SEKOLAH UNTUK APA?

Hallo, Selamat Hari Raya Idhul Fitri uri readers-nim. Bogoshipeoyeo jinjja. By the way thank’s to visit my beloved world here. I’m really happy. Someday I hope we can meet or another things we can do. So, I know it is not really okay to talk about it on this situation but… yeah I just feel to much annoying about it. Little not happy ending and this world also not always happy ending, right? Okay!

Tulisan ini bukan sesuatu yang aku tuliskan sendiri, akan tetapi ini merupakan salah satu hal yang terus membayangiku sejak memasuki bangku sekolah menengah pertama. Kalau kata Tasaro GK. anak muda itu harus gelisah dan mungkin ini salah satu kegelisahan terbesarku. Mungkin kalian menganggap aku sok kritis tapi mau bagaimana lagi ayah dan ibu seorang pendidik dan seluruh masa kecilku aku habiskan untuk berada di lingkungan itu. Jadi, kalian bisa menebaknya, tidak mungkin bagiku untuk kemudian tidak terlibat. Tulisan ini merupakan tulisan milik Prof. Dr. Rhenald Kasali dan belaiu merupakan seorang Guru Besar FE UI.

Alasan mengapa aku tidak menuliskan tulisanku sendiri bukan karena apa-apa. Aku hanya merasa bahwa apa yang beliau sampaikan lebih bisa membuka pikiran teman-teman tentang apa sesungguhnya pendidikan itu. Selain itu, beliau juga jauh lebih berpengalaman dalam dunia pendidikan karena selain pernah menjadi seorang siswa, beliau juga telah menjajaki bagaimana menjadi seorang pendidik. Jadi, aku pikir beliau lebih bisa menyampaikan dibanding aku sendiri yang masih perlu untuk belajar dan belajar lagi.

Percayalah apa yang beliau katakan benar adanya dan aku pun pernah mengalaminya dalam duniaku hari ini. Jadi, aku sangat tidak ingn generasi penersu bangsa ini selanjutnya menjadi si kopi-kopi rasa boks mie instan. So, let’s thinking…

***

Rhenald Kasali, Koran Sindo, 7 Juli 2011

Beberapa hari ini kita membaca berita betapa sulitnya anak-anak mencari sekolah.

Masuk universitas pilihan susahnya setengah mati. Alaupun diterima bak lolos dari lubnag jarum. Sudah masuk, ternyata bnyak yang “salah kamar”.

Sudah sering saya mengajak dialog mahasiswa yang bermasalah dalam perkuliahan, yang begitu digali selalu mengatakan mereka masuk jurusan yang salah. Demikianlah, diterima di perguruan tinggi (PTN) masalah, tidak diterima juga masalah. Kalau ada uang bisa kuliah dimana saja.

Bagaimana kalau uang tak ada? Hampir semua orang ingin menjadi sarjana, bahkan masuk program S2. Jadi birokrat atau jenderal pun sekarang banyak yag ingin punya gelar S3. Persoalan seperti itu saya hadapi waktu lulus SMA, 30 tahun lalu, dan ternyata masih menjadi masalah hari ini.

Sekarang, memilih SMP dan SMA pun sama sulitnya. Mengapa hanya soal memindahkan anak ke sekolah negeri lain saja—lantaran pindah rumah —biayanya begitu besar? Padahal bangku sekolah masih banyak yang kosong. Masuk sekolah susah, pindah juga sulit, diterima di perguruan tinggi untung-untungan, cari kerja susahnya minta ampun.

Lengkap sudah maslah kita. Kalau kita sepakat sekolah adlah jembatan untuk mengangkat kesejahteraan dan daya saing bangsa, mengapa dibuat sulit? Lantas apa yang harus dilakukan orangtua? Jadi untuk apa sekolah di negeri  yang serba sulit ini?

KESADARAN MEMBANGUN SDM

Lebih dari 25 tahun yang lalu, saat berkuasa, Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Mohamad sadar betul pentingnya pembangunan sumber daya manusia (SDM). Dia pun mengirim puluhan ribu sarjana mengambil gelar S2 dan S3 ke berbagai negara maju.

Hal serupa juga dilakukan China. Tidak sampai sepuluh tahun, lulusan terbaik itu sudah siap mengisi perekonomian negara. Hasilnya bisa anda lihat sekarang. BUMN di negara itu dipimpin orang-orang hebat, demikian pula perusahaan swasta dan birokrasinya. Perubahan bukan hanya sampai di situ. Orang-orang muda yang kembali ke negerinya secara masif mereformasi sistem pemdidikan. Tradisi lama yang terlalu kognitif dibongkar. Old Ways Teaching yang terlalu berpusat pada guru dan papan tulis, serta peran brain memory (hafalan dan rumus) yang dominan mulai ditinggalkan.

Mereka membongkar kurikulum, memperbaiki metode pengajaran, dan seterusnya. Tak mengherankan kalau sekolah-sekolah di berbagai belahan dunia pun mulai berubah. Di negeri Belanda saya sempat terbengong-bengong menyaksikan bagaimana universitas seterkenal Erasmus begitu mudah menerima mahasiswa.

“Semua warga negara punya hak untuk mendapat pendidikan yang layak, jadi mereka yang mendaftar harus kami terima,” ujar seorang dekan di Erasmus. Beda benar dengan universitas negeri kita yang diberi privilege untuk mencari dan mendapatkan lulusan SLTA yang terbaik.

Seleksinya sangat ketat. Lantas bagaimana membangun bangsa dari lulusan yang asal masuk ini? “Mudah saja ,” ujar dekan itu. “Kita potong di tahun kedua. Masuk tahun kedua, angka drop out tinggi sekali. Di sinilah kita baru bicara kualitas, sebab walaupun semua orang bicara hak, soal Kemampuan dan minat bisa membuat masa depan berbeda,” ujarnya.

Hal senada juga saya saksikan hari-hari ini di Selandia Baru. Meski murid-murid yang kuliah sudah dipersiapkan sejak  ditingkat SLTA, angka drop out mahasiswa tahun pertama cukup tinggi. Mereka pindah ke politeknik yang hanya butuh satu tahun kuliah.

Yang lebih mengejutkan saya adalah saat memindahkan anak bersekolah ditingkat SLTA di Selandia Baru. Sekolah yang kami tuju tentu saja sekolah yang terbaik, masuk dalam 10 besar nasional dengan fasilitas dan guru yang baik. Saya menghabiskan waktu beberapa hari untuk mewawancarai lulusan sekolah itu, ikut tur keliling sekolah, menanyakan kurikulum, dan mengintip bagaimana pelajaran diajarkan. Di luar dugaan saya, pindah sekolah ke sini pun ternyata begitu mudah.

Sudah lama saya gelisah dengan metode pembelajaran di sekolah-sekolah kita yang terlalu kognitif, dengan guru-guru yang merasa hebat kalau muridnya bisa dapat nilai rata-rata diatas 80 (betapa pun stressnya mereka) dan sebaliknya memandang rendah terhadap murid aktif, namun tak menguasai semua subjek.

Potensi anak hanya dilihat dari nilai, yang merupakan cerminan kemampuan mengkopi isi buku dan catatan. Entah dimana keguruan itu muncul kalau sekolah tak mengajarkan critical thinking. Kita mengkritik lulusan yang biasa membebek, tapi tak berhenti menciptakan bebek-bebek dogmatik.

Kalau lulusannya mudah diterima di sekolah yang baik di luar negeri, mungkin guru-guru kita akan menganggap sekolahnya begitu bagus. Mohon maaf, ternyata tidak demikian. Jangankan dibaca, diminta transkip nilainya pun tidak. Maka jangan heran, anak dari daerah terpencil pun di Indonesia, bisa dengan mudah diterima di sekolah yang baik di luar negeri.

Bahkan tanpa tes. Apa yang membuat demikian? “Undang-undang menjamin semua orang punya hak yang sama untuk belajar,” ujar seorang guru di Selandia Baru. Lantas, bukankah kualitas lulusan ditentukan input-nya? “itu ada benarnya, tapi bukan segala-galanya,” ujar putra sulung saya yang kuliah di Auckland University tahun ketiga.

Maksudnya, tes masuk tetap ada, tetapi hanya dipakai untuk penempatan dan kualifikasi. Di tingkat SLTA, mereka hanya diwajibkan mengambil dua mata pelajaran wajib (compulsory), yaitu matematika dan bahasa inggris. Pada dua mata pelajaran ini pun mereka punya tiga kategori: akselerasi, rata-rata, dan yang masih butuh bimbingan.

Sekolah dilarang hanya menerima anak-anak bernilai akademik tinggi karena dapat menimbulkan guncangan karakter pada masa depan anak, khususnya sifat-sifat superioritas, arogansi, dan kurang empati. Mereka hanya super di kedua kelas itu, di kelas lain mereka berbaur.

Dan belum tentu superior di kelas lain karena pengajaran tidak hanya diberikan secara kognitif. Selebihnya, hanya ada empat mata pelajaran pilihan lain yang disesuaikan dengan tujuan masa depan masing-masing. Bagi mereka yang bercita-cita menjadi dokter, biologi dan ilmu kimia wajib dikuasai.

Bagi yang akan menjadi insinyur wajib menguasai fisika dan kimia. Sedangkan bagi yang ingin menjadi ekonom wajib mendalami akunting, statistik, dan ekonomi. Anak-anak yang ingin menjadi ekonom tak perlu belajar biologi dan fisika.

Beda benar dengan anak-anak kita yang harus mengambil 16 mata pelajaran di tingkat SLTA di sini, dan semuanya diwajibkan luus di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM).

Byangkan, bukankah cita-cita pembuat kurikulum itu orangnya hebat sekali? Mungkin dia manusia super.

Seorang lulusan SLTA tahun pertama harus menguasai empat bidang sains (biologi, ilmu kimia, fisika, dan matematika), lalu tiga bahasa (bahasa indonesia, Inggris, dan satu bahasa lain) ditambah PPKN, sejarah, sosiologi, ekonomi, agama, geografi, kesenian, olahraga, dan komputer.

Hebat sekali, bukan? Tidak mengherankan kalau sekolah menjadi sangat menakutkan, stressful, dan banyak korban kesurupan, terbiasa mencontek, dan sebagainya. Harus diakui, kurikulum SLTA kita sangat berat. Seperti kurikulum program S1 20 tahun lalu yang sejajar dengan program S1 yang digabung hingga S3 di Amerika.

Setelah direformasi, kini anak-anak kita bisa lulus sarjana tiga tahun. Padahal dulu lima tahun. Dulu di program doktor di sini, seseorang harus menyelesaikan di atas 100 SKS, sehingga hampir tak ada yng lulus. Kini, seseorang bisa lulus doktor dalam tiga tahun. Anda bisa saja mengatakan, dulu kita juga demikian, tapi tak ada masalah, kok!

Di mana masalahnya?

Masalahnya, saat ini banyak hal telah berubah. Teknologi telah mengubah banyak hal, anak-anak kita dikepung yang lebih besifat pendalaman dan banyak pilihan, tapi datang dengan lebih menyenangkan. Belajar bukan hanya dari guru, melaikan dari segala resources.

Ilmu belajar menjadi lebih penting dari apa yang dipelajari itu sendiri, sehingga diperlukan lebih daris eorang pengajar, yaitu pendidik. Guru tak bisa lagi memberikan semua isi buku untuk dihafalkan, tetapi guru dituntut memberikan bagaimana hidup tanpa guru, life long learning. Saya saksikan metode belajar telah jauh berubah. Seorang guru di West Lake Boys School di Auckland mengatakan, “Kami sudah meninggalkan old ways teaching sejak 10 tahun lalu. Maka itu, sekolah sekarang harus memberikan lebih banyakpilihan daripada paksaan. Percuma memberi banyak pengetahuan kalau tak bisa dikunyah. Guru kami ubah, metode diperbaharui, fasilitas baru dibangun,” ujar seorang guru.(Rhenal Kasali, Ph.D)

Hyn

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s