Jadi, Aku Keren (?)

 

1,5 tahun lalu setiap datang ke toko buku ada beberapa pengganggu yang selalu mengikutiku kemana pun. Salah satunya yang paling gencar adalah sebuah buku bercover ransel coklat berjudul 30 PASPOR DI KELAS SANG PROFESOR. Pertama lihat buku ini, ‘Apasih genit banget!’. Dan sejak pertemuan pertama itu, tiba-tiba dia muncul dimana pun toko buku yang aku singgahi. Sial, jadi aku sedang dirayu nieh, begitulah pikirku. Tapi aku masih saja mengabaikannnya hingga suatu hari seorang inspirator aku, seorang mahasiswa pascasarjana IPB merekomendasikan buku yang membahas tentang Self Driving milik Prof. Dr. Rhenald Kasali. Satu hal yang aku pikir kemudian adalah please aku hampir” membeli buku beliau dulu tapi tidak pernah jadi. Akhirnya setelah melihat rekomendasi ini aku putuskan untuk membeli buku itu.

Nah, saking keponya aku baca buku itu di perjalanan pulang di kereta api yang penuh dan tanpa memperoleh tempat duduk. Baru halaman pertama dan satu paragraf aku sudah terpesona setengah mati. Dan begitulah akhirnya aku menjadi penggemar berat beliau. Membeli buku-buku yang beliau terbitkan dan salah satunya 30 PASPOR DI KELAS SANG PROFESOR. Buku itu beliau bahas sedikit di buku barunya yang aku beli pertama kali. Langsung saja saraf-saraf otakku bekerja ‘Ah, ini buku yang aku lihat sejak 1,5 tahun lalu. Akhirnya kita jadian’. Sedikit menyesal sih karena terlambat tidak mengikuti kata hati, tapi syukur karena Tuhan memberikan jawaban akan masalah-masalahku.

Ketika drama syukur itu selesai muncullah fakta baru, karena tidak teliti aku nggak sadar kalau buku itu bukan tulisan beliau tapi tulisan 30 mahasiswa beliau di kelas Pemasaran Internasional. Jadi begini beliau ini adalah seorang Guru Besar FEUI. Nah, untuk melatih anak-anaknya menjadi good driver beliau membuat sebuah sistem dimana mahasiswanya harus melakukan perjalanan ke luar negeri. Tentu kalian akan tahu lanjutannya. Ya, protes keras dari orang tua pastinya, diomongin teman sesama dosen dan kesulitan-kesulitan lainnya. Namun beliau percaya ini jalan yang sangat baik. Pada masa-masa awal pembentukannya beliau mengajak bersama mahasiswanya untuk mengunjungi suatu negara, tetapi suatu ketika di bus beliau melihat anak-anaknya tidur nyenak. Lah, mereka jadi passenger lagi kalau begini, mereka harus jadi driver pikir beliau kemudian.

Akhirnya beliau mengubah sistemnya dimana satu negara dikunjungi beberapa orang. Tetapi masih belum berhasil juga karena itu membawa sikap saling bergantung. Kalau terus begini hanya satu yang akan jadi driver. Diubahlah kembali sistem ini atas saran dari Ibu Susi Pujiastuti, saat itu beliau belum menjadi menteri. Begitulah akhirnya sistem itu berlaku hingga sekarang dimana mereka tidak diperbolehkan mengunjungi satu negara yang sama, harus berbeda setiap orangnya. Aturan lainnya adalah mereka tidak boleh mengunjungi negara yang memiliki budaya yang dekat dengan Indonesia sepert Timor Leste, Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam. Mumet lagi, iyalah. Karena mau nggak mau mereka harus rebutan negara. Semakin lama ya dapatnya yang makin jauh dan tentu biayanya akan semakin mahal juga.

Namun, masalah tak berhenti sampai disitu, belum lama anaknya berangkat, orang tua sudah mulai protes ini dan itu ke fakultas karena cemas anaknya kesasar dan sebagainya. Dan inilah yang kemudian dikatakan beliau bahwa orang tua terlalu terburu-buru mengambil hak-hak anak-anaknya untuk menyelesaikan masalah. Mereka mengiginkan burung dara-nya kembali ke sangkar emas. Tidak rela anaknya menjadi rajawali yang bebas. Miris.

Masih teringat semasa SD dulu aku mengatakan pada ibu bahwa aku akan sekolah ditempat yang jauh dari tempat aku tinggal. Aku tipe orang yang memiliki pride yang tinggi. Jadi sekolah harus dapet yang favorit. Hal itu kemudian berlanjut hingga tingkat universitas dimana aku ingin mencoba tempat yang semakin jauh. Dan itu membuat ibu kalang kabut. Kalau Ayah nggak usah ditanya, karena kami satu pemikiran.

Ada satu hal yang Ayah dan Ibu tidak pernah tahu bahwa aku hobi membuat masalah. Tapi, tahukah kalian mereka tidak pernah sekalipun dapat keluhan dariku. Ayah dan Ibu nggak pernah tahu apa saja yang aku alami selama jauh dari mereka karena aku selalu berpikir bahwa aku harus menyelesaikan masalah aku sendiri apapun caranya. Yang penting itu tidak melanggar norma. Hingga kemudian aku menjadi terbiasa dan tertutup akan masalah-malasahku. Aku mulai sedikit terbuka ketika memasuki bangku universitas, dimana sesekali aku cerita ke Ibu tentang masalah-masalahku, tapi itupun sekedar bercerita, ujung-ujungnya ya aku selesaiin sendiri. Ada yang mengatakan menyimpan masalah sendiri dapat mengakibatkan stress. Maybe yeah tetapi tidak ketika pikiran kita memilih untuk tidak. you know, like mind power.

Selain masalah aku juga hobi pergi sendiri. Kadang ketika tanpa sengaja bertemu dengan temanku mereka akan mengernyitkan dahi dan melontarkan kata paling fenomenal, sendirian. Mungkin dibenak mereka, mereka mikir nie orang pasti nggak punya teman. Aku konfirmasi sekarang, maaf aku memilikinya sampai lupa menghitungnya. Alasan kenapa aku milih sendiri adalah aku ingin bebas melakukan apa yang aku mau tanpa terbebani rengekan mereka yang pengen cepet, pengen ini dan itu. Aku cuma ingin bebas tanpa gangguan, karena jelas dua orang memiliki dua kepala berbeda dan setiap kepala maunya beda-beda. Tapi jangan salah aku tahu situasi dimana aku juga makhluk sosial yang mau tak mau harus berhubungan dengan orang lain. Jangan khawatir aku tahu bagaimana menempatkan diri. Jadi, berhenti berpikir dangkal.

Oh ya, aku tekankan aku menulis cerita ini bukan untuk pamer, tetapi lebih aku ingin kalian belajar dari pengalaman sederhanaku itu. Aku ingin kalian bisa memetik pelajaran dari kisah aku karena ini waktumu untuk terbang bebas bukan terkurung di balik sangkar emas. Kalian manusia bukan binatang peliharaan. So, berpikirlah!

Okay! Kembali ke topik awal, walaupun buku ini bukan tulisan beliau namun buku ini sama luar biasanya. Pengalaman mereka yang beragam akan mengajarkan kita bagaimana menjadi si rajawali itu, bukan burung dara manis penghuni sangkar emas. So, I will recomended this book for you. Try and do!

Bye…

Hyn

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s