TITIK 2: Connecting The DOTS

Connect the Dots

6 bulan yang lalu seseorang pernah menanyakan suatu hal padaku. Dia menanyakan tentang bagaimana aku bisa tahan untuk membaca buku dimanapun aku berada. Bahkan saking fleksiblenya seseorang yang lain pernah berkata demikian “Kamu nggak mau baca juga di bioskop?” Jangan bodoh! Aku memiliki kans besar untuk mendepak seseorang. Kemudian, dia juga bercerita bahwa setiap dia akan mulai untuk membaca maka rasa kantuk akan mendera beberapa menit setelahnya. Saat itu aku pun juga bingung harus menjawab dengan jawaban seperti apa. Dan justru aku juga baru memikirkannya setelah seseorang melontarkan pertanyaan tersebut. Akhirnya aku hanya mengatakan aku tidak bisa memberikan jawaban yang cukup menarik sekarang.

Waktu berlalu. Kamu berpikir aku melupakannya? Jangan salah, aku seperti dihantui oleh rasa penasaranku sendiri. Terkadang terlintas di pikiranku untuk melakukan suatu penelitian dari berbagai disiplin ilmu yang salah satunya adalah psikologi. Tetapi sayangnya sampai hari ini aku belum menemukan jawaban yang kiranya relevan. Hingga suatu hari aku mencari info tentang TOEFL preparation dan disanalah aku menemukan sesuatu yang setidaknya bisa memberikan jawaban yang cukup menarik. Dan kukira memang itulah jawabnnya. Kamu penasaran? Kukira kau akan mengataiku klise setelahnya. Tetapi aku akan memberikan jawaban itu, Dan jawabnnya berasal dari pidato yang disampaikan oleh Steve Jobs di Stanford University pada 12 Juni 2005. Dimana saat itu dia mengatakan tentang “Connecting the Dots”. It’s mean that everything are interrelated. And I think I did it because the dots are interconnected become a network. You know what I mean, right?

Jadi, kesimpulannya adalah bahwa ada suatu hal yang selalu aku lakukan dahulu hingga itu menjadikanku seperti sekarang. Tidak ada sesuatu hal pun yang terjadi begitu saja bukan? Aku tahu abad ini adalah abad boks mie instan. Tapi berhentilah berpikir instan juga karena itu benar-benar menggelikan.

Tetapi jika di ingat kembali kalau tidak salah aku memiliki kebiasaan unik saat belajar khususnya Bahasa Indonesia atau bahkan di pelajaran matematika sekalipun yakni membaca cerita pendek yang ada di buku tersebut. Aku akan bercerita sedikit, tapi ini benar-benar buruk. Sepertinya aku melakukannya untuk mengelabuhi ibuku karena dengan begitu ibu akan berpikir aku sedang belajar mengerjakan soal-soal yang ada dibuku. Kamu tentu tahu saat kita masih di sekolah dasar biasanya kita akan diberikan buku yang disebut LKS, yang mana materi dan soal-soal latihan berada dalam satu buku yang sama. Dan sepertinya aku memanfaatkan hal tersebut untuk menutupi rasa malas belajarku. Astaga! Jadi aku benar-benar melakukannya? Kupikir aku layak disebut durhaka. Eomma Mianhae. Jinjja Sarangahe.

The last, untuk kalian yang mau membaca maka pastikan dahulu berapa persen hatimu menginginkannya, dan bayar itu dengan mulai melakukan kebiasaan-kebiasaan yang dapat meningkatkan keinginanmu untuk membaca. There is no free lunch. All Clear! Fighting!

HYN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s