Mengeja Citra, Mendebat Realita

Hmm, apa yang pertama kali harus aku katakan? Actually I’m really confuse how to started. But…yang pasti aku sangat sangat banyak belajar hari ini, tentang diri aku, tulisan aku, dan tujuan hidup aku, maka dari itu aku ingin berbagi juga dengan kalian.

Okay! Kita mulai dari kata peradaban? Bukan hal yang asing bukan? Coba pikirkan kembali, berapa kali kita mendengarnya seumur hidup kita. Sangat banyak, peradaban…peradaban…peradaban…dan peradaban. Sejak di sekolah dasar pun, kita sudah mengenal yang namanya kata peradaban. Pertanyaannya, tahukah kamu apa itu peradaban?

Ya, peradaban berasal dari kata ‘adab’ yang artinya adalah norma atau aturan mengenai sopan santun yang didasarkan atas aturan agama, terutama Agama Islam. Sedang pengertian peradaban secara umum adalah bagian-bagian dari kebudayaan yang tinggi, halus, indah, dan maju.( http://www.artikelsiana.com ).

Hari ini seseorang mengatakan bahwa bangsa yang baik bukanlah bangsa yang teknologinya maju, ekonominya menghentak, atau adidaya, tetapi bangsa yang adabnya baik. Artinya begini, bahwa adab merupakan hal yang sangat krusial. Nah, berbicara tentang adab maka berarti berbicara juga tentang pemikiran. Ketika kita melogika kembali arti dari sebuah peradaban, maka hal itu tidak bisa dipisahkan dari yang namanya pemikiran. Bagaimana mungkin suatu kemajuan, kebudayaan yang tinggi bisa dihasilkan tanpa sebuah pemikiran? Mustahil.

Dan tahukah kamu bahwa memelihara pemikiran lebih kekal daripada sekedar material. Maka dari itu dikatakan bahwa bangsa yang beradab bukanlah bangsa yang teknologinya maju, ekonominya menghentak atau adidaya tetapi bangsa yang adabnya baik. Jangan cepat menyimpulkan, tahan dulu. Untuk lebih memudahkan pemahaman, aku beri contoh bom nuklir. Inovatif nggak? Maju nggak, bandingkan dengan bambu runcing. Sangat jauh berbeda, tetapi…bergunakah dia? Tidak, karena justru keberadaan bom nuklir menjadi bumerang bagi dunia saat ini. Artinya si pembuat ini sekedar mengekspresikan pemikirannya tentang kemajuan tanpa memikirkan dampak dari pemikirannnya yang tidak dijaga tersebut. Sampai disini paham ‘kan?

Oke, itulah mengapa yang namanya menjaga pemikiran itu sangat penting teman-teman, karena dampak yang ditimbulkan tidak main-main nantinya. Tidak hanya tentang si pemikir saja tetapi juga keseluruhan hubungan antar manusia secara global. Setelah berbicara tentang peradaban, kemudian pemikiran maka sudah pasti kita akan membicarakan masalah pendidikan sebagai pilar utama pembangunan diri kita maupun bangsa.

yale1

Yale University

Enam tahun terakhir ini, aku mengamati banyak hal selama perjalanan pendidikanku mulai dari sekolah hingga perguruan tinggi, dan disanalah kemudian aku menemukan berbagai fenomena menarik. Pertama, tentang universitas. Beberapa waktu lalu diadakan sebuah akreditasi universitas. Semua orang menjadi sangat sibuk, tidak hanya sibuk dalam hal yang istilahnya in the right way, tetapi juga ‘sibuk-sibuk’ lainnya. Kondisi ruang kelas tiba-tiba berubah, tertata rapi, penggantian white bord, hingga penambahan fasilitas rayuan kedip sebelah mata guna-guna. Me responses for this fenomenon? Pasti mau akreditasi. Waktu terus berjalan. Satu minggu pertama, semuanya masih terjaga. Masuk minggu kedua…kursi mulai bergerser 20 derajat, LCD naik spectrum jadi dua warna. Masuk minggu ketiga…asdfghjkl@#$%^&*!! Selesai! Ruangan kelas tiba-tiba menjadi summer education (read: panas), LCD proyektor jadi pelangi-pelangi alangkah indahmu, tatanan kursi udah semacam habis kena badai pasti bertemu, eh bukan, badai pasti berlalu dan lalu tatanan tak pernah kembali seperti dulu saat kita pertama kali bertemu. Stop Widya, ini apaan coba? Forget it. Pokoknya begitulah, saya berpikiran positif tempat kalian tidak seperti itu. Pasti lebih jujur, ya ‘kan…bukan begitu?

Oke, lalu ketika kemudian pengumuman itu muncul dan semua orang merasa terpukul. It is seriously? Dan kemudian terbentuklah viral…’tahu nggak….?’ blablablablabla. Sedih lah, ini lah, itu lah. Dan ketika seluruh orang berduka mungkin hanya saya yang bersyukur. Sekali lagi, jangan menyimpulkan terlalu cepat. Mengapa saya bersyukur? Karena saya berterima kasih kepada tim akreditasi yang telah menilai dengan sebenar-benarnya dan sesuai dengan fakta yang ada. Banyak orang mengatakan bahwa perjuangan tak akan menghianati hasil. Kita flashback, sudah benarkah tindakan yang dilakukan universitas dalam menyongsong akreditasi? Bersihkah? Jujurkah? Berdabkah? Silahkan dijawab sendiri, dinilai sendiri.

Apakah mereka menyiapkan fasilitas baik untuk jangka panjang, untuk mendukung jalannya pembelajaran dan meningkatkan nilai mutu pendidikan, atau…sekedar bungkus kado pencitraan menyambut akreditasi? Sekali lagi, silahkan dijawab sendiri, dinilai sendiri.

Lanjut ke topik kedua, kali ini tentang dosen dan professor. Sama seperti orang yang menyampaikan pesan tentang peradaban ini kepada saya dan teman-teman hari ini, saya juga suka membaca sejarah. Dalam sejarah disebutkan bahwa ilmuwan zaman dahulu bukanlah orang yang pemikirannya linier. Artinya mereka memiliki lebih dari satu bidang keahlian, maka barulah mereka bisa disebut ilmuwan saat itu.

Books

Perbanyak literaismu

Sekarang coba tengok, dosen maupun profesor di negara kita. Kebanyakan dari mereka, semakin tinggi gelar pendidikannya maka semakin sempit pemikirannya juga literasinya. Tentu kalian pernah menemui dosen atau profesor kalian yang kolotnya bukan kepalang. Ya, itulah salah satu contohnya. Mereka tidak bisa menerima pemikiran yang bertentangan dengan apa yang beliau yakini karena merasa gelarnya lebih tinggi. Padahal seharusya tidak begitu teman-teman. Perbanyak literasi kalian. Kita hidup dalam dunia yang dinamis, terus bergerak, ketika kita menutup diri, menyempitkan literasi maka hasilnya kita akan menjadi idealis gagal update. Ciri orang yang tidak terbuka dan kurang literasinya menurut pengamatanku biasanya kalau menanggapi suatu masalah pendapatnya sangat tipis dipermukaan, tidak kritis, apatis, pemilihan katanya tidak hati-hati, sulit menerima pendapat dan keras kepala, tidak mau meng-evaluasi diri, percakapannya tidak penting atau istilahnya easy conversation, not hard conversation dan maaf tidak bermaksud sara, kelihatan dungu ketika berbicara. Sekali lagi maaf, saya tidak bermaksud sara tetapi saya yakin jika kalian lebih dalam mengamati, kalian akan menemukan ciri yang saya sebutkan diatas. Kenapa saya sampai mengatakan mereka dungu, karena begini, orang yang kurang literasi atau menyempitkan literasi cara berbicaranya saja sudah berbeda. Ada sisi egosentris yang kuat disana. Dan plonga plongo ketika suatu topik dilepaskan untuk dibicarakan.

Reed College Campus, Fall 2015

“Pergilah untuk sebuah perubahan, meskipun itu kecil” – Red College Campus, Fall 2015

Oke! Apasih tujuan aku mengangkat topik ini? Yang pasti aku tidak ingin menggurui atau cari-cari sensasi, tetapi yang aku harapkan dari tulisan aku ini tentunya bisa menginspirasi kalian untuk mengevaluasi diri kalian sendiri, karena saya juga banyak mengevaluasi diri saya hari ini. Teruslah belajar becuase learning actually has no ending dan pastinya jangan menyempitkan literasi kalian. Jika kalian anak sosial maka jangan menutup diri dari sains, dan jika kalian anak eksakta maka jangan juga menutup diri dari ilmu sosial, karena anak eksak tidak akan berbicara dengan planet atau asteroid tetapi juga manusia, maka penting untuk tahu banyak hal agar kalian juga bisa berbaur dengan manusia dari berbagai latar belakang yang berbeda dan tentunya bisa menempatkan diri kalian dengan sebaik-baiknya.

sld-office-banner2

Be open minded and make hard conversation, not just talk about this artist who’s dating with…and etc

So, sudahkah kamu menambah literasimu hari ini?

Hyn

Ps: Aku bocorkan behind the scene dari tulisan ini. Sebenarnya ya, topik yang aku angkat hari ini bukan inti dari seminar yang aku ikutin tetapi dari sambutan Wapres BEM di Univ aku. Merek nggak perlu disebut. Yang pasti, aku punya alasan kuat memilih topik ini. Meskipun sekedar sambutan selama 5 menit tetapi topik ini justru lebih bombastis daripada topik inti dari seminarnya yang 3,5 jam. Aku serius, jadi ini sebenarnya semacam seminar paling gagal yang pernah aku ikutin karena baru pertama kalinya aku ikut seminar yang sambutannya lebih wow daripada acara intinya. Bisa menilai ‘kan? Ya, itu dia kata kuncinya…literasi.

Plonga-plongo itu bahasa jawa artinya…susah sih nyari padanan katanya, yang lebih dekat mungkin bisa diartikan nggak tahu apa-apa, kudet dan gagal respon.

Selanjutnya tentang judul, E…itu ceritanya aku mau bkin judul yang sok-sok serius eye cathing gitu tapi jadinya malah nggak meching. Oke. dimaklumi saja, sense aku soal perjudulan itu parah banget minusnya. Kalau kaca mata mungkin udah 3,5…apa ya. itulah pokoknya.  Jadi, mengertilah, jika ada yang menganggu maka bicaralah.

Dan yang terakhir, pemirsa kepala saya rasanya mau pindah negara karena saya baru sadar topik ini serius banget ternyata. Diksinya bikin gila, apalagi referensinya. Pusing saya, 2,5 jam untuk artikel ini. Wow, kamu memecahkan rekor sayang. So, aku berharap respon dari kalian. Kritislah. Saya banyak salah loh biasanya, jadi tinggalkan kritik kalian untuk saya memperbaiki diri kedepannya. Love you…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s