Jadi, Aku Keren (?)

img_20150518_115906
Cover Book 30 Paspor di Kelas Sang Professor

 

1,5 tahun lalu setiap datang ke toko buku ada beberapa pengganggu yang selalu mengikutiku kemana pun. Salah satunya yang paling gencar adalah sebuah buku bercover ransel coklat berjudul 30 PASPOR DI KELAS SANG PROFESOR. Pertama lihat buku ini, ‘Apasih genit banget!’. Dan sejak pertemuan pertama itu, tiba-tiba dia muncul dimana pun toko buku yang aku singgahi. Sial, jadi aku sedang dirayu nieh, begitulah pikirku. Tapi aku masih saja mengabaikannnya hingga suatu hari seorang inspirator aku, seorang mahasiswa pascasarjana IPB merekomendasikan buku yang membahas tentang Self Driving milik Prof. Dr. Rhenald Kasali. Satu hal yang aku pikir kemudian adalah please aku hampir” membeli buku beliau dulu tapi tidak pernah jadi. Akhirnya setelah melihat rekomendasi ini aku putuskan untuk membeli buku itu.

Nah, saking keponya aku baca buku itu di perjalanan pulang di kereta api yang penuh dan tanpa memperoleh tempat duduk. Baru halaman pertama dan satu paragraf aku sudah terpesona setengah mati. Dan begitulah akhirnya aku menjadi penggemar berat beliau. Membeli buku-buku yang beliau terbitkan dan salah satunya 30 PASPOR DI KELAS SANG PROFESOR. Buku itu beliau bahas sedikit di buku barunya yang aku beli pertama kali. Langsung saja saraf-saraf otakku bekerja ‘Ah, ini buku yang aku lihat sejak 1,5 tahun lalu. Akhirnya kita jadian’. Sedikit menyesal sih karena terlambat tidak mengikuti kata hati, tapi syukur karena Tuhan memberikan jawaban akan masalah-masalahku.

Ketika drama syukur itu selesai muncullah fakta baru, karena tidak teliti aku nggak sadar kalau buku itu bukan tulisan beliau tapi tulisan 30 mahasiswa beliau di kelas Pemasaran Internasional. Jadi begini beliau ini adalah seorang Guru Besar FEUI. Nah, untuk melatih anak-anaknya menjadi good driver beliau membuat sebuah sistem dimana mahasiswanya harus melakukan perjalanan ke luar negeri. Tentu kalian akan tahu lanjutannya. Ya, protes keras dari orang tua pastinya, diomongin teman sesama dosen dan kesulitan-kesulitan lainnya. Namun beliau percaya ini jalan yang sangat baik. Pada masa-masa awal pembentukannya beliau mengajak bersama mahasiswanya untuk mengunjungi suatu negara, tetapi suatu ketika di bus beliau melihat anak-anaknya tidur nyenak. Lah, mereka jadi passenger lagi kalau begini, mereka harus jadi driver pikir beliau kemudian.

Akhirnya beliau mengubah sistemnya dimana satu negara dikunjungi beberapa orang. Tetapi masih belum berhasil juga karena itu membawa sikap saling bergantung. Kalau terus begini hanya satu yang akan jadi driver. Diubahlah kembali sistem ini atas saran dari Ibu Susi Pujiastuti, saat itu beliau belum menjadi menteri. Begitulah akhirnya sistem itu berlaku hingga sekarang dimana mereka tidak diperbolehkan mengunjungi satu negara yang sama, harus berbeda setiap orangnya. Aturan lainnya adalah mereka tidak boleh mengunjungi negara yang memiliki budaya yang dekat dengan Indonesia sepert Timor Leste, Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam. Mumet lagi, iyalah. Karena mau nggak mau mereka harus rebutan negara. Semakin lama ya dapatnya yang makin jauh dan tentu biayanya akan semakin mahal juga.

Namun, masalah tak berhenti sampai disitu, belum lama anaknya berangkat, orang tua sudah mulai protes ini dan itu ke fakultas karena cemas anaknya kesasar dan sebagainya. Dan inilah yang kemudian dikatakan beliau bahwa orang tua terlalu terburu-buru mengambil hak-hak anak-anaknya untuk menyelesaikan masalah. Mereka mengiginkan burung dara-nya kembali ke sangkar emas. Tidak rela anaknya menjadi rajawali yang bebas. Miris.

Masih teringat semasa SD dulu aku mengatakan pada ibu bahwa aku akan sekolah ditempat yang jauh dari tempat aku tinggal. Aku tipe orang yang memiliki pride yang tinggi. Jadi sekolah harus dapet yang favorit. Hal itu kemudian berlanjut hingga tingkat universitas dimana aku ingin mencoba tempat yang semakin jauh. Dan itu membuat ibu kalang kabut. Kalau Ayah nggak usah ditanya, karena kami satu pemikiran.

Ada satu hal yang Ayah dan Ibu tidak pernah tahu bahwa aku hobi membuat masalah. Tapi, tahukah kalian mereka tidak pernah sekalipun dapat keluhan dariku. Ayah dan Ibu nggak pernah tahu apa saja yang aku alami selama jauh dari mereka karena aku selalu berpikir bahwa aku harus menyelesaikan masalah aku sendiri apapun caranya. Yang penting itu tidak melanggar norma. Hingga kemudian aku menjadi terbiasa dan tertutup akan masalah-malasahku. Aku mulai sedikit terbuka ketika memasuki bangku universitas, dimana sesekali aku cerita ke Ibu tentang masalah-masalahku, tapi itupun sekedar bercerita, ujung-ujungnya ya aku selesaiin sendiri. Ada yang mengatakan menyimpan masalah sendiri dapat mengakibatkan stress. Maybe yeah tetapi tidak ketika pikiran kita memilih untuk tidak. you know, like mind power.

Selain masalah aku juga hobi pergi sendiri. Kadang ketika tanpa sengaja bertemu dengan temanku mereka akan mengernyitkan dahi dan melontarkan kata paling fenomenal, sendirian. Mungkin dibenak mereka, mereka mikir nie orang pasti nggak punya teman. Aku konfirmasi sekarang, maaf aku memilikinya sampai lupa menghitungnya. Alasan kenapa aku milih sendiri adalah aku ingin bebas melakukan apa yang aku mau tanpa terbebani rengekan mereka yang pengen cepet, pengen ini dan itu. Aku cuma ingin bebas tanpa gangguan, karena jelas dua orang memiliki dua kepala berbeda dan setiap kepala maunya beda-beda. Tapi jangan salah aku tahu situasi dimana aku juga makhluk sosial yang mau tak mau harus berhubungan dengan orang lain. Jangan khawatir aku tahu bagaimana menempatkan diri. Jadi, berhenti berpikir dangkal.

Oh ya, aku tekankan aku menulis cerita ini bukan untuk pamer, tetapi lebih aku ingin kalian belajar dari pengalaman sederhanaku itu. Aku ingin kalian bisa memetik pelajaran dari kisah aku karena ini waktumu untuk terbang bebas bukan terkurung di balik sangkar emas. Kalian manusia bukan binatang peliharaan. So, berpikirlah!

Okay! Kembali ke topik awal, walaupun buku ini bukan tulisan beliau namun buku ini sama luar biasanya. Pengalaman mereka yang beragam akan mengajarkan kita bagaimana menjadi si rajawali itu, bukan burung dara manis penghuni sangkar emas. So, I will recomended this book for you. Try and do!

Bye…

Hyn

Iklan

Orang tua dan tombol button-nya, anak muda dengan papan touch screen-nya

astronomical_clock1
Astronomy Clock

Ketika era telah berubah, kemudian hanya ada dua pilihan. Terlibat untuk berubah atau diam dan tenggelam. Kejam? Mungkin, tetapi dunia tidak bisa tidak untuk tidak berubah. Sesuatu yang terlihat megah hari ini bukan tak mungkin hancur keesokan harinya.

Faktanya adalah perusahaan taksi paling besar di Indonesia, ya Blue Bird. Siapa yang akan berpikir sepuluh tahu lalu bahwa perusahaan sebesar dan sekuat Blue Bird akan dibuat kotar-katir oleh uber. Nobody thinking but the uber founder make it. Itulah bagaimana perubahan, dunia terlalu dinamis dan kenyamanan adalah lagu lama mereka generasi yang tidak siap berubah.

api277-990x743
Astronomy Clock, Prague

Anak muda itu cepat, lincah dan kepo-an sedang orang tua diam berpegang teguh pada kitab masa lalu mereka yang dipaksakan eksis di era kekinian. Ketika kemudian aku berpikir tentang hal ini ada satu hal yang kemudian aku dapatkan. Apa?  Debat bukan solusi lagi karena drama karma akan selalu berlaku. Rayuan manis madu juga telah menjadi masa lalu. Sedang denting-denting masalah terus berdengung mengharap solusi. Maka kemudian lahirlah sebuah teori pada hari ini Minggu, 17 Juli 2016 dari  pojok kecil otakku.

Kalian penasaran?

Belum saatnya, karena sebuah solusi lahir dari sebuah masalah. So, let’s describe about the problem first.

Keinginan

Orang tua kira-kira memiliki rasio keinginan yang sama besar dengan anak-anaknya tetapi berkebalikan dalam hal cara. Ya, cara menjadi si luar biasa itu. Maka mendebat menjadi drama konvensional yang tak lagi menjanjikan sekarang. Orang tua semakin di debat akan semakin membatu. Artinya akan sangat membuang-buang tenaga dan pikiran tetapi tak ada hasil. Namun, ketika kemudian berhasil maka jelas harus dilakukan penelusuran kembali tentang bagaimana  itu bisa terjadi. Hal itu dikarenakan bahwa drama karma akan selalu eksis sampai kapanpun.

Seseorang pernah bercerita bahwa suatu ketika rasululah akan berperang dan seorang sahabat datang menghadap beliau. Dia mengatakan akan ikut berperang bersama rasullulah. Tapi apa yang terjadi, rasullulah bertanya pada sahabat tersebut “Apakah engkau telah mendapat izin dari ibumu?” Sahabat tersebut menjawab tidak maka kemudian rasullulah menyuruhnya kembali dan tidak usah ikut berperang karena dalam melalukan apapun dapatkan izin dari ibumu terlebih dahulu.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa izin orang tua adalah hal yang sangat penting. Coba pikirkan, apa jadinya jika kamu mendebat dan melukai hati mereka. Cukup satu kata teman-teman, karma. Ya, sekali lagi karma. Tentu kita tidak mau kan dapat karma maka mau tidak mau ya harus mendapatkan izin operasional resmi. Pertanyaan selanjutnya, bagaimanakah caranya? Nanti dulu karena sebelum itu kita akan memasuki poin kedua terlebih dahulu.

Perubahan

Masih segar diingatan dimana beberapa bulan lalu terjadi demo besar –besaran karena PHK  masal oleh sebuah perusahaan otomotif di Indonesia. Intinya mereka tidak terima akan fakta PHK  tersebut. Karena berita itu aku kemudian bertanya-tanya, bukankah mereka berdemo meminta perubahan ini dan itu di lain waktu tetapi ketika kemudian benar-benar terjadi perubahan mereka kembali menuntut sebuah kenyamanan abadi. Ya, siapa juga yang mau di PHK, jelas kita tidak mau tapi kemudian cobalah pikir kembali dan tanyakan pada diri kita “Apakah kita sudah meningkatkan kapasitas diri?” jika belum maka jelas permasalahan datang dari kedua belah pihak. Artinya kita juga harus mau untuk terus meningkatkan kapasitas diri kita jika ingin selalu berada di zona bintang. Tidak bisa tidak, harus. Maka benar seseorang yang mengatakan bahwa perubahan adalah hal yang paling ditakutkan setiap individu. Begitu juga orang tua, sulit bagi mereka untuk lepas dari kitab masa lalu mereka karena bagaimanapun mereka pernah sukses olehnya. Hal itu sama sulitnya dengan menyadari betapa zaman telah berganti menjadi kekinian.

Tidak hanya mereka, kita pun sama. Apalagi jika kita telah turut serta menganut paham masa lalu mereka. Tidak mudah untuk lepas dari sangkar emas orang tua kita. Kebanyakan mereka masih berpikir bahwa pingit-memingit adalah bagian dari perempuan. Tidak,aku menolaknya. Mungkin kalian akan mengatakan bahwa aku bagian dari liberalisme tetapi lihatlah, dunia bukan dulu lagi karena dunia sedang memasang tren kekinian yang menuntut kita untuk menjadi kekinian juga.

Seorang temanku pernah mengatakan bahwa perempuan tidak harus sukses, memiliki pekerjaan yang wow, dan berambisi karena menurutnya perempaun akan ditanggung oleh laki-laki nantinya, sedang laki-laki mau tidak mau harus sukses karena mereka harus menanggung itu. Apa? Sinting.

Jadi, apa solusi dari permasalahn di atas. Untuk aku pribadi aku menganut teori Diam dan Diam-diam. Surprise! Maksudnya adalah ketika orang tua menuntut adalah sebuah kepercumaan sia-sia untuk mendebat, apalagi jika kita belum berpenghasilan, Knock Out. Maka solusinya adalah diam. Ya, diamlah dihadapan mereka tetapi menarilah dibelakangnya. Menari yang aku maksud bukan sesuatu hal yang negatif tetapi berjuanglah, berupayalah meraih jalan yang kamu pikirkan diam-diam itu dan ketika hal itu telah berada di titik yang baik, tunjukkan pada mereka bahwa kalian telah membangun jalan kesuksesan sendiri. Bukan dengan mendekam di balik sangkar emas tetapi terbang bebas di langit tinggi.

Kata kuncinya adalah ‘tindakan’. Kebanyakan orang tua akan diam ketika kita menunjukkan rayuan dalam tindakan ketimbang debat berkonten omong-kosong. So, masih bingung gimana caranya merayu orang tua. Tentu tidak lagi. So, boleh deh dicoba itu teori aku and good luck.

Cherio…

Hyn

University and Integrity

Kings1
King’s College London

Bulan-bulan menjelang ujian masuk perguruan tinggi selalu menyisakan cerita tersendiri. Bahkan hingga hari H dan setelahnya. Semuanya menjadi sangat sibuk ini dan itu. Tapi menurut penilaianku sedrama-dramanya ujian masuk perguruan tinggi di Indonesia masih belum bisa menggeser betapa gilanya ujian masuk perguruan tinggi di Korea Selatan atau yang akrab disebut SAT. Bagi banyak orang Korea SAT ini udah seperti malaikat pencabut nyawa saja. Sekali gagal jangan pikir kamu masih baik-baik saja. Beberapa waktu menjelang SAT semua siswa hanya akan belajar dan belajar. Makan pun digantikan dengan belajar. Nah, karena kegilaan ini tingkat stress meningkat sangat tajam dan bahkan terjadi banyak kasus bunuh diri.

Tapi menurut analisaku, ujian masuk perguruan tinggi di Indonesia nggak sampai segitunya, justru Ujian Nasional-lah yang paling banyak memakan korban jiwa. Iya nggak sih? Sibuk sih sibuk tapi nggak sampai mau mati juga dan kalaupun gagal masih ada tahun depan. Kira-kira begitu. Atau alasan lainnya sebenarnya mahasiswa di Indonesia cukup berlapang dada kalaupun kemudian dia gagal, tetapi tidak di korea, apapun alasannya mereka harus mendapatkan SKY university. SKY ini sendiri adalah tiga Universitas terbaik di Korea yakni Seoul University, Kyunghee University, dan Yonsei University atau hidup mereka akan berakhir, begitu mereka menyebutnya.

Berbicara tentang universitas tentu menyimpan jutaan cerita bukan. Nah, karena drama ujian masuk perguruan tinggi inilah aku menjadi terganggu akan beberapa hal. Salah satunya adalah brosur beberapa universitas yang mengatakan ‘Menuju World Class University’, ‘Menyongsong World Class University’ dll. Wah, benar-benar doa yang sangat mulia. Berdoa boleh lah ya, tapi kok rasanya gembor-gembor doank. Tiap tahun itu-itu aja terus kapan Jadi World Class University-nya. Doa mulu, mabok kali.

Entah kenapa aku nggak pernah bisa percaya gitu. Coba deh di analisis, setidaknya untuk layak menyandang gelar World Class University sebuah Universitas harus memiliki intregritas. Itu salah satu poin yang sangat penting. Tapi masalahnya apa yang aku lihat hari ini sebagai salah satu mahasiswa aktif di sebuah universitas di Indonesia, intregitas itu nyaris 0%. Nggak ada. Bahkan ketika salah satu mentor bahasa inggrisku yang saat ini sedang mengenyam pendidikan di Lehigh University, Amerika mengatakan bahwa Indonesia hari ini mulai kehilangan karakter. Aku bilang I don’t see again. Like ZERO!

Aku tidak sedang berlagak tahu segalanya, tetapi jika kamu salah satu mahasiswa di Indonesia kamu akan paham. Bahkan jikalau pun kamu menutup rapat matamu, telingamu akan tetap mendengarnya. Terlalu ketara untuk diabaikan begitu saja dan tidak cukup menarik untuk dijadikan hiburan.

Dalam sebuah literatur yang ditulis oleh Prof. Dr. Rhenald Kasali beliau menceritakan beberapa pengalamannya saat melakukan perjalanan ke Belanda. Disana beliau sempat begitu terheran-heran bagaimana mungkin kampus seterkenal Erasmus menerima mahasiswa dengan begitu mudahnya. Akhirnya karena penasaran beliau pun mewawancarai salah satu dekan di Universitas tersebut dan kalian tahu apa jawaban yang beliau dapat? “Semua warga negara punya hak untuk mendapat pendidikan yang layak, jadi mereka yang mendaftar harus kami terima”. Coba bedakan dengan universitas di negara kita yang di beri privilege untuk mencari dan mendapatkan lulusan SLTA yang terbaik.

Pertanyaan selanjutnya yang muncul di benak beliau adalah bagaimana kemudian membangun bangsa dari lulusan yang asal masuk ini? “Mudah saja,” ujar dekan itu. “Kita potong di tahun kedua. Masuk tahun kedua, angka drop out tinggi sekali. Di sinilah kita baru berbicara kualitas, sebab walaupun semua orang bicara hak, soal kemampuan dan minat bisa membuat masa depan berbeda,” ujarnya. (Self Driving: 49)

Jika kita melihat sekilas kayaknya dua metode itu sama saja, intinya mereka ingin mencari kandidat terbaik. Tetapi jika kita mau sedikit saja bersusah payah untuk berpikir, sebenarnya dua metode itu berbeda jauh di hasil akhirnya.

Pertama, sistem Indonesia yang mencari lulusan terbaik SLTA. Okay. Kita bahas. Ketika kita berbicara lulusan terbaik SLTA kok rasanya universitas percaya banget ya, padahal kan… yang udah melalui drama UNAS pasti tahu lah. Rasanya nggak perlu dibahas secara mendetail. Intinya kalian yang udah pernah SLTA pasti tahu. Kalau dipikirkan lagi sistem ini membuat universitas mengira-ngira, kayaknya dia bisa deh nanti…khususnya yang melalui jalur P***.

Lalu bagaimana dengan yang melalui jalur tulis. Nggak jauh beda, univ tetap mengira-ngira. Seperti kita tahu, khususnya yang sudah mahasiswa mau nggak mau kita harus mengakui fakta bahwa mata kuliah dan mata pelajaran SLTA itu berbeda jauh. Sedang nggak mungkin universitas akan mengeluarkan tes berdasarkan garis besar mata kuliah yang akan diterima di universitas nanti. Pesertanya jelas nggak tahulah. Sehingga mau nggak mau ya harus memakai materi SLTA.

Kedua, sistem yang digunakan Universitas Erasmus, dimana mereka menerima siapapun yang mendaftar lantaran hak setiap warga negara yang telah disebutkan tadi dan baru akan melakukan penyeleksian di tahun kedua. Apa bedanya dengan sistem yang di anut Indonesia. Mari kita bahas secara lebih mendetail. Dengan melakukan penyeleksian di tahun kedua maka univ tidak lagi mengira-ngira karena hal itu telah dijelaskan oleh tindakan mahasiswanya selama tahun pertama mereka. Mereka jelas telah mengenal bagaimana mata kuliah yang diajarkan berikut sistemnya. Sehingga kemampuanlah yang berbicara. Mau sebanyak apapun mereka menuntut hak, seperti yang dikatakan dekan Erasmus bahwa kemampuan dan minat akan membuat masa depan berbeda. So, dari segi output pun akan sangat berbeda pula. Dan dari sinilah kemudian integritas itu dibangun. Jadi, tentu sangat pantas jika kemudian universitas tersebut menyandang gelar World Class University.

Kesimpulannya adalah jika ingin menjadi World Class University Indonesia tidak bisa tidak untuk membangun integritas mereka. Harus! Wajib! Itulah mengapa kejujuran menjadi sangat mahal karena itu tidak datang begitu saja. Harus dibangun, dibiasakan dan di jadikan karakter. Itulah juga alasan mengapa Nabi Muhammad SAW begitu di percaya walaupun beliau mengatakan mukjizat-mukjizat Allah yang tidak bisa dilihat oleh sahabat-sahabtanya maupun umatnya. Iya, karena beliau memiliki integritas. So, mau dipercaya ya nggak bisa omong doank, harus ditunjukkan.

So, that’s all and bye…

Jangan lupa berpikir!

Hyn

 

SEKOLAH UNTUK APA?

Hallo, Selamat Hari Raya Idhul Fitri uri readers-nim. Bogoshipeoyeo jinjja. By the way thank’s to visit my beloved world here. I’m really happy. Someday I hope we can meet or another things we can do. So, I know it is not really okay to talk about it on this situation but… yeah I just feel to much annoying about it. Little not happy ending and this world also not always happy ending, right? Okay!

Tulisan ini bukan sesuatu yang aku tuliskan sendiri, akan tetapi ini merupakan salah satu hal yang terus membayangiku sejak memasuki bangku sekolah menengah pertama. Kalau kata Tasaro GK. anak muda itu harus gelisah dan mungkin ini salah satu kegelisahan terbesarku. Mungkin kalian menganggap aku sok kritis tapi mau bagaimana lagi ayah dan ibu seorang pendidik dan seluruh masa kecilku aku habiskan untuk berada di lingkungan itu. Jadi, kalian bisa menebaknya, tidak mungkin bagiku untuk kemudian tidak terlibat. Tulisan ini merupakan tulisan milik Prof. Dr. Rhenald Kasali dan belaiu merupakan seorang Guru Besar FE UI.

Alasan mengapa aku tidak menuliskan tulisanku sendiri bukan karena apa-apa. Aku hanya merasa bahwa apa yang beliau sampaikan lebih bisa membuka pikiran teman-teman tentang apa sesungguhnya pendidikan itu. Selain itu, beliau juga jauh lebih berpengalaman dalam dunia pendidikan karena selain pernah menjadi seorang siswa, beliau juga telah menjajaki bagaimana menjadi seorang pendidik. Jadi, aku pikir beliau lebih bisa menyampaikan dibanding aku sendiri yang masih perlu untuk belajar dan belajar lagi.

Percayalah apa yang beliau katakan benar adanya dan aku pun pernah mengalaminya dalam duniaku hari ini. Jadi, aku sangat tidak ingn generasi penersu bangsa ini selanjutnya menjadi si kopi-kopi rasa boks mie instan. So, let’s thinking…

***

Rhenald Kasali, Koran Sindo, 7 Juli 2011

Beberapa hari ini kita membaca berita betapa sulitnya anak-anak mencari sekolah.

Masuk universitas pilihan susahnya setengah mati. Alaupun diterima bak lolos dari lubnag jarum. Sudah masuk, ternyata bnyak yang “salah kamar”.

Sudah sering saya mengajak dialog mahasiswa yang bermasalah dalam perkuliahan, yang begitu digali selalu mengatakan mereka masuk jurusan yang salah. Demikianlah, diterima di perguruan tinggi (PTN) masalah, tidak diterima juga masalah. Kalau ada uang bisa kuliah dimana saja.

Bagaimana kalau uang tak ada? Hampir semua orang ingin menjadi sarjana, bahkan masuk program S2. Jadi birokrat atau jenderal pun sekarang banyak yag ingin punya gelar S3. Persoalan seperti itu saya hadapi waktu lulus SMA, 30 tahun lalu, dan ternyata masih menjadi masalah hari ini.

Sekarang, memilih SMP dan SMA pun sama sulitnya. Mengapa hanya soal memindahkan anak ke sekolah negeri lain saja—lantaran pindah rumah —biayanya begitu besar? Padahal bangku sekolah masih banyak yang kosong. Masuk sekolah susah, pindah juga sulit, diterima di perguruan tinggi untung-untungan, cari kerja susahnya minta ampun.

Lengkap sudah maslah kita. Kalau kita sepakat sekolah adlah jembatan untuk mengangkat kesejahteraan dan daya saing bangsa, mengapa dibuat sulit? Lantas apa yang harus dilakukan orangtua? Jadi untuk apa sekolah di negeri  yang serba sulit ini?

KESADARAN MEMBANGUN SDM

Lebih dari 25 tahun yang lalu, saat berkuasa, Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Mohamad sadar betul pentingnya pembangunan sumber daya manusia (SDM). Dia pun mengirim puluhan ribu sarjana mengambil gelar S2 dan S3 ke berbagai negara maju.

Hal serupa juga dilakukan China. Tidak sampai sepuluh tahun, lulusan terbaik itu sudah siap mengisi perekonomian negara. Hasilnya bisa anda lihat sekarang. BUMN di negara itu dipimpin orang-orang hebat, demikian pula perusahaan swasta dan birokrasinya. Perubahan bukan hanya sampai di situ. Orang-orang muda yang kembali ke negerinya secara masif mereformasi sistem pemdidikan. Tradisi lama yang terlalu kognitif dibongkar. Old Ways Teaching yang terlalu berpusat pada guru dan papan tulis, serta peran brain memory (hafalan dan rumus) yang dominan mulai ditinggalkan.

Mereka membongkar kurikulum, memperbaiki metode pengajaran, dan seterusnya. Tak mengherankan kalau sekolah-sekolah di berbagai belahan dunia pun mulai berubah. Di negeri Belanda saya sempat terbengong-bengong menyaksikan bagaimana universitas seterkenal Erasmus begitu mudah menerima mahasiswa.

“Semua warga negara punya hak untuk mendapat pendidikan yang layak, jadi mereka yang mendaftar harus kami terima,” ujar seorang dekan di Erasmus. Beda benar dengan universitas negeri kita yang diberi privilege untuk mencari dan mendapatkan lulusan SLTA yang terbaik.

Seleksinya sangat ketat. Lantas bagaimana membangun bangsa dari lulusan yang asal masuk ini? “Mudah saja ,” ujar dekan itu. “Kita potong di tahun kedua. Masuk tahun kedua, angka drop out tinggi sekali. Di sinilah kita baru bicara kualitas, sebab walaupun semua orang bicara hak, soal Kemampuan dan minat bisa membuat masa depan berbeda,” ujarnya.

Hal senada juga saya saksikan hari-hari ini di Selandia Baru. Meski murid-murid yang kuliah sudah dipersiapkan sejak  ditingkat SLTA, angka drop out mahasiswa tahun pertama cukup tinggi. Mereka pindah ke politeknik yang hanya butuh satu tahun kuliah.

Yang lebih mengejutkan saya adalah saat memindahkan anak bersekolah ditingkat SLTA di Selandia Baru. Sekolah yang kami tuju tentu saja sekolah yang terbaik, masuk dalam 10 besar nasional dengan fasilitas dan guru yang baik. Saya menghabiskan waktu beberapa hari untuk mewawancarai lulusan sekolah itu, ikut tur keliling sekolah, menanyakan kurikulum, dan mengintip bagaimana pelajaran diajarkan. Di luar dugaan saya, pindah sekolah ke sini pun ternyata begitu mudah.

Sudah lama saya gelisah dengan metode pembelajaran di sekolah-sekolah kita yang terlalu kognitif, dengan guru-guru yang merasa hebat kalau muridnya bisa dapat nilai rata-rata diatas 80 (betapa pun stressnya mereka) dan sebaliknya memandang rendah terhadap murid aktif, namun tak menguasai semua subjek.

Potensi anak hanya dilihat dari nilai, yang merupakan cerminan kemampuan mengkopi isi buku dan catatan. Entah dimana keguruan itu muncul kalau sekolah tak mengajarkan critical thinking. Kita mengkritik lulusan yang biasa membebek, tapi tak berhenti menciptakan bebek-bebek dogmatik.

Kalau lulusannya mudah diterima di sekolah yang baik di luar negeri, mungkin guru-guru kita akan menganggap sekolahnya begitu bagus. Mohon maaf, ternyata tidak demikian. Jangankan dibaca, diminta transkip nilainya pun tidak. Maka jangan heran, anak dari daerah terpencil pun di Indonesia, bisa dengan mudah diterima di sekolah yang baik di luar negeri.

Bahkan tanpa tes. Apa yang membuat demikian? “Undang-undang menjamin semua orang punya hak yang sama untuk belajar,” ujar seorang guru di Selandia Baru. Lantas, bukankah kualitas lulusan ditentukan input-nya? “itu ada benarnya, tapi bukan segala-galanya,” ujar putra sulung saya yang kuliah di Auckland University tahun ketiga.

Maksudnya, tes masuk tetap ada, tetapi hanya dipakai untuk penempatan dan kualifikasi. Di tingkat SLTA, mereka hanya diwajibkan mengambil dua mata pelajaran wajib (compulsory), yaitu matematika dan bahasa inggris. Pada dua mata pelajaran ini pun mereka punya tiga kategori: akselerasi, rata-rata, dan yang masih butuh bimbingan.

Sekolah dilarang hanya menerima anak-anak bernilai akademik tinggi karena dapat menimbulkan guncangan karakter pada masa depan anak, khususnya sifat-sifat superioritas, arogansi, dan kurang empati. Mereka hanya super di kedua kelas itu, di kelas lain mereka berbaur.

Dan belum tentu superior di kelas lain karena pengajaran tidak hanya diberikan secara kognitif. Selebihnya, hanya ada empat mata pelajaran pilihan lain yang disesuaikan dengan tujuan masa depan masing-masing. Bagi mereka yang bercita-cita menjadi dokter, biologi dan ilmu kimia wajib dikuasai.

Bagi yang akan menjadi insinyur wajib menguasai fisika dan kimia. Sedangkan bagi yang ingin menjadi ekonom wajib mendalami akunting, statistik, dan ekonomi. Anak-anak yang ingin menjadi ekonom tak perlu belajar biologi dan fisika.

Beda benar dengan anak-anak kita yang harus mengambil 16 mata pelajaran di tingkat SLTA di sini, dan semuanya diwajibkan luus di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM).

Byangkan, bukankah cita-cita pembuat kurikulum itu orangnya hebat sekali? Mungkin dia manusia super.

Seorang lulusan SLTA tahun pertama harus menguasai empat bidang sains (biologi, ilmu kimia, fisika, dan matematika), lalu tiga bahasa (bahasa indonesia, Inggris, dan satu bahasa lain) ditambah PPKN, sejarah, sosiologi, ekonomi, agama, geografi, kesenian, olahraga, dan komputer.

Hebat sekali, bukan? Tidak mengherankan kalau sekolah menjadi sangat menakutkan, stressful, dan banyak korban kesurupan, terbiasa mencontek, dan sebagainya. Harus diakui, kurikulum SLTA kita sangat berat. Seperti kurikulum program S1 20 tahun lalu yang sejajar dengan program S1 yang digabung hingga S3 di Amerika.

Setelah direformasi, kini anak-anak kita bisa lulus sarjana tiga tahun. Padahal dulu lima tahun. Dulu di program doktor di sini, seseorang harus menyelesaikan di atas 100 SKS, sehingga hampir tak ada yng lulus. Kini, seseorang bisa lulus doktor dalam tiga tahun. Anda bisa saja mengatakan, dulu kita juga demikian, tapi tak ada masalah, kok!

Di mana masalahnya?

Masalahnya, saat ini banyak hal telah berubah. Teknologi telah mengubah banyak hal, anak-anak kita dikepung yang lebih besifat pendalaman dan banyak pilihan, tapi datang dengan lebih menyenangkan. Belajar bukan hanya dari guru, melaikan dari segala resources.

Ilmu belajar menjadi lebih penting dari apa yang dipelajari itu sendiri, sehingga diperlukan lebih daris eorang pengajar, yaitu pendidik. Guru tak bisa lagi memberikan semua isi buku untuk dihafalkan, tetapi guru dituntut memberikan bagaimana hidup tanpa guru, life long learning. Saya saksikan metode belajar telah jauh berubah. Seorang guru di West Lake Boys School di Auckland mengatakan, “Kami sudah meninggalkan old ways teaching sejak 10 tahun lalu. Maka itu, sekolah sekarang harus memberikan lebih banyakpilihan daripada paksaan. Percuma memberi banyak pengetahuan kalau tak bisa dikunyah. Guru kami ubah, metode diperbaharui, fasilitas baru dibangun,” ujar seorang guru.(Rhenal Kasali, Ph.D)

Hyn