Anak anda, bukanlah Anda

Manusia berarti memiliki kehidupan sosial. Tidak bisa tidak, harus iya. Bahkan, seberapa banyak kita menolak fakta tersebut maka semakin kita tidak bisa menolaknya. Dalam praktiknya semua tak semudah bagaimana teori bercerita. Memang kita hanya berinteraksi tetapi disanalah problem itu kemudian menjadi momok yang menjengkelkan. Kita selalu mengatakan “Aku bisa menjadi diriku sendiri”. Bullshit! Tahu kenapa? Karena itu tidak mungkin. Selalu ada situasi dimana kita dituntut untuk setara dengan yang lainnya di hampir semua lini kehidupan kita. Mungkin cerita dimana orangtua ingin anaknya mendapat nilai bagus seperti si A, si B, si C dan lainnya sudah menjadi hal yang biasa. Hey dia bisa melakukannya, seharusnya kamu juga bisa. Menuntut kita untuk rangking satu, masuk sekolah A, perguruan tinggi A, pekerjaan A dan ribuan A lainnya.

Baiklah, sesungguhnya orangtua berpikir sederhana dimana mereka ingin kita mendapat yang terbaik dalam perjalanan hidup kita. Tetapi ada satu hal yang mereka lupa bahwa dalam diri seseorang tersimpan bakat yang tak bisa disamakan, disandingkan, dan dibandingkan satu dengan lainnya. Artinya mungkin si A pandai menghitung, tetapi jika kemudian si B tidak pandai menghitung maka tidak bisa si B ini kemudian dikatakan bodoh. Aku cukup setuju bahwa memang setiap dari kita memiliki bakat kita sendiri, meskipun itu terdengar kecil bagi orang lain. Tapi mau bagaimana, pendidikan kita mendoktrin bahwa semua hal harus di standardisasi. Berbeda ya berarti bodoh, maka hasilnya banyak diantara anak-anak tak berani mengungkapkan apa yang mereka pikirkan. Dan inilah kabar masa depan Indonesia. Sangat jelas dan tak perlu diprediksi lagi.

Puluhan tahun lalu, dalam bukunya, Steven R. Covey mengatakan bahwa ada perbedaan besar antara Etika Kepribadian dan karakter. Tidak bisa kemudian kita menggunakan ukuran sosial untuk menilai sesuatu. Ketika kita menggunakan perbandingan sosial untuk menilai sesuatu hal, maka tanpa kita sadari kita akan memasukkan standar kita untuk menilai itu. Maka penting bagi kita untuk memisahkan diri agar kemudian kita dapat merasakan identitas, individualitas, kekhasan dan nilai dari objek yang kita nilai tersebut.

Inilah yang kemudian terjadi pada banyak orang tua kita dimana mereka memasukkan standar mereka untuk menilai diri kita. Akibatnya mereka tidak menyadari bahwa setiap manusia memiliki keunikannya masing-masing, sehingga tanpa mereka sadari tindakan orangtua kita ini akan menghalangi jalan kita untuk menunjukkan potensi kita yang sesungguhnya. Maka satu pesan untuk orangtua dimana pun itu,  berhenti untuk membandingkan, menghakimi, dan mengkloningkan anak-anak anda sesuai dengan citra anda sendiri. Itu akan memperburuk masa depan mereka. Kalaupun kemudian mereka sukses, maka jangan pernah bertanya seberapa banyak tumpukan tekanan dan stress di kepala kecil mereka setiap detiknya. Terkadang mereka lebih banyak diam karena ketakutan mereka akan karma, sehingga mereka banyak menurut. Padahal mungkin ada suatu titik dimana mereka ingin mengakhiri semuanya bersama diri mereka, atau penyimpangan perilaku karena tekanan tersebut. Maka pikirkan kembali.

Mereka mungkin anak yang lahir dari rahim anda, tetapi mereka bukanlah anda yang terlahir kembali untuk menuntut mimpi anda yang tak tergapai. Oleh karena itu, biarkan mereka ada bersama citra diri mereka. HYN

That’s all. Cherioo…

Hyn

Ps: Hai, lama tak berjumpa. Topik aku serius banget ya? Ah, I feel little hurt this week. So,…Yeah. Like this. I’m sorry and I hope this article will be useful to anyone who reads. Thank’s to visit. Love you. #JanganTakutMenjadiBerbeda #JadilahBerbeda #AyoBerbeda

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s