Alfabet

Kulihat mentari bersinar pagi ini, menyambutku dari tidur nyenyakku. Udara pagi yang sejuk seakan menarikku menuju kehidupan kembali. Kukira terakhir kali aku menghirup bau Toluen yang menyakitkan kepala berserta paket lengkap laboratorium bercat putih kusam yang membosankan. Tetapi itu tak bertahan cukup lama. Langit kelam seakan mengatakan bahwa hujan menanti gilirannya untuk berbagi. Kemudian tak lama tercium bau tanah yang, kupikir aku tak menyukainya. Menyeruak masuk melalui celah-celah jendela kamar. Mengganggu waktu spesialku bersama ‘ChimChim Yelly’ si kuning yang antusias. Ah, apa kamu penasaran juga dengan siapa ChimChim sebenarnya. Ah, Itu laptop nakal kesayanganku. Perlu kuperkenalkan? Sstt. It is my secret boyfriend. Apa aku perlu juga menambahkan paket kedipan mata… Mari kita hentikan sebelum aku melupakan hal yang ingin kukatakan.

Hari ini aku terpikir seperti, ternyata bukan hal yang besar yang akan mencengangkan pikiran, tetapi justru hal yang sangat kecil dan banyak dilupakan oranglah yang akan terasa jauh lebih mencengangkan. Kamu tahu apa itu? Apa aku boleh bertanya terlebih dahulu? Mungkinkah kamu membangun rasa penasaranmu? Hey! Aku hanya mengulur waktu untuk memantik rasa penasaranmu. Kau tahu aku sudah membacanya di keningmu. Baiklah aku akan mengatakannya, sesuatu kecil apakah itu yang mencengangkan?

ALFABET

Terdengar biasa memang. Namun, apa kamu tahu bahwa 26 huruf ini telah hidup selama berabad-abad lamanya dan mampu memenuhi seluruh sudut perpustakaan. Yah, sebuah budaya yang tak lekang oleh waktu walau semenarik apapun jangkauan teknologi. Pernahakah kamu berpikir tentang bagaimana mungkin 26 huruf ini bisa melukiskan jutaan hal di seluruh dunia. Menciptakan sebuah rangkaian kata indah bak permata selama berad-abad lamanya. Dan ini membuatku terpikir tentang bagaimana jika orang tak pernah menemukan bahasa dan abjad. Bagaimana kita akan berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Tidakkah begitu melelahkannya jika harus berbahasa tubuh disetiap waktu. Hey! Aku sedang berimajinasi. Hmm… kupikir aku tidak ingin mengalaminya. Atau juga dunia akan menjadi panggung pantomim paling spektakuler. Aku mengingat Charlie Chaplin. Nuansa hitam putih dan roll film yang terus berputar bersama dengan take adegan yang terus berubah tanpa percakapan. Aku benar-benar akan menjadi gila.

Di lain waktu bahkan si alfabet ini pun dapat menciptakan Pooh si beruang yang Jostein Gardeer menyebutnya sebagai Pooh si beruang yang bodoh. Haha… Kau tahu alfabet menciptakan beruang. Aku seperti mendengar percakapan masa laluku. Kupikir aku pernah menyukainya juga. Masa kecil yang konyol. Apa kemudian aku harus memasukkan Pooh si beruang bodoh ke dalam budaya masa kecil setiap orang. Hahaha… Ini menjadi seperti opera sabun saja.

Terkadang pula aku berpikir “Apakah aku seorang Bibliografer?” tetapi aku tak tahu banyak tentang buku. Aku hanya tahu bahwa aku jatuh cinta. Oh, ayolah sejak kapan aku peduli dengan sebutan nama. Okey! Karena aku menyukai buku dan 2 hari lalu adalah #WorldBookDay jadi aku akan mengutip sebuah kalimat penutup dari buku karya Simen Skjonesberg yang berjudul Der grausame Genuss – Texte uber die Geheimnisse des lessens (Kenikmatan yang Kejam – Buku tentang Rahasia Membaca).

Aku berjalan menyusuri rak-rak perpustakaan. Buku-buku tersebut memunggungiku. Tak seperti manusia yang ingin berjarak denganku, buku-buku itu malah menawarkan diri untuk memperkenalkan diri mereka. Bermeter-meter jajaran buku yang tak akan pernah mampu kubaca. Dan, aku tahu: apa yang ada disini adalah kehidupan yang merupakan pelengkap kehidupanku, yang menanti untuk dimanfaatkan. Tetapi hari-hari berlalu, dan kesempatan itu tetap tak tergapai – terabaikan. Salah satu buku ini mungkin benar-benar bisa mengubah hidupku. Siapakah aku sekarang? Siapakah sebenarnya aku?

Itulah buku. Menarik, Memesona, dan Membuatku jatuh cinta. Seseorang pernah berkata bahwa buku adalah teman terbaik. Orang lain pernah mengucapkan kalimat yang mirip dengan itu “siapa yang bisa menemukan buku yang tepat, akan berada ditengah-tengah teman terbaik. Disana kita akan berbaur dengan karakter yang paling pintar, paling intelek, dan paling luhur; di sana kebanggan serta keluhuran manusia bersemayam.”

(Sumber: Jostein Gaarder Books)

Semua yang ada di atas adalah benar. Itulah mengapa orang selalu mengatakan menulislah dan dunia akan mengenangmu. Karena apa? Karena walau sampai kapanpun dan segila apapun perkembangan teknologi buku, bahasa, dan abjad adalah tiga hal yang akan berdiri dengan gagahnya dalam kilau kesederhanaan. Bahkan, tanpa inovasi pun buku tetaplah sesuatu hal yang menarik. Aku teringat baru saja kemarin aku mengatakan bahwa “beberapa orang senang untuk berbohong sedang lainnya senang untuk dibohongi.” Lalu apakah aku juga senang untuk dibohongi. Begitukah? Kupikir tak apa. Aku juga ‘pembohong’.

Okey! Let’s stop here and see you again…

HYN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s