Cinta Bukanlah Perasaan

Aku pernah membaca sebuah buku tentang negarawan. Buku itu aku peroleh saat mengikuti sebuah seminar di kampus tempatku kuliah. Di salah satu bab di buku itu dituliskan bahwa “Tanah air itu bisa diwariskan, tetapi tidak dengan rasa cinta tanah air”. Aku pikir itu benar, tetapi jika orang berpikir bahwa cinta adalah sebuah perasaan maka ketika rasa bosan telah melanda maka tak ada rasa cinta lagi. Sama seperti sebuah rumah tangga. Disalah satu bukunya Stephen R. Covey bercerita bahwa suatu hari dia sedang mengisi sebuah seminar. Tiba-tiba salah satu peserta bertanya “Mr. Covey saya memiliki masalah dalam rumah tangga saya dengan istri saya. Dahulu kami saling mencintai, tetapi rasa itu telah hilang sekarang. Tidak ada lagi cinta diantara kami”. Kemudian Mr. Covey menjawab “maka bekerjalah untuk itu”. Kemudian peserta itu membalas “Tidak bisa Mr. Covey, cinta itu benar-benar telah musnah”.

Mr.Covey kemudian menjawab maka dari itu bekerjalah untuk membangunnya kembali. Ingat, cinta bukanlah sebuah perasaan tetapi kata kerja. Artinya kamu harus bekerja untuk tetap membuatnya ada. Jika kemudian cinta itu hilang maka jelas bahwa kamu tidak berusaha untuk membuatnya terus ada. Hal ini dapat di aplikasikan juga di berbagai bidang lain seperti pendidikan, pekerjaan atau apapun, cinta perlu tindakan untuk menciptakannya. Misal kita memiliki sebuah masalah dengan jurusan kuliah kita. Kita merasa tidak puas, salah pilih dan sebagainya, sehingga kita berpikir kita tidak akan pernah mencintainya dan terus menciptakan rasa benci yang sebenarnya malah menyakiti diri kita sendiri. Tetapi hal itu salah besar, bukan perasaan yang menciptakan cinta tetapi tindakan. Jika kemudian kita tidak bisa mencintai jurusan kuliah yang kita pilih, maka sesungguhnya hal itu dikarenakan kita memang tidak pernah melakukan suatu kerja untuk menumbuhkan rasa cinta tersebut sehingga efeknya kita akan merasa tertekan, stress, dan banyak lainnya.

Sekarang, mengapa cinta dikatakan sebuah kata kerja? Karena begini, perasaan kita, pikiran kita, bukanlah kita. Hal tersebut sesungguhnya terpisah. Jika kita menjadikan perasaan dan pikiran kita sebagai pusat kehidupan maka kita akan terus dihantui hukum alam yang mengikuti pikiran dan perasaan kita. Contohnya misal kita ingin melakukan sesuatu hal, kemudian orang lain menganggap itu tidak akan berhasil dan sebagainya. Jika kita memutuskan untuk mendengar itu maka kita tidak akan pernah berani untuk mengambil keputusan. Maka dari itu perluas sudut pandang kalian setiap kalian akan mengambil sebuah keputusan. Pisahkan segala hal tersebut dan pilih mana yang paling baik diantara semuanya. Ciptakan lingkaran pengaruh kalian. Jangan mudah terbawa arus dan miliki pendirian. Ingat, kesakitan yang kita rasakan adalah karena pilihan kita dalam menyikapi sesuatu, maka gunakan hak pilihmu dan jangan menyakiti diri sendiri. Jika kita bisa memilih mengapa harus mau terjajah. So, ayo merenung, ayo memperbaiki diri, ayo memilih for the great future.

That’s all. See you…

Hyn

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s