut gagal. Ah, di situasi ini aku benar-benar merindukan bapak tukang foto tadi. Andai beliau ada.

Sejauh pengamatanku tempat wisata ini cukup terawat dan asri, akan tetapi sayang sekali tempat ini penuh dengan vandalisme di beberapa sisi bangunannya. Entahlah siapa tangan-tangan tidak bertanggung jawab itu, sangat disayangkan. Tidak hanya vandalisme saja, aku bahkan sempat melihat beberapa pengunjung membuang puntung rokok di pot-pot besar yang berisi bunga. Ah, Indonesia.

Flashback to My Childhood Memorise

img_20170109_062945

Monjali Childhood memorise. TT pose

Salah satu memori yang cukup berkesan tentang Jogja adalah perjalananku mengunjungi Monjali (Museum Jogja Kembali) belasan tahun silam. Ya, kalian mungkin berpikir museum doank, bagi kalian iya, tetapi bagiku lebih dari itu. Monjali adalah saksi bisu bagaimana bundaku tercinta mulai mengenalkan travelling padaku saat itu hingga kemudian membuatku sangat mencintainya di kemudian hari. Mengunjungi Monjali adalah momen yang sangat berkesan. Jika dulu aku masih erat menggenggam tangan eomma, mengikutinya kemanapun, dan bertanya ini itu, tetapi sekarang tidak lagi karena kali ini aku berjalan dengan kakiku sendiri. Malu kalau harus merengek ke eomma kan ya. Tapi itu momen yang selalu ingin aku ulangi, bermanja-manja secara merdeka. Kalau sekarang kan pakek mikir, aduh apa kabar image. Dulu sih bodo amat, nangis di depan umum pun rasanya tak malu.

Monjali sendiri dibangun untuk mengenang peristiwa serangan I Maret di Yogjakarta oleh pasukan Belanda saat Agresi Militer Belanda II. Monjali terdiri atas 4 museum dan gedung sebaguna di lantai 1, gedung Diorama di lantai 2 dan gedung tenang di lantai 3. Dari semua tempat, Museum tiga dan gedung Diorama adalah yang paling berkesan. Masih ingat banget dulu gimana takjubnya aku melihat visualisasi saat serangan 1 Maret yang tampak sangat nyata. Kemudian bunda yang akan menjelaskan satu persatu peristiwa yang digambarkan di sana. Ah, manisnya. Bogoshipta.

Failed Europe dan Bumi Manusia

img_20170109_061636

Me and the failed europe-TT

Siapa sih yang tak tahu Jalan Malioboro. Rasa-rasanya tidak ada. Malioboro berubah cukup banyak dibanding terakhir kali aku mengunjunginya beberapa bulan silam, Ini yang aku suka dari negara berkembang. Eropa yang notabene di dominasi negara-negara maju tak akan berubah banyak. Salah satu cotohnya adalah Jerman. Aku membaca banyak buku travelling tentang Jerman. Disalah satu buku, sang penulis mengunjungi Jerman sebelum Tembok Berlin diruntuhkan yakni sekitar tahun 1965. Namun, bahkan itu tidak berbeda jauh dengan buku travel yang aku baca yang mana penulisnya mengunjungi Jerman baru di tahun 2014 lalu. Ya, negara maju tak akan banyak berubah, sangat berbeda dengan negara berkembang. Nah, di Jalan Malioboro sekarang banyak ditambahkan bangku-bangku taman yang cantik. Di beberapa titik terlihat pohon yang baru saja di tanam dan masih di lingkupi pagar besi. Tata letak yang lazim di jumpai di Eropa. Karena cantiknya itu aku tertarik untuk mengambil beberapa foto, tetapi karena waktu yang sangat terbatas, aku pun melewatkannya begitu saja. Failed Europe.

Tempat yang aku tuju selanjutnya adalah sebuah pusat penjualan buku baik baru maupun tidak. Koleksi toko-toko di kompleks ini cukup lengkap, sayangnya penataannya yang berantakan menyulitkan mata untuk menemukan buku yang kita inginkan. But aku dapat buku yang aku mau. Buku ini sangat berkesan untuk aku, Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Ya, si sastrawan itu. Finally aku dapat kesempatan juga untuk membaca Sastra Indonesia dan tentu menambahkannya dalam daftar koleksi. Buku-buku yang dijual disini memiliki harga yang miring dibandingkan dengan toko buku karena cetakannya terkadang juga jauh lebih buruk. So, sangat disarankan untuk berhati-hati saat memilihnya.

Mengingat waktu yang semakin mepet, kami pun harus berlarian keliling Malioboro karena seorang temanku masih harus membeli beberapa souvenir dan tentunya beberapa makanan karena tenaga kami terkuras habis untuk berlari-lari mengejar jadwal kereta. Sudah tak terhitung berapa kali kami nyaris atau bahkan menabrak orang yang sibuk berlalu lalang di sekitar Malioboro untuk menikmati sore yang diselingi gerimis dan lampu kota yang berpendar cantik. Boro-boro jalan santai ala-ala Walkin’nya Super Junior atau Cherry Blossemnya Busker-Busker. Huh yang ada lari-larian ala film India juga iya. Ck entahlah mungkin kita terlalu banyak nonton film India dulu.

Confirmed: Super Junior Walkin’ soundtrack Failed! Now Playing-BTS Run

Meet The Handsome

So, setelah berlarian untuk mengejar jadwal kereta yang tinggal 30 menit sebelum jam keberangkatan, akhirnya kami berhasil duduk dengan manis 15 menit sebelum kereta meninggalkan Yogjakarta. Tak ada hal yang kami lakukan selain tertawa membodohi kegilaan kami karena di tengah-tengah pelarian aku masih saja terpaku dengan satu adegan di film AADC 2 “Disini rangga naik taksi petang itu shasa” *LOL*. Jadi, malam itu kami berhasil kembali ke Solo dengan selamat ditemani sebungkus nasi gudeg yang membuat penumpang lain memalingkan muka ingin. Tapi tunggu dulu, kita belum akan berakhir. Seperti yang banyak orang katakan “ending is the best part”. Akhirnya aku berdamai dengan kutipan konyol itu lantaran saat perjalanan pulang, we meet the handsome boy. Dia bekerja di kereta, saat itu dia bertugas memeriksa tiket kami dengan wajah ramah, senyuman manis dan ucapan terima kasih. Damn hell, he so handsome and I know his name but of course I can’t tell you that. You know, we need respect to his privation, right?

Okay! Let’s stop here and see you in the next vacation. Cherioo.

AnDya

Ps: Hai long time no see. I’m little busy so I can’t post anything. By the way ini artikel pertama aku di 2017 dan tentu corner baru aku FTD (Fly to Wonderland). Yeayy, I’m really happy now. So, I hope you will happy too. Also Shindong Oppa, Sungmin Oppa welcome back. We miss you so much. It is really nice to see you again. Of course I will waiting for Super Junior comeback this year. Please make a good song because I will fly to wonderland at the same time. You know, I need like OST. Hahaha okay, but I can’t make it by my self. So, I will waiting for your comeback. See you. ELF anticipated!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s