Tuhan Nomor berapa?

Minggu ini aku menemukan fakta bahwa aku benar-benar buruk dalam perhitungan dan angka-angka. Kenapa? Karena aku tidak bisa menghitung waktu. Yah, terlalu sibuk yang entah apa(?) Kemudian aku terpikir akan sesuatu hal. Aku berada di perguruan tinggi sekarang. Orang bilang mencari pengetahuan. Kupikir benar untuk beberapa saat dan salah untuk beberapa saat setelahnya.

Aku merasa kosong…

Jika dipikir lagi aku ada disini untuk menjadi tahu dan bahkan harapan yang lebih dari itu. Tetapi kukira aku tak mengetahui apapun. Aku merasa semakin jauhnya dengan apa yang ingin aku tahu. Jika belum berubah tujuannya, kuliah seharusnya meng-edukasi ‘kan? Mungkin benar. Tapi faktanya bahkan kami jauh lebih takut dengan jadwal praktikum dan Dosen ataupun Asisten Dosen dibanding Tuhan. Beberapa waktu lalu aku membaca salah satu tulisan milik mentor bahasa inggrisku. Disana beliau menuliskan bahwa pengetahuan sejatinya datangnya dari Tuhan. Artinya bahwa Tuhanlah yang menundukkannya untuk kita hingga kita mampu untuk memahaminya. Mustahil kita bisa jika Tuhan tidak merestuinya.

“Boleh punya mimpi yang besar, tapi kewajibanmu pada yang maha Besar jangan di lupakan”-Budi Waluyo

Pertanyaannya adalah bagaimana kita akan menjadi luar biasa jika Tuhan yang jelas memegang segala kendali ada di nomor 3? Apa kamu pikir ini akan mudah? Maka jika kemudian semua menjadi sulit untukmu dalam mencari ilmu, tinjau kembali hubunganmu dengan Tuhan. Aku tahu bagaimana sulitnya itu untuk dijelaskan dan dipahami, tetapi seperti itulah realita yang ada.

Aku ingin bercerita bahwa minggu ini aku menghabiskan begitu banyak waktu untuk sebuah kekosongan. Yah, aku hanya merasa semakin kosong saja. Kemudian aku mengatakan pada diriku bahwa hanya untuk sehari saja aku ingin bisa memejamkan mata dengan tenang. Lalu ketika akhirnya memilikinya, aku justru menghabiskannya untuk hal lain. Artinya aku tahu apa yang aku prioritaskan dan apa yang aku cintai karena seperti yang dikatakan kak Budi bahwa “selalu ada waktu untuk hal yang diprioritaskan”. Jika aku tidak memprioritaskannya maka jelas aku lebih memilih untuk menjalankan rencana pertamaku dibandingkan dengan mendekatinya yang jelas menguras pikiran dan waktu. Moral valuenya, jika kemudian di suatu waktu kamu menjadi bingung akan apa passionku, apa yang aku cintai, dan apa yang seharusnya aku pilih maka cobalah menggalinya di waktu sibukmu. Jika kemudian kamu selalu memiliki waktu untuknya walau sesibuk apapun itu maka jelas dia adalah milikmu jadi genggamlah dan buatlah dia menjadi luar biasa karena

Kita adalah hasil dari keputusan kita.-HYN

Namun jika tidak maka jelas kamu perlu untuk meninjaunya kembali. Maybe up here first and I hope you can find it as well like me. Is not the time be confused okay …

BYE BYE

HYN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s