University and Integrity

Kings1
King’s College London

Bulan-bulan menjelang ujian masuk perguruan tinggi selalu menyisakan cerita tersendiri. Bahkan hingga hari H dan setelahnya. Semuanya menjadi sangat sibuk ini dan itu. Tapi menurut penilaianku sedrama-dramanya ujian masuk perguruan tinggi di Indonesia masih belum bisa menggeser betapa gilanya ujian masuk perguruan tinggi di Korea Selatan atau yang akrab disebut SAT. Bagi banyak orang Korea SAT ini udah seperti malaikat pencabut nyawa saja. Sekali gagal jangan pikir kamu masih baik-baik saja. Beberapa waktu menjelang SAT semua siswa hanya akan belajar dan belajar. Makan pun digantikan dengan belajar. Nah, karena kegilaan ini tingkat stress meningkat sangat tajam dan bahkan terjadi banyak kasus bunuh diri.

Tapi menurut analisaku, ujian masuk perguruan tinggi di Indonesia nggak sampai segitunya, justru Ujian Nasional-lah yang paling banyak memakan korban jiwa. Iya nggak sih? Sibuk sih sibuk tapi nggak sampai mau mati juga dan kalaupun gagal masih ada tahun depan. Kira-kira begitu. Atau alasan lainnya sebenarnya mahasiswa di Indonesia cukup berlapang dada kalaupun kemudian dia gagal, tetapi tidak di korea, apapun alasannya mereka harus mendapatkan SKY university. SKY ini sendiri adalah tiga Universitas terbaik di Korea yakni Seoul University, Kyunghee University, dan Yonsei University atau hidup mereka akan berakhir, begitu mereka menyebutnya.

Berbicara tentang universitas tentu menyimpan jutaan cerita bukan. Nah, karena drama ujian masuk perguruan tinggi inilah aku menjadi terganggu akan beberapa hal. Salah satunya adalah brosur beberapa universitas yang mengatakan ‘Menuju World Class University’, ‘Menyongsong World Class University’ dll. Wah, benar-benar doa yang sangat mulia. Berdoa boleh lah ya, tapi kok rasanya gembor-gembor doank. Tiap tahun itu-itu aja terus kapan Jadi World Class University-nya. Doa mulu, mabok kali.

Entah kenapa aku nggak pernah bisa percaya gitu. Coba deh di analisis, setidaknya untuk layak menyandang gelar World Class University sebuah Universitas harus memiliki intregritas. Itu salah satu poin yang sangat penting. Tapi masalahnya apa yang aku lihat hari ini sebagai salah satu mahasiswa aktif di sebuah universitas di Indonesia, intregitas itu nyaris 0%. Nggak ada. Bahkan ketika salah satu mentor bahasa inggrisku yang saat ini sedang mengenyam pendidikan di Lehigh University, Amerika mengatakan bahwa Indonesia hari ini mulai kehilangan karakter. Aku bilang I don’t see again. Like ZERO!

Aku tidak sedang berlagak tahu segalanya, tetapi jika kamu salah satu mahasiswa di Indonesia kamu akan paham. Bahkan jikalau pun kamu menutup rapat matamu, telingamu akan tetap mendengarnya. Terlalu ketara untuk diabaikan begitu saja dan tidak cukup menarik untuk dijadikan hiburan.

Dalam sebuah literatur yang ditulis oleh Prof. Dr. Rhenald Kasali beliau menceritakan beberapa pengalamannya saat melakukan perjalanan ke Belanda. Disana beliau sempat begitu terheran-heran bagaimana mungkin kampus seterkenal Erasmus menerima mahasiswa dengan begitu mudahnya. Akhirnya karena penasaran beliau pun mewawancarai salah satu dekan di Universitas tersebut dan kalian tahu apa jawaban yang beliau dapat? “Semua warga negara punya hak untuk mendapat pendidikan yang layak, jadi mereka yang mendaftar harus kami terima”. Coba bedakan dengan universitas di negara kita yang di beri privilege untuk mencari dan mendapatkan lulusan SLTA yang terbaik.

Pertanyaan selanjutnya yang muncul di benak beliau adalah bagaimana kemudian membangun bangsa dari lulusan yang asal masuk ini? “Mudah saja,” ujar dekan itu. “Kita potong di tahun kedua. Masuk tahun kedua, angka drop out tinggi sekali. Di sinilah kita baru berbicara kualitas, sebab walaupun semua orang bicara hak, soal kemampuan dan minat bisa membuat masa depan berbeda,” ujarnya. (Self Driving: 49)

Jika kita melihat sekilas kayaknya dua metode itu sama saja, intinya mereka ingin mencari kandidat terbaik. Tetapi jika kita mau sedikit saja bersusah payah untuk berpikir, sebenarnya dua metode itu berbeda jauh di hasil akhirnya.

Pertama, sistem Indonesia yang mencari lulusan terbaik SLTA. Okay. Kita bahas. Ketika kita berbicara lulusan terbaik SLTA kok rasanya universitas percaya banget ya, padahal kan… yang udah melalui drama UNAS pasti tahu lah. Rasanya nggak perlu dibahas secara mendetail. Intinya kalian yang udah pernah SLTA pasti tahu. Kalau dipikirkan lagi sistem ini membuat universitas mengira-ngira, kayaknya dia bisa deh nanti…khususnya yang melalui jalur P***.

Lalu bagaimana dengan yang melalui jalur tulis. Nggak jauh beda, univ tetap mengira-ngira. Seperti kita tahu, khususnya yang sudah mahasiswa mau nggak mau kita harus mengakui fakta bahwa mata kuliah dan mata pelajaran SLTA itu berbeda jauh. Sedang nggak mungkin universitas akan mengeluarkan tes berdasarkan garis besar mata kuliah yang akan diterima di universitas nanti. Pesertanya jelas nggak tahulah. Sehingga mau nggak mau ya harus memakai materi SLTA.

Kedua, sistem yang digunakan Universitas Erasmus, dimana mereka menerima siapapun yang mendaftar lantaran hak setiap warga negara yang telah disebutkan tadi dan baru akan melakukan penyeleksian di tahun kedua. Apa bedanya dengan sistem yang di anut Indonesia. Mari kita bahas secara lebih mendetail. Dengan melakukan penyeleksian di tahun kedua maka univ tidak lagi mengira-ngira karena hal itu telah dijelaskan oleh tindakan mahasiswanya selama tahun pertama mereka. Mereka jelas telah mengenal bagaimana mata kuliah yang diajarkan berikut sistemnya. Sehingga kemampuanlah yang berbicara. Mau sebanyak apapun mereka menuntut hak, seperti yang dikatakan dekan Erasmus bahwa kemampuan dan minat akan membuat masa depan berbeda. So, dari segi output pun akan sangat berbeda pula. Dan dari sinilah kemudian integritas itu dibangun. Jadi, tentu sangat pantas jika kemudian universitas tersebut menyandang gelar World Class University.

Kesimpulannya adalah jika ingin menjadi World Class University Indonesia tidak bisa tidak untuk membangun integritas mereka. Harus! Wajib! Itulah mengapa kejujuran menjadi sangat mahal karena itu tidak datang begitu saja. Harus dibangun, dibiasakan dan di jadikan karakter. Itulah juga alasan mengapa Nabi Muhammad SAW begitu di percaya walaupun beliau mengatakan mukjizat-mukjizat Allah yang tidak bisa dilihat oleh sahabat-sahabtanya maupun umatnya. Iya, karena beliau memiliki integritas. So, mau dipercaya ya nggak bisa omong doank, harus ditunjukkan.

So, that’s all and bye…

Jangan lupa berpikir!

Hyn

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s