Menelan Kecewa di Negeri Van Orange

“Apa yg kamu lihat di buku-buku dongeng, semua bisa kamu temukan di Belanda”-Negeri Van Orange

Menarik dan aku menyetujuinya seratus persen. Siapa yang tak kenal Belanda? Sebagai warga Indonesia nama Belanda bukanlah sesuatu yang baru, tetapi tak cukup baik juga untuk diingat. Ya, tentu penjajahan ratusan tahun di negeri ini bukan suatu memori yang akan pudar begitu mudah. Namun, aku pikir masa lalu biarlah berlalu dan cukup jadikan sebagai pelajaran hidup. Tak perlu diperpanjang lagi.

Oke, kembali ke negeri Belanda. Selain menyimpan sejuta sejarah dan kecantikan masa lampau, Belanda juga merupakan tujuan studi yang cukup populer di Eropa. Setiap tahunnya, ratusan mahasiswa asing dari berbagai negara di dunia akan berbondong-bondong datang ke Belanda untuk menuntut ilmu dan Indonesia adalah salah satunya. Mungkin ini juga yang menginspirasi terciptanya novel Negeri Van Orange yang juga ditulis oleh empat mahasiswa Indonesia yang berkuliah di negeri 1001 kanal ini. Mereka adalah Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, dan Rizki Pandu Permana. Latar belakang dari novel ini juga mengenai serba-serbi kuliah di Belanda.

cultural-observations-after-living-in-amsterdam-1080x620

Amsterdam, Belanda

Nah, Negeri Van Orange sendiri merupakan novel Indonesia ketiga yang membuat aku jatuh cinta setelah Lorong di Kotaku milik NH Dini dan Calla Sun milik Yuli Pritania. Alur cerita yang sederhana menjadikan novel ini sangat mudah untuk dipahami dan tentu juga sangat menarik. Novel ini sendiri bercerita tentang persahabatan lima mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di 5 kota berbeda di Belanda. Lintang berkuliah di Leiden, Geri di Den Haag, Wicak di Wageningen, Banjar di Rotterdam, sedangkan Daus di Utrecht. Pertemuan pertama mereka sendiri terjadi di stasiun Amersfoort karena cuaca buruk yang menyebabkan terlambatnya jadwal kereta. Tapi namanya juga persahabatan antar laki-laki dan perempuan, ujungnya pasti ke percintaan. Namun, dari sudut pandang aku cerita keseharian mereka sebagai mahasiswa asing di Belanda jauh lebih kuat di bandingkan dengan kisah percintaan antar tokohnya. Kita akan dibawa ke masa-masa sulit dan senangnya menjadi mahasiswa asing di negeri orang. Ceritanya juga sangat nyata dan menginspirasi. Aku rekomendasikan untuk membacanya. There is a magic thing behind. I’m serious, Found it!

Poin penting yang membuat aku jatuh hati dengan novel ini adalah penggunaan beberapa kalimat berbahasa sunda. Jadi begini, ada kecenderungan dalam diri aku yang kurang menyukai suatu cerita bersetting di negara lain tetapi dibumbui bahasa daerah. Namun, novel ini cukup untuk mengubah paradigma bahwa sesuatu akan menjadi menarik atau tidak menarik bergantung pada pemilihan dan pengolahan dari diksi itu sendiri. Sesuatu yang menarik bisa saja menjadi tidak menarik ketika seorang penulis tidak mempu mem-visualisasikannya dengan baik, sedang sesuatu yang kurang menarik bisa menjadi sangat menarik karena pengolahan kata yang menyusunnya.

wageningen_university_-_building_lumen

Wageningen University

Nah, kekagumanku akan novel inilah yang kemudian menumbuhkan ekspektasi tinggi ketika novel ini di beritakan akan diangkat ke layar kaca. Membayangkan bagaimana sesuatu yang awalnya hanya imajinasi kemudian menjadi visual yang nyata adalah kesenangan tak terungkap. Tetapi ekspektasi tinggalah ekspektasi. Apa yang aku lihat di film ini sangat-sangat mengecewakan. Pemeran utama wanita dalam film ini, Tatjana Saphira yang berperan sebagai Lintang berakting dengan sangat buruk. Hal itu dibuktikan dengan dialog kaku yang terucap di beberapa adegan. Nah, Lintang yang ada di film ini tidak bisa menjadi semenarik Lintang di novel Negeri Van Orange. Istilahnya, Tatjana Saphira ini tidak bisa menyelami karakter dari Lintang dan menjadikannya miliknya. Sangat disayangkan mengingat betapa luar biasanya novel ini. Untuk empat pemain lainnya yakni Geri (Chicco Jerikho), Wicak (Abimana Aryasatya), Banjar (Arifin Putra), dan Daus (Ge Pamungkas), aku kira mereka berakting dengan sangat baik.

utrecht-2001-picture-11

Utrecht, Netherlands

Dari segi pengambilan gambar, film ini masih cukup baik dan patut untuk diacungi jempol. Selama film berlangsung, mata kita akan dimajakan oleh cantiknya kuntum bunga tulip di keukenhof yang berwarna-warni, modernya Rottredam dengan rumah kubiknya, Amsterdam dengan keramaiannya yang touristy, dan lainnya. Selain itu, perjalanan mereka ke Praha juga menjadi poin lebih. Tapi ada satu pertanyaan di benak aku, entah mengapa film-film bersetting Praha yang pernah aku tonton selalu memiliki model pengambilan gambar yang sama. Maksudnya semacam buram dengan cahaya orange. Contohnya adalah film asal Tiongkok yang dibintangi oleh Wu Yi Fan ex-EXO member berjudul Somewhere Only We Know. Model pegambilan gambarnya sama persis, buram dan suram. Aku nggak tahu bagaimana menyebutnya dalam istilah perfilman, intinya seperti itu. Yang mungkin berbeda adalah drama asal Korea Selatan berjudul Doctor Stranger yang juga mengambil setting di Praha. Sama-sama menampilkan kesan kuno, tetapi dari segi pencahayaan, Doctor Stranger masih jauh lebih baik. Mungkin beda teknik kali ya. Entahlah, tapi yang pasti setiap film dan drama diatas memberikan kesan tersendiri untuk aku.

rumah-kubik

Rumah Kubik, Rotterdam

Namun, terlepas dari itu semua, film ini cukup menarik untuk sekedar bersenang-senang dan cuci mata dengan pemandangan vintage dari negara ini. So, apa pendapat kamu?

Ps: aku tahu review ini benar-benar basi, tetapi pasti masih ada diantara kalian yang belum membaca bukunya ataupun menonton filmnya maka aku pikir review ini akan tetap berguna. Selamat membaca. Love you all.

 Hyn

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s