Mereka maunya Oppa

Farm-house-Bandung-19

FarmHouse Source: duniakulinerbandung.com

Tak pernah terbayang dalam hidup aku bahwa suatu waktu aku bakal diledekin orang Malaysia. Jadi, beberapa waktu lalu aku melakukan perjalanan wajib terkutuk di kampus. Nggak bisa enggak harus iya atau ngulang dan lulus panjang.

Saking nggak sukanya, mau packing aja h-sekian jam sebelum keberangkatan. Makin drop lagi begitu lihat jadwal kunjungan ke pabrik antah berantah yang super padat. #SaveMeGod

Karena nggak mau stress berlebihan, aku bayangin aja lagi backpakeran ke Korea sambil dengerin lagu-lagu korea yang udah aku siapin sampai 2GB full. Padahal isisnya Cuma tiga boyband SM Entertainment, Super Junior, Shinee, dan EXO. *Oh May*.Sampai kemudian satu hari dari empat hari terlewati. #Masih panjang.

Perjalanan terus berlanjut, di hari kedua kami dijadwalkan untuk mengunjungi Krakatau Posco, yang entah tempat apa itu. Maklum saking hated-nya aku males banget baca buku panduannya. Begitu tiba di lokasi kami kemudian dipandu untuk memasuki hall pertemuan milik Krakatau Posco yang lantainya dilapisi karpet bermotif garis-garis berwarna abu-abu yang…sometimes smell like dust. Di dalam ruangan itu telah berdiri beberapa pengelola Krakatau Posco mulai dari manajer, kepala K3 sampai para pekerja lapangan.

IMG_20160809_122135

Krakatau Posco

Acara pun dimulai, untuk membunuh bosan aku baca aja itu buku panduan, nggak mungkin kan aku baca bukunya Trinity The Naked Traveler 7 yang baru aja rilis h-1 sebelum aku berangkat. Bisa-bisa di geplak pakai baja sama bapak dosen killer di ujung sana. #Andwae

Pas lagi enak-enaknya baca ‘Mwo, Korea Selatan? Ige Mwoya?’ Langsung aja aku tanya ke temen aku ‘eh ini pabrik kerja sama sama Posco Korea Selatan’? iya, jawabnya. Ah,  jadi  ini maksudnya sejak memasuki pabrik mereka bilang oppa-oppa terus. Begitu aku search di google, sesuai dugaan aku ini pabrik baja yang disebut-sebut dalam sejarah korea itu. Jadi, aku memang belajar tentang sejarah korea, cuma nggak sadar aja kalau nama pabrik itu Posco. Acara terus berlanjut hingga di suatu sesi sebelum tour pabrik kami diminta untuk bersumpah mematuhi peraturan K3. Spesialnya tulisan yang ditampilkan di screen tak hanya bahasa indonesia saja tetapi juga bahasa korea yang ditulis dalam huruf hangul. Omona. Setidaknya ada alasan bahagia untuk join di tur ini.

Setelah seluruh acara selesai kami dipersilahkan untuk menyantap makan siang di kantin karyawan milik Krakatau Posco. Saat sibuk mencari tempat duduk, tak sengaja kami melewati konter makanan untuk para pekerja dari Korea, disana ada kimchi, sundae, dan bermacam makanan korea lainnya. Sayang sekali, dilarang mengambil gambar.

IMG_20160809_112111

Menu makan siang yang dikemas ala Korea

Sedang asik-asiknya menikmati makan siang datanglah segerombol orang berwajah Asia yang memiliki karakter wajah yang berbeda dengan orang Indonesia. Omo, oppadeul… jinjja hanguk saramieyeo. Tak lama terbentuklah barisan yang berisi orang-orang Korea yang lagi antri makan. Oppadeul… jalmokoseumnida!

Setelah kami meninggalkan kantin untuk melaksanakan sholat dzuhur, seorang temanku bercerita kalau dia sempat ditanya sama salah satu dari orang korea tersebut. “Dimana” begitu katanya. Oh, mungkin maksudnya dari mana, cuma karena nggak begitu paham bahasa indonesia jadinya malah dimana. *LOL

Sejak dari Krakatau Posco, tur Korea-koreaan ku pun dimulai. Ajaibnya di hari terakhir perjalanan yang notabene waktu special jalan-jalan aku bertemu dengan orang korea lagi. Saat pertama kami bertemu aku sudah nebak dia orang Korea, untuk memastikan aku nguping aja percakapan mereka ketika tak sengaja kami berpapasan, tapi sialnya mereka ngomong pakai bahasa inggris. Ya, sudah. Begitulah hingga beberapa kali aku terus berpapasan sama mereka. Hingga ketika sedang asik antri spot foto yang masih di huni tante-tante alay, ajaib naudzubilah, seorang mbk-mbk dateng ke aku minta tolong di fotoin yang kemudian aku ketahui guide dari orang-orang Korea yang aku temui tadi. Berhubung aku nggak bagus dalam mengambil foto, aku tolak itu tawaran dan minta tolong ke temen aku untuk gantiin fotoin mbk-mbk itu.

Kegiatan pun berlanjut dan kami larut dalam kesibukan untuk ambil foto di hamparan bunga-bunga di Dusun Bambu tersebut. Sempat terpikir buat bikin video ala syahrini yang bunga-bunga itu, tapi apa kabar image.

Setelah puas berfoto-foto terbesit pikiran kenapa kita nggak minta foto bareng sama itu orang Korea. Teman-teman langsung setuju dan mulailah kami menjelajahi tempat wisata itu untuk nemuin orang Korea yang entah udah dimana. Singkat cerita kami berhasil foto bareng. Sebelum mbk-mbk guide ngambil gambar, aku baru sadar, selain tiga orang korea ada 2 orang lagi yang ternyata orang Malaysia. Sialnya kita jadi diledekin pas lagi sibuk-sibuknya nata spot buat foto.

“Eh, mereka nggak mau foto sama orang Malaysia. Mereka maunya sama oppa-oppa”, begitu kata mereka sambil ketawa ngledek di sebelah kami. Sialan banget nie orang. Sayangnya aku baru kepikir (kenapa nggak aku ajakin sekalian itu orang foto) setelah aku udah sampai di solo. Biar nggak terkesan diskriminasi gitu. Setelah selesai foto kami ngucapin terima kasih yang mereka balas dengan tampang ‘aku harus jawab apa’. Akhirnya sama temen aku dikasih tahu ‘sama-sama’ terus mereka bilang ‘terima kasih’ sambil nunjuk kami dan ‘sama-sama’ sambil ngarahin telunjuk ke dirinya sendiri. Serius lucu banget tampang mereka pas itu. Sebagai penutup aku bilang ‘kamsahamnida’ dan mereka malah tersenyum malu-malu gitu. Omona… oppa, jinjja gyeopta.

IMG_20160811_103443

With Oppadeul

IMG_20160811_103454

Jadi, apa maksudnya? *Nunjuk Love yang berat sebelah*

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke destinasi terakhir yakni FarmHouse. Dalam bayangan aku FarmHouse ini bakal berisi rumah-rumah petani semacam di Swiss gitu, cuma bernuansa tradisional Indonesia. Begitu memasuki objek wisatanya, tebakanku ternyata setengah salah. Farmhouse ini memang seperti yang ada di Swiss dan dibuat berdasarkan rumah-rumah petani di Swiss namun bukan berlatar rumah tradisional Indonesia dan justru berisi suasana perkotaan dan dihiasi wanita berpakaian khas Belanda. *Huh. Bingung? Pokoknya gitu, nanti aku buatkan postingan khusus untuk ini.

IMG_20160811_142335

Sekelompok tante-tante red velvet super centil

IMG_20160811_143101

Entah dibagian mana yang bisa disebut FarmHouse

Sekarang aku bakal bahas soal orang Korea tadi di Dusun Bambu yang ternyata juga ke tempat ini, aku sempat papasan sama mereka cuma aku nggak lihat mereka, tetapi teman aku yang jalan bareng aku lihat dia. Nah loh.

Singkat cerita aku nggak ketemu sama mereka sama sekali. Saat perjalanan pulang temanku yang lain cerita kalau dia foto bareng sama itu orang Korea. Dan konyolnya mereka minta foto sampai dua sesi. Sesi pertama mereka foto bareng sama beberapa orang sekaligus. Karena nggak puas, dia sama serang temannya berinisiatif buat minta foto lagi yang lebih eksklusif. Jadilah dia samperin orang korea tadi yang udah siap di parkiran mau caw bella.

“Can we take foto one more time?”

Salah satu dari tiga orang Korea (pakai baju pink navy) itu jawab “one pic, one thousand”

Sama teman aku dibales “Aniyo, andwae”

Reaksi tak terduga pun mereka dapat. Orang-orang korea itu bertepuk tangan takjub. “Do you know Korea?” tanyanya.

“Yeah, I like EXO”

Tiba-tiba mereka langsung nyanyi eureurang (EXO hits song) sambil ngedance juga. Jinjja… oppadeul. Setelah selesai mereka nyanyi teman aku ngenalin diri pakai bahasa korea”Jeoneun…(name)…imnida” dan sama salah satu mereka di bales dengan ngenalin diri juga, cuma temen aku lupa namanya.

Dari sini aku simpulkan bahwa mungkin kebanyakan orang korea itu nggak tahu kalau negara mereka itu terkenal dimana-mana sekarang. Buktinya mereka takjub banget pas tahu ada orang asing ngomong Korea. Selain itu aku juga nemuin fakta kalau bahasa korea yang aku pelajari selama ini nggak-ber-gu-na. iya nggak-ber-gu-na kalau ketemu orang koreanya langsung karena heboh sama deg-degannya. Lebih dari foto aku jauh menyesal karena nggak berhasil bangun percakapan sama mereka. Padahal ini akan mempercepat pembelajaran bahasa koreaku. #Sad

Mungkin jika aku berani ngomong satu aja kosa kata bahasa korea yang nggak umum misal “Oppa jjang” kita bakal ngobrol beberapa kalimat. Sayangnya aku bakal terjun ke danau di Dusun Bambu terlebih dahulu kalau sampai ngomong dua kata sok imut itu. Pelajaran pentingnya, harus banyak berlatih lagi untuk conversation sehingga di lain waktu ketika ketemu orang korea lagi aku bisa membangun sebuah percakapan. Maklum selama ini aku lebih banyak memakai bahasa korea saat menulis dan sesekali dalam percakapan untuk kata-kata simpel seperti oppa, jinjja, eotteokhae dll. So, harus belajar lagi.

Oppa haengbokhaeneundeyo. Bogoshipeyeo! Annyeong…

Hyn

 

Advertisements

2 thoughts on “Mereka maunya Oppa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s