Bali: Indahnya Keanggunan Lokal di tengah Ramainya Modernitas

Apa yang sesungguhnya di cari oleh seseorang ketika melakukan suatu perjalanan like travel around the world?

Jawabannya bisa sangat beragam. Ada yang ingin sekedar pamer foto hits di negara lain, mempelajari budaya lokal, study, dan lainnya. Tetapi satu yang pasti, kebanyakan orang pergi ke sebuah negara untuk merasakan lokalitas yang ada di negara tersebut. Iya atau tidak, begitulah faktanya. Contoh, apa yang orang sukai dari switzerland? Mengapa mereka rela jauh-jauh datang ke switzerland? Tak lain dan tak bukan adalah untuk merasakan pesona lokal dari negara switzerland. Begitu juga ketika orang datang ke Korea, apa pun tujuan wisata yang ingin mereka kunjungi pastilah salah satunya adalah budaya lokal di Korea, seperti Hanok Village, kuliner lokal, Istana peninggalan dinasti-dinasti yang sempat memimpin Korea seperti Joseon, Goryeo dan lainnya.

Jika kemudian pertanyaan itu dilemparkan kembali ke aku, maka jawabanku pun akan sama, I want to see their local tradition also. Dari sini aku simpulkan bahwa orang asing datang ke Bali juga untuk melakukan hal serupa. So, let’s talk about Bali.

Cerita ini berawal dari perjalanan ayahku tercinta ke pulau Dewata untuk sebuah study visit. Ini adalah perjalanan kedua beliau setelah sebelumnya sempat study visit ke Ibukota Indonesia, Jakarta. Menariknya study visit ke dua tempat berbeda ini turut menghasilkan cerita yang berbeda pula.

Berbicara tentang Bali, apa sih yang terpikir di benak kalian pertama kali ketika mendengar nama Bali? Paling-paling ya pantainya cantik, bikini you can see dan kearifan lokalnya yang terjaga indah. Oke! Tidak salah, tetapi perjalanan ayah ini mengubah banyak sudut pandangku tentang Bali. Ya, Bali lebih dari apa yang aku lihat dan pikirkan sebelumnya.

beautiful-bali-beaches-wallpaper-3
Bali beach

Tahun 2015 silam, aku membaca sebuah surat kabar milik media Denmark yang mengatakan bahwa Bali sedikit banyak telah ter-internasionalisasi. Jejak-jejak kearifan lokalnya yang membudaya kini mulai tergerus modernitas. Saat itu aku hanya tertegun membacanya. Benarkah? Benarkah Bali telah berubah? Saat itu tak ada jawaban pasti, tetapi perjalanan ayah ke pulau Dewata telah membuktikan bahwa berita itu sama sekali tidak benar. Bali tetaplah Bali seperti apa yang kita lihat dahulu dimana lokalitas bersanding indah dengan pesatnya modernitas. Mungkin ada perubahan, itu pasti, tetapi tidak sampai menggerus habis kearifan lokal mereka.

Processed with VSCOcam with e3 preset
Traditional Village in Bali

Lalu apa sih yang membuat Bali berhasil membuatku terpesona? Jika kalian berpikir klise seperti pantai dan sebagainya. Yah, salah satunya mungkin itu tetapi yang pasti I love Bali because their education and school life. 

Jujur, I feel gosebumps setelah mendengar cerita perjalanan ayah aku ke pulau dewata. Satu yang pasti, Bali memiliki school life yang luar biasa. Ketika sekolah-sekolah di daerah lain di Indonesia berlomba-lomba untuk membuat visi yang melambai-lambai indah namun jarang terlaksana, Bali dengan keanggunanya cukup memiliki tiga visi saja yang di implementasikan dengan sangat baik yakni sopan-santun, agamis, dan cerdas.

Sederhana saja, bukan? Tetapi jangan salah efek yang dihasilkan patut dipuji. Sekolah-sekolah di Bali sangat mengedepankan sopan santun dan agama, sedang cerdas ada di nomor 3. Sebelum pelajaran dimulai mereka akan melaksanakan ritual agama mereka. Bahkan ketika waktu beribadah tiba, tidak ada ceritanya kegiatan yang masih dilangsungkan. Mereka akan menomor satukan ibadah mereka dibanding hal lainnya. Sopan santun juga diterapkan dengan sangat baik, tidak hanya di lingkungan sekolah saja tetapi juga di kehidupan sehari-hari mereka.

Sekolah-sekolah di Bali juga menyediakan kelas-kelas bahasa asing dengan laboratorium yang mendukung proses pembelajaran. Kelas yang dibuka pun tidak hanya satu tetapi beberapa, seperti kelas bahasa Korea dan kelas bahasa Belanda. Tidak cukup sampai disitu, ketika sebuah sekolah memiliki mata pelajaran yang berhubungan dengan pertanian, maka sekolah tersebut juga akan menyediakan lahan pertanian yang dapat digunakan untuk praktikum oleh siswa-siswanya. Jadi kelas tidak melulu teori seperti kebanyakan sekolah di Indonesia, tetapi juga diselingi praktik dengan fasilitas yang memadai.

Sekolah di Bali juga telah menerapkan full day dimana kelas akan diadakan dari senin sampai jumat saja, sedang sabtu dan minggu adalah free time untuk pengembangan diri mereka di luar sekolah. Selain itu sejak dini anak-anak telah diajarkan berbagai hal untuk kemudian dapat menghasilkan uang di kemudian hari. Salah satu hal yang membuat ayah terpesona adalah keramahan mereka. Bagi mereka kenal ataupun tidak maka wajib untuk menyapa. Untuk ini, aku kira begini. Bali adalah salah stau tujuan wisata dunia. Artinya ada banyak sekali turis di Bali. Turis-turis asing kebanyakan sangat ramah dan saling menyapa meskipun tidak saling mengenal. Itu merupakan salah satu budaya yang umum di negara mereka. Maka karena kebanyakan siswa di Bali pernah bersentuhan dengan orang asing maka tanpa disadari mereka turut terbawa budaya saling sapa tersebut dan itu benar-benar menarik.

Selain study visit, ayah juga berkunjung ke desa-desa yang di tinggali oleh warga lokal di Bali. Dari perjalanan ini beliau mendapat suatu cerita bahwa di Bali cat rumah tidak boleh menggunakan warna-warna terang. Di agama Hindu yang mereka anut, rumah haruslah di cat dengan warna-warna kalem seperti apa yang kita lihat di tanyangan televisi. Orange, ungu tua, coklat kayu dan sebagainya. Selain itu, mereka juga senang mengenakan pakaian khas Bali yang serupa dengan kebaya dan bunga di telinga kanan. Cantik. Dari sini aku menyimpulkan bahwa kearifan lokal inilah yang kemudian menjadi daya tarik turis asing untuk datang ke Bali. Ya, mereka ingin merasakan lokalitas yang ada di Pulau Dewata ini. Cerita ini juga turut menjawab pertanyaan tentang mengapa turis asing tidak suka datang ke ibukota Indonesia. Padahal kebanyakan turis ketika berkunjung ke suatu negara pasti akan mendatangi ibukotanya terlebih dahulu. Ya, jawabnnya sangat jelas sekali bahwa Jakarta telah kehilangan lokalitas mereka yang tak mampu bertahan menghadapi gempuran modernitas.

desa-penglipuran-bali
Panglipuran Village, Bali

So, ini menjadi pelajaran untuk daerah-daerah lain di Indonesia untuk memperbaiki diri dari segi pendidikan maupun pariwisatanya. Benar bahwa ketika ajaran agama diterapkan dengan baik dalam kehidupan, maka kebaikan pastilah yang akan di dapatkan. Selain itu, sekolah-sekolah lain di Indonesia juga perlu untuk belajar dari sekolah-sekolah yang ada di Bali yang telah mampu menjalankan visi mereka dengan sangat baik dan mengakar kuat di hati siswa-siswa mereka. Hal itu dapat dibuktikan dengan bagaimana mereka menerapkan nilai-nilai itu di kehidupan mereka sehari-hari. Berhenti menjadi lembaga yang hanya mengedepankan citra dan nama besar tetapi tak ada yang lain yang bisa ditemukan selain kekosongan. Sedang untuk pariwisata, daerah lain di Indonesia perlu untuk lebih menonjolkan kearifan lokalnya, tentunya juga dengan fasilitas yang memadai. Fasilitas memadai artinya mungkin akan ke modernitas juga tetapi pastikan bahwa budaya lokal tetaplah yang akan memegang kendali penuh karena itulah pesona yang akan membawa banyak orang asing berkunjung ke negeri kita tercinta. So, #VisitIndonesia2016 #WonderfulIndonesia

 Hyn

Iklan

Mengeja Citra, Mendebat Realita

Hmm, apa yang pertama kali harus aku katakan? Actually I’m really confuse how to started. But…yang pasti aku sangat sangat banyak belajar hari ini, tentang diri aku, tulisan aku, dan tujuan hidup aku, maka dari itu aku ingin berbagi juga dengan kalian.

Okay! Kita mulai dari kata peradaban? Bukan hal yang asing bukan? Coba pikirkan kembali, berapa kali kita mendengarnya seumur hidup kita. Sangat banyak, peradaban…peradaban…peradaban…dan peradaban. Sejak di sekolah dasar pun, kita sudah mengenal yang namanya kata peradaban. Pertanyaannya, tahukah kamu apa itu peradaban?

Ya, peradaban berasal dari kata ‘adab’ yang artinya adalah norma atau aturan mengenai sopan santun yang didasarkan atas aturan agama, terutama Agama Islam. Sedang pengertian peradaban secara umum adalah bagian-bagian dari kebudayaan yang tinggi, halus, indah, dan maju.( http://www.artikelsiana.com ).

Hari ini seseorang mengatakan bahwa bangsa yang baik bukanlah bangsa yang teknologinya maju, ekonominya menghentak, atau adidaya, tetapi bangsa yang adabnya baik. Artinya begini, bahwa adab merupakan hal yang sangat krusial. Nah, berbicara tentang adab maka berarti berbicara juga tentang pemikiran. Ketika kita melogika kembali arti dari sebuah peradaban, maka hal itu tidak bisa dipisahkan dari yang namanya pemikiran. Bagaimana mungkin suatu kemajuan, kebudayaan yang tinggi bisa dihasilkan tanpa sebuah pemikiran? Mustahil.

Dan tahukah kamu bahwa memelihara pemikiran lebih kekal daripada sekedar material. Maka dari itu dikatakan bahwa bangsa yang beradab bukanlah bangsa yang teknologinya maju, ekonominya menghentak atau adidaya tetapi bangsa yang adabnya baik. Jangan cepat menyimpulkan, tahan dulu. Untuk lebih memudahkan pemahaman, aku beri contoh bom nuklir. Inovatif nggak? Maju nggak, bandingkan dengan bambu runcing. Sangat jauh berbeda, tetapi…bergunakah dia? Tidak, karena justru keberadaan bom nuklir menjadi bumerang bagi dunia saat ini. Artinya si pembuat ini sekedar mengekspresikan pemikirannya tentang kemajuan tanpa memikirkan dampak dari pemikirannnya yang tidak dijaga tersebut. Sampai disini paham ‘kan?

Oke, itulah mengapa yang namanya menjaga pemikiran itu sangat penting teman-teman, karena dampak yang ditimbulkan tidak main-main nantinya. Tidak hanya tentang si pemikir saja tetapi juga keseluruhan hubungan antar manusia secara global. Setelah berbicara tentang peradaban, kemudian pemikiran maka sudah pasti kita akan membicarakan masalah pendidikan sebagai pilar utama pembangunan diri kita maupun bangsa.

yale1
Yale University

Enam tahun terakhir ini, aku mengamati banyak hal selama perjalanan pendidikanku mulai dari sekolah hingga perguruan tinggi, dan disanalah kemudian aku menemukan berbagai fenomena menarik. Pertama, tentang universitas. Beberapa waktu lalu diadakan sebuah akreditasi universitas. Semua orang menjadi sangat sibuk, tidak hanya sibuk dalam hal yang istilahnya in the right way, tetapi juga ‘sibuk-sibuk’ lainnya. Kondisi ruang kelas tiba-tiba berubah, tertata rapi, penggantian white bord, hingga penambahan fasilitas rayuan kedip sebelah mata guna-guna. Me responses for this fenomenon? Pasti mau akreditasi. Waktu terus berjalan. Satu minggu pertama, semuanya masih terjaga. Masuk minggu kedua…kursi mulai bergerser 20 derajat, LCD naik spectrum jadi dua warna. Masuk minggu ketiga…asdfghjkl@#$%^&*!! Selesai! Ruangan kelas tiba-tiba menjadi summer education (read: panas), LCD proyektor jadi pelangi-pelangi alangkah indahmu, tatanan kursi udah semacam habis kena badai pasti bertemu, eh bukan, badai pasti berlalu dan lalu tatanan tak pernah kembali seperti dulu saat kita pertama kali bertemu. Stop Widya, ini apaan coba? Forget it. Pokoknya begitulah, saya berpikiran positif tempat kalian tidak seperti itu. Pasti lebih jujur, ya ‘kan…bukan begitu?

Oke, lalu ketika kemudian pengumuman itu muncul dan semua orang merasa terpukul. It is seriously? Dan kemudian terbentuklah viral…’tahu nggak….?’ blablablablabla. Sedih lah, ini lah, itu lah. Dan ketika seluruh orang berduka mungkin hanya saya yang bersyukur. Sekali lagi, jangan menyimpulkan terlalu cepat. Mengapa saya bersyukur? Karena saya berterima kasih kepada tim akreditasi yang telah menilai dengan sebenar-benarnya dan sesuai dengan fakta yang ada. Banyak orang mengatakan bahwa perjuangan tak akan menghianati hasil. Kita flashback, sudah benarkah tindakan yang dilakukan universitas dalam menyongsong akreditasi? Bersihkah? Jujurkah? Berdabkah? Silahkan dijawab sendiri, dinilai sendiri.

Apakah mereka menyiapkan fasilitas baik untuk jangka panjang, untuk mendukung jalannya pembelajaran dan meningkatkan nilai mutu pendidikan, atau…sekedar bungkus kado pencitraan menyambut akreditasi? Sekali lagi, silahkan dijawab sendiri, dinilai sendiri.

Lanjut ke topik kedua, kali ini tentang dosen dan professor. Sama seperti orang yang menyampaikan pesan tentang peradaban ini kepada saya dan teman-teman hari ini, saya juga suka membaca sejarah. Dalam sejarah disebutkan bahwa ilmuwan zaman dahulu bukanlah orang yang pemikirannya linier. Artinya mereka memiliki lebih dari satu bidang keahlian, maka barulah mereka bisa disebut ilmuwan saat itu.

Books
Perbanyak literaismu

Sekarang coba tengok, dosen maupun profesor di negara kita. Kebanyakan dari mereka, semakin tinggi gelar pendidikannya maka semakin sempit pemikirannya juga literasinya. Tentu kalian pernah menemui dosen atau profesor kalian yang kolotnya bukan kepalang. Ya, itulah salah satu contohnya. Mereka tidak bisa menerima pemikiran yang bertentangan dengan apa yang beliau yakini karena merasa gelarnya lebih tinggi. Padahal seharusya tidak begitu teman-teman. Perbanyak literasi kalian. Kita hidup dalam dunia yang dinamis, terus bergerak, ketika kita menutup diri, menyempitkan literasi maka hasilnya kita akan menjadi idealis gagal update. Ciri orang yang tidak terbuka dan kurang literasinya menurut pengamatanku biasanya kalau menanggapi suatu masalah pendapatnya sangat tipis dipermukaan, tidak kritis, apatis, pemilihan katanya tidak hati-hati, sulit menerima pendapat dan keras kepala, tidak mau meng-evaluasi diri, percakapannya tidak penting atau istilahnya easy conversation, not hard conversation dan maaf tidak bermaksud sara, kelihatan dungu ketika berbicara. Sekali lagi maaf, saya tidak bermaksud sara tetapi saya yakin jika kalian lebih dalam mengamati, kalian akan menemukan ciri yang saya sebutkan diatas. Kenapa saya sampai mengatakan mereka dungu, karena begini, orang yang kurang literasi atau menyempitkan literasi cara berbicaranya saja sudah berbeda. Ada sisi egosentris yang kuat disana. Dan plonga plongo ketika suatu topik dilepaskan untuk dibicarakan.

Reed College Campus, Fall 2015
“Pergilah untuk sebuah perubahan, meskipun itu kecil” – Red College Campus, Fall 2015

Oke! Apasih tujuan aku mengangkat topik ini? Yang pasti aku tidak ingin menggurui atau cari-cari sensasi, tetapi yang aku harapkan dari tulisan aku ini tentunya bisa menginspirasi kalian untuk mengevaluasi diri kalian sendiri, karena saya juga banyak mengevaluasi diri saya hari ini. Teruslah belajar becuase learning actually has no ending dan pastinya jangan menyempitkan literasi kalian. Jika kalian anak sosial maka jangan menutup diri dari sains, dan jika kalian anak eksakta maka jangan juga menutup diri dari ilmu sosial, karena anak eksak tidak akan berbicara dengan planet atau asteroid tetapi juga manusia, maka penting untuk tahu banyak hal agar kalian juga bisa berbaur dengan manusia dari berbagai latar belakang yang berbeda dan tentunya bisa menempatkan diri kalian dengan sebaik-baiknya.

sld-office-banner2
Be open minded and make hard conversation, not just talk about this artist who’s dating with…and etc

So, sudahkah kamu menambah literasimu hari ini?

Hyn

Ps: Aku bocorkan behind the scene dari tulisan ini. Sebenarnya ya, topik yang aku angkat hari ini bukan inti dari seminar yang aku ikutin tetapi dari sambutan Wapres BEM di Univ aku. Merek nggak perlu disebut. Yang pasti, aku punya alasan kuat memilih topik ini. Meskipun sekedar sambutan selama 5 menit tetapi topik ini justru lebih bombastis daripada topik inti dari seminarnya yang 3,5 jam. Aku serius, jadi ini sebenarnya semacam seminar paling gagal yang pernah aku ikutin karena baru pertama kalinya aku ikut seminar yang sambutannya lebih wow daripada acara intinya. Bisa menilai ‘kan? Ya, itu dia kata kuncinya…literasi.

Plonga-plongo itu bahasa jawa artinya…susah sih nyari padanan katanya, yang lebih dekat mungkin bisa diartikan nggak tahu apa-apa, kudet dan gagal respon.

Selanjutnya tentang judul, E…itu ceritanya aku mau bkin judul yang sok-sok serius eye cathing gitu tapi jadinya malah nggak meching. Oke. dimaklumi saja, sense aku soal perjudulan itu parah banget minusnya. Kalau kaca mata mungkin udah 3,5…apa ya. itulah pokoknya.  Jadi, mengertilah, jika ada yang menganggu maka bicaralah.

Dan yang terakhir, pemirsa kepala saya rasanya mau pindah negara karena saya baru sadar topik ini serius banget ternyata. Diksinya bikin gila, apalagi referensinya. Pusing saya, 2,5 jam untuk artikel ini. Wow, kamu memecahkan rekor sayang. So, aku berharap respon dari kalian. Kritislah. Saya banyak salah loh biasanya, jadi tinggalkan kritik kalian untuk saya memperbaiki diri kedepannya. Love you…

Cerita tentang Mark, Jinyoung, dan Qs. Al-Alaq:1-5

Masih ingat banget, dulu waktu masih belajar bahasa inggris mentor aku bilang, jika kamu ingin cepat menguasai bahasa asing maka buat suasana belajarmu seakan-akan kamu berada di negeri asing dimana bahasa itu berasal. Jadi, semacam menghayal, membangun imajinasi dan itu keren banget. Tetapi akhir-akhir ini ada terlalu banyak hal yang menumpuk dipikiran aku, sampai-sampai moodku untuk melakukan apapun yang biasanya show up jadi drop out. Liburan kemarin justru semua berjalan optimal sampai aku sendiri pun takjub gitu, tetapi begitu aku balik untuk masuk kuliah, semuanya jadi kacau berantakan. Jadi dapat disimpulkan bahwa kuliah…yeah. Like that. I tell you.

Nah, setelah sekian lama aku berusaha membangun moodku kembali, akhirnya hal itu mulai tercapai di bulan ini dan itu karena someone, Mark. Okay, jadi Mark ini merupakan salah satu member GOT7 yang berasal dari LA. GOT7 ini sendiri memiliki member yang berasal dari empat negara berbeda yakni Hongkong, LA, Thailand dan sisanya Korea.

195559460_kmi_5796
Mark who speaks Korean like English

Lalu apa sih spesialnya Mark? Lupakan kalau dia itu ganteng banget, poin plusnya Mark itu, dia orang yang open minded, keren, dan international banget karena pernah tinggal di empat negara berbeda yakni Brazil, Paraguay, LA, dan sekarang Korea. Jadi begini, orang yang sering berpindah negara, untuk menetap atau sekedar travelling biasanya cara berpikirnya beda. Susah untuk dijelaskan tetapi itu ada di Mark and I like someone who are open minded, clever, and international feeling. Terus kenapa aku bilang dia ini keren banget, karena Mark ini sebenarnya nggak pernah melakukan hal-hal yang berhubungan dengan music sebelumnya. Sangat berbeda dengan member GOT7 lainnya yang memang sudah expert di dunia music. Nah, dia ini down to zero karo masalah music, sampai suatu hari JYP (tiga agensi besar korea) datang ke sekolahnya Mark di LA untuk melakukan audisi. Karena dorongan seseorang Mark akhirnya mengikuti audisi ini dan lolos. Hebatnya dia belajar dari nol tentang semua hal di bidang music setelah dia datang ke Korea. Trainingnya cukup lama yakni 3,5 tahun. Tetapi mengingat dia yang memulai segalanya dari nol, aku kira waktu sekian masih cukup pendek.

tumblr_nmvj48jxqs1townovo1_500
GOT7 Mark Tuan Yi-Eun

Coba bayangkan, dalam waktu 3,5 tahun Mark bisa dance dengan sangat baik, acting dengan baik,  dan bisa martial arts atau bisa di bilang dia ini lead martial artsnya GOT7. Dia bisa menyanyi, bisa berbahasa korea dan mandarin, dan ini yang paling penting dari seorang musisi tapi nggak semua musisi bisa, nyiptain lagu. 3,5 tahun, memulai dari nol dan bisa menguasai semua hal dengan sangat baik. Keren nggak dia? Ini loh yang aku maksud tentang international feeling yang ada di Mark. Dia ini kalau masalah menyesuaikan diri, bisalah dibandingkan sama anak-anak diplomat yang sama-sama hobi pindah negara. Uniknya lagi, karena sering pindah negara yang beda bahasa, Mark ini punya logat yang khas ketika berbicara bahasa selain inggris, misal ketika dia berbahasa korea. Cara dia mengucapkan bahasa korea itu sama dengan bahasa inggris sehingga…apa ya… bayangin aja deh kalau bahasa korea dibaca ala inggris. Yeah, I don’t know how to speak it but that really cool one. His accent is unique unik.

Beda Mark, beda juga dengan Jinyoung. Sama seperti Mark, Jinyoung ini juga membernya GOT7 dan asli Korea. Hanguk saramieyeyo. Lalu apa spesialnya Jinyoung dibandingkan Mark? Begini, kalau Mark mungkin daya tariknya karena international feelingnya itu, nah kalau Jinyoung ini menarik karena kita punya hobi yang sama, baca buku. Oke! Mungkin itu terdengar membosankan tetapi itulah kerennya Jinyoung.

large
GOT7 Jinyoung

Saat pertama lihat Jinyoung, ada feeling pengen lirik Jinyoung terus, tapi nggak tahu kenapa bisa gitu. Sampai kemudian aku tahu kalau dia ini hobi banget baca buku. Pantes. Biasanya kalau aku suka dengan sesuatu hal pasti ada sesuatu di orang itu yang bisa dipastikan bakal match sama aku, dan karena Jinyoung punya itu makannya sejak pertama lihat ada feeling yang beda. I know it’s sounds cheesy but that is the fact. Okay!

Sebenarnya dari cara dia berbicara saja udah ketahuan kalau dia ini suka baca buku. Hati-hati, pilihan katanya nggak biasa aja, dan kalimatnya sounds like books. Pernah di suatu acara semua member GOT7 dapat pertanyaan “kalau misal mereka jadi suami kelak, akan jadi suami yang seperti apa mereka nanti?” Tahu apa jawabannya Jinyoung, kalau nanti dia menjadi ayah maka dia ingin menjadi ayah yang suka baca buku bagi anak-anaknya. Jadi, misalnya dia punya anak, anaknya bakal tahu kalau ayah mereka suka membaca dan mereka pun akan begitu (suka membaca juga). Dan bagi Jinyoung oppa itu akan menjadi kenangan yang indah. Jinyoung oppa juga bilang kalau dengan membaca, orang akan belajar banyak hal dan akhirnya tahu banyak hal. Oh, wait, he looks so sexy, right? Damn! Hell! Pada pengen nikah ‘kan sama Jinyoung oppa? Jangan bohong!

1038-6-novel-romantis-thriller-wajib-baca-rekomendasi-dari-junior-got7
Jionyoung Oppa reading the book

Lalu buku apa saja sih yang dibaca sama Jinyoung oppa? Ada banyak genre buku yang dia baca mulai dari sastra semacam puisi, novel hingga buku-buku yang menggali tentang makna kehidupan. Selain suka membaca, Jinyoung oppa ini juga cukup serius orangnya dan dalam beberapa hal dia lebih suka sendirian. Maksudnya begini, dia suka menyendiri karena ingin fokus ketika melakukan sesuatu. Aku kira itu benar karena aku juga gitu. Ada saat dimana keramaian itu justru jadi menjengkelkan dan akan sangat baik untuk menyisihkan waktu sendiri. Fokus itu penting karena akan berpengaruh pada hasil akhir dari suatu hal yang kita lakukan. Dan karena untuk aku, fokus itu adalah ketika aku sendiri maka banyak hal yang aku lakuin sendiri, bahkan untuk belajar pun aku lebih suka self-study. Nah, efek sampingnya, biasanya kita akan kuat di pemikiran. Artinya kamu nggak akan mudah terbawa pemikiran orang lain. Semacam punya pendirian gitu. Aku nggak bilang bahwa aku paling baik, tetap aku harus selalu belajar dan belajar karena belajar itu probably has no ending. Longlife learning. Cuma biasanya orang akan menganggap kita aneh. It’s okay karena apa yang aku lakukan juga bukan untuk dapat pujian atau something dari orang lain. Jadi ya, terserah mereka mau berpikir apa tentang aku.

Kembali ke Jinyoung oppa. Menurut aku kebiasaan baiknya Jinyoung oppa ini (membaca) harus dicontoh oleh kita teman-teman karena buku adalah sumber ilmu. Coba bayangkan apa yang akan terjadi jika tidak ada buku di dunia ini? Bagaimana orang akan belajar? Makannya dalam islam ada kata-kata “tulisan adalah pengikat ilmu”. Maksudnya mungkin begini, jika itu sekedar ucapan maka hal itu tak akan bertahan lama. Palingan habis diomongin masuk telinga kanan keluar telinga kiri, tetapi tulisan tidak begitu. Dia akan bertahan lama. Kalau kalian belajar sejarah, ada kan museum yang isinya buku dari berabad-abad tahun yang lalu dan sekarang masih bisa kita lihat bentuk fisiknya. Itu dia buku, abadi meskipun mungkin penulisnya sudah meninggal ratusan tahun lalu.

01-reading-a-book-1
The happenies one is reading the book-Me

Nah, tentang membaca dan menulis ini telah dijelakan dalam Qs. Al-Alaq: 1-5 yang artinya adalah “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan Tuhanmulah yang Maha Mulia. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia tentang apa yang tidak diketahuinya”. Dari ayat ini saja sudah jelas bahwa membaca adalah hal yang sangat penting. Dan membaca artinya harus ada yang menuliskannya, saling terkait. Maka dalam proses belajar, membaca dan menulis adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. So, sudahkah kamu membaca? Jinyoung oppa saja yang sibuk masih punya waktu loh untuk membaca. Masih mau beralasan bahwa kesibukan kalian di kampus yang tidak seberapa itu membuat kalian nggak punya waktu buat baca. Aku pernah dengar ada orang yang mengatakan gini “gila itu orang, baca buku sebulan sekian buku, nggak kuliah apa dia”. Kalau aja aku ini tipe orang yang nggak tahu etika. Pasti udah aku bodoh-bodohin ini orang saking kesalnya. Untungnya apa yang kita pikirkan nggak bisa langsung bersuara jadi tidak perlu ada etika yang terlanggar. So, kembali ke dua cowok ganteng di atas. Menarik nggak mereka? Mau nikah ‘kan sama salah satunya? Jangan bohong. Aku tahu kalian terpesona. Tapi aku ingetin yang mau sama Jinyoung oppa harus punya pengetahuan luas, dan pengetahuan luas salah satunya bisa didapatkan dengan membaca. Artinya yang mau sama Jinyoung oppa harus mau baca juga. Biar nggak jomplang (kalah jauh). That’s all…

Cherioo

Kiss kiss kiss

Anak anda, bukanlah Anda

Manusia berarti memiliki kehidupan sosial. Tidak bisa tidak, harus iya. Bahkan, seberapa banyak kita menolak fakta tersebut maka semakin kita tidak bisa menolaknya. Dalam praktiknya semua tak semudah bagaimana teori bercerita. Memang kita hanya berinteraksi tetapi disanalah problem itu kemudian menjadi momok yang menjengkelkan. Kita selalu mengatakan “Aku bisa menjadi diriku sendiri”. Bullshit! Tahu kenapa? Karena itu tidak mungkin. Selalu ada situasi dimana kita dituntut untuk setara dengan yang lainnya di hampir semua lini kehidupan kita. Mungkin cerita dimana orangtua ingin anaknya mendapat nilai bagus seperti si A, si B, si C dan lainnya sudah menjadi hal yang biasa. Hey dia bisa melakukannya, seharusnya kamu juga bisa. Menuntut kita untuk rangking satu, masuk sekolah A, perguruan tinggi A, pekerjaan A dan ribuan A lainnya.

Baiklah, sesungguhnya orangtua berpikir sederhana dimana mereka ingin kita mendapat yang terbaik dalam perjalanan hidup kita. Tetapi ada satu hal yang mereka lupa bahwa dalam diri seseorang tersimpan bakat yang tak bisa disamakan, disandingkan, dan dibandingkan satu dengan lainnya. Artinya mungkin si A pandai menghitung, tetapi jika kemudian si B tidak pandai menghitung maka tidak bisa si B ini kemudian dikatakan bodoh. Aku cukup setuju bahwa memang setiap dari kita memiliki bakat kita sendiri, meskipun itu terdengar kecil bagi orang lain. Tapi mau bagaimana, pendidikan kita mendoktrin bahwa semua hal harus di standardisasi. Berbeda ya berarti bodoh, maka hasilnya banyak diantara anak-anak tak berani mengungkapkan apa yang mereka pikirkan. Dan inilah kabar masa depan Indonesia. Sangat jelas dan tak perlu diprediksi lagi.

Puluhan tahun lalu, dalam bukunya, Steven R. Covey mengatakan bahwa ada perbedaan besar antara Etika Kepribadian dan karakter. Tidak bisa kemudian kita menggunakan ukuran sosial untuk menilai sesuatu. Ketika kita menggunakan perbandingan sosial untuk menilai sesuatu hal, maka tanpa kita sadari kita akan memasukkan standar kita untuk menilai itu. Maka penting bagi kita untuk memisahkan diri agar kemudian kita dapat merasakan identitas, individualitas, kekhasan dan nilai dari objek yang kita nilai tersebut.

Inilah yang kemudian terjadi pada banyak orang tua kita dimana mereka memasukkan standar mereka untuk menilai diri kita. Akibatnya mereka tidak menyadari bahwa setiap manusia memiliki keunikannya masing-masing, sehingga tanpa mereka sadari tindakan orangtua kita ini akan menghalangi jalan kita untuk menunjukkan potensi kita yang sesungguhnya. Maka satu pesan untuk orangtua dimana pun itu,  berhenti untuk membandingkan, menghakimi, dan mengkloningkan anak-anak anda sesuai dengan citra anda sendiri. Itu akan memperburuk masa depan mereka. Kalaupun kemudian mereka sukses, maka jangan pernah bertanya seberapa banyak tumpukan tekanan dan stress di kepala kecil mereka setiap detiknya. Terkadang mereka lebih banyak diam karena ketakutan mereka akan karma, sehingga mereka banyak menurut. Padahal mungkin ada suatu titik dimana mereka ingin mengakhiri semuanya bersama diri mereka, atau penyimpangan perilaku karena tekanan tersebut. Maka pikirkan kembali.

Mereka mungkin anak yang lahir dari rahim anda, tetapi mereka bukanlah anda yang terlahir kembali untuk menuntut mimpi anda yang tak tergapai. Oleh karena itu, biarkan mereka ada bersama citra diri mereka. HYN

That’s all. Cherioo…

Hyn

Ps: Hai, lama tak berjumpa. Topik aku serius banget ya? Ah, I feel little hurt this week. So,…Yeah. Like this. I’m sorry and I hope this article will be useful to anyone who reads. Thank’s to visit. Love you. #JanganTakutMenjadiBerbeda #JadilahBerbeda #AyoBerbeda

Memahami untuk Dipahami

Tahukah kamu hal sederhana apa yang paling banyak terlupa dari manusia? Ya, bahwa dia juga memiliki kesempatan mutlak untuk melakukan kesalahan. Tetapi nyatanya, debu diseberang lautan jauh lebih tampak dibanding gajah yang ada dipelupuk mata. Artinya seseorang selalu tepat melihat kesalahan orang lain tanpa menyadari bahwa dirinya pun juga memiliki presentase yang sama untuk melakukan kesalahan.

Satu tahun terakhir ini aku terus mengamati lingkungan akademisku yang…yang…Ah…I don’t know how to speak it. It just like something too bad if it is an academic environment. Aku tidak merasa bahwa aku yang paling benar, hanya saja aku pikir begini, bukankah lebih baik jika ada permasalahan diselesaikan saja. Kenapa harus di koar-koarkan di hadapan orang lain. Banyak bicara justru tidak akan menyelesaikan apapun. Lucunya lagi, aku yang mendengar saja sudah over muak tetapi kenapa yang berbicara nggak pernah sadar diri. Lagian kalian kan bukan selebritis, ngapain sih masalah dikoar-koarkan. Seakan-akan dia yang paling bermasalah, padahal orang lain pun juga memikul masalahnya sendiri tanpa harus ditambah dengan aksi koar-koar tidak penting itu.

fotomaniak_101644_500x500_0_0
Merekam jejak keseharian

Aku tidak tahu kenapa tetapi mungkin saja karena aku terbiasa quiet dalam menyelesaikan masalah sehingga aku menjadi kurang terbiasa dengan lingkungan semacam ini. Aku kira menyelesaikan masalah secara quiet itu jauh lebih effective dan selesai ke akar masalahnya dibanding kebanyakan berbicara dan mengeluhkannya kepada orang lain. Hal terburuk yang juga aku amati adalah, kalau menurut buku The 7 Habits of Highly Effective People, melupakan kebiasaan ke-5 yakni ‘berusaha memahami dulu, baru dipahami’. Ini loh kuncinya kerja tim itu. Ketika kita merasa terus benar maka tim akan bubar, maka penting untuk memahami orang lain terlebih dahulu karena sejauh pengalamanku mereka akan bisa merespon sama positifnya. Tapi sekali lagi, hal ini pun banyak terlupa karena semua merasa dirinya benar.

Akhir–akhir ini aku merasa cukup terganggu dengan sikap beberapa orang. Aku tidak tahu kenapa orang begitu penasaran dengan seluk beluk kehidupanku. Hey! I’m not selebrities but why you are so curious huh?  I’m sorry, actually I did not like sharing. The most funny thing is, you know my problem. WOW! So, I’m famous now? Or should I give you my signature? S**t!  Ini nih kebiasaan orang Indonesia yang paling aku benci pakai caplock plus garis bawah tanda seru. Ngapain sih ngurusin hidup orang lain. Kurang kerjaan? Kalau memang kurang kerjaan mending baca buku, biar ada gunanya. Oke partner kamu keren dan blablabla. Terus apa, mau sombong karena sudah ada ide dan aku belum. Baiklah, sombonglah sesukamu, plus karaokean juga bisa, cuma biasanya aku nggak peduli sih. Kalau dicuekin jangan protes loh. Aku nontonya yang eksklusif-eksklusif soalnya jadi untuk yang under quality semacam itu…Hmm….skip it.

Saat mengalami ini aku kemudian teringat dengan cerita mbk. Altjie yang menikah dengan bule Irlandia dan mendapat perlakuan semacam itu dari masyarakat sekitar dan teman-temannya. Dia sempat menuliskan kekesalannya melihat kelakuan orang-orang Indonesia yang mulutnya tak tersaring. Nanya gaji lah, transkip nilai, ini, itu bahkan yang terburuk, kalau bukan beliau ya temannya pernah dapat pertanyaan begini “Gimana bule kalau diranjang?” B***h. Wah, that must be shit one.

gossip
Mulut Tujuh. NO!

So, buat kalian yang bermulut tujuh. Please, decrease it! Berhenti mengurusi masalah orang lain dan tahan diri. Anda tahu itu sangat, sangat, sangat MEN-JENG-KEL-KAN!!! Jika anda terus menganggu bukan tidak mungkin di hari selanjutnya kita akan bertemu di meja hijau. Ingat perbuatan anda ini memungkinkan untuk dibawa ke ranah hukum. Jadi, berhentilah selagi dini. Pahami orang lain jika anda tidak ingin dibalas ganti nanti.

Cherioo…

Ps: It’s been a long time, right? It is almost three weeks since I posted my last article and I’m sorry becuase as soon as I make a comeback I make this kind of writing. I just feel uncomfortable about my my surroundings. If you have some problem like mine, share here. Let’s talk about how to solve it. Love ya my beloved readers.

Hyn