Buliran air mata, Ironi di Balik Tameng Agama, dan Rancuan Hati di Negeri Saudi Arabia

Sampai hari ini saya mungkin sudah cukup kebal ketika mendengar berbagai jenis hinaan tentang negara saya. Saya belum pernah mengalaminya secara langsung, tetapi puluhan buku baik travel maupun non-travel telah mewakili mata saya melihat dunia. Tentu saya belum akan puas untuk sekedar tahu melalui buku, saya ingin suatu hari nanti saya bisa cross cek dengan mata saya sendiri tentang kebenaran yang disebutkan dalam buku-buku itu.

Saya adalah tipe orang yang kurang menyukai rutinitas terkecuali tentang agama, itu hal yang berbeda. Saya seorang muslim dan bagi saya nggak ada masalah kalau saya harus melakukan segala rutinitas dalam agama saya seperti sholat lima waktu dan membaca Al-Qur’an setiap hari. Tetapi akan menjadi masalah jika konteksnya tentang keseharian saya di luar agama tadi. Saya cukup cepat bosan, walaupun di beberapa situasi saya bisa tahan seminggu tanpa keluar dari kos dan bergelung dengan kesendirian, saya tidak masalah karena bagi saya segala hal bisa didapatkan dimanapun termasuk di kamar kos sekalipun. Selama saya punya mata dan kesadaran diri, saya bisa mempelajari apapun yang saya inginkan. Ketika semua orang hampir mati bosan di dalam kos selama satu minggu, saya bisa saja kekurangan waktu saking banyaknya hal yang ingin saya tahu dan pelajari dalam satu waktu. Gimana saya akan bosan jika saya mempunyai ratusan hal yang ingin saya lakukan dalam satu minggu. Fisik saya mungkin belum pernah kemana, tapi pemikiran saya telah sampai di ujung dunia. Membaca bagi saya adalah jembatan melihat dunia tanpa batas dan kelelahan fisik. Jika belum bisa kesana tak apalah sekedar duduk diam membaca.

Nah, hari ini kebetulan sekali saya sedang cukup bosan, tapi saya bahkan nggak ingin menyentuh buku persiapan untuk ujian esok harinya demi membunuh waktu, maka dari itu saya punya program mix and match hari ini. Program ini berbentuk membaca buku dengan tiga genre berbeda serta bersetting di tiga negara berbeda pula, mulai dari hingar bingar yang bersanding cantik dengan alunan lembut musik klasik di San Fransisco, jeritan hati TKI di Saudi hingga manisnya senyum gula ala oppa-oppa di Drama Korea. Ya, semuanya berpadu menjadi satu yang kemudian mengajarkan saya bahwa dunia lebih luas dari yang terkira, dan lebih beragam dari yang paling beragam, banyak sekali keberagaman yang membuat saya mendadak stroke karena culture shock. Berawal dari sini saya ingin membagi cerita sekaligus merekomendasikan buku yang saya harapkan bisa membuka mata kita bersama.

Arab Saudi, apa yang terpikirkan tentang Arab Saudi hanyalah tentang kesucian ka’bah, cerita pilu para TKI hingga ironi-ironi dibalik etalase kaca hukum islami. Semua terasa indah dan benar dari kejauhan, tetapi siapa yang tahu bahwa dibalik kesucian itu terhampar cerita-cerita yang menohok urat nadi.

Pertama, saya ingin ingin memberikan apresiasi untuk penulis buku “Kedai 1001 Mimpi”, mas Vabyo yang telah mau bersusah payah menjadi TKI demi sebuah misi traveling yang berujung membongkar seribu ironi di tanah Saudi. Dan ketika saya berkaca hari ini, saya belum yakin akan seberani anda mengambil resiko demi sebuah tulisan dan rasa penasaran. Saat saya mendengar dari berbagai buku tentang komentar-komentar warga negara asing tentang Indonesia seperti “Indonesia, nama negara itu aneh, dimana itu?”, “Ah, saya pernah ke Jakarta, macet dan kotor sekali”, “Ah, Indonesia, there is so many housemaid from Indonesia here”, atau juga “Where do you come from? Indonesia *tiba-tiba si tukang nanya langsung joget ala-ala Shah Rukh Khan dan Kajol Devgan * Indonesia woy Indonesia, bukan India”. Okay! saya anggap maklum akan kekhilafan mereka semua karena memang cuma di Indonesia aja kita diajarkan nama-nama dan ibukota negara di dunia. Saya paham sekali mereka nggak pernah mendapat pelajaran geografi, sampai nggak bisa bedain mana India mana Indonesia atau mana Swiss dan mana Swedia. Jadi, saya punya seribu toleransi untuk itu, tetapi lain ceritanya jika negara saya dikatakan negara dimana mereka bisa menemukan the beautiful bit*h with a cheaper price. Itu serasa tersambar gledek di malam berbintang guys. Saya masih cukup baik-baik saja ketika mereka mengatakan negara saya miskin, berpenduduk bodoh, berkasta rendah, dan penyuplai b**u. Namun, dikatakan negara penyedia pelacur harga miring itu bagi saya bukan lagi keterlaluan tapi benar-benar tak termaafkan lagi. Saya perempuan dan saya orang Indonesia, saya merasa harga diri saya terinjak tak berbentuk. Ini saya cuma membaca dari buku yang di tulis mas Vabyo saja, kalau saya yang mendengar langsung dengan telinga sendiri mungkin saya nggak disini lagi, tapi berubah status menjadi penghuni abadi Rumah Sakit Jiwa.

Membaca cerita-cerita mas Vabyo selama menjadi TKI di Arab Saudi membuat saya menangis rasa darah campur marah extra lucu. Ini kenapa jadi semacam pesen hot latte, with two shots, one decaf, other regular, non fat miilk, no foam ala orang Saudi yang begitu minta di ulangi tiba-tiba jadi lupa abis ngomong apa tadi *Nah, ketahuan kan sok-nya*. Dari buku ini saya juga mengetahui beberapa tabir gelap Saudi seperti pria menggoda pria, kumpulan perempuan j****g hobi ‘nyepi’, pemisahan gender yang ambigu, cerita TKI diperkosa majikan hingga hal-hal lucu semacam pengunjung Coffeshop tempat mas Vabyo bekerja yang beragam seperti seorang mbk-mbk Saudi yang pesan satu minuman dingin dan satu minuman panas. Berhubung kita berpikir simple kalau satu diaksih label panas udah pasti yang satu dingin dan lagi bisa dirasain juga. Tetapi konyolnya, itu mbk-mbk malah nyolot dan marah-marah ke mas Vabyo karena nggak kasih label. Mas Vabyo sampai bilang gini orang buta huruf sama buta warna sih saya sudah lihat, kalau buta suhu, baru aja tahu *LOL*. Contoh lainnya yang lebih heboh adalah tentang segerombolan keluarga tolol konyol. Berikut kutipan yang saya ambil dari buku “Kedai 1001 Mimpi: 368-369”.

***

Ceritanya segerombolan sekeluarga datang membawa laptop masing-masing. Keluarga yang dimaksud disini terdiri dari seorang bapak, tiga wanita dan 9 anak kecil. Anak-anak kecil ini mulai berulah dengan dengan memanjat-manjat lemari pajang, ada yang loncat-loncat di meja bar, ada yang saling lempar kemasan biji kopi. Sebalnya, orang tua tampak tak peduli sama sekali. Mereka sibuk memelototi laptop mereka masing-masing.

Dan petaka pun datang…

“Katanya WIFI gratis? Mana ini gak nyambung-nyambung?!” tanya salah satu anak tertuanya.

Aku segera memeriksa laptop mereka satu per satu. Ah, ternyata mereka belum mengaktifkan koneksi wireless-nya.

Setelah mereka semua berhasil tersambung ke jaringan wifi, giliran sang Baba (Ayah) membentak-bentakku, “Mana? Mana? Kok gak muncul apa-apa?!?”

“Oooh, silahkan buka dulu web browser-nya,” jawabku setelah melihat layar laptopnya. Lalu salah satu wanita yang mungkin istrinya tak mau kalah vokal. “Apa ini!?” Cuma putih aja?”

“Oh, Madam mau lihat situs apa? Klik alamatnya disitu,” aku menunjuk kolom address di web browser. Lalu mereka saling bergunjing satu sama lain dengan nada-nada beremosi jiwa. Sementara anak-anak kecilnya mulai menangis kebosanan, si anak tertua pun mulai angkat bicara, “Ini terlalu rumit! Bagaimana kita tahu alamat situs yang mau kita lihat?”

Si bapak kembali unjuk rasa, “Kami sudah membeli laptop berteknologi tinggi! Harusnya gampang dioperasikan! Mungkin ini saja kamu yang kurang pengetahuan!!”

DUAR! Hatiku meledak-ledak. Aku benci dituduh bodoh oleh orang goblok.

Aku tertawa serenyah batu neraka, “Teknologi tinggi juga mesti diikuti pengetahuan yang…, ya, seenggaknya memadai. Kalau anda punya SMART PHONE, gak otomatis jadi SMART PEOPLE kan?!”

***

Saya tertawa sampai kehabisan jatah tertawa di hari berikutnya saking bodohnya cerita itu. Benar kata Pandji Pragiwaksono, emang beda antara bodoh sama goblok. Bodoh itu bisa dimusnahkan lewat pendidikan, tetapi goblok…, ya udah, musah aja gitu. Sampai-sampai saya bertanya-tanya, ini yang tolol siapa coba *prihatin tingkat wahid*.

Selain cerita di atas, ada puluhan cerita lain yang lebih gila di dalam buku “Kedai 1001 Mimpi” ini. Jika ingin tahu lebih detail, anda bisa membeli bukunnya. Akan tetapi, dari sekian puluh cerita itu, satu yang pasti, SEBANGSAT-BANGSATNYA negara saya, kami jauh lebih BERADAB. Ya, catat itu! L-E-B-I-H  B-E-R-A-D-A-B.

Dari buku ini saya juga belajar bahwa agama dan budaya itu sangat jauh berbeda. Saya merasa sangat konyol saat mas Vabyo cerita soal komentar-komentar berisi hujatan dari masyarakat Indonesia yang berkunjung ke blog-nya saat dia memposting tulisan pengalamannya selama bekerja di Saudi ini. Bentuk komentarnya beragam, salah satunya ada yang berkomentar gini “Kau jangan berbohong! Selama saya umroh dan naik haji saya tidak pernah mengalami hal yang kau gambarkan di Saudi! Ingatlah dosa!”. Ada juga yang asal bacot macam ini “Kalau ane lihat tulisan-tulisan ente kayaknya punya misi untuk menghancurkan Islam. Semoga ente dimaafkan Allah SWT dan sejuta hujatan lainnya.

Reaksi pertama saya G****K. Mbok ya kalau mau ngomong itu di pikir dulu pakai otak. Situ mikir gak sih. Otak ada buat mikir bukan dianggurin boss *elus dada prihatin*. Kalau ini sih bukan barang baru untuk saya. Saya udah lihat sejuta lainnya, tetapi begini, apa yang kita lakukan inilah yang akan dilihat dan dinilai oleh Dunia Internasional, setidaknya ber-atitude lah. Kalau enggak ya diem aja, nggak usah ngomong sekalian. Warga kita ini hobinya asal hujat, nggak dianalisis dulu, sukur njeplak  kalau katanya orang Jawa. Coba dibiasakan diam sebentar, mencermati, menganalisis baru menilai. Anda yang umroh kan cuma sekian hari doank, nggak ngerasin lagi kerja sama majikan Saudi, tetapi mas Vabyo mengalami itu langsung. Nggak cuma sehari, sebulan, setahun tapi dua tahun. Kalaupun kemudian tidak percaya, gunakan atitude anda dalam berkomentar. Komentar kan nggak sukur njeplak, ada rule-nya, ada tata kramanya. Ikuti koridor, anda ini manusia punya nalar, mbok ya jangan di museumin.

Oh ya, dari buku ini saya juga mendapat jawaban tentang ketidaknyamanan saya saat saat mendengar tentang Arab Saudi. Jika saya boleh sombong, intuisi saya tidak pernah sekalipun salah ketika menilai sebuah negara hingga hari ini, dan saya membuktikan intuisi itu lewat buku ini. Kalau saya sudah mulai membuat daftar black list pasti ada yang tidak beres dengan sesuatu itu. Yang saya takutkan, saya jadi tidak ingin Haji karena hal ini. Saya selalu berpikir bahwa the problem isn’t the place but the people. Untuk Amerika saya sudah bisa menerima sejauh ini, tetapi KAS saya masih mengunci diri. Saya perlu menata hati saya terlebih dahulu.

Terakhir, saya berharap kita sama-sama belajar dari cerita ini. Jadilah manusia yang open minded, ber-atitude dan belajar selalu. Belajar tidak melulu dari sekolah formal, jangan terjebak stereotip, kita bisa belajar dimana pun. Jika anda tak bisa atau belum bisa berkunjung melihat luasnya dunia, maka setidaknya maulah untuk membaca karena ada jutaan ilmu gratis yang bisa kalian dapatkan tanpa perlu berdarah-darah seperti mas Vabyo. Cukup dengan 10.000-100.000 kalian sudah bisa berkunjung ke berbagai negara lewat pengalaman sang penulis. Hidup kita terlampau pendek untuk mengalami semuanya secara langsung. Oleh karena itulah mengapa penulis dan buku itu ada, maka jangan sia-siakan kesempatan emas kalian. Kalau alasan kalian tidak bisa membaca karena tiap membaca ngantuk lah, males lah, ini lah, itu lah. Ya sudah, siap-siap saja berjibaku dengan kebodohan atau malah ketololan.

So, #AyoBukaBukumu #Travelingsebisamu #LuaskanPengetahuanmu #GakDaYangInstanBro

AnDya

Iklan

“OM TELOLET OM”

Okay! Ini fenomena paling gila yang pernah saya alami. Jadi hari Rabu kemarin tiba-tiba kata “OM TELOLET OM” berada di jajaran Trending Topic World Wide. Nah, saya nggak ngerti juga ini apaan. Yang membuat saya makin syok adalah Yesung Super Junior ikut ngetweet itu, dan tweetnya ada di jajaran teratas. Saking nggak percayanya saya, saya cek itu ada centang birunya nggak. Kan biasanya fans itu suka buat akun yang sama persis sama punya idolnya, takutnya saya salah lihat aja. Dan ternyata setelah saya cek akun twitternya, bener ada postingan itu. Tidak hanya Yesung Super Junior saja, Bambam GOT7 juga membuat postingan yang serupa yang intinya menanyakan itu kata maksudnya apa. Dari sanalah kemudian rasa penasaran saya langsung naik ke permukaan, dan untuk dapet jawaban saya baca itu komentar-komentarnya. Hebatnya nggak ada satu orang pun yang mau ngasih jawaban ketika ditanya apa artinya si kata itu tadi. Karena makin penasaran saya search aja di Google, dan dari situ saya baru nggeh kalau Telolet itu bunyi klakson bus-bus di Indonesia, sedangkan “Om Telolet Om” itu adalah satu kalimat yang ditujukan kepada si supir bus yang berarti meminta supir bus untuk menghidupkan klaksonnya yang unik tadi. *Me: Mental break down*

12
Tweet yang membuat saya mental break down

Jujur, sehabis membaca beberapa berita di berbagai situs tadi, itu dunia saya semacam runtuh gitu saking nggak percayanya saya sama fenomena itu. Om Telolet Om sebenarnya bukan barang baru. Menurut beberapa penelusuran yang aku lakukan di berbagai situs disebutkan bahwa fenomena ini sudah ada sejak lama dan banyak dilakukan anak-anak di wilayah Jawa Timur. Nah loh, jangan-jangan saya juga ikutan lagi, kan saya anak Jatim, Cuma kelupaan aja sekarang. Ya semoga aja enggak, dan lagi faktanya saya justru sangat terganggu dengan bunyi klakson itu karena bikin kaget. Sialnya lagi itu sopir suka bunyiin klakson pas didekat telinga kita saat kita lagi naik motor. Itu jantung serasa mau copot okay, belum lagi kemungkinan kalau kita bisa aja jatuh saking kagetnya. Kan danger banget itu.

13
GOT7 Bambam tweet. See on the top post, he also retweet a news about him self. LOL

Setelah menganalsis beberapa hal, saya pikir fenomena ini bukan suatu hal yang bodoh atau gimana, justru yang saya tangkap poin lucunya itu. Entah karena saya udah sinting dari pagi karena beberapa hal atau memang beneran lucu. Saya nggak tahu juga, tapi yang saya tangkap, ini fenomena memang lucu. Yang membuat hal itu lebih lucu lagi adalah respon teman-teman saya di Twitter. Jadi, komposisi teman twitter saya itu 90% nya adalah orang asing, sedang 10% nya orang Indonesia asli. Berkenaan dengan komposisi teman twitter ini nggak ada maksud diskriminasi atau apapun. Hanya saja gini, orang Indonesia itu hobi upload foto kan, nah saya tipe orang yang nggak tahan sama postingan semacam itu. Oleh karena itulah kenapa kebanyakan teman twitter saya adalah orang asing. Mereka bukan tipe orang yang suka upload foto dan lebih informatif sehingga itu membuat saya lebih nyaman. Saya nggak bermaksud apapun kepada kalian yang suka upload foto, itu teritory kalian, apakah ingin upload atau tidak. Khusus untuk POV saya, saya kurang suka. Kembali ke topik awal, jadi karena kebanyakan teman twitter saya bule, mereka kan pada nggak ngerti ini kata maksudnya apa. Dan seperti yang saya alami, nggak ada satu makhluk pun yang mau ngasih jawaban, kayaknya seneng gitu mereka bikin orang bingung. Konyolnya, itu bule-bule kelihatan frustasi banget dan terus-terusan bikin tweet yang nanyain maksud dari kata-kata tadi. Gimana saya nggak ngakak coba lihat bule-bule frustasi cuma gara-gara hal yang sebenarnya klakson bus daonk. Lama-lama saya nggak tahan juga, dan akhirnya beberapa tweet saya bales dan saya kasih tahu maksud dari kata itu apa. Dan setelah saya jawab, kebanyakan dari mereka cuma like replay saya aja. Mungkin mereka tiba-tiba terserang mental break down kali ya saking nggak percayanya. Entahlah. Jujur nggak pernah sekalipun dalam hidup saya, saya akan mengalami fenomena seperti ini, dimana saya harus jelasin kepada orang-orang asing tadi tentang sebuah topik yang sebenarnya nggak ada penting-pentingnya sama sekali. Biasanya kalau saya chat sama mereka itu untuk hal-hal yang cukup penting saja, misal kalau di blog saya, kadang mereka suka like post saya duluan terus nanti saya bales dengan berkunjung balik ke situs mereka. Dari sana biasanya kita ngobrol tentang beberapa hal, misal soal traveling, motivasi, dan sebagainya. Mereka orang yang friendly ya kebanyakan dan biasanya bisa jadi teman diskusi yang menarik. Belum lagi, sudut pandang mereka terkadang sangat berbeda dengan saya, sehingga kami bisa bertukar pendapat berdasarkan sudut pandang masing-masing. Saya kira itu menarik dan educatif makannya saya nggak pernah sekalipun terpikir kalau suatu hari saya harus jelasin ke mereka apa maksudnya “OM TELOLET OM”. Mental Break Down saya pemirsa. mental break down.

11
Vote yang dilakukan oleh salah satu fanbase Kyuhyun Super Junior

Yang lebih membuat lucu lagi adalah komentar dari teman-teman ELF (Fandomnya Super Junior). Ada salah satu akun yang bikin saya ngakak karena di tweetnya Yesung dia nge-replay gini “Jgn Ikutan ngereceh pls”. Selain itu, ada suatu fanbase Super Junior yang khusus buat Kyuhyun. Mereka ini membuat sebuah vote yang pertanyaannya “If you meet Kyuhyun on the bus, What will you say?” dan jawaban yang menempati posisi teratas adalah…jeng…jeng…”OM TELOLET OM” dengan perolehan angka 61% *Me: Double Mental Break Down*. Please deh, Lu kira Kyuhyun oppa supir bis apa *Elf: Nggak usah jaim, kayak lu votenya nggak itu aja*, *Me: Pura-pura nggak denger, padahal iya. Tuh kan jadi bocorin rahasia saya*. Tapi terlepas dari itu, satu yang saya syukuri adalah Jinyoung B1A4 sama Mark GOT7 masih berada di jalan yang lurus dan nggak ikutan sinting juga. Kalau sampai kemarin mereka ikutan, lihat aja saya unfollow itu akun.

14
Ketika Yesung Oppa sedang khilaf. LOL

Terakhir, setelah saya pikir-pikir lagi fenomena ini bisa saja dijadikan pengalih isu dari berbagai hal rumit yang sedang terjadi di Indonesia. Walaupun kemungkinannya kecil tapi saya pikir mungkin saja. Itu skenario yang biasanya dilakukan negara kita kan. Tapi bisa juga ini murni tren tanpa ada hal yang diusung dibaliknya. Harapan saya tentunya semoga yang benar adalah yang kedua saja. Sekedar kegiatan lucu yang dilakukan masyarakat saja tanpa ada kepentingan dibaliknya. So, ini ceritaku, apa ceritamu. Yang punya pengalaman lebih lucu bisa di share di kolom komentar. Bye.

AnDya

Ps: Yang mau tahu beberapa bunyi klakson kreatifnya supir bus Indonesia, bisa coba berkunjung ke alamat ini https://www.youtube.com/watch?v=cwVj2DrazEw. Dalam video ini klakson supir bus bisa jadi sebuah lagu seperti satu-satu, anak gembala dan lainnya. Yang penasaran silahkan di cek.

Fly to Wonderland

Apa hal paling menarik yang hampir pasti disukai dan dilakukan oleh setiap orang? Berimajinasi. Ya, berimajinasi mungkin terdengar kekanakan dan remeh, tetapi tahukah bahwa dari hal seperti imajinasi itulah kemudian manusia dapat menciptakan banyak hal luar biasa yang mungkin tidak bisa dibayangkan sebelumnya. Misalnya saja pesawat terbang. Pesawat terbang adalah hal yang mustahil dahulu, akan tetapi sekarang menjadi hal yang bermanfaat bagi banyak manusia di bumi. Bagaimana kemudian pesawat itu tercipta? Tak lain dan tak bukan adalah karena manusia bermajinasi tentang bagaimana jika mereka terbang di atas langit. Ya, sesederhana itu saja, tetapi dari sanalah kemudian tercipta apa yang kita sebut hari ini sebagai bagian dari keajaiban.

mg_5553
Town of the Wonderland. Source: http://www.muhtomumble.com

Hari ini aku masih berstatus sebagai mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia. Dan seperti kebanyakan pelajar ataupun mahasiswa, kita biasanya memiliki Dosen favorit, maka begitu pun aku. Ya, aku memiliki satu Dosen yang sangat aku hormati dan tentu termasuk dalam list orang-orang yang aku ingin berikan ucapan terima kasih sebanyak-banyaknya.

Menjadi berbeda adalah suatu hal yang menarik, tetapi terkadang akan ada rasa kesepian karena tak seorang pun yang mungkin bisa memahami jalan pikiranmu. Mereka akan menganggap diri kita aneh karena apa yang kita pikirkan tidak bisa dicerna dengan baik oleh mereka. Dan aku adalah salah satunya. Aku terus berpikir bahwa aku adalah bagian dari mayoritas. Aku berusaha menjadi seseorang yang mungkin bisa mereka terima, tetapi kemudian jika itu yang aku lakukan maka pusat hidupku akan ada di tangan mereka, dan jelas aku tidak menghendaki hal itu. I need to stand as myself allow. Itu yang kemudian aku pilih, maka apa? Yes, you will be a minority and will be alone too. It is okay when you just talk to the small comunity or the bad one is, talk to yourself or your book. Hal itu kemudian terkikis sedikit demi sedikit ketika aku mulai menemukan mereka satu persatu, dan beliau adalah salah satunya. Ya, kami memiliki kegelisahaan yang sama. Aku terus berpikir mungkinkah itu bisa diubah atau justru lari menghindar saja untuk mendapatkannya. Namun, setelah melihat beliau, aku yakin masih ada kemungkinan untuk berubah, meskipun kecil.

grandtourofswitzerland_de
Wonderland Railway. Source: http://www.swissrailways.com

Di salah satu kelas beliau menyampaikan bahwa kalian itu sudah mahasiswa bukan anak Sekolah Dasar lagi. Jadi, yang namanya pembelajaran pun akan berbeda pula. Hari ini bukan lagi zamannya menghafal Pancasila ada berapa dan apa bunyinya, tetapi apa makna dan esensi dari pancasila itu sendiri. Ya, kalian sudah di Perguruan tinggi bukan Sekolah Dasar lagi. Karena itulah kemudian beliau menggunakan sistem belajar analistis dan bukan menghafal. Itu bukan porsi mahasiswa lagi, begitu kata beliau. Karena di usia kita inilah waktu yang sangat tepat untuk berimajinasi. Dan aku membenarkan itu. Ternyata masih ada ya Dosen yang mau berpikir hal semacam ini dan bukan terfokus pada pembenaran atas sudut pandang mereka sendiri. Selama menjalani masa perkuliahan, aku lebih banyak menemukan Dosen yang terus berteori dalam mengajar, ujian menghafal, dan tidak mau dibantah, maka bertemu beliau adalah surprise terbesar yang tidak bisa aku deskripsikan bagaimana senangnya.

Beberapa hari yang lalu adalah pertemuan terakhir kami di kelas karena kami akan segera menjalani ujian akhir. Hari itu beliau bercerita bahwa beliau baru saja membaca sebuah berita di salah satu portal berita. Dalam berita itu dikatakan bahwa anak-anak Indonesia belajar sangat banyak, akan tetapi ketika dinilai lewat tiga aspek yakni sains, ide dan kebiasaan membaca, kita kalah jauh ternyata dibanding negara lain. Hal itu dikarenakan kita terfokus pada kegiatan menghafal dan bukan analitis sehingga kita tidak mampu untuk berimajinasi. Akibatnya kita tidak bisa menghasilkan ide-ide cemerlang. Detik itu aku merasa de javu karena aku pernah membaca berita serupa. Nah, untuk memastikan kebenaran tersebut, aku cek langsung ke portal beritanya dan memang dituliskan demikian. Okay! Beliau mungkin  Dosen favorit aku, tetapi tidak berarti kemudian aku akan percaya segala hal yang beliau katakan. Tidak ada yang namanya kepercayaan mutlak, karena seperti kita semua tahu bahwa kepercayaan mutlak hanyalah untuk Allah semata.

Jujur, setiap kali membahas perihal pendidikan di Indonesia aku selalu merasa gemas bukan kepalang. Apa sih maunya? Mereka itu menganut siapa sih? Nggak ngerti lagi, sebenarnya mau dibawa kemana ini? Saking gemasnya, Pandji Pragiwaksono sampai membawa topik ini di tur dunianya yang bertajuk “Mesakke Bangsaku”. Mesakke itu artinya kasihan, Kasihan sekali negara ini. Di turnya dia bercerita bahwa suatu hari dia mengikuti ujian untuk mata pelajaran IPA. Nah, ada salah satu soal yang pertanyaannya “Ada berapa planet di tata surya?”. Soal ini bermodel multiple choice. Lupa kan dia ada berapa, maklum nggak menghafal. Akhirnya dia jawab aja ada 12. Salah donk jawabnnya dan oleh gurunya dia semacam dipermalukan gitu karena dari semua siswa dia doank yang salah. Tetapi apa, di kemudian hari dia menyadari bahwa dia tidak bodoh tetapi visioner. Tahu kenapa? Karena saat ini ada klasifikasi planet baru yang disebut planet kerdil dan kemudian pluto yang awalnya keluar masuk lagi. Jadi total planet yang ada di tata surya ada 12. Terus, apa gunanya dulu capek-capek menghafal, sekarang nggak terpakai lagi. Maka dari itu, pendidikan dengan menghafal bukanlah belajar. Catat itu. Bukan belajar okay. Bukan belajar. Hal itu selaras dengan artikel yang di tulis oleh Hasanudin Abdurakhman yang merupakan Doktor di bidang fisika terapan dari Tohoku University, Jepang.

Sebagai perbandingan aku akan memberi beberapa contoh, tetapi sebelum itu aku mau nanya dulu, ada yang sudah pernah menonton filmnya Rudy Habibie? Pasti udah donk. Kan udah lama rilisnya. Nah, di salah satu scene, Habibie sedang semacam berdiskusi dengan beberapa orang. Kemudian salah seorang tokoh dalam film itu menjelaskan tentang kapal selam. Beliau meminta mereka untuk menganalisis tentang alasan mengapa kapal selam yang dibuat saat itu tidak mampu untuk menahan tekanan pada kedalaman 300 meter. Saat itu Habibie berpikir keras, kenapa? Kenapa? kenapa? Hingga suatu hari Habibie sedang merebus sosis yang bentuknya bulat memanjang. Ketika beliau meniriskan sosis itu, beliau mendapati bahwa sosis yang direbusnya retak. Dari sanalah kemudian beliau mendapat jawaban atas masalah si Kapal Selam tadi. Esok harinya beliau datang ke dalam perusahaan membawa bakso berbentuk bulat dan merebusnya dihadapan teman-temannya. Melihat fenomena itu, Habibie menjelaskan bahwa yang menyebabkan keretakan pada kapal selam ketika menyelam pada kedalaman 300 meter adalah bentuknya yang elips. Buktinya adalah sosis dan bakso tadi, dimana ketika direbus sosis yang bentuknya bulat memanjang lebih mudah rusak dibandingkan dengan bakso yang berbentuk bulat. Itu loh yang namanya belajar, bukan menghafal. Dengan berpikir analitis itulah kemudian muncul ide-ide kreatif. Coba sekarang bandingkan, apa yang kamu hasilkan dari menghafal itu?

Seperti itulah bagaimana pendidikan dilaksanakan di negara-negara maju seperti Jerman dan Finlandia. Jika masih tidak percaya karena aku mengambil contoh dari sebuah film kalian bisa mengkonfirmasi langsung kepada mereka yang pernah bersekolah di Jerman. Aku udah buktikan itu karena aku punya dua teman yang pernah bersekolah di Jerman dan memang seperti itulah pendidikan di Jerman.

Kesimpulannya adalah jika apa yang kita harapkan tidak berubah maka ciptakan sendiri lingkungan yang kamu harapkan. Aku melakukan itu dan bisa berjalan dengan baik sejauh ini. Contoh kecilnya adalah dengan menumbuhkan kebiasaan membaca dan menulis. Serius aku selalu punya pengalaman lucu setiap kali berkutat dengan aktivitas satu ini. Entah itu dilirik aneh, dikatai sok rajin atau malah dinasehati. Jadi Setiap kali aku mulai membaca di waktu-waktu luang seperti ketika sedang mengantri misalnya, teman-teman aku selalu heboh mengingatkan untuk berhenti membaca karena menurut mereka itu akan menyita waktuku dan membuatku tidak belajar. Serius, aku ketawa terbahak-bahak setiap kali mendengar pernyataan itu. Aku nggak ngerti kenapa membaca bisa menghabiskan waktu kita. Itu teorinya siapa sih yang mereka anut, tolong dicatat. Bahkan yang lebih buruk ada yang mengatakan bahwa “gila itu orang, menghabiskan sekian belas buku dalam setahun. Nggak kuliah apa dia”. Kalau untuk ini aku nggak cuma ngakak lagi, tapi ketawa sambil guling-guling di lumpur saking konyolnya pernyataan itu dimata aku. Oke! Aku jawab ya. Yang namanya membaca tidak akan membuat kita bodoh, kehabisan waktu, apalagi tidak lulus ujian. Enggak, justru dengan membaca itulah kita bisa menjadi lebih analitis, berpendirian, tidak mudah terprovokasi, tenang dan kreatif dalam menyelesaikan masalah. Serunya lagi, kalian bisa mempelajari suatu ilmu bukan hanya dari satu sudut pandnag saja. Misal kalau yang aku alami, jurusan aku kan Teknik dan aku nggak suka itu. Jangankan membaca buku Teknik, denger namanya aja udah pengen aku kubur dalam-dalam di tanah, apalagi membaca buku-bukunya, beuh…the end of the world itu. So, gimana caranya aku tetap bisa belajar Teknik, tetapi tanpa perlu untuk membaca buku-buku terkutuknya itu? Gampang sekali, karena aku suka sesuatu yang vintage dan rumit-rumit seru gitu, maka aku mempelajarinya lewat buku-buku Filsafat dan Ensiklopedia. Yang nggak pernah baca pasti nggak tahu soal ini. Selain itu, kalian yang nggak terbiasa membaca nggak akan pernah tahu serunya jadi orang yang sering membaca. Kita tidak akan mudah terkejut akan sesuatu. Misal suatu waktu teman kita atau mungkin Dosen kita bercerita tentang ini, itu dan membuat heboh satu kelas, kita mungkin tidak akan terkejut lagi dan malah berpikir “oh, itu. Udah tahu beberapa tahun yang lalu”, “Ehmm…basi”, “nggak seru”, “please kalian baru pada tahu”, “OMG!” dan lainnya. Disaat teman-teman kita baru menghebohkan A, maka kita sudah berpindah dimensi menuju sesuatu yang lebih baru lagi, sehingga kita akan selalu melangkah lebih jauh dibanding mereka. Dan itu adalah poin plus yang akan membedakan kita dengan lainnya. Gimana? Keren nggak? Mau kayak gitu? Nggak ada yang instan bung, harus siap berkomitmen. Jadi, sudah siap berkomitmenkah kamu?

An-Dya

Ps: Actually I’m not in the good mood to write but I have so many idea because I learn anything this month. So, I hope you will be understand what I mean here and of course you can also learn something from this short article.

Now, mengapa judulnya “Fly To Wonderland”? Sebenarnya nggak ada arti khusus, hanya saja aku berpikir bahwa imajinasi itu identik dengan wonderland. Sesuatu yang luar biasa like a great new world and a beautiful place to go. Now I think I found my Wonderland and I hope you will find your wonderland too. That’s why I choose this title. Selain itu, judul ini juga menandai rilisnya (ciee…rilis, udah kayak album aja pakai rilis-rilis segala) corner baru aku di blog yakni “Fly to Wonderland”. Corner ini akan berisi khusus untuk cerita-cerita tentang Traveling yang sudah atau belum aku lakukan. Jika kalian ingat dulu brand (please deh lebay) yang aku pakai kan “One Fine Day” tapi itu terlalu umum, maka sekarang aku menggantinya menjadi “Fly To Wonderland”. Alasan mengapa aku pilih nama “Fly To Wonderland” adalah karena aku menyukai negara-negara dingin yang berada disekitar gunung Alpen seperti Switzerland and Germany juga Scandinavian countries. Selain itu, “Fly To Wonderland” juga lebih match jika disandingkan dengan judul blog aku, “Red Flight: Will Take You to Fly to Wonderland”. So, aku berharap kalian bisa memberikan kritik dan saran untuk tulisan-tulisanku juga blog aku.

Satu lagi, aku punya pengumuman baru bahwa nama pena-ku akan berganti lagi menjadi “An-Dya” dibacanya pakai spell Bahasa Inggris ya. Aku harap aku sudah mantap dengan name pen ini dan tidak akan mengubahnya lagi karena nama pena ini aku ambil dari namaku yang sebenarnya. Special Thanks-nya untuk guru SD aku, temannya mami yang selalu memanggil aku dengan nama ini. Makasih bu sudah memberi aku ide untuk nama pena ini. So, please give us more love and see you in Wonderland!

Recomended song: Jessica -Wonderland and Jessica-Fly

Penggiat Surprise!!

Semua berawal dari kata Literasi. Belum lama ini aku baru saja membaca sebuah buku yang berjudul “Quantum Writing”. Yes,  because I love to read the book. I think it is better if I can write too. So, that’s why I decided to read this book. Dalam buku itu disebutkan bahwa di tahun 2015 kemarin Indonesia sedang menggalakkan Literasi di sekolah-sekolah di Indonesia. Aku nggak tahu pasti bentuk actionnya seperti apa. Apakah berupa bantuan buku misalnya atau lainnya, I don’t know, tapi yang pasti Indonesia sedang menggalakkan progam tersebut.

Berdasarkan data UNESCO tahun 2012, Eropa bisa menghabiskan 25 buku dalam satu tahun. Untuk negara Asia seperti Jepang dan Singapura rata-rata menghabiskan 15 buku dalam setahun, sedang Indonesia…ck…‘ZERO’. Ya, literasi anak-anak Indonesia sangat memprihatinkan. Tidak ada yang namanya budaya membaca, apalagi menulis. Doris Lessing pernah mengatakan bahwa “Menulis, penulis, tidak muncul dari rumah yang tak punya buku”. Maka benar, jangan berharap anak-anak Indonesia bisa menulis kalau mereka saja tak pernah menyentuh buku dalam kesehariannya. Mereka terlalu terlena dengan dunia digital yang sesungguhnya tanpa mereka sadari telah mengikis pendirian mereka sendiri. Kenapa aku katakan mengikis pendirian? Karena seperti yang dikatakan duta baca Indonesia, Najwa Shihab bahwa dengan kebiasaan membaca (buku), kita tidak akan mudah terprovokasi. Coba bayangkan apa yang akan terjadi jika kita tak pernah mau membaca. Ya, kita akan sangat mudah terprovokasi karena kurangnya pengetahuan. Semua yang tertulis di media tidaklah benar, maka dari itu kita perlu membaca untuk membandingkan dan memastikan kebenaran tersebut. Jangan langsung ditelan, klarifikasi dulu.

Beberapa waktu ini aku cukup terganggu dengan beberapa pernyataan yang mengatakan bahwa aku tahu segalanya. Aku nggak tahu mengapa mereka berpikir demikian. Okay, I love to read the book anywhere, tetapi itu tidak berarti aku tahu segalanya. I’m not the god. I just learn and learn to improve my self. Bahkan pernah suatu waktu teman aku meminta bantuan to make daily news update dan dia bilang ke aku kalau aku sangat terupdate. What the hell dude. Aku klarifikasi disini ya, aku nggak tahu segalanya. Bahkan sebanyak apapun aku membaca, akan selalu ada hal yang tidak aku tahu dan menuntutku untuk terus belajar dan belajar tanpa mengenal bosan. Jika kemudian aku terlihat tahu banyak hal sebenarnya bukan karena aku tahu segalanya, tetapi karena kalian saja yang tidak pernah mau membaca sehingga seakan-akan itu hal yang baru dan tidak umum. Coba kalian mau membaca, kalian mungkin tidak akan pernah lagi mengenal kata surprise. Oh, aku udah pernah baca di buku A…di buku B…halaman ini…ow paragraf sekian dan blablabla.

Kalian tahu nggak kalau kalian mau membaca, kalian itu akan mengalami hal yang luar biasa. Contohnya seperti yang aku alami. Biasanya Dosen-dosen di Indonesia itu hobinya obral teori. Pokoknya dikit-dikit diteorikan, sampai-sampai ini kepala isinya teori doank. Nah, aku sering sekali tanpa sengaja sudah membaca topik yang akan disampaikan, tidak hanya sehari atau seminggu yang lalu tetapi sudah beberapa tahun lalu. Jadi ketika Dosen mulai berkicau yang aku pikirkan cuma satu “Ah, udah pernah baca. Basi. Ow…itu yang ditulis di buku ini, halaman ini. Ah ya, yang si A itu ‘kan?. Euh…udah nggak momen dan lain-lain dan entah mengapa ini jenis perasaan yang aku paling suka. Apa ya, seru aja gitu ketika kita udah tahu apa yang mereka mau omongin. Jadi, kita bisa segera ganti posisi sebagai kritikus dan bukan penggiat surprise lagi. Selain itu, kita juga bisa menghemat banyak waktu. Misal nieh, diadakan sebuah seminar dengan tema A dan kebetulan kita udah pernah belajar dan membacanya sekian tahun lalu, maka kita nggak perlu susah payah, panas-panas, hujan-hujan berlarian hanya untuk sebuah seminar. Kita bisa belajar hal lain disaat teman-teman kita yang malas membaca masih berkutat dengan ‘surprisenya’. Keren nggak?? Makannya dicoba. Tapi jangan lupakan satu hal, sebanyak apapun kamu membaca dan tahu banyak hal jangan pernah menaruh setitik kesombongan di hati kita. Jadilah seperti padi yang semakin berisi akan semakin merunduk. Actually, kalau kita belajar banyak hal dan tahu banyak hal secara alami kita akan menjadi orang yang lebih bijak dan down to earth. So, sudahkah kamu tertarik untuk membaca? Malu donk jadi penggiat surprise terus…See the picture above. That’s not cool pose okay.

Ps: Hi Hi Hi! It’s been a long time, right? I think it is more than two weeks since I posted my last article. Ehmm…you must missed me so much. I know. Eu eu eu sini peluk dulu, eum. Itu tolong yang mau lempar cangkul dikondisikan ya *Kipas-kipas canti ala enci-enci*. Okay! itu berlebihan. Euh…Imajinasimu nak dikandalikan. Me: I will do it readers-nim…to do it again*nah kan*. Readers: Kick me out!

Hyn