Diantara Loyalitas, Teman, dan ajakan dalam kesesatan

Mimpi masa remaja yang sedikit terwujud. Namun kemudian menjadi fakta cukup mengerikan. Suatu ketika di sebuah kelas kewarganegaraan seorang dosenku pernah mengatakan untuk sebisa mungkin tidak terlibat hukum di Indonesia. Artinya jangan membuat masalah yang nanti akan melibatkan hukum serius di dalamnya. Saat itu aku berpikir, benar juga, hukum di Indonesia kan gila. Setidaknya kita harus waras untuk menghindarinya. Tapi, bagaimana dengan mimpiku masuk fakultas hukum? Runtuhkah? Baiklah aku menjadi pengecut. Aku kira lebih baik menghindar ketika aku tahu  aku tak bisa menangung resiko dibaliknya. Dan aku kira ini bisa dipelajari di waktu senggang.

Kemudian beberapa waktu setelah mendengar wejangan itu, di liburan semesterku seorang tetanggaku datang bercerita bahwa dia sedang terlibat suatu masalah serius. Saat itu dia akan dituntut ke pengadilan karena permasalahan kepemilikan tanah. Terdengar mengerikan awalnya, tetapi justru menjadi sangat lucu di akhir cerita.

Kenapa?

Karena secara hukum jelas beliau adalah pemilik sah dari tanah tersebut beserta suratnya. Jadi, bagaimana mungkin dia dituntut atas tanah yang sah miliknya. Ketika selesai beliau bercerita, aku hanya mengatakan ‘kalau begitu njenengan bisa bobok cantik’. Lah kan sudah jelas dia pemilik tanah yang sah secara hukum, kalau pun dia dituntut jelas peuntutnya yang bego. Majayo!

Apa dia pikir hukum main-main. Saking kesal bercampur lucunya, aku sendiri sampai bingung bagaimana mengekspresikan itu. Bahkan, aku sampai berimajinasi betapa lucunya orang itu jika di pengadilan. Maka setidaknya sebelum bertindak pakai otak. Bisa ‘kan?

Di akhir cerita kemudian di ketahui bahwa itu sekedar perebutan tanah oleh si saudara tamak. Drama sekali.

Selang beberapa bulan terjadilah sebuah kasus lagi. Namun, kali ini lebih serius walaupun tetap meninggalkan kesan konyol yang tak terbantahkan. Apa? Kebodohan yang membuatku kesal sekaligus lucu. Kali ini kasusnya menimpa saudaraku sendiri.

Pertama, aku bukan anak hukum yang mungkin tahu sedikit banyak tentang bidang hukum, apalagi parktisi hukum, jelas tidak, tetapi setidaknya satu hal ini bisa dipikir secara benar oleh orang awam sekalipun. Apa iya kemudian menjual tanah yang bukan miliknya itu benar? Enggak ‘kan? So, bagaimana aku harus menyebut orang ini? Entahlah!

Masalah ini berawal dari sebuah loyalitas pertemanan yang berujung hukum. Bukankah sudah aku katakan, memilih teman itu nggak cukup pakai otak tapi intuisi juga. Benarlah sebuah nasehat bahwa ‘temanmu adalah cerminan dirimu’. Bagaimana mungkin ada orang yang begitu loyal dan mudahnya di zaman ini. It sounds like dream, right?

Coba dianalisis, ketika suatu waktu kamu memiliki teman dekat yang begitu kamu bangga-banggakan. Seakan dia yang paling baik. Mengajakmu jalan-jalan keluar kota hingga berhari-hari, dibayari pula. Bukankah dari satu sisi ini saja sudah sangat mencurigakan. Okay! mungkin cukup sulit untuk sadar di situasi senang, maka mari dianggap wajar untuk ini. Lalu bagaimana ketika kemudian dia mengajakmu menjual tanah milik orang lain. Setidaknya ketika tidak bersekolah maka dalam agama pun sudah diajarkan bahwa tidak dibolehkan untuk mengambil hak-milik- orang- lain. Catat itu, hak-milik-orang-lain. Bukankah ini sangat sangat sederhana, tapi mengapa kemudian hal sekecil ini tidak terpikir sedikitpun? Heran ‘kan? Kabar buruknya, dia turut bertanda tangan dalam kegiatan jual beli tanah itu. Ya, kasus bodoh jual beli tanah dengan nominal yang tidak main-main jumlahnya, tanpa surat tanah dan saksi. Entah siapa yang paling bodoh?

Aku kira ada baiknya untuk membiarkan orang semacam ini untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Agar kemudian dia bisa belajar dari kesalahannya nanti dimasa depan dan tentu tidak mengulanginya untuk kedua kali.

So, teman-teman cerita ini seharusnya bisa menjadi pelajaran untuk diri kita sendiri agar tidak mudah percaya pada orang lain dan lebih berhati-hati dalam hal apapun. Bolehlah kalian memiliki teman dekat tapi selektivlah karena teman bisa kapan saja berhianat atau malah membawamu pada hal-hal buruk. Tak ada yang bisa dibanggakan memiliki banyak teman jika kamu sendiri tak bisa membawa dirimu dan membentengi diri. Jangan mudah terkecoh dan terbawa arus. Miliki pendirian karena kamu tidak tahu secara pasti bagaimana mereka. Sekali lagi, memilih teman tak cukup dengan otak saja tetapi juga intuisi. Coba dipikir kalau sudah seperti kasus diatas apa yang akan kamu dapatkan dari membangga-banggakn teman yang kemudian menghianatimu, tidak ada.

So, becareful karena temanmu adalah bagaimana orang lain akan menilaimu.

Tha’s all. Cherioo…

Hyn

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s