Buliran air mata, Ironi di Balik Tameng Agama, dan Rancuan Hati di Negeri Saudi Arabia

Sampai hari ini saya mungkin sudah cukup kebal ketika mendengar berbagai jenis hinaan tentang negara saya. Saya belum pernah mengalaminya secara langsung, tetapi puluhan buku baik travel maupun non-travel telah mewakili mata saya melihat dunia. Tentu saya belum akan puas untuk sekedar tahu melalui buku, saya ingin suatu hari nanti saya bisa cross cek dengan mata saya sendiri tentang kebenaran yang disebutkan dalam buku-buku itu.

Saya adalah tipe orang yang kurang menyukai rutinitas terkecuali tentang agama, itu hal yang berbeda. Saya seorang muslim dan bagi saya nggak ada masalah kalau saya harus melakukan segala rutinitas dalam agama saya seperti sholat lima waktu dan membaca Al-Qur’an setiap hari. Tetapi akan menjadi masalah jika konteksnya tentang keseharian saya di luar agama tadi. Saya cukup cepat bosan, walaupun di beberapa situasi saya bisa tahan seminggu tanpa keluar dari kos dan bergelung dengan kesendirian, saya tidak masalah karena bagi saya segala hal bisa didapatkan dimanapun termasuk di kamar kos sekalipun. Selama saya punya mata dan kesadaran diri, saya bisa mempelajari apapun yang saya inginkan. Ketika semua orang hampir mati bosan di dalam kos selama satu minggu, saya bisa saja kekurangan waktu saking banyaknya hal yang ingin saya tahu dan pelajari dalam satu waktu. Gimana saya akan bosan jika saya mempunyai ratusan hal yang ingin saya lakukan dalam satu minggu. Fisik saya mungkin belum pernah kemana, tapi pemikiran saya telah sampai di ujung dunia. Membaca bagi saya adalah jembatan melihat dunia tanpa batas dan kelelahan fisik. Jika belum bisa kesana tak apalah sekedar duduk diam membaca.

Nah, hari ini kebetulan sekali saya sedang cukup bosan, tapi saya bahkan nggak ingin menyentuh buku persiapan untuk ujian esok harinya demi membunuh waktu, maka dari itu saya punya program mix and match hari ini. Program ini berbentuk membaca buku dengan tiga genre berbeda serta bersetting di tiga negara berbeda pula, mulai dari hingar bingar yang bersanding cantik dengan alunan lembut musik klasik di San Fransisco, jeritan hati TKI di Saudi hingga manisnya senyum gula ala oppa-oppa di Drama Korea. Ya, semuanya berpadu menjadi satu yang kemudian mengajarkan saya bahwa dunia lebih luas dari yang terkira, dan lebih beragam dari yang paling beragam, banyak sekali keberagaman yang membuat saya mendadak stroke karena culture shock. Berawal dari sini saya ingin membagi cerita sekaligus merekomendasikan buku yang saya harapkan bisa membuka mata kita bersama.

Arab Saudi, apa yang terpikirkan tentang Arab Saudi hanyalah tentang kesucian ka’bah, cerita pilu para TKI hingga ironi-ironi dibalik etalase kaca hukum islami. Semua terasa indah dan benar dari kejauhan, tetapi siapa yang tahu bahwa dibalik kesucian itu terhampar cerita-cerita yang menohok urat nadi.

Pertama, saya ingin ingin memberikan apresiasi untuk penulis buku “Kedai 1001 Mimpi”, mas Vabyo yang telah mau bersusah payah menjadi TKI demi sebuah misi traveling yang berujung membongkar seribu ironi di tanah Saudi. Dan ketika saya berkaca hari ini, saya belum yakin akan seberani anda mengambil resiko demi sebuah tulisan dan rasa penasaran. Saat saya mendengar dari berbagai buku tentang komentar-komentar warga negara asing tentang Indonesia seperti “Indonesia, nama negara itu aneh, dimana itu?”, “Ah, saya pernah ke Jakarta, macet dan kotor sekali”, “Ah, Indonesia, there is so many housemaid from Indonesia here”, atau juga “Where do you come from? Indonesia *tiba-tiba si tukang nanya langsung joget ala-ala Shah Rukh Khan dan Kajol Devgan * Indonesia woy Indonesia, bukan India”. Okay! saya anggap maklum akan kekhilafan mereka semua karena memang cuma di Indonesia aja kita diajarkan nama-nama dan ibukota negara di dunia. Saya paham sekali mereka nggak pernah mendapat pelajaran geografi, sampai nggak bisa bedain mana India mana Indonesia atau mana Swiss dan mana Swedia. Jadi, saya punya seribu toleransi untuk itu, tetapi lain ceritanya jika negara saya dikatakan negara dimana mereka bisa menemukan the beautiful bit*h with a cheaper price. Itu serasa tersambar gledek di malam berbintang guys. Saya masih cukup baik-baik saja ketika mereka mengatakan negara saya miskin, berpenduduk bodoh, berkasta rendah, dan penyuplai b**u. Namun, dikatakan negara penyedia pelacur harga miring itu bagi saya bukan lagi keterlaluan tapi benar-benar tak termaafkan lagi. Saya perempuan dan saya orang Indonesia, saya merasa harga diri saya terinjak tak berbentuk. Ini saya cuma membaca dari buku yang di tulis mas Vabyo saja, kalau saya yang mendengar langsung dengan telinga sendiri mungkin saya nggak disini lagi, tapi berubah status menjadi penghuni abadi Rumah Sakit Jiwa.

Membaca cerita-cerita mas Vabyo selama menjadi TKI di Arab Saudi membuat saya menangis rasa darah campur marah extra lucu. Ini kenapa jadi semacam pesen hot latte, with two shots, one decaf, other regular, non fat miilk, no foam ala orang Saudi yang begitu minta di ulangi tiba-tiba jadi lupa abis ngomong apa tadi *Nah, ketahuan kan sok-nya*. Dari buku ini saya juga mengetahui beberapa tabir gelap Saudi seperti pria menggoda pria, kumpulan perempuan j****g hobi ‘nyepi’, pemisahan gender yang ambigu, cerita TKI diperkosa majikan hingga hal-hal lucu semacam pengunjung Coffeshop tempat mas Vabyo bekerja yang beragam seperti seorang mbk-mbk Saudi yang pesan satu minuman dingin dan satu minuman panas. Berhubung kita berpikir simple kalau satu diaksih label panas udah pasti yang satu dingin dan lagi bisa dirasain juga. Tetapi konyolnya, itu mbk-mbk malah nyolot dan marah-marah ke mas Vabyo karena nggak kasih label. Mas Vabyo sampai bilang gini orang buta huruf sama buta warna sih saya sudah lihat, kalau buta suhu, baru aja tahu *LOL*. Contoh lainnya yang lebih heboh adalah tentang segerombolan keluarga tolol konyol. Berikut kutipan yang saya ambil dari buku “Kedai 1001 Mimpi: 368-369”.

***

Ceritanya segerombolan sekeluarga datang membawa laptop masing-masing. Keluarga yang dimaksud disini terdiri dari seorang bapak, tiga wanita dan 9 anak kecil. Anak-anak kecil ini mulai berulah dengan dengan memanjat-manjat lemari pajang, ada yang loncat-loncat di meja bar, ada yang saling lempar kemasan biji kopi. Sebalnya, orang tua tampak tak peduli sama sekali. Mereka sibuk memelototi laptop mereka masing-masing.

Dan petaka pun datang…

“Katanya WIFI gratis? Mana ini gak nyambung-nyambung?!” tanya salah satu anak tertuanya.

Aku segera memeriksa laptop mereka satu per satu. Ah, ternyata mereka belum mengaktifkan koneksi wireless-nya.

Setelah mereka semua berhasil tersambung ke jaringan wifi, giliran sang Baba (Ayah) membentak-bentakku, “Mana? Mana? Kok gak muncul apa-apa?!?”

“Oooh, silahkan buka dulu web browser-nya,” jawabku setelah melihat layar laptopnya. Lalu salah satu wanita yang mungkin istrinya tak mau kalah vokal. “Apa ini!?” Cuma putih aja?”

“Oh, Madam mau lihat situs apa? Klik alamatnya disitu,” aku menunjuk kolom address di web browser. Lalu mereka saling bergunjing satu sama lain dengan nada-nada beremosi jiwa. Sementara anak-anak kecilnya mulai menangis kebosanan, si anak tertua pun mulai angkat bicara, “Ini terlalu rumit! Bagaimana kita tahu alamat situs yang mau kita lihat?”

Si bapak kembali unjuk rasa, “Kami sudah membeli laptop berteknologi tinggi! Harusnya gampang dioperasikan! Mungkin ini saja kamu yang kurang pengetahuan!!”

DUAR! Hatiku meledak-ledak. Aku benci dituduh bodoh oleh orang goblok.

Aku tertawa serenyah batu neraka, “Teknologi tinggi juga mesti diikuti pengetahuan yang…, ya, seenggaknya memadai. Kalau anda punya SMART PHONE, gak otomatis jadi SMART PEOPLE kan?!”

***

Saya tertawa sampai kehabisan jatah tertawa di hari berikutnya saking bodohnya cerita itu. Benar kata Pandji Pragiwaksono, emang beda antara bodoh sama goblok. Bodoh itu bisa dimusnahkan lewat pendidikan, tetapi goblok…, ya udah, musah aja gitu. Sampai-sampai saya bertanya-tanya, ini yang tolol siapa coba *prihatin tingkat wahid*.

Selain cerita di atas, ada puluhan cerita lain yang lebih gila di dalam buku “Kedai 1001 Mimpi” ini. Jika ingin tahu lebih detail, anda bisa membeli bukunnya. Akan tetapi, dari sekian puluh cerita itu, satu yang pasti, SEBANGSAT-BANGSATNYA negara saya, kami jauh lebih BERADAB. Ya, catat itu! L-E-B-I-H  B-E-R-A-D-A-B.

Dari buku ini saya juga belajar bahwa agama dan budaya itu sangat jauh berbeda. Saya merasa sangat konyol saat mas Vabyo cerita soal komentar-komentar berisi hujatan dari masyarakat Indonesia yang berkunjung ke blog-nya saat dia memposting tulisan pengalamannya selama bekerja di Saudi ini. Bentuk komentarnya beragam, salah satunya ada yang berkomentar gini “Kau jangan berbohong! Selama saya umroh dan naik haji saya tidak pernah mengalami hal yang kau gambarkan di Saudi! Ingatlah dosa!”. Ada juga yang asal bacot macam ini “Kalau ane lihat tulisan-tulisan ente kayaknya punya misi untuk menghancurkan Islam. Semoga ente dimaafkan Allah SWT dan sejuta hujatan lainnya.

Reaksi pertama saya G****K. Mbok ya kalau mau ngomong itu di pikir dulu pakai otak. Situ mikir gak sih. Otak ada buat mikir bukan dianggurin boss *elus dada prihatin*. Kalau ini sih bukan barang baru untuk saya. Saya udah lihat sejuta lainnya, tetapi begini, apa yang kita lakukan inilah yang akan dilihat dan dinilai oleh Dunia Internasional, setidaknya ber-atitude lah. Kalau enggak ya diem aja, nggak usah ngomong sekalian. Warga kita ini hobinya asal hujat, nggak dianalisis dulu, sukur njeplak  kalau katanya orang Jawa. Coba dibiasakan diam sebentar, mencermati, menganalisis baru menilai. Anda yang umroh kan cuma sekian hari doank, nggak ngerasin lagi kerja sama majikan Saudi, tetapi mas Vabyo mengalami itu langsung. Nggak cuma sehari, sebulan, setahun tapi dua tahun. Kalaupun kemudian tidak percaya, gunakan atitude anda dalam berkomentar. Komentar kan nggak sukur njeplak, ada rule-nya, ada tata kramanya. Ikuti koridor, anda ini manusia punya nalar, mbok ya jangan di museumin.

Oh ya, dari buku ini saya juga mendapat jawaban tentang ketidaknyamanan saya saat saat mendengar tentang Arab Saudi. Jika saya boleh sombong, intuisi saya tidak pernah sekalipun salah ketika menilai sebuah negara hingga hari ini, dan saya membuktikan intuisi itu lewat buku ini. Kalau saya sudah mulai membuat daftar black list pasti ada yang tidak beres dengan sesuatu itu. Yang saya takutkan, saya jadi tidak ingin Haji karena hal ini. Saya selalu berpikir bahwa the problem isn’t the place but the people. Untuk Amerika saya sudah bisa menerima sejauh ini, tetapi KAS saya masih mengunci diri. Saya perlu menata hati saya terlebih dahulu.

Terakhir, saya berharap kita sama-sama belajar dari cerita ini. Jadilah manusia yang open minded, ber-atitude dan belajar selalu. Belajar tidak melulu dari sekolah formal, jangan terjebak stereotip, kita bisa belajar dimana pun. Jika anda tak bisa atau belum bisa berkunjung melihat luasnya dunia, maka setidaknya maulah untuk membaca karena ada jutaan ilmu gratis yang bisa kalian dapatkan tanpa perlu berdarah-darah seperti mas Vabyo. Cukup dengan 10.000-100.000 kalian sudah bisa berkunjung ke berbagai negara lewat pengalaman sang penulis. Hidup kita terlampau pendek untuk mengalami semuanya secara langsung. Oleh karena itulah mengapa penulis dan buku itu ada, maka jangan sia-siakan kesempatan emas kalian. Kalau alasan kalian tidak bisa membaca karena tiap membaca ngantuk lah, males lah, ini lah, itu lah. Ya sudah, siap-siap saja berjibaku dengan kebodohan atau malah ketololan.

So, #AyoBukaBukumu #Travelingsebisamu #LuaskanPengetahuanmu #GakDaYangInstanBro

AnDya

Advertisements

12 Comments Add yours

  1. hahaha i can feel your emotion yong wkwkwkwk…

    Like

    1. HYN says:

      Hahaha. Kesel ha. The beautiful bitch with cheap price-nya itu loh membuat otak meradang.

      Like

      1. hahhaha iya emang yong, tapi faktanya juga bilang gitu sih.. tapi emang bikin nggak terima wkwkwkwk

        Like

      2. HYN says:

        We need to change, right? Like make something good to compare it. So, the better thing will catch than the bad thing.

        Like

      3. of course we should… even if it’s hard let’s change

        Like

      4. HYN says:

        I hope we can do something.

        Like

      5. i hope so… let’s make charity event when holiday

        Like

      6. HYN says:

        What kind of charity event do you mean? like what?

        Like

      7. maybe, like collecting old book to donate, or visiting SLB and playing with them, teaching them..

        Like

      8. HYN says:

        That’s good idea but we need a big team and also money to do it.

        Like

      9. yeah sure, i was thinking a lot about the team tho

        Like

      10. HYN says:

        oke. Let’s look later

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s