Indonesia yang ‘Menganggu’

People really talking about me.

Aku tidak ingin membahasnya tetapi, apa ya…aku sendiri merasa culture shock begitu. Jadi, aku pikir kenapa tidak untuk membicarakannya.

Aku tahu dan mungkin sangat tahu bahwa kalian begitu penasaran. Ya, aku memang selalu menjadi trending topic sejak dulu kala. Bukan hal baru, baik itu yang good news or bad news, people always talking about me. Kebanyakan bad news sih ya, kan aku memang jutek sekali dan memiliki keahlian khusus untuk membuat orang kesal. Entah bagaimana awal mulanya, mereka selalu membicarakannya.

Aku bergaya demikian, mereka membicarakannya. Aku berpikir demikian, mereka membicarakannya. Aku berbelanja sesuatu, lagi-lagi mereka membicarakannya. Aku berbicara dengan laki-laki, mereka membicarakannya. Aku membaca buku apa, mereka membicarakannya dan apapun yang aku lakukan, mereka membicarakannya. Asik hmm?

Entah kenapa aku mulai mengerti perasaan seorang selebritis yang bahkan pose ngantuknya aja di kepoin. Nggak enak. Apalagi yang keponya ala orang Indonesia yang semena-mena. Entah bad news atau good news yang namanya dikepoin tetap saja nggak enak. Apa aku dapat karma karena sering stalking yesung ya? Rasa-rasanya nggak mungkin. Lagian aku bukan tipe orang yang kepoan juga.

Whatever that, keponya mereka yang mulai terlalu semena-mena akhirnya sukses membuat aku kurang nyaman juga. Beberapa hari lalu aku pergi ke toko roti. This is one of the palce I love to go. Saat sedang sibuk memutuskan apa yang ingin aku beli, ada seorang ibu-ibu yang juga melakukan hal yang sama. I don’t give a shit about her. Lagian sejak kapan juga aku jadi manusia yang peduli? *Askmyself* Setelah selesai aku bergegas ke kasir untuk membayar, dan lagi-lagi ibu tadi juga melakukan hal serupa. Dan aku kembali tidak peduli. Walaupun tidak dalam mood dan kondisi tubuh yang bagus, aku masih cukup sabar menunggu keplin-planan si ibu kepo.

Akhirnya aku dapat giliran untuk membayar. Sambil menunggu kembalian, aku memasukkan barang belanjaan ke dalam tas di atas meja kasir. Masih ingat ibu yang tadi? Ya, si ibu kepo kembali ke kasir lagi karena menambah barang belanjaan. Tiba-tiba beliau bertanya “beli tas dimana?”. Belum sempat aku menjawab beliau kembali bertanya “mereknya apa?”, tanyanya dengan tampang menilai dan tanpa permisi beliau menarik tasku sampai posisiku bergeser sekitar 45o. Tidak cukup sampai disitu, si ibu tadi terus melontarkan pertanyaan “merknya apa?”, “Beli dimana?” hingga membuat  si penjaga kasir merasa malu dan menampilkan ekspresi “Maaf untuk ketidaknyamanannya” yang hanya aku balas dengan senyuman. Aku tak terlalu menanggapi si ibu kepo tadi dan bergegas pergi setelah mendapat uang kembalian dan struk belanja.

Sesaat sebelum melarikan diri aku masih sempat melirik wajah si ibu kepo yang menampilkan ekspresi yang aku nggak bisa mengerti. Ekspresi beliau itu antara kepo, ngeremehin, dan congkak. Apa coba itu, nggak bisa ditarik kesimpulan. Pokoknya begitulah, ekspresi wajahnya nggak terdaftar di emot sih jadi nggak bisa aku gambarkan.

Setidak pedulinya aku, tetap ada situasi dimana aku akan merasa terganggu dan si ibu kepo tadi melakukannya. Akhirnya aku jadi ingin ikut menilai juga. Dilihat dari tampilannya beliau berada di kelas menengah sebenarnya. Stylenya nggak banget dan dompetnya pun juga entah Kw berapa. Kan aku jadi kasar *forgiveMe. Aku nggak akan peduli jika beliau hanya bertanya, tetapi sikap tidak sopan dan ekspresi wajahnya itu cukup membuat aku kesal. Jadi, katakan kemana budaya ketimuran yang diagung-agungkan itu?

Terakhir, aku hanya berharap orang bisa berlaku lebih sopan. Bukankah kesopanan sangat dijunjung tinggi di Asia, khususnya Indonesia. Kemana larinya tata krama ketimuran? Huh! bullshit. Aku bahkan tidak ingat lagi berapa banyak orang yang menulis artikel serupa, tentang betapa tidak sopannya orang Indonesia. Aku pikir aku tidak akan menambah panjang daftar hitam, but finally I do. This is really annoying. if you do it to the local people, maybe they would understand. But what’s up if people from different countries who felt it. What will they think of Indonesia? Please respect the privacy of others. Aku nggak melarang rasa penasaran, hanya saja yang namanya rasa penasaran pun ada koridornya. Jadi, tolong pahami itu.

Cherioo
DYA

Iklan

“Ah, begitu saja”

Apa yang lebih menarik daripada rasa penasaran yang terjawab? Ehmm..,tidak ada atau setidaknya belum ada karena bagi aku jawaban itu jauh lebih penting dari apapun sekarang. Mungkin kalian masih ingat, dulu aku pernah cerita di beberapa tulisanku bahwa aku sedang menganalisa maksud Tuhan dibalik drama hidup aku yang merepotkan. Dan mungkin kalian juga tahu bahwa aku memiliki masalah dengan jurusan kuliahku, tetapi hebatnya aku nggak pernah sekalipun mendapat kesempatan untuk menyerah. Seberapa jauh aku berlari, jalan itu selalu saja kembali ke titik yang sama. Iya, titik yang sama dan selalu titik yang sama. Saking kesalnya aku juga kukuh untuk terus lari bahkan hingga di semester akhir. Lucu nggak? Bagaimana mungkin aku masih sibuk dengan keputusan yang sebenarnya sudah aku jalani. Konyol? Memang.

Dan setelah aku berpikir sekian lamanya akhirnya aku memperoleh jawaban. Kalian pasti sudah sering mendengar istilah winner dan loser. Aku tahu lagunya BigBang judulnya loser juga tapi nggak usah pakai nyayi. Jadi, salah satu sikap dari seorang loser adalah menyukai jalan pintas, lalu pindah dan meninggalkannya. Selain itu, loser juga memiliki sikap berfokus pada rintangan. Artinya Tuhan hanya sedang menyelamatkanku dari kemungkinan menjadi seorang loser because the god want me to be a winner. Am I right?

Tahu betapa aku bersyukur setelah mengetahui hal itu. Aku baru saja selamat dari kehancuran. Benar apa kata pepatah “don’t judge a book by it’s cover”.

Lalu kenapa aku bisa seyakin itu? Tahu nggak bahwa satu kalimat yang paling sulit untuk dikatakan adalah “saya bersalah”. Sulit mengakui diri kita bersalah karena kita terlalu sering menyalahkan orang lain. Aku mungkin juga demikian dan orang yang lebih banyak menyalahkan orang lain itu tiba-tiba harus mengakui bahwa dirinya bersalah. Bahkan ketika bumi menjadi langit dan langit berganti menjadi bumi sekalipun, kesalahan itu memang berasal dari diri aku sendiri. Yeah, I make a mistake.

Kesalahan itu kemudian membuatku berubah dan terus belajar berbagai hal tanpa aku sadari. Negara ini sangat bising dan berisi orang-orang kalah. Dan kau tahu, aku melihatnya nyaris setiap hari. Kejadian terbaru aku berkumpul dengan beberapa teman, kemudian kami mulai sibuk membicarakan angka-angka tuhan (read: nilai). Aku menyebutnya angka-angka Tuhan, karena kebanyakan orang menuhankannya dan mencapainya dengan berbagai cara. Mereka bercerita bahwa “aku tak akan bisa melakukannya jika tidak ‘membawa’ ”. ‘Membawa’ yang mereka maksud disini adalah sebuah contekan. Kau lihat mereka, orang-orang kalah itu mencintai jalan pintas.

Kalian ingin mendengar yang lebih mengejutkan. Baiklah, jadi Dosen mereka yang mengetahui mahasiswanya mencontek membiarkan hal itu. Kenapa? Kalian tanya kenapa? Hey, pride bung. You know pride, everybody love pride. Wah, lihat mahasiswa saya nilainya baik semua, siapa dulu Dosennya.

Pandji pernah mengatakan dalam tur dunianya “Mesakke Bangsaku” bahwa pengajar-pengajar di Indonesia itu gila hormat karena memang menjadi pengajar di Indonesia bukanlah pekerjaan terhormat. Buktinya dari gaji mereka yang tak seberapa. Mama aku seorang guru, beliau memiliki teman-teman di sekolah yang masih belum diangkat menjadi PNS. Tahu gajinya setiap bulan berapa, ada yang hanya mendapat 400 ribu saja. Itu uang tak mencukupi apapun.

Perbandingannya adalah aku sendiri. I’m not married now and for one month I need 1 million rupiah or more. Lalu bagaimana dengan mereka yang sudah berkeluarga, tentu sangat kekurangan. Wajar bukan jika mereka menjadi demikian?

Jika suatu pohon tumbuh dari biji yang tidak baik maka diapun akan sama saja. Lihat mereka para pejabat kita, mereka itu orang-orang kalah juga. Di era demokrasi seperti sekarang, politisi kita tidak siap menyambut sebuah kemenangan. Mereka tidak sadar bahwa kemenangn mereka adalah masalah dan bukan solusi. Pihak yang menang gagal menjalankan apa yang telah dijanjikan, sedang pihak yang kalah sibuk menyalahkan. Ciri-ciri orang kalah lagi bukan?

Ciri selanjutnya dari orang kalah adalah suka merumitkan sesuatu hal yang sebenarnya bisa disederhanakan. Contoh kecilnya ya birokrasi di negeri ini yang meliuk-liuk seperti bakmi mewah. Nggak ada habisnya, berputar-putar seperti labirin. Mereka lupa bahwa semakin diatur manusia akan semakin tidak teratur. Hmm…nggak usah heran juga sih sebenarnya, orang kampus tempat mereka kuliah gitu.

Tahukah Indonesia merupakan negara dengan jam berlajar terbanyak sekaligus mata ajar terbanyak. Di jenjang SD-SLTA kita akan mendapatkan 16-18 mata ajar, sementara di negara-negara maju mereka hanya memperoleh 5-7 mata ajar saja. Untuk jenjang perkuliahan, di luar negeri mahasiswa cukup menyelesaikan 124 sks saja tanpa skripsi untuk program Bachelor. Sekarang coba lihat Indonesia, setidaknya untuk bisa lulus strata 1, mahasiswa Indonesia harus menghabiskan 144-160 sks.

Truk yang muatannya berat akan berjalan sangat lambat. Mereka tidak bisa melaju cepat, sama halnya dengan mahasiswa Indonesia. Ya jangan protes kalau lulusannya kayak gitu, udah kebanyakan teori yang mereka terima, terus mau apa? Suruh lari cepet? Ya udah mimpi aja. Truk dengan muatan berat mau diapakan pun tetap tidak akan bisa melaju cepat kecuali dikurangi bebannya.

Itulah mengapa anak-anak diluar negeri justru memiliki potensi besar untuk menjadi manusia-manusia unggul karena mereka tidak dibebani banyak hal. Mereka mungkin belajar sedikit hal tetapi mereka tahu untuk apa ilmu itu mereka pelajari. Hal itu senanda dengan pernyataan dari Prof. Josaphat, Guru besar Chiba University. Beliau mengatakan bahwa orang Jepang belajar lebih sedikit dari orang-orang di Indonesia tetapi mereka tahu dengan pasti aplikasi dari ilmu yang mereka pelajari. Lain halnya dengan orang Indonesia, belajarnya banyak tapi mereka tidak tahu akan diapakan ilmu mereka itu kecuali untuk sebuah gelar dan pride.

Hal itu kemudian membentuk manusia-manusia gila ribet karena menurut mereka semakin kompleks dan rumit akan semakin berbobot dan semakin tidak dimengerti akan semakin keren. Dari sini saya tahu mengapa Dosen saya yang super pintar malah nggak bisa menyampaikan apapun. Orang yang terlalu pintar akan cenderung merumitkan hal yang sebenarnya mudah. Aku nggak menuduh beliau berpegang pada prinsip ini tetapi sikap beliau menunjukkan hal itu.

Aku masih ingat sekali, hari jumat lalu saat menghadiri seminar Prof. Josaphat beliau bercerita bahwa setelah sukses meluncurkan satelitnya yang berbasis Synthetic Aperture Radar System yang bisa mencitrakan objek bahkan hingga di bawah permukaan air tanah, banyak orang berkomentar “Ah, begitu saja”. Maka dari itu dengan bercanda beliau mengatakan bahwa penelitiannya sebenarnya berjudul “Ah, begitu saja”. Beliau merasa komentar tersebut adalah tolok ukur kesuksesan karena artinya beliau telah berhasil menyederhanakan sesuatu yang awalnya rumit hingga orang dapat berkomentar “Ah, begitu saja”.

Einstein sendiri menyatakan “Menyederhanakan sebuah pengetahuan membutuhkan kerja keras.” Namun, orang-orang yang pikirannya kusut dan kompleks bukanlah orang genius karena “segala sesuatu harus disederhanakan, namun bukan berarti itu mudah.”

Kesimpulannya, jika kalian adalah orang dengan ciri-ciri loser, segeralah untuk berubah. Kalian masih memiliki kesempatan. Aku tahu hidup di negara ini tidak mudah. Dikelilingi manusia-manusia ber-mindset kalah bukan tidak mungkin akan membawa kita turut melebur bersama. Maka dari itu miliki idealisme, jangan mudah terbawa arus. Belajarlah selalu, miliki pengetahuan, berbagilah dan terakhir jangan cepat menyimpulkan sesuatu dan analisis terlebih dahulu. Oh ya, jangan lupa jadilah manusia-manusia yang simple because the young people must be a simple.

“Simplicity means the achivement of the maximum effect with minimum menas.” Koichi Kawana.

See Ya…

DYA

FTD Chapter 2: Jogja Under The Rain

Jika harus menyebutkan satu hal yang paling aku cintai selain tempat yang cantik dan laki-laki 30an yang tampan, maka itu adalah buku. Buku tak banyak berbicara apalagi menciptakan kebisingan tetapi dia jelas memberikan solusi dengan sempurna. Sekarang katakan, apakah ada sosok sahabat yang lebih menguntungkan dari buku?

So, karena terlalu cinta dengan buku maka rencana yang awalnya traveling pun bisa menjadi ajang berkhianat. Ya, ini adalah jalan-jalan keduaku yang berakhir untuk huntingdedek baru’. Di travel pertama aku dapat buku keren karya Prof. Rhenald berjudul Self Driving, sedang untuk yang kedua, lihat aja deh nanti. By the way, ini adalah kujungan ke-11 ku di kota dimana Rangga dan Cinta berhasil membuat saya ketar-ketir. Ya, itu, kota itu, Yogjakarta dan lagi-lagi saya teringat dengan Rangga. Huh…“Rangga, yang kamu lakukan ke saya itu, jahat”. *pasang muka dramatis ala Cinta*

CUT!!!!

Oke, forget it sebelum semuanya kembali ke topik Rangga naik taksi yang membosankan. So, penasaran apa yang saja yang aku lakukan di Jogja, berikut adalah hal-hal yang aku lakukan di kota Jogja di kunjunganku yang ke-11 kalinya.

Lonely and The Lonely Expens**t Book

Berbicara tentang traveling maka selalu ada Lonely Planet. Jadi, Lonely Planet ini disebut-sebut sebagai travel guide book pertama di dunia yang ditulis oleh sepasang suami istri bernama Tony dan Mauren Wheeler. Dalam Lonely Planet disebutkan bahwa mereka bertemu di sebuah taman di kota London. Satu tahun setelahnya mereka memutuskan untuk menikah dan melakukan apa yang orang sebut ketidakmungkinan untuk Crossing Europe and Asia overland, all the way to Australia.

Lonely Planet ini udah semacam Kitab Perry bagi anak-anak Teknik Kimia atau bisa disebut Al-Kitabnya traveler. Lonely Planet menyajikan informasi tentang sebuah negara dengan cukup lengkap mulai dari yang basic seperti ibukota, luas wilayah, jumlah penduduk hingga ke bagain terdetail seperti destinasi favorit, makanan khas lokal, transportasi, peta dan lainnya. Penyajiannya yang super lengkap ini kemudian menyebabkan beberapa orang menyebut bahwa kehadiran Lonely Planet telah menurunkan ke-virginan sebuah negara karena telah tertera dengan cukup mendetail.

Mungkin judgement itu bisa saja benar tapi untuk aku pribadi, aku tidak mempermasalahkannya. Aku hanya berpikir bahwa buku ini mempermudah perjalanan untuk tipe orang sepertiku yang lebih menyukai kepastian. Lagian, kita bisa bebas milih juga kan mau kemana, nggak harus ngikut Lonely Planet. Lonely Planet hanya sekedar panduan saja, bukan wajib diikuti.

So, karena aku pencinta travelling buku ini pun tak lepas dari incaranku sejak lama. Sayangnya buku ini sulit sekali diperoleh karena hanya dijual di toko buku tertentu saja. Terakhir aku dapat info bahwa buku ini bisa diperoleh dengan mudah di negara tetangga kita, Malaysia. Sialan sekali bukan? Akhirnya setelah sekian tahun, saya dapat informasi dari sebuah blog bahwa di Jogja ada toko buku impor. Nggak pakai lama saya langsung datengin itu toko buku dan…jeng jeng, serius aku yakin mata aku udah keluar selama beberapa detik setelah melihat satu rak berjudul Travelling and Language yang sebagian besar isinya adalah Lonely Planet. Oh may god, what the hell is it. Serius di beberapa detik pertama aku cuma bisa bengong saking kagumnya. Setelah kesadaranku terbangun aku langsung cek seri buku itu satu persatu dengan berbunga-bunga. Namun, alarm di kepala aku sontak berdering begitu melihat harga bukunya yang seluruhnya diatas 365 ribu rupiah. Perlahan mendung mulai berkumpul di atas kepalaku. Lebih dari itu, amnesia aku langsung berpindah ke mode on walaupun sudut mata ini tak berhenti berkhianat dengan terus melirik tajam ke deretan buku yang menari-nari mengejek. Sialan.

img_20170123_224203
This is really Heaven-Hell for me

Setelah keluar masuk toko beberapa kali dan menghabiskan nyaris 45 menit untuk memilih dua seri Lonely Planet dengan poling tertinggi hingga tangan ini serasa nyaris patah lantaran menahan beban sekian kilogram selama puluhan menit, akhirnya dengan berat hati aku memutuskan untuk memilih Lonely Planet First Edition The World. Untuk harganya sendiri, lupakan saja atau aku akan menyesal seumur hidup. Bahkan saking cukup mahalnya, cover bukunya aja sampai aku simpan. Nggak tega buat buang. And this is it…my lovely book is in my grasp now.*Kiss*

Pameran Lukisan apa Museum?

Setelah selesai mengisi perut yang berteriak nyaring, aku memutuskan untuk mengunjungi benteng Vredeberg. Benteng ini masih berada di Jalan Malioboro dan hanya berjarak beberapa ratus meter saja dari Mall Malioboro dimana toko buku Periplus berada. Saat tiba di gerbang masuk terlihat beberapa rombongan yang telah selesai berkunjung dari Museum Benteng Vredeberg. Setelah termangu selama beberapa saat aku pun berjalan menuju loket penjualan tiket untuk mendapat tiket masuk.

Satu hal yang pertama aku rasakan adalah bersih dan cantik. Hmm…Indonesia berbenah. Aku memutuskan untuk memulai perjalanan dari gedung diorama 2. Sejak pertama memasuki ruangan dengan hawa yang sejuk saya langsung takjub…”ini baru museum”. Ruangan didalam didekorasi dengan sangat futuristik layaknya pameran lukisan. Pencahayaannya yang tepat semakin menonjolkan kesan elegan dari lorong-lorong yang ada di dalam Museum Benteng Vredeberg. Di dalam lorong ini juga terdapat kursi yang bisa digunakan untuk sekedar bersantai ria sambil menikmati diorama-diorama dan beberapa koleksi museum seperti mesin cetak tua yang digunakan untuk mencetak surat kabar di zaman itu.

img_20170123_224545
Lorong-lorong elegan dengan dua turis Tiongkok super berisik. Fakta Terbukti!!

Gedung diorama 2 ini berisi hal-hal seputar perjuangan bangsa Indonesia kala merebut kemerdekannya, khususnya di Yogjakarta. Informasi yang disajikan pun juga cukup lengkap. Selain itu, jika menginginkan informasi lebih detail dipasang beberapa Teve layar sentuh yang berisi informasi lengkap seputar koleksi yang ada di dalam museum. Jika masih kurang, pengelola juga menyediakan aplikasi guide khusus yang bisa di download di playstore, sayangnya aku lupa nama aplikasinya. Cara menggunakannya pun cukup mudah, cukup download aplikasinya-Instal-ambil foto barcode yang telah tersedia di museum-klik dan setelah itu kita bisa memperoleh informasi lengkap dalam berbagai bahasa yang bisa dipilih oleh pengunjung, tetapi karena aku baru tahu jadi aku nggak pakai aplikasi ini.

img_20170123_224629
Mesin cetak koleksi Museum Benteng Vredeberg.

Setelah puas aku menuju ruang diorama 3. Isinya pun tak jauh berbeda dengan diorama 2. Namun, di diorama 3 kita bisa menemukan tempat untuk bermain game yang dibeberapa sisi dindingnya dihiasi oleh lampu merah menyala. Rasanya seperti di game center. Hal itu didukung oleh kelakuan dua mas-mas yang heboh bermain game. Aku sempat mencoba bermain satu game dari dua game yang ada karena aku memang kurang tertarik dengan permainan game.

img_20170123_224433
Game Centre dan dua mas-mas heboh!

Selain itu, di gedung diorama 3 ini juga terdapat ruang gerilya yang sukses membuat aku deg-degan karena dateng sendirian. Aku pun buru-buru keluar dan menuju gedung diorama 4 yang letak bangunanya terpisah dari gedung diorama 2 dan 3.

img_20170123_224337
Gimana nggak deg-degan, manekin-nya seukuran manusia

Sekali lagi isinya pun tak jauh berbeda, dan setekah mengamati selama beberapa saat aku melanjutkannya dengan mengunjungi gedung diorama 1 yang koleksinya hanya seputar kemerdekaan dan zaman penjajahan. Setelah merasa cukup aku memutuskan untuk keluar dan berkeliling menikmati pelataran Benteng Vredeberg yang hijau dan bersih. Aku pun tertarik untuk mengambil beberapa foto untuk kemudian keluar dan melanjutkan acara jalan-jalan di sekitaran Malioboro dan tentu berbelanja.

img_20170123_224255
Red Flight here in Benteng Vredeberg. No photo face allowed. So, this is…

Saat itu cuaca kurang bersahabat, matahari bersinar cerah namun mendung bertengger dengan angkuh diatas langit kota Jogja siang itu. Setelah keluar masuk ke hampir semua toko yang ada, aku memutuskan untuk duduk dibangku taman yang telah disediakan sambil membaca buku ditemani segelas Coffee Caramel dingin.

img_20170123_224701
Lagi-lagi failed Europe…

Setelah satu jam, matahari mulai redup dan hujan gerimis mulai membasahi jalanan di kota Jogja. Tanpa pikir panjang aku memilih untuk segera menuju stasiun. Beberapa detik setelah sampai di dalam stasiun hujan turun dengan lebatnya, namun berhenti tak lama kemudian. Aku bergegas membeli tiket kereta yang akan berangkat sekitar 45 menit lagi. Setelah memperoleh tiket aku memutuskan untuk menunggu di ruang tunggu sambil kembali melanjutkan untuk membaca buku.

img_20170123_224715
Eropa rasa Jogja. Love it!

Entah kenapa setiap datang ke stasiun aku langsung berubah menjadi melankolis, apa ya… uhmm semacam merasa kehilangan…sesuatu seperti itu. Tapi aku bersyukur hal itu hanya terjadi di stasiun saja dan bukan di bandara, bisa ribet urusannya kalau melankolisnya di bandara. Whatever that, setelah menunggu selama beberapa saat kereta pun datang dan aku bersiap kembali ke Solo ditemani gerimis yang sesekali turun juga obrolan lirih dua bapak yang sibuk mengkritisi birokrasi di negeri ini. Datang disambut hujan, pulang pun diantar hujan. See you Jogja.

QueenDya

Ps: By the way aku nggak ketemu mas-mas ganteng yang kemarin. Sayang sekali, imajinasi liar aku tidak diridhoi Tuhan ternyata.

Apa Maskapaimu?

Ketika sesuatu dimulai dari hal bernama tema. Ya, hampir segala hal dimulai dari tema, sebuah acara dimulai dari tema, tulisan pun dimulai dari tema, seni juga dan bahkan sebuah negara pun memiliki temanya sendiri. Seperti Indonesia yang membawa dasar/tema Pancasila untuk menentukan arah langkah kemana bangsa ini akan dibawa. Tema adalah kompas penunjuk arah kemana sebuah karya/ institusi akan dibawa berkenaan dengan perannya sebagai bagian dari kehidupan sosial dan pergaulan global.

Ya, benar dan begitu pun manusia. Tidakkah kita juga harus memiliki tema hidup kita? Jujur aku baru menyadarinya 2 hari yang lalu ketika aku berjumpa dengan Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, Ph.D. Beliau merupakan orang Indonesia pertama yang berhasil menjadi guru besar di Chiba University, Japan. Saat itu beliau mengatakan, buatlah tema dalam hidupmu, cukup satu, contohnya seperti saya yang ingin membuat satelit dan pesawat. Dan itulah tema hidup saya yang akan menjadi pedoman saya dalam memilih langkah saya ke depan. Ya, bagi aku perkataan beliau adalah kabar buruk sekaligus kabar baik. Kabar buruknya adalah aku telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku, sedang kabar baiknya aku mendapat jawaban itu hari ini. Jawaban bahwa aku telah melakukan kesalahan yang bahkan diri aku sendiri tak bisa memaafkannya, mungkin. Hal itu bukan berarti aku tidak memiliki tema dalam hidupku, aku memilikinya tapi aku nggak menyadari jika aku telah keluar jauh dari tema yang telah aku pilih. Aku merasa aku baru saja membuat liku-liku sulit dalam Road Map-ku yang sebenarnya mudah. Meskipun sebuah tantangan ada, tetapi nggak akan sampai demikian jauh jika aku menyadari tema hidupku lebih awal.

Ini evaluasi terbesar aku. Entah apa yang ada dipikiran aku hari itu, tetapi yang pasti aku telah terjatuh dalam stereotip masyarakat tanpa aku sadari. Like this is our pride if we choose this, maybe. Wah, aku tidak percaya telah melakukannya. I know I make a big mistake and the problem is on me, not the other people. Only me. But it’s okay, I will learn from this. I have much time. I just need to go back to my road maps and do what I need to do. I learn so many thing this time and I will change anything now.

Ya, aku memilih jurusan yang salah dan mungkin sangat salah. Satu-satunya kebenaran atas pilihanku adalah why not to learn anything. I like rainbow or something full colour. Intinya aku menyukai kreasi dalam sesuatu hal ketimbang itu-itu saja. Aku nggak suka rutinitas karena aku menyukai sesuatu yang dinamis. Jika orang lain pusing dengan culture shock maka aku sangat menikmati perasaan itu. Kenapa tidak, setiap tempat, setiap bangsa dan setiap negara akan memiliki temanya masing-masing. Segalanya memang berbeda. Bukankah akan sangat membosankan jika semua terlihat sama saja. Kalau begitu travelling nggak perlu donk. Apa sih yang orang cari dari traveling keliling dunia selain sebuah fakta perbedaan antara negara kita dengan negara lainnya. Jawabnnya tidak ada, perbedaan keunikan itulah yang mereka cari.

Jadi, pesan aku untuk kalian yang sebentar lagi akan memasuki bangku perkuliahan, pikirkan dengan baik pilihan kalian. Jangan sampai salah jurusan meskipun kita menyepakati bahwa tidak apa untuk melakukannya dan menciptakan ragam warna baru dalam hidup kita. Sekali lagi, jangan sampai kalian salah karena sudah ada aku yang salah disini. So, kalian hanya perlu belajar dari kesalahan itu. Sumber daya waktu, jangan sampai kita rugi dan menghambur-hamburkannya. We are not only on eighteen. We must getting old. If you make a mistake first, then you need much time to start again. Pilih tema dalam hidup kalian. Jika tidak tahu, cari terus sampai kalian mendapatkannya. Contohnya aku memilih tema The happy world. Itu bagaimana aku menyebut dunia yang aku inginkan. Aku bukan jenis orang yang linier jadi aku tidak bisa memilih satu hal saja, maka dari itu aku merangkumnya menjadi hal yang aku sebut sebagai The happy world. So, remember one thing, to select the best and reliable airline before flying because we had to fly safely to the destination. Turbulence may be there, but if we choose the right airline, then it will not be too great turbulence felt. Let’s fly…B1A4 *Eh

Dya

Ps: Kemarin di seminar setelah beliau memperkenalkan diri teman aku bilang gini “Berarti bapaknya nggak pernah kuliah di Indonesia ya?”. Terus aku jawab aja “Iya, makannya bapaknya keren, nggak pake keracuan sistem dalam negeri sih”.

FTD Chapter 1: Sebenarnya AADC 2 (?)

Yohaengeul Sijakhada…

Tidak pernah ada hal yang istimewa tentang Jogja sebetulnya, bagi aku. Yah, meskipun daerah itu biasa dijuluki Daerah Istimewa Yogjakarta, rasa-rasanya tetap tidak mengubah klaim itu hingga hari ini. Namun, hebatnya meski tanpa keistimewaan, kota ini setidaknya telah aku kunjungi sebanyak 10 kali. Wow, angka yang cukup fantastis, mengingat tak ada hal spesial pun di kota itu. Satu-satunya hal yang membuat kota ini akhirnya sedikit memenangkan hati aku adalah karena AADC 2. Okay! mari kita sepakati bahwa itu benar-benar klise, tapi film itu finally memberi sedikit poin keistimewaan untuk Yogjakarta.

Tahukah, ada beberapa hal yang selalu membuatku iri. Hal yang menempati posisi pertama tentulah Eropa, tapi tentu bukan itu yang akan kita bicarakan sekarang karena kita akan membicarakan hal yang menempati posisi kedua yakni Korea Selatan. Hmm…Yeoksi, addictive country. Kita bertetangga cukup dekat, tapi bahkan kalian masih terlalu membuat iri. Ya, bagaimana pun mereka terlalu menakjubkan. Saat menonton drama-drama korea atau acara-acara korea lainnya hal yang selalu aku amati adalah bagaimana kemudian mereka memperkenalkan budaya mereka dengan sangat apik. Ck, bahkan sekedar kebiasaan memakan ramyun saja bisa sebegitu addictive-nya. Micheoseo geuchi? Ah, geundae, aku pikir sekarang kita tidak perlu iri lagi karena salah satu film Indonesia akhirnya melakukannya dengan sangat baik. I give big appreciation. Aku selalu berharap akan momen ini dimana kita bisa menunjukkan betapa chic-nya budaya di negara kita dan membuatnya disukai dunia, dan AADC 2 sukses melakukannya. Mereka mengambarkan tradisi di Jogja dengan sangat mengesankan. Saya yakin kalian juga jatuh cinta. Adegan ketika mereka makan gudeg, jalan-jalan di sekitaran Jogja seperti Ratu Boko, Puthuk Setumbu dan cafe-cafe tradisional, hingga adegan ketika Rangga naik taksi di sebuah perempatan depan Stasiun Tugu. Wah, kita bisa sekeren Korea juga loh.

Okay! mari kita lupakan Rangga sejenak karena kita akan mulai berjalan-jalan di Jogja, dengan aku tentunya dan bukan Rangga. Walaupun sih ya, aku berharap keliling Jogjanya sama Rangga, kemudian kita akan berwisata ke Ratu Boko dan bercengkerama seputar pemilu 2016 silam. Hmm…Kecewa nggak?

This is not Pompeii

Dari sekian banyak tempat yang aku kunjungi di Jogja sebelumnya, Pulo Kenanga bukan salah satunya, maka dari itu aku memutuskan untuk mengunjunginya. Pulo kenanga ini masih termasuk dalam kompleks Tamansasri. Hal pertama yang yang aku pikirkan sesampainya di sana adalah tempat ini nyaris seperti Pompeii. Oh, yang belum tahu, Pompeii itu merupakan sebuah reruntuhan kuno yang terletak di negara Italia. Reruntuhan kota itu berada di lereng gunung berapi. Kota itu dulunya adalah tempat dimana Sex adalah hal yang sangat di agung-agungkan. Gilanya alat kelamin pria dijadikan sebagai ornamen penghias dinding bangunan. Bukan aslinya tentunya, hanya visualnya saja. Berdasarkan data para arkeolog yang meneliti tempat itu, kota itu hancur karena ledakan gunung berapi. Namun, sebelum bencana itu terjadi kota itu merupakan salah satu kota dengan peradaban yang sangat unggul di zamannya. Mereka adalah penduduk yang sangat tahu akan keindahan tata ruang. Mereka bahkan telah memiliki sebuah sauna yang bisa dikatakan sangat modern di zaman itu. Reruntuhan kota itu sempat ditutup selama beberapa puluh tahun setelah ditemukan lantaran pemerintah Italia merasa itu hal yang cukup memalukan untuk di ekspos ke publik. Bagaimana tidak, saat pertama kali ditemukan dan melakukan penggalian para arkeolog menemukan hal yang membuat mereka tercengang. Ya, mereka banyak menemukan pasangan yang sedang melakukan hubungan sex saat lava meluluhlantahkan kota cantik itu. Para korban ini masih dalam keadaan utuh karena terawetkan secara alami akibat abu gunung berapi. Namun, finally tempat itu dibuka sebagai tempat wisata oleh pemerintah Italia walaupun menurut kabar yang beredar, ada beberpa ruangan yang tidak bisa diakses oleh pengunjung karena beberapa alasan.

img_20170109_062245
Hal sederhana yang mahalnya bukan main di Indonesia. Reading Everywhere comfortably.

Okay! aku berbicara terlalu banyak tentang Pompeii. By the way reruntuhan Pulo Kenanga ini memiliki beberapa kesamaan dengan Pompeii, khususnya di bagian temboknya yang berwarna kemerahan. Aku belum bisa memastikan apakah kedua tempat itu dibangun dengan material yang sama atau tidak, tetapi kedua bangunan itu terlihat sama secara visual. Selain itu, langit-langit reruntuhan Pulo Kenanga juga serupa dengan Pompeii. Pulo Kenanga sendiri merupakan tempat peristirahatan sultan dan tempat penyelenggaraan pertunjukan seni.

Saat sedang sibuk mengeksplor Pulo Kenanga kami berjumpa dengan seorang bapak yang secara sukrela menawari kami untuk memotret. Sedikit meragukan ya. Takutnya bapak ini meminta bayaran atau bagaimana, tetapi tidak ternyata. Bapak ini juga sukses membuat aku dan teman perjalananku nyaris seperti model. Kami bahkan berusaha untuk menghindar, tetapi bapak ini tidak mau menyerah juga dan yah kami menjadi boneka percobaannya. But it’s okay, it is really fun.

Bapak yang Dirindukan

Tempat kedua yang kami kunjungi adalah Tamansari atau yang biasa disebut water castle karena tempat ini merupakan tempat pemandian keluarga kerajaan dan abdi dalem. Tempat ini sedikit sulit untuk ditemukan karena berada di belakang pasar tradisional dan terapit perumahan penduduk. Lucunya, entah karena pasarnya yang terlalu terkenal atau bagaimana, palang nama yang utama adalah nama pasar, sedang palang penunjuk Tamansari dibuat sekedarnya saja, kecil dan sedikit tersembunyi. Akhirnya setelah berjalan selama 15 menitan dari Pulo Kenanga kami berhasil menemukan tempat wisata ini. Tamansari memiliki pemandangan yang sangat cantik. Aku bahkan bisa merasakan kekhasan lokal di tempat itu. Air kolam yang berwarna turqoise jernih semakin menguatkan betapa cantiknya tempat ini. Kompleks Tamansari terdiri atas Gedung Gapura Hageng yang sekilas terlihat seperti Casa Duomo di Italia, Gedong Lopak-Lopak, Pasiraman Umbul Binangun, Gedong Sekawan, Gedong Gapura Panggung, Gedong Temanten, Gedong Pengunjukan, Gerbang Kenari, Gerbang Taman Umbulsari, Pasarean Ledoksari, Gedong Madaran, Pasiraman Umbulsari, Gedong Blawong, Gedong Garjitawati, Gedong Carik, Pongangan atau Dermaga Peksiberi, Pongangan Timur, Gerbang Sumur Gumuling, Sumur Gumuling, Pulo Panembung, dan terakhir Pulo Kenanga.

img_20170109_062118
Photo take by bapak yang dirindukan. Thank you. @PuloKenanga

Kecantikan tempat ini mengundang banyak pengunjung untuk berfoto ria. Saya tidak terlalu tertarik, tapi foto di tempat ini tentu akan sangat mengesankan. Namun apa daya kemampuan mometret kami yang buruk dan pengujung yang kian membludak membuat rencana tersebut gagal. Ah, di situasi ini aku benar-benar merindukan bapak tukang foto tadi. Andai beliau ada.

Sejauh pengamatanku tempat wisata ini cukup terawat dan asri, akan tetapi sayang sekali tempat ini penuh dengan vandalisme di beberapa sisi bangunannya. Entahlah siapa tangan-tangan tidak bertanggung jawab itu, sangat disayangkan. Tidak hanya vandalisme saja, aku bahkan sempat melihat beberapa pengunjung membuang puntung rokok di pot-pot besar yang berisi bunga. Ah, Indonesia.

Flashback to My Childhood Memorise

img_20170109_062945
Monjali Childhood memorise. TT pose

Salah satu memori yang cukup berkesan tentang Jogja adalah perjalananku mengunjungi Monjali (Museum Jogja Kembali) belasan tahun silam. Ya, kalian mungkin berpikir museum doank, bagi kalian iya, tetapi bagiku lebih dari itu. Monjali adalah saksi bisu bagaimana bundaku tercinta mulai mengenalkan travelling padaku saat itu hingga kemudian membuatku sangat mencintainya di kemudian hari. Mengunjungi Monjali adalah momen yang sangat berkesan. Jika dulu aku masih erat menggenggam tangan eomma, mengikutinya kemanapun, dan bertanya ini itu, tetapi sekarang tidak lagi karena kali ini aku berjalan dengan kakiku sendiri. Malu kalau harus merengek ke eomma kan ya. Tapi itu momen yang selalu ingin aku ulangi, bermanja-manja secara merdeka. Kalau sekarang kan pakek mikir, aduh apa kabar image. Dulu sih bodo amat, nangis di depan umum pun rasanya tak malu.

Monjali sendiri dibangun untuk mengenang peristiwa serangan I Maret di Yogjakarta oleh pasukan Belanda saat Agresi Militer Belanda II. Monjali terdiri atas 4 museum dan gedung sebaguna di lantai 1, gedung Diorama di lantai 2 dan gedung tenang di lantai 3. Dari semua tempat, Museum tiga dan gedung Diorama adalah yang paling berkesan. Masih ingat banget dulu gimana takjubnya aku melihat visualisasi saat serangan 1 Maret yang tampak sangat nyata. Kemudian bunda yang akan menjelaskan satu persatu peristiwa yang digambarkan di sana. Ah, manisnya. Bogoshipta.

Failed Europe dan Bumi Manusia

img_20170109_061636
Me and the failed europe-TT

Siapa sih yang tak tahu Jalan Malioboro. Rasa-rasanya tidak ada. Malioboro berubah cukup banyak dibanding terakhir kali aku mengunjunginya beberapa bulan silam, Ini yang aku suka dari negara berkembang. Eropa yang notabene di dominasi negara-negara maju tak akan berubah banyak. Salah satu cotohnya adalah Jerman. Aku membaca banyak buku travelling tentang Jerman. Disalah satu buku, sang penulis mengunjungi Jerman sebelum Tembok Berlin diruntuhkan yakni sekitar tahun 1965. Namun, bahkan itu tidak berbeda jauh dengan buku travel yang aku baca yang mana penulisnya mengunjungi Jerman baru di tahun 2014 lalu. Ya, negara maju tak akan banyak berubah, sangat berbeda dengan negara berkembang. Nah, di Jalan Malioboro sekarang banyak ditambahkan bangku-bangku taman yang cantik. Di beberapa titik terlihat pohon yang baru saja di tanam dan masih di lingkupi pagar besi. Tata letak yang lazim di jumpai di Eropa. Karena cantiknya itu aku tertarik untuk mengambil beberapa foto, tetapi karena waktu yang sangat terbatas, aku pun melewatkannya begitu saja. Failed Europe.

Tempat yang aku tuju selanjutnya adalah sebuah pusat penjualan buku baik baru maupun tidak. Koleksi toko-toko di kompleks ini cukup lengkap, sayangnya penataannya yang berantakan menyulitkan mata untuk menemukan buku yang kita inginkan. But aku dapat buku yang aku mau. Buku ini sangat berkesan untuk aku, Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Ya, si sastrawan itu. Finally aku dapat kesempatan juga untuk membaca Sastra Indonesia dan tentu menambahkannya dalam daftar koleksi. Buku-buku yang dijual disini memiliki harga yang miring dibandingkan dengan toko buku karena cetakannya terkadang juga jauh lebih buruk. So, sangat disarankan untuk berhati-hati saat memilihnya.

Mengingat waktu yang semakin mepet, kami pun harus berlarian keliling Malioboro karena seorang temanku masih harus membeli beberapa souvenir dan tentunya beberapa makanan karena tenaga kami terkuras habis untuk berlari-lari mengejar jadwal kereta. Sudah tak terhitung berapa kali kami nyaris atau bahkan menabrak orang yang sibuk berlalu lalang di sekitar Malioboro untuk menikmati sore yang diselingi gerimis dan lampu kota yang berpendar cantik. Boro-boro jalan santai ala-ala Walkin’nya Super Junior atau Cherry Blossemnya Busker-Busker. Huh yang ada lari-larian ala film India juga iya. Ck entahlah mungkin kita terlalu banyak nonton film India dulu.

Confirmed: Super Junior Walkin’ soundtrack Failed! Now Playing-BTS Run

Meet The Handsome

So, setelah berlarian untuk mengejar jadwal kereta yang tinggal 30 menit sebelum jam keberangkatan, akhirnya kami berhasil duduk dengan manis 15 menit sebelum kereta meninggalkan Yogjakarta. Tak ada hal yang kami lakukan selain tertawa membodohi kegilaan kami karena di tengah-tengah pelarian aku masih saja terpaku dengan satu adegan di film AADC 2 “Disini rangga naik taksi petang itu shasa” *LOL*. Jadi, malam itu kami berhasil kembali ke Solo dengan selamat ditemani sebungkus nasi gudeg yang membuat penumpang lain memalingkan muka ingin. Tapi tunggu dulu, kita belum akan berakhir. Seperti yang banyak orang katakan “ending is the best part”. Akhirnya aku berdamai dengan kutipan konyol itu lantaran saat perjalanan pulang, we meet the handsome boy. He works in the train, saat itu dia bertugas memeriksa tiket kami dengan wajah ramah, senyuman manis dan ucapan terima kasih. Damn hell, he so handsome and I know his name but of course I can’t tell you that. You know, we need respect to his privation, right?

Okay! Let’s stop here and see you in the next vacation. Cherioo.

QueenDya

Ps: Hai long time no see. I’m little busy so I can’t post anything. By the way ini artikel pertama aku di 2017 dan tentu corner baru aku FTD (Fly to Wonderland). Yeayy, I’m really happy now. So, I hope you will happy too. Also Shindong Oppa, Sungmin Oppa welcome back. We miss you so much. It is really nice to see you again. Of course I will waiting for Super Junior comeback this year. Please make a good song because I will fly to wonderland at the same time. You know, I need like OST. Hahaha okay, but I can’t make it by my self. So, I will waiting for your comeback. See you. ELF anticipated!