Menilik Sedikit Perjalanan Gen ‘K’

Berapa tahun negara ini dikatakan merdeka? 70 tahun? 71 tahun? Yah, kurang lebih sebanyak itu, tetapi apa, bagaimana mungkin bangsa yang dikatakan merdeka tak sadar dirinya dibodohi, atau jangan-jangan pura-pura tidak sadar?!

Jika Prof. Rhenald memiliki gen C (generasi C) maka aku pun memiliki istilah sendiri, gen K (generasi K). Bukan Co creation seperti yang dikatakan Prof. Rhenald tetapi generasi konsumtif addictive. Artinya tingkat ketergantungan kita akan produk asing benar-benar berada pada posisi kritis mengkhawatirkan. Bayangkan, sekadar jepit rambut seukuran sekian mm kita masih mengimpor dari Tiongkok. Lebih parahnya lagi, negara yang dikatakan Tanah Surga oleh Koes Plus ini bahkan mengimpor buah-buahan dari negara lain yang jelas-jelas bertebaran di negerinya sendiri #Miris.

Mari menilik sejarah, kita dibodohi bukan baru-baru ini tetapi sudah sejak ratusan tahun yang lalu. Segala industri potensial kita dimatikan, sebut saja Kretek, Minyak Kelapa, Garam, Gula, Manufaktur, bahkan Jamu pun turut di cabik-cabik tak bersisa. Hey lihat, si penghasil kelapa terbesar di dunia harus mengimpor dari negara lain loh. Garam, lautan kita yang luasnya ¾ dari daratan masih juga mengimpor garam dari Australia. Kalian menelan air laut sampai lautan seluas ini pun tak cukup huh? Lagi, temulawak yang jelas-jelas milik Indonesia diajukan paten nya pertama kali justru oleh Korea Selatan. S**t! Lebih gilanya lagi, peneliti yang menemukan manfaat luar biasa temulawak dibanding ginseng ini adalah anak bangsa Indonesia sendiri yang menjadi Profesor peneliti di Yonsei University, Korea Selatan.

%ec%97%b0%ec%84%b8-%eb%b4%84
Yonsei University-South Korea

Salah kah dia?

Ehmm…bagaimana ya, di negeri sendiri saja tidak di apresiasi. Jadi, sebagai manusia yang pastinya memiliki ego maka wajar jika dia memilih bekerja untuk negara lain. Bukan begitu? Makannya hingga hari ini aku masih terkagum-kagum dengan BJ Habibie karena walaupun ditendang habis-habisan oleh negeri ini beliau masih menanam rasa cinta yang tak terhitung jumlahnya. Jika aku berada di posisi beliau aku masih belum yakin mampu se-sabar itu.

n250-1
N250 yang akan tetap terkenang-1995

Sekarang aku, sadar kah aku akan situasi ini? Jika harus menjawab jujur maka ya, sangat sadar. Mau tahu contoh kecilnya, selera musik. Saat ini negara kita digempur oleh K-pop setelah puas di invasi musik western selama belasan atau bahkan puluhan tahun lalu. Okay! aku suka K-pop dan memiliki beberapa grup yang aku idola kan, tetapi jujur jika mereka terlalu banyak menginvasi…aku katakan membencinya 98%. Lalu kemana 2% nya? Itu mungkin persentase rasa suka ku terhadap mereka.

Masih ingat dengan perhelatan Musik Bank 2013 lalu. Saat itu mereka berdalih mengadakan acara itu untuk mempererat hubungan antar kedua negara. Bohong! Kita di invasi guys. Mau tahu buktinya kalau kita ini diliciki? Gampang, download saja video perhelatan acara Mubank yang ditayangkan di KBS, mereka memotong semua penampilan artis Indonesia kecuali artis Indonesia yang dibentuk oleh mereka, S4. Masih mau bilang mempererat hubungan kedua negara? Jangan bodoh!

8430_5100_l
Music Bank in Jakarta 2013 silam

Sekali lagi, aku suka K pop. Baiklah! Tetapi yang tidak kalian tahu adalah bagaimana aku harus membangun benteng se-kuat-kuatnya agar aku menyukai mereka sekadarnya saja. Di batas seminim-minimnya dan cinta sekecil-kecilnya. Itulah kenapa aku masih cukup sadar bahwa kita diliciki, karena aku tidak benar-benar jatuh berkubangan dalam jebakan mereka. Mungkin aku sangat kagum dengan usaha mereka membangun negeri mereka yang sempat terbelakang, karena ya…kita jelas harus belajar dari keberanian mereka mengambil risiko untuk memperkuat posisi bangsa mereka di mata dunia. Tetapi tindakan mereka menginvasi negeri ini secara perlahan, di bungkus apik, ciamik dibalik kotak kaca berhiaskan lentera, maaf saya tidak sebodoh itu.

Beberapa hari terakhir aku masih terus memuji tindakan Tiongkok yang menemukan angin segar untuk membatasi invasi K-pop. Tahu kasus THAAD? Okay! jika kalian tidak mengetahuinya maka aku akan menjelaskannya satu-persatu. Jadi, pada 6 Januari 2016, Korea Utara melakukan uji bom nuklir keempatnya. Hal itu kemudian berimbas pada Korea Selatan yang karena merasa terancam mereka mengambil tindakan dengan mendirikan THAAD. Sistem pertahanan rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) milik Amerika Serikat di negara mereka. Tindakan itu kemudian mendapat protes keras dari Presiden Tiongkok Xi Jinping dan bahkan Rusia. Mereka mendesak agar AS tidak ikut campur. Tiongkok khawatir THAAD dan radar nya dapat menjangkau wilayah China. Di lain sisi Tiongkok pun berang dengan tindakan Korea Utara yang terus melakukan uji coba bom nuklir. Padahal, China merupakan pendukung diplomatik dan ekonomi utama dan satu-satunya Pyongyang.

Nah, berkat kasus ini Tiongkok berhasil menemukan celah untuk mengurangi invasi K-pop dengan membentuk aturan super ketat terkait penampilan artis K-pop di China, termasuk pembatasan penayangan drama korea di negara itu. Sejauh ini sudah 2 artis K-pop yang dinyatakan gagal tampil di Tiongkok yakni So Jong ki dan Jung Il Woo. Aku pikir tindakan ini layak dipuji karena alasan mereka menerapkan aturan super ketat adalah salah satu upaya mereka untuk menaikkan pamor artis mereka sendiri yang sempat terinjak-injak oleh invasi K-pop. Indonesia perlu mencontoh. Kenapa? Karena kita terlalu konsumtif dalam semua lini kehidupan. Hey! kita ini jauh lebih kaya, memiliki pariwisata yang cantiknya tak terkira, kreativitas yang tinggi, pasar dalam negeri yang mencapai 250 juta orang, masa iya kita dibodohi iya-iya saja. Jangan konyol.

Kita ini dijajah okay. bukan dengan hal kasar. Itu tidak eksis lagi. Sekarang adalah zaman perang intelektual, so please…kita yang katanya generasi muda ini belajarlah dengan benar. Tidak cukup dengan baik saja tetapi juga benar. Hilangkan kebiasaan mencontek karena itu membuat kalian semakin bodoh dan tak bermartabat. Jika kalian saja tidak percaya dengan kemampuan yang kalian miliki sendiri maka sudah jelas masa depan negara ini, bukan? Baiklah, kita lahir di zaman serba konsumtif tetapi bukan berarti gen kita turut teracuni gen konsumtif. Itu masih bisa dimusnahkan kawan, tetapi masalahnya penawar racun itu bukan dari siapa-siapa, tetapi diri kita sendiri. Jika kita sendiri tidak mau berubah maka jangan menyesal jika mungkin negara kita bisa saja menjadi milik negara lain.

Tips yang bisa aku berikan adalah membaca dan menulis lah sebanyak-banyaknya. Mungkin itu bukan hal besar tetapi membaca dan menulis akan meningkatkan kepekaan kita terhadap lingkungan kita. Mungkin aku tidak akan pernah bisa peka dengan perasaan orang lain, tetapi untuk masalah seperti ini, maaf aku mungkin bisa sedikit menyombongkan diri. So, ayo sadar kawan-kawan. Katanya terpelajar, lulusan universitas ternama dalam negeri, malu donk masih bisa dibodohi. Okay!

Berubah tak harus dimulai dengan tindakan besar karena bahkan hal sepele pun dapat menciptakan perubahan. So, ayo sadar kawan.-Hyn

 Hyn

Iklan

Menelan Kecewa di Negeri Van Orange

“Apa yg kamu lihat di buku-buku dongeng, semua bisa kamu temukan di Belanda”-Negeri Van Orange

Menarik dan aku menyetujuinya seratus persen. Siapa yang tak kenal Belanda? Sebagai warga Indonesia nama Belanda bukanlah sesuatu yang baru, tetapi tak cukup baik juga untuk diingat. Ya, tentu penjajahan ratusan tahun di negeri ini bukan suatu memori yang akan pudar begitu mudah. Namun, aku pikir masa lalu biarlah berlalu dan cukup jadikan sebagai pelajaran hidup. Tak perlu diperpanjang lagi.

Oke, kembali ke negeri Belanda. Selain menyimpan sejuta sejarah dan kecantikan masa lampau, Belanda juga merupakan tujuan studi yang cukup populer di Eropa. Setiap tahunnya, ratusan mahasiswa asing dari berbagai negara di dunia akan berbondong-bondong datang ke Belanda untuk menuntut ilmu dan Indonesia adalah salah satunya. Mungkin ini juga yang menginspirasi terciptanya novel Negeri Van Orange yang juga ditulis oleh empat mahasiswa Indonesia yang berkuliah di negeri 1001 kanal ini. Mereka adalah Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, dan Rizki Pandu Permana. Latar belakang dari novel ini juga mengenai serba-serbi kuliah di Belanda.

cultural-observations-after-living-in-amsterdam-1080x620
Amsterdam, Belanda

Nah, Negeri Van Orange sendiri merupakan novel Indonesia ketiga yang membuat aku jatuh cinta setelah Lorong di Kotaku milik NH Dini dan Calla Sun milik Yuli Pritania. Alur cerita yang sederhana menjadikan novel ini sangat mudah untuk dipahami dan tentu juga sangat menarik. Novel ini sendiri bercerita tentang persahabatan lima mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di 5 kota berbeda di Belanda. Lintang berkuliah di Leiden, Geri di Den Haag, Wicak di Wageningen, Banjar di Rotterdam, sedangkan Daus di Utrecht. Pertemuan pertama mereka sendiri terjadi di stasiun Amersfoort karena cuaca buruk yang menyebabkan terlambatnya jadwal kereta. Tapi namanya juga persahabatan antar laki-laki dan perempuan, ujungnya pasti ke percintaan. Namun, dari sudut pandang aku cerita keseharian mereka sebagai mahasiswa asing di Belanda jauh lebih kuat di bandingkan dengan kisah percintaan antar tokohnya. Kita akan dibawa ke masa-masa sulit dan senangnya menjadi mahasiswa asing di negeri orang. Ceritanya juga sangat nyata dan menginspirasi. Aku rekomendasikan untuk membacanya. There is a magic thing behind. I’m serious, Found it!

Poin penting yang membuat aku jatuh hati dengan novel ini adalah penggunaan beberapa kalimat berbahasa sunda. Jadi begini, ada kecenderungan dalam diri aku yang kurang menyukai suatu cerita bersetting di negara lain tetapi dibumbui bahasa daerah. Namun, novel ini cukup untuk mengubah paradigma bahwa sesuatu akan menjadi menarik atau tidak menarik bergantung pada pemilihan dan pengolahan dari diksi itu sendiri. Sesuatu yang menarik bisa saja menjadi tidak menarik ketika seorang penulis tidak mempu mem-visualisasikannya dengan baik, sedang sesuatu yang kurang menarik bisa menjadi sangat menarik karena pengolahan kata yang menyusunnya.

wageningen_university_-_building_lumen
Wageningen University

Nah, kekagumanku akan novel inilah yang kemudian menumbuhkan ekspektasi tinggi ketika novel ini di beritakan akan diangkat ke layar kaca. Membayangkan bagaimana sesuatu yang awalnya hanya imajinasi kemudian menjadi visual yang nyata adalah kesenangan tak terungkap. Tetapi ekspektasi tinggalah ekspektasi. Apa yang aku lihat di film ini sangat-sangat mengecewakan. Pemeran utama wanita dalam film ini, Tatjana Saphira yang berperan sebagai Lintang berakting dengan sangat buruk. Hal itu dibuktikan dengan dialog kaku yang terucap di beberapa adegan. Nah, Lintang yang ada di film ini tidak bisa menjadi semenarik Lintang di novel Negeri Van Orange. Istilahnya, Tatjana Saphira ini tidak bisa menyelami karakter dari Lintang dan menjadikannya miliknya. Sangat disayangkan mengingat betapa luar biasanya novel ini. Untuk empat pemain lainnya yakni Geri (Chicco Jerikho), Wicak (Abimana Aryasatya), Banjar (Arifin Putra), dan Daus (Ge Pamungkas), aku kira mereka berakting dengan sangat baik.

utrecht-2001-picture-11
Utrecht, Netherlands

Dari segi pengambilan gambar, film ini masih cukup baik dan patut untuk diacungi jempol. Selama film berlangsung, mata kita akan dimajakan oleh cantiknya kuntum bunga tulip di keukenhof yang berwarna-warni, modernya Rottredam dengan rumah kubiknya, Amsterdam dengan keramaiannya yang touristy, dan lainnya. Selain itu, perjalanan mereka ke Praha juga menjadi poin lebih. Tapi ada satu pertanyaan di benak aku, entah mengapa film-film bersetting Praha yang pernah aku tonton selalu memiliki model pengambilan gambar yang sama. Maksudnya semacam buram dengan cahaya orange. Contohnya adalah film asal Tiongkok yang dibintangi oleh Wu Yi Fan ex-EXO member berjudul Somewhere Only We Know. Model pegambilan gambarnya sama persis, buram dan suram. Aku nggak tahu bagaimana menyebutnya dalam istilah perfilman, intinya seperti itu. Yang mungkin berbeda adalah drama asal Korea Selatan berjudul Doctor Stranger yang juga mengambil setting di Praha. Sama-sama menampilkan kesan kuno, tetapi dari segi pencahayaan, Doctor Stranger masih jauh lebih baik. Mungkin beda teknik kali ya. Entahlah, tapi yang pasti setiap film dan drama diatas memberikan kesan tersendiri untuk aku.

rumah-kubik
Rumah Kubik, Rotterdam

Namun, terlepas dari itu semua, film ini cukup menarik untuk sekedar bersenang-senang dan cuci mata dengan pemandangan vintage dari negara ini. So, apa pendapat kamu?

Ps: aku tahu review ini benar-benar basi, tetapi pasti masih ada diantara kalian yang belum membaca bukunya ataupun menonton filmnya maka aku pikir review ini akan tetap berguna. Selamat membaca. Love you all.

 Hyn

Dari Relasi, Sosialisasi hingga Gosip si suami bule

Tolong bantu aku mengoreksi sifat dan pilihanku?

 

“Kita bertemu pukul 9, bagaimana?”, tanyaku.

“Oke, bisa!”

Dan sesuai perjanjian, pukul 9 tepat aku telah bersiap, tetapi dengan entengnya dia datang terlambat hingga 40 menit. Pertanyaannya adalah “Apakah kalian akan marah jika mengalami situasi ini dan apa yang akan kalian lakukan?” Jika itu aku, jelas aku sangat marah. Coba pikir berapa kerugian yang harus aku tanggung karena 40 menit itu. Kamu pikir aku pengangguran! Jika kita harus bercanda maka aku bisa menuntut orang ini ke meja hijau dengan pasal 335 KUHP ayat (1) ke-1 tentang “perbuatan tidak menyenangkan”.

Ketika kemudian aku bercerita ke seseorang, tahu apa yang beliau katakan? “Kamu hidup bersosialisasi, maka penting untuk memahami orang lain dan memang begitulah hidup bersama orang lain. Kamu harus lebih bisa menahan diri dan bal bla bla.”

rapat-3-e1423876863648
On time Hell!

Oke, jadi aku harus memahami orang yang jelas-jelas tidak menghargai janjinya dengan orang lain dan melakukannya seumur hidupku. Tidak, terima kasih. Jika kamu melakukan ini kepada orang Jepang, mungkin mereka akan datang bersama samurainya. Kalau aku…mungkin aku akan membawa pisau, buat ngupas apel…and then I will punch to your face.

Pertanyaan selanjutnya “Siapa yang bersalah?”. Berdasar analisisku tidak ada kesalahan dalam bahasaku yang memungkinkan tidak bisa dipahami oleh orang lain. Jelas-jelas aku sudah menawarkan apakah dia setuju atau tidak, dan dia menjawab bisa. Lalu siapa yang salah? Jawabnnya tentulah yang tepat waktu, itu pandangan mereka. Kenapa? Karena bagi orang lain aku telah menyalahi kebiasan tidak benar di negaraku yang mereka tuhankan, Terlambat bagi orang Indonesia adalah hal yang sepele dan mendarah daging.

Tapi apa kata mereka, nggak fleksibel sama orang lain. Vonis: bersalah.

***

Kedua, tentang followers instagram. Yang pasti aku nggak minta kalian untuk mem-follow akun instagramku. Jadi, jika tidak aku follow back ya nggak usah berisik. Dan lagi di profile sudah aku tuliskan bahwa aku tidak akan mengikuti balik dengan alasan khusus. Kalau sebegitu penasarannya, sekalian aku luruskan disini.

instagram-keyboard-app-take-pictures-photos-pics
Instagram

Kenapa aku tidak memfollow back kecuali orang yang cukup dekat? Karena kebanyakan dari kalian biasanya akan mengupload foto diri kalian sendiri dan aku nggak mau beranda aku dipenuhi foto orang lain. Selain itu, foto-foto itu akan menutup informasi penting dari akun-akun yang aku ikuti seperti Unicef, Unesco, Lonely Planet, info universitas, traveling dan Super Junior. Itu alasan aku nggak bisa follow back kalian, apalagi jika kalian tipe orang yang dikit-dikit upload foto. Sorry.

Tapi apa kata mereka, sombong. Vonis: bersalah.

***

Ketiga, tentang kebiasaanku membaca buku dimana pun. Hal sesepele ini masih di nyir nyirin juga. Memang apa masalahnya kalau aku baca buku. Berisik juga enggak, ganggu apalagi. Aku kali yang terganggu sama kalian. Herannya mereka masih mengusik juga, bilang rajin banget lah, ini lah, itu lah tapi nadanya jelas meledek. Well, think anything you want because I don’t give a shit.

Woman reading a book
Read the book

Tetapi mereka bilang, nggak mau sosialisasi sama teman. Vonis: bersalah.

***

Keempat, sebenarnya kayaknya aku nggak seterkenal itu juga deh buat diomongin. Tapi hanya gara-gara aku jalan ke beberapa tempat sendiri, endingnya masih di nyir nyirin lagi. Memang manusia biasanya kurang kerjaan sih, jadi anggap aja mereka butuh kegiatan. Pikir mereka aku ini nggak punya teman karena kemana-mana sendirian dan bla bla bla.

o-traveling-alone-facebook
Girl with map at Brandenburger Tor

Maaf ya, kalau cuma temen senegara juga ada. Masalahnya jalan bareng orang lain itu, apalagi yang nggak sepaham bisa jadi masalah. Kalau istilahnya Trinity banyak kepala, banyak maunya. Satu pengen ini, satunya pengen itu. Nah, aku nggak bisa tahan dengan situasi semacam ini dan pasti langsung ketahuan di muka aku. Jadi, dari pada ribut dan bikin masalah sama orang lain mending jalan sendiri sekalian. Bebas mau kemana aja dan selama apa. Terutama ketika di toko buku. Kebanyakan teman aku nggak tahan sama yang namanya toko buku, jadi mereka maunya cepet, sedang aku maunya full enjoying time. Beda pendapat lagi.

Tapi mereka bilang, nggak punya teman. Vonis: bersalah.

***

Kelima, sudah menjadi kebiasaan orang Indonesia untuk menggosip atau memutar percakapan tidak penting seperti ngomongin gaji orang, suami orang, kerjaan orang lain, transkip nilai orang lain dll. Nah, selain jalan sama orang lain yang beda kepala-beda maunya, ini satu hal lain lagi yang aku kurang suka. Contoh kecil yang pernah terjadi adalah soal roll rambut. Please, rambut juga rambutnya dia sendiri, memang kenapa kalau dia pakai roll rambut. Ngiri? Pakai donk ngak usah ngomongin orang cuma gara-gara pakai roll rambut. Heran, segitu kurang kerjaannya ya.

gossip
Gossip lagi

Nah, biasanya mulut aku bisa beracum kalau lihat hal-hal semacam ini, maka untuk menghindarinya aku nggak akan bergabung dalam percakapan mereka dan memasang mode budeg.

Tapi mereka bilang, nggak care sama temen. Vonis: bersalah

Well, mungkin memang aku kurang fleksibel, nggak bisa toleran dengan makhluk yang sukanya telat apalagi berisik dan lainnya, tetapi yang pasti aku punya alasan logis. Komplain semacam ini bukan hal yang baru. Banyak orang Indonesia sendiri yang tinggal di Luar Negeri yang mengeluhkan hal yang sama. Bahkan, yang paling ektrem salah seorang dari mereka pernah ditanya begini “gimana rasanya punya suami bule? hebat nggak dia diranjang? Dan asdfghjkl1@#$%^&*”. Emang sinting itu orang.

Tulisan ini tidak bermaksud rasis dan sebagainya, hanya saja tindakan-tindakan seperti di atas itu sangat menganggu orang lain. Dan aku harap kalian-kalian yang seperti itu bisa sadar dan mau berubah. Selain itu, jangan lupa berikan juga komentar tentang sikap aku, karena aku juga tidak sesempurna itu maka tentu aku perlu untuk mengevaluasi diri aku sendiri. That’s all.

QUEENDYA

“Yeah…This is Switzerland”

Jadi 2 tahun lalu ada sebuah acara di salah satu stasiun teve swasta called Arjuna, Ala Resep Juna in Switzerland. Mungkin banyak yang sudah tahu sebelumnya. Exactly, itu adalah acara masak-masaknya Chef Juna yang orang lebih mengenalnya sebagai temperament person like what he shows in Masterchef Indonesia and also Hell Kitchen. Intinya disana dia berkunjung ke hampir seluruh kota di Swiss selama sekitar 1 bulan lebih.  Nah, salah satu yang menarik perhatian aku adalah a place that showed how Swiss traditional life in the past time.

68472130
This is one of the traditional life in Switzerland

Kemudian, bulan lalu tepatnya Agustus, I have a trip to the second biggest city in Indonesia, Bandung. I have visit a place that called Farm House. Dalam bayangan aku Farm House ini bakal seperti Farm House di Eropa like in Swiss and Belgia, hanya saja dalam nuansa Indonesia. Begitu masuk, ternyata aku salah besar karena Farm House yang ada di Bandung ini berlatar belakang Eropa tetapi bernuansa town dan bukan farm lagi. Rada membingungkan ya, tetapi bukan bagian ini yang akan aku bahas lebih lanjut karena aku lebih tertarik untuk mengulas benang merah dari kedua cerita ini. Intinya karena ingin membuat artikel yang bisa membandingkan Farm House di Bandung dan Eropa, aku harus menemukan suatu tempat seperti Farm House yang kebetulan di datangi Chef Juna juga ketika di Switzerland. Namun, karena lupa nama tempatnya dan kurangnya referensi aku jadi tidak bisa memulai apapun.

Sebelumnya aku sudah mencoba banyak kata kunci tetapi masih tidak ketemu juga. Akhirnya mau nggak mau aku harus download 27 episode perjalanannya Chef Juna di Switzerland hanya untuk mencari tempat yang kemudian aku ingat bernama Ballenberg. Hell banget lah pokoknya. Beruntungnya acaranya chef ini asik banget dan mengulas banyak tempat spesial di Swiss jadi sekalian untuk menambah pengetahuan. Siapa tahu nanti beneran jadi nulis novel berlatar belakang Swiss *KodeKeras*.

Weinbauernhaus von Richterswil ZH 1780
Weinbauernhaus von Richterswil ZH 1780, Ballenberg

So now, I want to talk about the most beautiful country in the world, Switzerland. Kata kunci yang ingin aku pakai awalnya adalah Traditional Smart tetapi This is Switzerland ternyata memberi kesan lebih, like jealous maybe because I can’t do with the same pride in my country. Jadi, Switzerland merupakan salah satu negara terkaya di dunia dengan pemandangan alam yang orang bilang like heaven and earth. Kota-kota di Swiss sangat bersih dan full organized sehingga sangat nyaman untuk dikunjungi. Selain itu, publik transportation di negara ini juga sangat memadai dan tentunya best of the best.

Swiss sendiri ber-ibukota di Bern, akan tetapi banyak orang kebingungan tentang dimana ibukota Switzerland sebenarnya. Ada yang berpikir itu di Jenewa dan ada pula yang menganggapnya di Zurich hanya dikarenakan Zurich merupakan kota terbesar dan tersibuk di Swiss. Nah, selain pemandangan alamnya yang luar biasa, alasan lain tentang kecintaanku terhadap Swiss adalah budaya masyarakatnya yang tidak bisa aku temukan di Indonesia. Bukan menjelek-jelekkan Indonesia hanya saja aku ingin kita belajar untuk berubah dan menjadi lebih disiplin juga teratur seperti mereka.

the_zytglogge
Bern City

Orang-orang di Swiss sangat tepat waktu, disiplin, mencintai dan menggunakan produk lokal mereka secara maksimal, dan pastinya pekerja keras. Mereka juga sangat peduli terhadap kebersihan dan kelestarian alam yang mereka miliki. Bahkan, saking pedulinya orang Swiss, air yang ada di danau pun bisa diminum langsung karena kebersihannya yang tak perlu di ragukan lagi. Fakta lain yang harus kalian ketahui adalah bahwa Swiss ini tidak memiliki laut sehingga untuk konsumsi ikan mereka harus mengimpornya dari negara eropa lainnya dan salah satunya adalah Skotlandia. Solusi lainnya, selain mengimpor mereka biasanya mengonsumsi ikan yang berada di danau-danau yang ada di Swiss.

img_1178
See, how beautiful it

Di episode pertama Arjuna, Ala Resep Juna in Switzerland, Chef Juna mengunjungi sebuah Farm House bernama Juckerhof or Juckerfarm in English. Nama Juckerhof ini diambil dari nama pemiliknya yakni keluarga Jucker. Di dalam Farm House ini mereka menanam sayuran seperti asparagus dan juga menernakkan domba yang tentunya high quality. Selain itu, Juckerhof juga memiliki ladang apel yang super cantik. Mereka menanam apel dengan perhitungan yang menakjubkan dimana mereka menanamnya dengan membentuk line yang cantik yang kemudian aku ketahui line itu akan membentuk pola tertentu jika dilihat dari ketinggian. Very beautiful dan organized. Tak ketinggalan rumput hijau nan terawat menjadi pemanis dari ladang apel ini. Terkadang aku berpikir tempat ini lebih cocok disebut taman dibanding ladang apel. Belum lagi rumput ini terlihat sangat nyaman sekali untuk rebahan dan membaca buku sambil menikmati sore yang indah. How’s great?

Oh ya, keteraturan mereka yang menakjubkan ini kemudian mengundang decak kagum dari Chef Juna dan tak tanggung-tanggung memberikan pujian manis yang di balas “Yeah… this is Switzerland” oleh Vellarie, salah satu pekerja di Juckerhof yang menemani chef Juna untuk berkeliling Juckerhof.

Kata yang sederhana memang, tetapi ini memberikan efek luar biasa. Kenapa? Karena kita tidak bisa melakukan hal yang serupa dengan pride yang sama tinggi. Artinya ketika itu di aplikasikan di Indonesia maka justru akan timbul kesan buruk yang mengecewakan dan bukan lagi kebanggaan. Coba bayangkan ketika salah satu teman kita yang berasal dari Swiss datang ke Indonesia, especially Jakarta kemudian dia menemukan kota yang begitu kotor hingga mengundang decak jengkel “Oh…this is so dirty”. Apa yang akan kita lakukan sebagai guide? Apa iya kita akan mengatakan “Yeah…this is Indonesia”. Well done Indonesia. Well done. Tidak mungkin Kita akan melakukannya.

rosengarten1-1920x1200
RoseGarden, Bern. A place loved by Super Junior Eunhyuk

Sulit jika kita berharap Indonesia berubah secara menyeluruh, maka untuk sekarang cukup mengubah diri kita sendiri terlebih dahulu, meskipun kemudian kita akan menjadi alien, tidak masalah. I think being different is good dan aku sendiri telah memastikannya. Modal utama yang harus kalian miliki adalah kesabaran ekstra dan kepercayaan diri tinggi. Biarkan mereka menggunjingkan kita, tak perlu dirisaukan. Kita berubah untuk menjadi baik bukan buruk. So, just do it and found the magic behind.

Jadi, bagaimana sudah siap berkomitmen untuk berubah?

Hyn

‘Lelaki’ Itu Membawa Saya Ke Dublin

“Cinta Wilhemia Baratha tergila-gila pada keteraturan. Semua harus berjalan sesuai rencana. Tidak ada yang namanya ‘di luar prediksi’. Tidak ada perubahan. Segala sesuatunya harus familier…Tidak suka berbagi makanan atau minuman dengan orang lain. Tidak pernah benar-benar merasa nyaman saat berinteraksi, terutama dengan lawan jenis…” (Dublin: 3)

***

Huh! Bagaimana mungkin. Aku jelas sedang bermimpi, hahaha. Tapi… tapi ini nyata. Aku bahkan menampar wajahku untuk memastikan dan sekali lagi ini benar-benar nyata. Pernahkah… pernahkah dalam hidup kalian merasa bahwa sesuatu benar-benar terasa familier? Ya, fiksi yang begitu familier dengan kisah hidup kalian. Jadi…jadi bagaimana mungkin Cinta Wilhemia Baratha bisa memliki karakter yang sama, kegemaran yang sama, mimpi yang sama, dan tipe lelaki yang sama denganku. Kami terasa tak bercelah seperti bayangkan dibalik cermin kaca. Bagaimana mungkin?

irlanda1
Dublin, Irlandia. Source: praca-irlandia.com

Keajaiban lainnya adalah kronologi waktunya yang sangat tepat dengan apa yang aku alami hari ini. Kamu tahu bagaimana ketika kamu merasa seperti melihat masa depanmu lewat sebuah cerita fiksi? Ya, percaya atau tidak aku mengalaminya. Aku nyaris memiliki latar belakang yang sama dengan Mia, saapan akrab Cinta Wilhemia Baratha.

trinity1
Trinity College Dublin. Ini tempat kuliahnya Ragga di Novel Dublin. Source: http://www.tcd.ie

Beberapa waktu lalu, aku berjumpa dengan seseorang  yang kemudian membawaku pada dunia baru yang  juga menjadi dunia Mia. Sampai aku berpikir, mungkinkah aku akan sama dengannnya? Memiliki kisah akhir yang sama, juga lelaki dengan latar belakang yang sama? Entahlah, ini membuatku cukup terkejut dan kehilangan kata-kata. Atau jangan-jangan, Tuhan ingin mem-visualisasikan mimpiku yang baru kusadari melalui cerita hidup Mia. Seseorang pernah mengatakan bahwa selalu ada alasan dibalik pertemuan kita dengan seseorang. Jadi, mungkinkah…? Kukira aku bisa percaya. Bukankah Tuhan selalu benar.

80ff3d685051807c924faf151ba155d3
Guinness Pub. Guinness, the most famous beer in ireland. Source: ocdn.eu

Ketika mengalami ini, hal pertama yang kuingat adalah drama korea terbaru berjudul “W” yang memiliki cerita serupa dimana si tokoh utama wanita, anak sang creator webtoon ternama mengalami kisah bersama tokoh yang diciptakan oleh ayahnya sendiri di seri webtoonya. Hingga beberapa kali sang tokoh utama wanita masuk ke dalam dunia webtoon dan menciptakan kisahnya sendiri. Oke! Aku tahu apa yang kalian pikirkan. Dan lagi, gila jika aku menganggap itu sungguhan bisa terjadi padaku. Hanya saja, ini terasa terlalu familier dimana aku dan juga tokoh utama itu turut berperan dalam dunia fiksi yang diciptakan orang lain dan mengalami kisah bersama si tokoh fiksi sesungguhnya. Ini terlalu nyata untuk diabaikan okay.

Sekarang aku cukup paham mengapa aku tidak pernah tertarik untuk melanjutkan menonton episode dari drama “W” setelah 3 episode pertama. Terlalu mengerikan dan kupikir aku akan bermimpi buruk setelahnya. Tetapi, mungkin tidak dengan novel berjudul “Dublin” ini karena ceritanya cukup manis, namun disisi lain juga sangat realistis dan tentunya berbeda dengan drama “W” yang berlatar pembunuhan. Kalaupun benar terjadi, setidaknya aku tidak perlu melihat darah berceceran dimana-mana dan menjadi target pembunuhan. Selain itu, ada Ragga disana yang menanti dengan senyum manisnya. Eomma…. Cukup. Aku terlalu berkhayal.

csdy-6zusaefd_k
Yuli Pritania “Dublin” cover book

Efek magis lainnya dari novel “Dublin” ini adalah saya cukup bahagia ternyata *Eh. Oh may God, Ragga, kamu membuat saya terpesona. Irish man is so cool by the way. His British accent and how he speaks Indonesian is sounds sexy. Well done. Ragga. Well done. Kamu membuat bahasa saya berubah Ragga *tuh kan, saya lagi, saya lagi*. Jadi, saya harus bagaimana Ragga? Saya… saya… saya tidak tahu bagaimana kembali menjadi aku Ragga…

Ada yang sudah membaca novel terbarunya Yuli Pritania? Jika belum, saya…maksud saya…jebal, aku… aku sarankan untuk membacanya.

Hyn

Call 911

Hai! Morning. Hmm…actually I want to make something fun and serious, but I got hurt yesterday. Not too hurt but still hurt because people who I believe do me. And the most bad condition is the food I make contain so many chili. It’s so spicy, also my hand exposure to hot water. How! How can I’m not crying huh. Okay! forget it. Ah, My image….ahh *stressed out*.

***

croatia-wide-wallpaper-20517
Beautiful town of Croatia

Beberapa tahun terakhir ini, aku sudah cukup kenyang membaca berbagai cerita tentang sulitnya menjadi minoritas di berbagai negara. Bagaimana kita sebagai muslim mengalami kesulitan saat harus menjalankan kewajiban beribadah di negara lain. Kemudian fakta bahwa kita berasal dari negara yang nyaris kehilangan kehormatan di negara seperti Dubai karena terlalu banyaknya orang Indonesia yang bekerja sebagai housemaid di sana. Tunggu, bukan berarti aku meremehkan mereka yang bekerja sebagai TKI. Aku sendiri pun sadar situasi negaraku bagaimana. Tentu kondisi ekonomi mereka menjadi lebih baik dibandingkan jika mereka bekerja di Indonesia. Di salah satu buku, seorang anak FE UI bercerita tentang perjalanannya ke Dubai untuk sebuah tugas kuliah. Suatu waktu dia bercengkerama dengan beberapa orang dan tentunya budaya kita mengajak kita untuk selalu memperkenalkan diri saat berjumpa dengan orang baru. Ketika dia mengatakan “I am from Indonesia”, semua orang yang mendengarnya akan bereaksi serupa.

Ah, Housemaid. There is so many housemaid who come from Indonesia here”, kata mereka dengan wajah biasa saja seakan sedang membicarakan harga cabai yang kembali naik.

Hurt, quite hurt to hear responses like this from them, terlepas dari fakta bahwa itu benar adanya. Tetap saja, tidak mungkin kita mengabaikan fakta bahwa ada jarum kecil yang menusuk hati kita. Bukankah ini tentang pride dari negara kita? Ya, tetapi kita tetap tidak bisa menyalahkan apa yang mereka katakan, bukan? Maka satu-satunya cara adalah bagaimana meskipun kita mengirim banyak TKI, mereka tetap bisa memiliki kualifikasi yang tinggi. Itulah tugas kita sebenarnya, mengirimkan mereka dengan kualifikasi yang tinggi atau menciptakan lapangan pekerjaan bagi mereka di dalam negeri dengan kondisi sama baiknya. Tidak mudah memang, aku pun juga masih abu-abu memikirkannya. So, anggap saja ini PR kita yang memiliki kesempatan mengenyam pendidikan tinggi untuk mengubah wajah Indonesia.

pula-coliseum
Colosseum nggak cuma ada di Italia. Architecture Details of the Roman Amphitheater Arena in Sunny Summer Evening. Famous Travel Destination in Pula, Croatia.

Kembali ke topik minoritas. Selain dua kasus di atas, masih ada banyak kasus minoritas lainnya, seperti muslim di China yang tidak diberi kebebasan menjalankan ibadah mereka, diskriminasi kulit hitam di Afrika dan Edinburgh, atau sekedar hal-hal kecil yang dialami mahasiswa Indonesia di luar negeri. Apapun itu, menjadi minoritas memang tidak terlalu baik. Dua tahun terakhir ini aku juga merasa menjadi minoritas. Konyol. Ya, bagaimana mungkin aku menjadi minoritas di negaraku sendiri, sedang aku cukup sama dengan mereka. Mungkin bukan minoritas yang ketara, tetapi sungguh, aku merasakan dampaknya. Hingga terkadang, I think like someone who come from the stars. Bukan tetangganya Do Min Joon ya, bukan. Fans Do Min Joon di mohon tenang dulu. Oke. Mungkin peran aku bisa lebih prestisius gitu, misal mantannya Do Min Joon kali ya waktu di bintang, sebelum ketemu Cheon song Yi atau atasannya Do Min Joon mungkin. Atau juga fakta bahwa aku sedikit terlalu berkahyal hari ini. Jadi lupakan.

beach-mediterranean-wallpaper-nature-wallpapers
Bukan Belitung, ini Kroasia

Namun, bagaimana pun menjadi minoritas sangat tidak mudah. Fakta bahwa kamu di anggap berbeda dari mereka itu…*think hard*. Hmm… Hey, mereka melakukan tindakan yang benar. Huh, bagaimana mungkin aku sama dengan mereka. No way… No way *Bacanya ala Chanyeol di Lotto ya*. Tentu saja aku harus berbeda. We have different qualified. So……that’s okay then. apalagi bersedih. Tidak. Dan tidak juga berada di jalan yang salah. Ini benar jalan yang harus  dilalui (peta tram-nya bilang harus melewati rute itu dulu). Mungkin lebih tepatnya disebut situasi kurang menggenakkan saja. Tapi  tunggu, ada kesalahan bahasa sepertinya, kalau begini berarti aku bisa menuntut mereka ke meja hijau donk dengan Pasal 335 ayat (1) ke-1 KUHP tentang “tindakan tidak menyenangkan”. *Finger Picking* Exactly!!

Oke. Aku bercanda…

croatia-coast
Beautiful secenery of Croatia make me feel better. Thank You!

Terlepas dari itu, aku sangat berterima kasih kepada 2 polisi oppa yang telah menghiburku kemarin dengan lagu bermelodi sangat menyenangkan, Juga Jang Hyuk oppa. Perjalananmu berkeliling Kroasia cukup menghibur. Jeongmal kamsahmnida karena kalian telah menyelamatkan image yang aku junjung tinggi. Setidaknya ketika aku harus marah dan mungkin perlu melakukan sesuatu nanti maka aku harus tetap berdiri tanpa mengotori tanganku apalagi merendahkan kehormatanku, pride, dan harga diriku, begitu kata Lee Suri ketika ditanya “Apa yang akan dia lakukan jika Kyuhyun berselingkuh?”.

***

“…bagaimana jadinya kalau aku berselingkuh?” tanyanya penasaran.

Suri terlihat berpikir sebentar. “Apa kita masih dalam tahap berkencan?”

“Ya.”

“Well,” Suri merebahkan kepalanya ke lengan sofa dan meluruskan kakinya ke atas paha Kyuhyun, “kalau masih berkencan aku akan meninggalkanmu begitu saja tapi sebelumnya aku akan membeberkan semua kebusukanmu secara langsung. Tidak ada yang lebih memalukan ketimbang tertangkap basah menurutku.”

Tidak seru, pikir Kyuhyun kecewa dengan jawaban Suri.

“Tapi kalau sudah menikah,” Kyuhyun buru-buru menoleh saat Suri melanjutkan bicaranya, “aku akan berpura-pura tidak tahu kalau kau berselingkuh, sementara itu sambil kau asyik main gila dengan wanita di luar sana, mungkin aku akan meracunimu secara perlahan, menumpuk dosis-dosis racun hingga ginjalmu, jantungmu, dan otakmu semua rusak, kemudian dalam 4 bulan aku akan meninggalkanmu yang sekarat, lalu bagian puncaknya adalah kau mati secara alamiah tanpa harus mengotori tanganku apa lagi merendahkan harga diriku untuk membalasmu dengan berselingkuh juga.” (Okky Arista Dinda-Kyuri Victims)

***

Meskipun sekali lagi, aku tetaplah minoritas hari ini, but I fell free. So, YOU BETTER WATCH OUT!!!!

Life just has one stop, but you have thousands of opportunities to make it worth remembering before it stops…-Budi Waluyo

Ps: Setelah membaca ini kemudian dengarkan lagu baru milik Donghae Oppa, Watch Out,  here on https://www.youtube.com/watch?v=n2Uj434FPx0. Oh ya, alasan mengapa aku menyelipkan foto-foto tentang kroasia dalam post ini yang jelas-jelas tidak membahas detail tentang Kroasia adalah karena, aku merasa terhibur oleh perjalanan Jang Hyuk oppa di negara cantik ini. Aku merasa bebas sebagai minoritas. Selain itu, suguhan pemandangan vintage negara ini membuatku merasa sangat baik dan dihargai. So, I love Croatia. Thanks to make me better and free.

Sekedar ngasih tahu aja *Nggak ada yang nanya kali…* tulisan ini aku edit hingga kurang lebih 10 kali saking salah-salah terus. I’m hurt and…and…. and I need someone who come from the stars!!! Do Min Joon-ssi!!!!! Cukup! Indikasi gila. Bye

Hyn