Memahami untuk Dipahami

Tahukah kamu hal sederhana apa yang paling banyak terlupa dari manusia? Ya, bahwa dia juga memiliki kesempatan mutlak untuk melakukan kesalahan. Tetapi nyatanya, debu diseberang lautan jauh lebih tampak dibanding gajah yang ada dipelupuk mata. Artinya seseorang selalu tepat melihat kesalahan orang lain tanpa menyadari bahwa dirinya pun juga memiliki presentase yang sama untuk melakukan kesalahan.

Satu tahun terakhir ini aku terus mengamati lingkungan akademisku yang…yang…Ah…I don’t know how to speak it. It just like something too bad if it is an academic environment. Aku tidak merasa bahwa aku yang paling benar, hanya saja aku pikir begini, bukankah lebih baik jika ada permasalahan diselesaikan saja. Kenapa harus di koar-koarkan di hadapan orang lain. Banyak bicara justru tidak akan menyelesaikan apapun. Lucunya lagi, aku yang mendengar saja sudah over muak tetapi kenapa yang berbicara nggak pernah sadar diri. Lagian kalian kan bukan selebritis, ngapain sih masalah dikoar-koarkan. Seakan-akan dia yang paling bermasalah, padahal orang lain pun juga memikul masalahnya sendiri tanpa harus ditambah dengan aksi koar-koar tidak penting itu.

fotomaniak_101644_500x500_0_0
Merekam jejak keseharian

Aku tidak tahu kenapa tetapi mungkin saja karena aku terbiasa quiet dalam menyelesaikan masalah sehingga aku menjadi kurang terbiasa dengan lingkungan semacam ini. Aku kira menyelesaikan masalah secara quiet itu jauh lebih effective dan selesai ke akar masalahnya dibanding kebanyakan berbicara dan mengeluhkannya kepada orang lain. Hal terburuk yang juga aku amati adalah, kalau menurut buku The 7 Habits of Highly Effective People, melupakan kebiasaan ke-5 yakni ‘berusaha memahami dulu, baru dipahami’. Ini loh kuncinya kerja tim itu. Ketika kita merasa terus benar maka tim akan bubar, maka penting untuk memahami orang lain terlebih dahulu karena sejauh pengalamanku mereka akan bisa merespon sama positifnya. Tapi sekali lagi, hal ini pun banyak terlupa karena semua merasa dirinya benar.

Akhir–akhir ini aku merasa cukup terganggu dengan sikap beberapa orang. Aku tidak tahu kenapa orang begitu penasaran dengan seluk beluk kehidupanku. Hey! I’m not selebrities but why you are so curious huh?  I’m sorry, actually I did not like sharing. The most funny thing is, you know my problem. WOW! So, I’m famous now? Or should I give you my signature? S**t!  Ini nih kebiasaan orang Indonesia yang paling aku benci pakai caplock plus garis bawah tanda seru. Ngapain sih ngurusin hidup orang lain. Kurang kerjaan? Kalau memang kurang kerjaan mending baca buku, biar ada gunanya. Oke partner kamu keren dan blablabla. Terus apa, mau sombong karena sudah ada ide dan aku belum. Baiklah, sombonglah sesukamu, plus karaokean juga bisa, cuma biasanya aku nggak peduli sih. Kalau dicuekin jangan protes loh. Aku nontonya yang eksklusif-eksklusif soalnya jadi untuk yang under quality semacam itu…Hmm….skip it.

Saat mengalami ini aku kemudian teringat dengan cerita mbk. Altjie yang menikah dengan bule Irlandia dan mendapat perlakuan semacam itu dari masyarakat sekitar dan teman-temannya. Dia sempat menuliskan kekesalannya melihat kelakuan orang-orang Indonesia yang mulutnya tak tersaring. Nanya gaji lah, transkip nilai, ini, itu bahkan yang terburuk, kalau bukan beliau ya temannya pernah dapat pertanyaan begini “Gimana bule kalau diranjang?” B***h. Wah, that must be shit one.

gossip
Mulut Tujuh. NO!

So, buat kalian yang bermulut tujuh. Please, decrease it! Berhenti mengurusi masalah orang lain dan tahan diri. Anda tahu itu sangat, sangat, sangat MEN-JENG-KEL-KAN!!! Jika anda terus menganggu bukan tidak mungkin di hari selanjutnya kita akan bertemu di meja hijau. Ingat perbuatan anda ini memungkinkan untuk dibawa ke ranah hukum. Jadi, berhentilah selagi dini. Pahami orang lain jika anda tidak ingin dibalas ganti nanti.

Cherioo…

Ps: It’s been a long time, right? It is almost three weeks since I posted my last article and I’m sorry becuase as soon as I make a comeback I make this kind of writing. I just feel uncomfortable about my my surroundings. If you have some problem like mine, share here. Let’s talk about how to solve it. Love ya my beloved readers.

Hyn

Advertisements

8 Comments Add yours

  1. They said be yourself, then they judge. Indonesian.. hahha

    Like

    1. HYN says:

      geuchi. begitulah. Menjengkelkan. rasanya mau pindah negara aja.

      Like

      1. yuk ahh pindah negara.. aku juga mau, gini ini juga kali ya yang dirasain sama Habibie, tapi beliau strong sekalii sama masyarakat mulut tujuh..

        Like

      2. HYN says:

        Eiii…Seburuk-buruknya tingal di Indonesia itu tetep yang plaing enak dibandingkan di negara lain. Apalagi kita terbiasa dilayani, bisa jungkir balik kalau tinggal di LN yang menuntuk kemandirian dalam semua hal. Hidup di negara lain tak semudah yang dibayangkan. Solusi terbaik yang memperbaiki situasi. Jika tidak bisa maka cukup melakukan yang terbaik meskipun kecil.

        Like

      3. iya, arra… tapi kadang aku penasaran, bisa sampe level mana survival ku… tapi kalo diluar negeri, soal kemandirian mungkin gampang yong karena fasilitas umumnya cukup bikin gampang kalo mau kemana-mana… molla..

        Like

      4. HYN says:

        Memang dari fasilitas iya tapi akan ada massa dimana kita akan kesulitan karena segalanya dituntut untuk mandiri. Misal di supermarket kita biasanya dilayani tapi di luar negeri tidak. buang sampah kalau nggak sesuai klasifikasi nggak akan dibawa. Musim dingin biaya hidup akan naik karena air akan membeku jd harus membayar lebih. Kemudian saat kita mungkin lapar tapi lelah untuk masak maka di indo segalanya ada, lewat depan rumah atau kos malah tapi misal spt di Irlandia bisa bangkrut makan sekali dua kali di luar. dan lainnya. So, seburuk apapun negara kita, ini tempat paling indah untuk berada.

        Like

      5. I think, I have really different opinion with this, because I really want to try this kind of survival, and maybe because I really need to have getaway… So I think this kind of life are really interesting to do and try..

        Like

  2. HYN says:

    Yang aku meksudkan bukan melarang untuk mencoba. Cobalah apa yang kamu inginkan, apapun itu. Hanya saja jangan lupa, siapkan diri kamu. itu aja. Bukan aku melarang.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s