Menilik Sedikit Perjalanan Gen ‘K’

Berapa tahun negara ini dikatakan merdeka? 70 tahun? 71 tahun? Yah, kurang lebih sebanyak itu, tetapi apa, bagaimana mungkin bangsa yang dikatakan merdeka tak sadar dirinya dibodohi, atau jangan-jangan pura-pura tidak sadar?!

Jika Prof. Rhenald memiliki gen C (generasi C) maka aku pun memiliki istilah sendiri, gen K (generasi K). Bukan Co creation seperti yang dikatakan Prof. Rhenald tetapi generasi konsumtif addictive. Artinya tingkat ketergantungan kita akan produk asing benar-benar berada pada posisi kritis mengkhawatirkan. Bayangkan, sekadar jepit rambut seukuran sekian mm kita masih mengimpor dari Tiongkok. Lebih parahnya lagi, negara yang dikatakan Tanah Surga oleh Koes Plus ini bahkan mengimpor buah-buahan dari negara lain yang jelas-jelas bertebaran di negerinya sendiri #Miris.

Mari menilik sejarah, kita dibodohi bukan baru-baru ini tetapi sudah sejak ratusan tahun yang lalu. Segala industri potensial kita dimatikan, sebut saja Kretek, Minyak Kelapa, Garam, Gula, Manufaktur, bahkan Jamu pun turut di cabik-cabik tak bersisa. Hey lihat, si penghasil kelapa terbesar di dunia harus mengimpor dari negara lain loh. Garam, lautan kita yang luasnya ¾ dari daratan masih juga mengimpor garam dari Australia. Kalian menelan air laut sampai lautan seluas ini pun tak cukup huh? Lagi, temulawak yang jelas-jelas milik Indonesia diajukan paten nya pertama kali justru oleh Korea Selatan. S**t! Lebih gilanya lagi, peneliti yang menemukan manfaat luar biasa temulawak dibanding ginseng ini adalah anak bangsa Indonesia sendiri yang menjadi Profesor peneliti di Yonsei University, Korea Selatan.

%ec%97%b0%ec%84%b8-%eb%b4%84
Yonsei University-South Korea

Salah kah dia?

Ehmm…bagaimana ya, di negeri sendiri saja tidak di apresiasi. Jadi, sebagai manusia yang pastinya memiliki ego maka wajar jika dia memilih bekerja untuk negara lain. Bukan begitu? Makannya hingga hari ini aku masih terkagum-kagum dengan BJ Habibie karena walaupun ditendang habis-habisan oleh negeri ini beliau masih menanam rasa cinta yang tak terhitung jumlahnya. Jika aku berada di posisi beliau aku masih belum yakin mampu se-sabar itu.

n250-1
N250 yang akan tetap terkenang-1995

Sekarang aku, sadar kah aku akan situasi ini? Jika harus menjawab jujur maka ya, sangat sadar. Mau tahu contoh kecilnya, selera musik. Saat ini negara kita digempur oleh K-pop setelah puas di invasi musik western selama belasan atau bahkan puluhan tahun lalu. Okay! aku suka K-pop dan memiliki beberapa grup yang aku idola kan, tetapi jujur jika mereka terlalu banyak menginvasi…aku katakan membencinya 98%. Lalu kemana 2% nya? Itu mungkin persentase rasa suka ku terhadap mereka.

Masih ingat dengan perhelatan Musik Bank 2013 lalu. Saat itu mereka berdalih mengadakan acara itu untuk mempererat hubungan antar kedua negara. Bohong! Kita di invasi guys. Mau tahu buktinya kalau kita ini diliciki? Gampang, download saja video perhelatan acara Mubank yang ditayangkan di KBS, mereka memotong semua penampilan artis Indonesia kecuali artis Indonesia yang dibentuk oleh mereka, S4. Masih mau bilang mempererat hubungan kedua negara? Jangan bodoh!

8430_5100_l
Music Bank in Jakarta 2013 silam

Sekali lagi, aku suka K pop. Baiklah! Tetapi yang tidak kalian tahu adalah bagaimana aku harus membangun benteng se-kuat-kuatnya agar aku menyukai mereka sekadarnya saja. Di batas seminim-minimnya dan cinta sekecil-kecilnya. Itulah kenapa aku masih cukup sadar bahwa kita diliciki, karena aku tidak benar-benar jatuh berkubangan dalam jebakan mereka. Mungkin aku sangat kagum dengan usaha mereka membangun negeri mereka yang sempat terbelakang, karena ya…kita jelas harus belajar dari keberanian mereka mengambil risiko untuk memperkuat posisi bangsa mereka di mata dunia. Tetapi tindakan mereka menginvasi negeri ini secara perlahan, di bungkus apik, ciamik dibalik kotak kaca berhiaskan lentera, maaf saya tidak sebodoh itu.

Beberapa hari terakhir aku masih terus memuji tindakan Tiongkok yang menemukan angin segar untuk membatasi invasi K-pop. Tahu kasus THAAD? Okay! jika kalian tidak mengetahuinya maka aku akan menjelaskannya satu-persatu. Jadi, pada 6 Januari 2016, Korea Utara melakukan uji bom nuklir keempatnya. Hal itu kemudian berimbas pada Korea Selatan yang karena merasa terancam mereka mengambil tindakan dengan mendirikan THAAD. Sistem pertahanan rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) milik Amerika Serikat di negara mereka. Tindakan itu kemudian mendapat protes keras dari Presiden Tiongkok Xi Jinping dan bahkan Rusia. Mereka mendesak agar AS tidak ikut campur. Tiongkok khawatir THAAD dan radar nya dapat menjangkau wilayah China. Di lain sisi Tiongkok pun berang dengan tindakan Korea Utara yang terus melakukan uji coba bom nuklir. Padahal, China merupakan pendukung diplomatik dan ekonomi utama dan satu-satunya Pyongyang.

Nah, berkat kasus ini Tiongkok berhasil menemukan celah untuk mengurangi invasi K-pop dengan membentuk aturan super ketat terkait penampilan artis K-pop di China, termasuk pembatasan penayangan drama korea di negara itu. Sejauh ini sudah 2 artis K-pop yang dinyatakan gagal tampil di Tiongkok yakni So Jong ki dan Jung Il Woo. Aku pikir tindakan ini layak dipuji karena alasan mereka menerapkan aturan super ketat adalah salah satu upaya mereka untuk menaikkan pamor artis mereka sendiri yang sempat terinjak-injak oleh invasi K-pop. Indonesia perlu mencontoh. Kenapa? Karena kita terlalu konsumtif dalam semua lini kehidupan. Hey! kita ini jauh lebih kaya, memiliki pariwisata yang cantiknya tak terkira, kreativitas yang tinggi, pasar dalam negeri yang mencapai 250 juta orang, masa iya kita dibodohi iya-iya saja. Jangan konyol.

Kita ini dijajah okay. bukan dengan hal kasar. Itu tidak eksis lagi. Sekarang adalah zaman perang intelektual, so please…kita yang katanya generasi muda ini belajarlah dengan benar. Tidak cukup dengan baik saja tetapi juga benar. Hilangkan kebiasaan mencontek karena itu membuat kalian semakin bodoh dan tak bermartabat. Jika kalian saja tidak percaya dengan kemampuan yang kalian miliki sendiri maka sudah jelas masa depan negara ini, bukan? Baiklah, kita lahir di zaman serba konsumtif tetapi bukan berarti gen kita turut teracuni gen konsumtif. Itu masih bisa dimusnahkan kawan, tetapi masalahnya penawar racun itu bukan dari siapa-siapa, tetapi diri kita sendiri. Jika kita sendiri tidak mau berubah maka jangan menyesal jika mungkin negara kita bisa saja menjadi milik negara lain.

Tips yang bisa aku berikan adalah membaca dan menulis lah sebanyak-banyaknya. Mungkin itu bukan hal besar tetapi membaca dan menulis akan meningkatkan kepekaan kita terhadap lingkungan kita. Mungkin aku tidak akan pernah bisa peka dengan perasaan orang lain, tetapi untuk masalah seperti ini, maaf aku mungkin bisa sedikit menyombongkan diri. So, ayo sadar kawan-kawan. Katanya terpelajar, lulusan universitas ternama dalam negeri, malu donk masih bisa dibodohi. Okay!

Berubah tak harus dimulai dengan tindakan besar karena bahkan hal sepele pun dapat menciptakan perubahan. So, ayo sadar kawan.-Hyn

 Hyn

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s