Bali: Indahnya Keanggunan Lokal di tengah Ramainya Modernitas

Apa yang sesungguhnya di cari oleh seseorang ketika melakukan suatu perjalanan like travel around the world?

Jawabannya bisa sangat beragam. Ada yang ingin sekedar pamer foto hits di negara lain, mempelajari budaya lokal, study, dan lainnya. Tetapi satu yang pasti, kebanyakan orang pergi ke sebuah negara untuk merasakan lokalitas yang ada di negara tersebut. Iya atau tidak, begitulah faktanya. Contoh, apa yang orang sukai dari switzerland? Mengapa mereka rela jauh-jauh datang ke switzerland? Tak lain dan tak bukan adalah untuk merasakan pesona lokal dari negara switzerland. Begitu juga ketika orang datang ke Korea, apa pun tujuan wisata yang ingin mereka kunjungi pastilah salah satunya adalah budaya lokal di Korea, seperti Hanok Village, kuliner lokal, Istana peninggalan dinasti-dinasti yang sempat memimpin Korea seperti Joseon, Goryeo dan lainnya.

Jika kemudian pertanyaan itu dilemparkan kembali ke aku, maka jawabanku pun akan sama, I want to see their local tradition also. Dari sini aku simpulkan bahwa orang asing datang ke Bali juga untuk melakukan hal serupa. So, let’s talk about Bali.

Cerita ini berawal dari perjalanan ayahku tercinta ke pulau Dewata untuk sebuah study visit. Ini adalah perjalanan kedua beliau setelah sebelumnya sempat study visit ke Ibukota Indonesia, Jakarta. Menariknya study visit ke dua tempat berbeda ini turut menghasilkan cerita yang berbeda pula.

Berbicara tentang Bali, apa sih yang terpikir di benak kalian pertama kali ketika mendengar nama Bali? Paling-paling ya pantainya cantik, bikini you can see dan kearifan lokalnya yang terjaga indah. Oke! Tidak salah, tetapi perjalanan ayah ini mengubah banyak sudut pandangku tentang Bali. Ya, Bali lebih dari apa yang aku lihat dan pikirkan sebelumnya.

beautiful-bali-beaches-wallpaper-3
Bali beach

Tahun 2015 silam, aku membaca sebuah surat kabar milik media Denmark yang mengatakan bahwa Bali sedikit banyak telah ter-internasionalisasi. Jejak-jejak kearifan lokalnya yang membudaya kini mulai tergerus modernitas. Saat itu aku hanya tertegun membacanya. Benarkah? Benarkah Bali telah berubah? Saat itu tak ada jawaban pasti, tetapi perjalanan ayah ke pulau Dewata telah membuktikan bahwa berita itu sama sekali tidak benar. Bali tetaplah Bali seperti apa yang kita lihat dahulu dimana lokalitas bersanding indah dengan pesatnya modernitas. Mungkin ada perubahan, itu pasti, tetapi tidak sampai menggerus habis kearifan lokal mereka.

Processed with VSCOcam with e3 preset
Traditional Village in Bali

Lalu apa sih yang membuat Bali berhasil membuatku terpesona? Jika kalian berpikir klise seperti pantai dan sebagainya. Yah, salah satunya mungkin itu tetapi yang pasti I love Bali because their education and school life. 

Jujur, I feel gosebumps setelah mendengar cerita perjalanan ayah aku ke pulau dewata. Satu yang pasti, Bali memiliki school life yang luar biasa. Ketika sekolah-sekolah di daerah lain di Indonesia berlomba-lomba untuk membuat visi yang melambai-lambai indah namun jarang terlaksana, Bali dengan keanggunanya cukup memiliki tiga visi saja yang di implementasikan dengan sangat baik yakni sopan-santun, agamis, dan cerdas.

Sederhana saja, bukan? Tetapi jangan salah efek yang dihasilkan patut dipuji. Sekolah-sekolah di Bali sangat mengedepankan sopan santun dan agama, sedang cerdas ada di nomor 3. Sebelum pelajaran dimulai mereka akan melaksanakan ritual agama mereka. Bahkan ketika waktu beribadah tiba, tidak ada ceritanya kegiatan yang masih dilangsungkan. Mereka akan menomor satukan ibadah mereka dibanding hal lainnya. Sopan santun juga diterapkan dengan sangat baik, tidak hanya di lingkungan sekolah saja tetapi juga di kehidupan sehari-hari mereka.

Sekolah-sekolah di Bali juga menyediakan kelas-kelas bahasa asing dengan laboratorium yang mendukung proses pembelajaran. Kelas yang dibuka pun tidak hanya satu tetapi beberapa, seperti kelas bahasa Korea dan kelas bahasa Belanda. Tidak cukup sampai disitu, ketika sebuah sekolah memiliki mata pelajaran yang berhubungan dengan pertanian, maka sekolah tersebut juga akan menyediakan lahan pertanian yang dapat digunakan untuk praktikum oleh siswa-siswanya. Jadi kelas tidak melulu teori seperti kebanyakan sekolah di Indonesia, tetapi juga diselingi praktik dengan fasilitas yang memadai.

Sekolah di Bali juga telah menerapkan full day dimana kelas akan diadakan dari senin sampai jumat saja, sedang sabtu dan minggu adalah free time untuk pengembangan diri mereka di luar sekolah. Selain itu sejak dini anak-anak telah diajarkan berbagai hal untuk kemudian dapat menghasilkan uang di kemudian hari. Salah satu hal yang membuat ayah terpesona adalah keramahan mereka. Bagi mereka kenal ataupun tidak maka wajib untuk menyapa. Untuk ini, aku kira begini. Bali adalah salah stau tujuan wisata dunia. Artinya ada banyak sekali turis di Bali. Turis-turis asing kebanyakan sangat ramah dan saling menyapa meskipun tidak saling mengenal. Itu merupakan salah satu budaya yang umum di negara mereka. Maka karena kebanyakan siswa di Bali pernah bersentuhan dengan orang asing maka tanpa disadari mereka turut terbawa budaya saling sapa tersebut dan itu benar-benar menarik.

Selain study visit, ayah juga berkunjung ke desa-desa yang di tinggali oleh warga lokal di Bali. Dari perjalanan ini beliau mendapat suatu cerita bahwa di Bali cat rumah tidak boleh menggunakan warna-warna terang. Di agama Hindu yang mereka anut, rumah haruslah di cat dengan warna-warna kalem seperti apa yang kita lihat di tanyangan televisi. Orange, ungu tua, coklat kayu dan sebagainya. Selain itu, mereka juga senang mengenakan pakaian khas Bali yang serupa dengan kebaya dan bunga di telinga kanan. Cantik. Dari sini aku menyimpulkan bahwa kearifan lokal inilah yang kemudian menjadi daya tarik turis asing untuk datang ke Bali. Ya, mereka ingin merasakan lokalitas yang ada di Pulau Dewata ini. Cerita ini juga turut menjawab pertanyaan tentang mengapa turis asing tidak suka datang ke ibukota Indonesia. Padahal kebanyakan turis ketika berkunjung ke suatu negara pasti akan mendatangi ibukotanya terlebih dahulu. Ya, jawabnnya sangat jelas sekali bahwa Jakarta telah kehilangan lokalitas mereka yang tak mampu bertahan menghadapi gempuran modernitas.

desa-penglipuran-bali
Panglipuran Village, Bali

So, ini menjadi pelajaran untuk daerah-daerah lain di Indonesia untuk memperbaiki diri dari segi pendidikan maupun pariwisatanya. Benar bahwa ketika ajaran agama diterapkan dengan baik dalam kehidupan, maka kebaikan pastilah yang akan di dapatkan. Selain itu, sekolah-sekolah lain di Indonesia juga perlu untuk belajar dari sekolah-sekolah yang ada di Bali yang telah mampu menjalankan visi mereka dengan sangat baik dan mengakar kuat di hati siswa-siswa mereka. Hal itu dapat dibuktikan dengan bagaimana mereka menerapkan nilai-nilai itu di kehidupan mereka sehari-hari. Berhenti menjadi lembaga yang hanya mengedepankan citra dan nama besar tetapi tak ada yang lain yang bisa ditemukan selain kekosongan. Sedang untuk pariwisata, daerah lain di Indonesia perlu untuk lebih menonjolkan kearifan lokalnya, tentunya juga dengan fasilitas yang memadai. Fasilitas memadai artinya mungkin akan ke modernitas juga tetapi pastikan bahwa budaya lokal tetaplah yang akan memegang kendali penuh karena itulah pesona yang akan membawa banyak orang asing berkunjung ke negeri kita tercinta. So, #VisitIndonesia2016 #WonderfulIndonesia

 Hyn

Advertisements

4 Comments Add yours

  1. igeo jinjja johdaa…~ aku sudah lama terpikat dengan pulau ini, kearifan lokalnya hampir sama dengan korea dan luar negeri.. betul itu saling sapa meskipun nggak kenal itu kurasa sangat perlu, karena itu bisa jadi first impression bagi orang baru yang berkunjung ke indonesi.. yuk mulai terapkan itu..

    Like

    1. HYN says:

      Yap, majayo.

      That’s good idea. Let’s be a friendly person to make a friendly country.

      Like

      1. hahaha… matja… sure, we should do that though..

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s