Keputusanku adalah Antara Aku dan Tuhan

2b.Rijksmuseum_Amsterdam_1
Netherlands

It’s been two years I left my home to study. Time flies and like your prediction anything change. Ya, bukankah justru sangat aneh jika tak ada satu halpun yang berubah. Hanya saja perubahan itu justru menakutkan untukku yakni kehilangan satu hal manusiawi dalam diriku, simpati… Tidak sepenuhnya, tetapi presentasenya nyaris 90%.

Terkadang aku berpikir kalau seandainya saja ada seseorang dihadapanku dan berada dalam masa kritis menuju kematian, aku yakin tak akan meperdulikannya sama sekali. Walaupun aku tahu bahwa uluran tangannku jelas akan menyelamatkannya.

Aku memikirkan banyak hal dan aku menyukainya, tetapi disisi lain aku justru merasa bersalah jika kemudian mengambil keputusan tersebut. Ini hidupku, siapa anda sampai harus masuk dalam list pertimbanganku. Tetapi rasa humanitas menjengkelkan bukan? Aku ingin terjun di dunia itu dan aku melakukan hal sebaliknya. Walau sebanyak apapun kukatakan pada diriku bahwa jalan ini berbeda, tetapi rasa bersalah terkutuk itu selalu menyapaku dalam keheningan dan memastikan kewarasan pikiranku.

HPIM0597.JPG

Masalahnya adalah ketika seseorang masih bisa menghawatirkan sesuatu aku bahkan tidak bisa melakukannya. Ketika banyak orang masih bisa menumpahkan masalahnya dalam air mata. Aku pikir, jangankan air mata, terbesit dalam pikiranku pun tidak sama sekali. Hal terekspresif yang bisa aku lakukan hanyalah “Ah, again. Aku bosan mendengarnya”. “Sometimes I think like…I am still a human right?”

Masih teringat dengan jelas satu tahun lalu saat seseorang berada dalam situasi yang sama denganku dan kemudian dia mengambil keputusan mutlak untuk menjauh. Hari itu aku mengatakan padanya “Are you sure? It will be ended soon. Tell me what the reason!” And then, she said to me like it is easy for you to speak “It will be ended soon” but not for me. Nobody know what will happen on the next chapter, right? Just the god know that well.

Kanal-Amsterdam-Belanda

Saat itu aku katakan aku menghargai keputusannya tanpa paham satu pun yang dia katakan tetapi hari ini aku pastikan memahaminya tanpa cela. Terdengar seperti pengecut ulung, but…don’t judge a book by it’s cover. Keputusan tidak mungkin diambil tanpa pertimbangan terbaik. Jadi, sekali lagi kuharap ini tidak melanggar etika humanitas sama sekali. Dan aku harap keputusanku adalah sebaik-baiknya.

Jika kemudian kamu berada dalam situasi yang sama denganku, maka…aku mungkin tidak bisa memberikan solusi pasti. Cukup pertimbangkan sebaik-baiknya. Ingat kamu masih memiliki Tuhan maka jangan khawatir.

“Jika aku tidak mengambil keputusan maka aku tidak akan memulai apapun”-Someone forgotten to say this to me

Leiden University Main

Hyn

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s